Titiw Inside

The Corner

Thursday, 28 June 2007

Rumah itu letaknya di hook, pojokan atau corner. Dua buah pohon kelapa mendominasi rumah itu. Sebuah pohon jambu tumbuh pendek memeluk manja salah satu pohon kelapa itu. Di sekitarnya terdapat tanaman-tanaman lain yang menggerombol seakan sedang sibuk membicarakan sesuatu. Rumah itu sangat coklat. Pagarnya yang klasik berwarna coklat, atapnya juga berwarna coklat. Jika dilihat sekilas amat mirip dengan rumah coklat yang ada di sebuah dongeng populer.

Bentuk dan tata ruangnya masih kelihatan seperti pada saat developer membangun rumah itu dulu. Kecuali sedikit modifikasi pada garasi mobilnya, rumah itu benar-benar rumah klasik. Suasananya hangat dan rindang. Dua buah pintu utama menjadi pintu masuk bagi tamu, saudara, teman, tukang kredit, tukang loak, dan semuanya yang ingin menjadi pengunjung rumah itu. Di bagian samping terdapat sebuah pintu “informal”, pintu itu multifungsi. Teman-teman dekat dan keluarga biasa masuk lewat situ. Sebuah mesin cuci merk Sanyo seringkali menyapa hangat rekan-rekan dekat para penghuni rumah dengan suara gemuruhnya. Dari situ, terdapat sebuah pintu yang menghubungkan ke dapur. Dapur itu tergolong kecil untuk sebuah rumah dengan luas tanah seperti itu. Wajar saja, sebab memasak bukan cara utama bagi pemilik rumah untuk bisa menikmati makan bersama. Keluar dari dapur, sebuah meja makan bundar penuh dengan pernak-pernik makanan seperti selai, saus, kecap, sendok-garpu, piring-piring berdiri dengan megah bak meja pameran di sebuah lelang. Dari tempat kita berdiri di ruang makan terlihat sebuah ruang tamu dan ruang keluarga dijadikan satu. Konsep yang menarik, menjadikan ruang tamu yang hangat dan santai. Disitu terdapat sebuah TV ukuran besar lengkap dengan pemutar DVDnya.

Di samping pojok kiri ruangan, satu set komputer yang jarang dipakai tertutup rapi oleh sebuah dust cover. Kelihatannya rusak. Tidak jauh dari ruang itu, terdapat tiga buah kamar milik masing-masing penghuni rumah itu. Dua buah kamar berdempetan dengan disain interiornya yang unik sesuai selera hati sang pemilik. Kemudian di arah tembok yang berlainan terdapat sebuah kamar utama. Di seberang kamar utama terdapat kamar mandi bergaya kebarat-baratan – bukan kamar mandi klasik Indonesia dengan sebuah bak dan keran, melainkan sebuah kamar mandi bergaya Victorian dengan warna-warna hitam eksklusif, membuat mandi terasa istimewa.
Tidak ada yang istimewa dari rumah ini sebenarnya. Hanya saja, nilai historis rumah ini jauh lebih istimewa dari rumah itu sendiri. Dulu… sebagai tamu atau sebagai teman dekat salah satu pemilik rumah ini, biasanya aku menekan bel untuk memanggil sang pemilik. Sayang, bel itu telah lama rusak dimakan usia. Jadilah sebuah salam panggilan ala orang Muslim yang telah dinasionalisasi menggantikan suara bel. “Assalammualaikuum….” begitu biasanya orang-orang termasuk aku memanggil. Mungkin karena dari pintu garasi sampai pintu ruang tamu letaknya berjauhan, kadang-kadang berteriak pun tidak cukup.

Walaupun aku cukup sering bertandang, baru sekali aku memiliki kesempatan untuk melihat isi gudang rumah ini. Letaknya cukup mudah dicapai, dari pintu “informal” lurus saja melewati mesin cuci hingga ‘mentok’ ke sebuah tangga melingkar. Cukup menaiki tangga itu, sebuah ruangan kecil penuh kardus-kardus yang diselimuti debu tebal menjadi pemandangan utama di gudang itu. Waktu itu aku mencari sebuah buku. Buku panduan bahasa inggris dari LIA tepatnya.
Kadang-kadang aku ingin sekali punya mesin waktu di laci kamarku, sewaktu-waktu kerinduan akan rumah itu muncul, aku tinggal membuka laci, menset waktu, kembalilah aku ke waktu itu……

Ah, seandainya ego tidak menelanku waktu itu… mungkin aku masih bisa berkunjung ke rumah itu dengan tawa yang riang – bukan cemburu yang tak terperai….

3 thoughts on “The Corner

  1. titiw says:

    Gila, omongannya lokal gini.. ada yg ngerti gak ya? Hehe.. Makanya mas.. kita bersosialisasi aja yuk.. supaya kau dapat perempuan lacur.. aku dapat cowok gigolo.. (najis.. harapan apa tuh?!)
    Kalo kata James Iha, “Be Strong Now” mas..

  2. apy says:

    gpp deh cewek2 jangka pendek buat nyenengin ati. ngyehehe (tertawa mesum). sekarang rumah pojokannya dah berubah tuh. lebih keren sih, tapi spot asiik nya dah ilang hahaha.

  3. anchali says:

    Mas ang..gw jg ngerti koq yg dimaksud rumah itu………
    bener tuh kata titiw, ayo mas, berjuang!!!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Latest

Travel Blogger Indonesia

About Titiw

Female, double (hamdallah sudah laku), berkacamata minus satu setengah yang dipake kalo mau liat nomor angkutan umum doang.

Pic of Life

Subscribe Now