HomeBlabBooksCulinaryEntertainmentEventsGreen ActMoviesMusicsReviewTechnoTitiw InsideTravelingVideoWedding

Bermain Benteng

2 July 2007

Definisi
Benteng adalah salah satu jenis permainan anak-anak walaupun para remaja juga suka memainkannya kadang-kadang. Permainan ini sempat populer di tahun 80-90an. Entah siapa yang pertama kali menemukannya. Tidak ada catatan resmi tentang asal-usul permainan yang bikin ngos-ngosan ini.

Rules
Cara bermain benteng ini super sangat sederhana. Menurut pengamatan saya, jumlah minimal yang ideal bermain benteng adalah 8 orang. Permainan terdiri dari 2 grup. Kita sebut saja A dan B. Setelah menentukan siapa masuk grup mana (biasanya dilakukan dengan suit atau gambreng), dipilihlah lokasi masing-masing benteng. Biasanya jarak kedua benteng tidak terlalu jauh. Paling 70 – 100 meteran.

Lokasi benteng bisa dimana saja. Di ruas jalan, di lapangan, di dekat sawah, pokoknya dimana saja sepanjang kedua kubu bisa berlari diatasnya (bukan berenang). Kalau kita sih dulu seringnya di depan rumah lo ya Ti. Bentengnya di belokan depan rumah lo sama tiang listrik deket rumah Dea ato nggak tiang basket (dulu masih ada, inget kan lo Ti?). Kebetulan di komplek kita ini, cuma jalan di depan rumah Titiw yang agak lebar. Bisa multifungsi. Kadang-kadang untuk basket, bulu tangkis, catur, main gundu, ngobak genangan air, masak nasi goreng, dan banyak lagi dah.

Anyway, back to the game. Objective atau Goal dari game ini mudah gampang tralala sekali. Merebut benteng lawan dengan menyentuhnya. Seperti juga benteng sungguhan, untuk bisa menguasai benteng lawan, kita harus mengalahkan semua prajuritnya. Caranya gampang banget. Kamu harus menyentuh bagian tubuh lawan (jangan menyentuh yang aneh-aneh ya – walaupun sah secara aturan tapi tidak sah secara moral) ketika lawan itu berlari keluar dari benteng. As simple as that.

Tapi menyentuh lawan itu sulitnya bukan main loh. Begini misalnya. Di kubu B, Adi berlari keluar dari bentengnya menuju kubu A sambil berusaha either itu memancing Usup untuk mengejar untuk kemudian disentuh rekan Adi, Toni atau with any luck bisa langsung menyentuh benteng kubu A. Nah, akhirnya Usup berhasil terperangkap pancingan. Sekarang dia jadi sandera deh di benteng B. Tapi not to worry my brethren, Usup masih bisa diselamatkan. Si Usup harus berdiri sambil menyentuh benteng lawan sambil stretch tangan atau kakinya sejauh mungkin (waduh kalo pas lagi disandera biasanya kaki kita pegal-pegal) agar teman seperjuangannya, Fitra bisa menyentuhnya untuk membebaskan Usup. Begitu seterusnya sampai akhirnya salah satu benteng bisa direbut. Perlu dicatat, dalam proses pembebasan hingga menuju bentengnya, si sandera menjadi invulnerable atau kebal. Jadi lawan tidak boleh menyentuhnya dulu hingga si sandera balik dan menyentuh bentengnya.

Kalah Tua
Seseorang bisa menyentuh lawannya dan menyanderanya, jika lawan keluar dari benteng atau literally melepaskan tangannya dari benteng, entah itu berlari, berjalan atau dia mungkin lupa kecapean duduk di deket bentengnya tanpa menyentuhkan tangannya ke benteng. Orang yang keluar duluan dari Benteng berarti “kalah tua” dengan orang (lawan) yang keluar dari benteng belakangan. Jadi si “kalah tua” harus berusaha sengos-ngosan mungkin supaya si “menang muda” (gw ngarang doang kalo istilah menang muda ini, biar gampang dibedain) tidak bisa mengejarnya. Si “kalah tua” harus menyentuh kembali bentengnya agar dia “kembali muda” dan menjadi “menang muda” sehingga bisa balik mengejar.

Supaya mudah coba lihat gambar deh.

Kalah Tua Jika, No. 1 berlari keluar terlebih dahulu, maka dia “kalah tua” dari No. 2 dan No. 2 bisa menangkapnya. Untuk merefresh status No. 1 yang “kalah tua”, maka No. 1 harus menyentuh bentengnya sendiri (benteng A).
Dan juga sebaliknya. Mudah kan?

Jika ada yang kurang, feel free to comment menambahkan ya. Thanks.

Komentar

5 Responses to Bermain Benteng

  1. thalique says:

    Kalau dikampung saya namanya “Dos-dosan”, entah apa artinya saya juga ngikut sejarah aja.

    Hampir serupa peraturannya sich, cuma di kota (baca disini) tidak menantang (haha jangan pada sewot yang merasa orang kota,,piss !!!). Anda bisa bayangkan, kalau disini bentengnya mah keliatan dan besar (kata mas angg pake tiang listrik, pernah thalique liat orang sini maen bentengan dan yang jadi bentengnya Drum bekas)…di tempat saya bentengnya biasanya pecahan genteng kecil. Jadi bentengnya kita lindungi benar2, caranya dengan kita injak.

    Binggung kan ngebayanginya gimana ngrebutnya ??? Satu2nya cara ngrebutnya yaitu setelah semua musuh kita tawan dan musuh tinggal satu orang yang jaga benteng (yang nginjak genteng tadi)..Istilah kita kita “gibang” musuh tadi..kita pancing supaya kita keluar,, dengan harapan dia tidak nglindungi bentengnya (baca gentengnya),,setelah dia terpancing teman kita yang lain rebut bentengnya dengan menginjak…Sambil teriak “Dos”..Biasanya kita bubar bila sudah ada yang curang, bila musuh yang tinggal satu tadi tidak mau terpancing dengan gibangan kita, dia mendem aja ga mau keluar atau malah bentengnya di dudukin,,sepakat kita teriak “Curang-curang ach ga asyik, bubar-bubar…!!” ..Kita ganti mainan yang lain…Wahhh jadi kangen permainan anak tempo dulu..anak sekarang mah terlalu techno maenannya,,,

  2. apy says:

    wih orang Purwokerto maennya agak hardcore yah. iya sih mengingat lahan kota yang kecil dan jalanan yang nggak boleh dikotorin, kita mainnya cuman pake already established structure hehehe. Kalau di Purwokerto si kayaknya permainan bocah lebih kaya daripada di Jakarta.

  3. thalique says:

    Purwokerto itu mas..cuma persinggahan 3 tahun waktu SMA aja..thalique itu orang Kroya Kab Cilacap ..satu jam lagi dari Purwokerto…makanya ID email pakenya “tawonkroya” means TAlik WONg KROYA keren ga tuch..

  4. titiw says:

    Dulu jaman maen benteng gw paling males kalo ngejar kenton. Abis dia keringetan banget.. (no offense ya ma’nton..)
    Hihi.. iya iya.. keren kok mas Thalique.. hoho.. dasar orang2 Puerto Rico..

  5. tia says:

    benteng emang asiiiiikkkkkkk