Titiw Inside

Mata, Kuping, Otak, atau Lidah?

Tuesday, 17 July 2007

Soto Kambing Gudang Seng Kalimalang, Jakarta Timur.

Warung itu kecil… kira-kira seukuran 7 – 8 bilik wartel dijadikan satu. Di depannya menempel manja sebuah spanduk kuning kumal bertuliskan Soto Kambing. Dua buah pintu – tidak jelas itu pintu masuk atau keluar – terdapat di sisi kanan dan kiri kedai kecil tersebut. Di meja saji yang ditempeli alas bernuansa merah – konon warna merah menambah nafsu makan – tersebar berbagai aksesoris seperti kecap, sambal, acar, dan emping yang dibungkus plastik kecil. Di belakang meja saji terdapat 2 orang, seorang koki dan asistennya. Biasanya sang pemilik kedai ini yang jadi kokinya, lain waktu asistennya menggantikan. Di bagian samping kedai, 3 orang pegawai tambahan khusus melayani pesanan minuman, sate, dan sang istri pemilik yang khusus mengambilkan nasi untuk pelanggan. Sementara di luar dapur seorang pegawai sibuk lalu lalang memanage pelanggan, menawari mereka minum, memberi tahu koki pesanan mereka, dan sebagainya.

Seorang laki-laki berusia 20 an masuk lewat pintu kiri disusul kedua temannya yang juga sebaya. Kelihatannya mereka pelanggan lama. Tanpa ragu-ragu salah seorang dari mereka berseru memesan; “Beh, otak 1, kuping, mata, lidah.” Disusul kedua rekannya yang memesan kurang lebih sama. Babeh, begitu biasa sang pemilik dipanggil, dengan cekatan melayani pesanan mereka. Sang asisten memotong tomat, daging, sementara sang koki mengguyur isi mangkuk dengan kuah lezat bernuansa wedus alias kambing. Sedikit kecap, dan taburan emping… Soto kambing lezat siap saji. Tidak lupa minyak samin ekstra khusus untuk sang pelanggan.

Soto Kambing yang mengklaim diri cabang dari Tanah Abang ini memang luar biasa lezat. Bagi penikmat kambing, warung kecil sang Babeh ini bagaikan surga. Selain bagian tubuh seperti yang disebutkan diatas, warung ini juga menyediakan kaki dan daging kambing biasa untuk yang kurang suka jeroan atau bagian-bagian lainnya. Saya berani bilang soto ini lezat karena saya sudah mencobanya sendiri. Suguhan panas soto kambing dengan santan, a slight taste of milk, dan rempah-rempah yang terensemble dengan rapi membuat sajian ini sungguh sulit ditolak. Kental, yet still refreshing…. It’s very rich in flavour, noone can resist. Harganya juga cukup terjangkau… 12 ribu sampai 15 ribu rupiah tergantung tingkat kesadisan yang kamu miliki. Semakin sadis — semakin banyak ragam anggota tubuh yang kamu makan — semakin mahal harganya.

Kolestrol? Wew… jelas lah, kambing, emping… itu combo mematikan asam urat dan kolestrol. Tapi sekali-kali kan nggak papa hehehe. Sebulan sekali lah kalau mau makan ini. Buat penikmat kambing yang mau coba… ayoo coba deh, letaknya ada di Gudang Seng, Kalimalang, deket toko-toko buah. Ga bakal kelewat deh, warungnya nggak pernah sepi soalnya.

2 thoughts on “Mata, Kuping, Otak, atau Lidah?

  1. thalique says:

    Thank 4 infonya mas angg..Tapi kenapa dimanapun thalique nyang namanya soto kamping, gulai kambing, atau tongseng ko masih terasa manis di mulutku. Jadi harus banyak-banyak tambah sambal. Begitulah kira-kira pengalaman thalique dan temanku yang bernama Iji bila mencari pangganan seperti di atas. Maklum kami sangat suka pedas.

  2. Ringga says:

    huahuahuahua rumah makan gila.. rumah makan babe yang paling menyesatkan.. udah makan banyak korban huehuehuehuehue…

    tapi masalah rasa memang paling utama… mau gmn lagi?? mang enak banget….

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Latest

Travel Blogger Indonesia

About Titiw

Female, double (hamdallah sudah laku), berkacamata minus satu setengah yang dipake kalo mau liat nomor angkutan umum doang.

Pic of Life

Subscribe Now