Titiw Inside

Sore (Bagian Dua)

Friday, 23 May 2008

.!.

Selamat sore ;D.Ga sbr deh,pgn buru2 meeting sama bapak.

Kubaca pesan di telepon selularku. Dari Lika. Satu dari banyak anak buahku. Tapi Lika itu spesial. Dia wanita simpananku. Atau mungkin aku yang pria simpanannya. Yang jelas kami memang menyimpan cerita.

Bagaimana ceritanya? Ceritanya panjang. Yang jelas aku dan Lika kini memiliki hubungan skandal terlarang. Hahaha, skandal terlarang…seperti judul film Indonesia murahan di tahun 90an. Lagipula siapa pula yang berhak melarang sebuah skandal.

Semuanya berjalan lancar. Sampai Istriku mulai mencium hubungan perselingkuhanku dan Lika. Entah bagaimana ia tahu, aku tak tahu. Insting seorang wanita katanya. Tapi aku tak percaya alasan itu. Mungkin salah satu anak buahku memberi tahu istriku. Egois sialan. Tidak bisa melihat orang lain senang.

Kalau sudah begini, sulit bagiku untuk menikmati semua ini. Mungkin sebaiknya kuakhiri. Nah!!! Toh, aku masih bisa menikmatinya. Hmmm…menikmatinya. Nikmat. Perkara istriku tahu dan akibat-akibat lain yang bisa dari skandal ini sudah menjadi konsekuensi yang harus aku hadapi. Toh bukan sekali ini saja aku melakukan hal seperti ini. Dan yang kuingat, selama ini aku selalu bisa menangani semua konsekuensi yang timbul akibat perselingkuhanku. Faktanya begitu. Aku selalu bisa menangani semua hal. Jangan panggil aku Tama Subrata kalau ada hal yang tidak bisa aku tangani. Dengan reputasi, posisi, dan warisan nama besar keluargaku…semua hal yang orang lain anggap sulit akan menjadi sangat mudah untuk kutangani.

Seperti ketika suami Lika, yang juga anak buahku, mulai curiga Lika berselingkuh denganku dan mulai menekan Lika. Aku balas menekannya. Aku membungkamnya dengan janji kenaikan jabatan dan memberinya banyak bonus. Beres. Semua mudah saja bagiku. Tak ada yang sulit.

Trit…trit!!!

Nada dering telepon selularku membuayarkan lamunanku. SMS, dari Istriku.

Aku bersumpah akan membunuh wanita itu.Lihat saja tama!!!

Huh…wanita memang suka bertindak berlebihan kalau sedang geram. Kukira marahnya sudah reda semenjak pertengkaran terakhirku dengannya tadi pagi. Tapi ternyata…ah, dasar wanita. Lagipula aku tahu isii SMSnya tadi hanya gertakan seorang wanita marah belaka. Jangankan menghilangkan nyawa seseorang. Membunuh seekor kecoa saja dia tak mampu.

Kulihat jam di dinding. Setengah tiga. Masih lama sampai pertemuanku berikutnya dengan Lika. Membayangkan pertemuan itu saja sudah membuatku bergairah. Hmmm…dasar wanita.

Tapi kini aku berpikir. Bagaimana kalau suami Lika tahu kalau istrinya selingkuh denganku. Apakah ia akan membunuhku? Atau malah membunuh Lika? Hmmm…menarik. Kalau saja istriku sampai berani selingkuh…mungkin aku akan membunuh istriku dan selingkuhannya. Ya, tidak ada yang boleh macam macam dengan Tama Subrata.

Tapi kini aku yang selingkuh, Lika yang selingkuh denganku. Apa istriku serius akan ancamannya? Mungkin dia tak mampu membunuh seekor kecoa. Tapi dia mampu membayar perusahaan pembasmi hama untuk membunuh semua kecoa di Jakarta. Mungkin dia tak mampu membunuh Lika. Tapi membayar seorang pembunuh bayaran profesional untuk melakukannya…mungkin saja. Mungkin saja…mungkin iya, mungkin tidak. Huh, kenapa aku membiarkan pikiranku memikirkan hal-hal omong kosong seperti ini? Mungkin aku terlalu banyak menonton film Holywood murahan akhir akhir ini. Mungkin.

Sebagai Direktur Utama di perusahaan milik keluargaku…pekerjaanku tak banyak. Hanya tandatangan ini tandatangan itu. Cek proyek ini, cek proyek itu. Follow up proposal kerjasama ini, follow up proposal kerjasama itu. Korupsi ini, korupsi itu? Nah…aku tak serendah itu. Tak perlu korupsi pun aku sudah hidup makmur. Cukup curang sedikit, asal bukan korupsi. Korupsi hanya untuk orang-orang hina dan pengecut. Dan aku bukan salahsatu dari mereka.

Sebenarnya tak ada yang perlu aku kerjakan di kantor hari ini. Cuma daripada diam di rumah, lebih baik aku ke kantor. Mengecek kembali pekerjaan-pekerjaan anak buahku. Lagipula aneh rasanya kalau tidak ketemu Lika barang sehari saja. Makanya aku benci hari libur. Libur berarti rumah dan tak ada Lika.

Aku sudah tak sabar menunggu jam lima. Tak sabar menunggu waktu bertemu Lika. Ah sudah lah kubuatkan Lika surat jalan fiktif saja supaya dia bisa pulang lebih cepat hari ini. Kutulis memo untuk pembuatan surat jalan fiktif itu, lalu memberikannya kepada sekertarisku. Biar dia yang mengurus tetek bengek birokrasi berengsek kantor ini. Kalau dengan tandatanganku di dalamnya, biasanya sebuah memo bisa berubah menjadi surat jalan dalam waktu kurang dari lima menit.

Kutunggu lima menit.

“tok…tok…tok…”
Pintu ruanganku di ketuk.

“Masuk!’

“Sore, pak!” Itu Lika. Dia tampak menggairahkan hari ini. Ah, setiap hari juga dia selalu tampak menggairahkan bagiku.

“Sore. Lika, saya minta kamu untuk hadir ke meeting dengan saya di tempat biasa. Semua kerjaan kamu hari ini, didisposisikan saja pada rekan-rekan satu divismu”

tomorrow, when the war began dvdr

Ujarku bercanda.

“Siap, bos! Kalau begitu saya pergi dulu sekarang” Lika tersenyum lalu mengedipkan sebelah matanya padaku.

Dasar wanita.

Biasanya begini skenario tiap pertemuan. Lika pergi duluan ke kamar hotel “khusus” ku, lalu setengah jam kemudian aku menyusulnya di kamar. Tinggal menunggu 15 menit, lalu aku pergi dari kantor ini. Sebagai wakli direktur di perusahaan keluargaku aku bebas kapan saja datang dan pulang kantor. Toh ini kan perusahaan keluargaku.
15 menit akan terasa seperti 15 jam ketika kita menunggu hal yang menyenangkan datang. Relativitas waktu katanya. Ah, Einstein sok tahu. Aku hanya perlu menunggu 15 menit…15 menit ya 15 menit.

Kumatikan AC ruanganku. Lalu kuambil kotak rokok dari kantong bagian dalam jasku. Kuketuk ketukan kotak rokok itu ke meja, kuambil sebatang rokok putih dari dalamnya, menaruhnya di bibirku lalu menyalakannya dengan pemantik api bersepuh emas yang kubeli di Marakesh.

“ssssssssssshhhhhhhhhhhh…”
Kutarik dalam dalam asapnya…menaruhnya sebentar di paru paruku…membiarkan nikotinnya melonggarkan pembuluh darahku…lalu menghembuskannnya pelan-pelan…

“ffffffffffffffffffhhhhhhhhhhh…”
Nikmat sekali rassanya. Badanku mulai relaks.

Aku kini berada di lorong menuju kamar hotel. Aku berajalan cepat cepat. Kini aku sudah berada di depan pintu kamar hotel. Kuketuk pintu. Tak ada jawaban. Kuketuk lagi lebih keras. Pintunya terbuka! Mungkin Lika kurang rapat menutupnya. Aku berjalan masuk perlahan ke kamar. Entah kenapa perasaanku tak enak…sampai kutemukan jawabannya kenapa. Kulihat Lika tergeletak di lantai di samping meja rias. Ada darah tergenang di bawah kepalanya. Shit!!!

Tubuhku mematung. Aku panik, tapi tubuhku mematung. Otakku dipenuhi pikiran ini itu begini begitu itu ini begitu begini. Shit!!! Tubuhku masih mematung, pikiran ini itu datang semakin banyak ke otakku. Sampai kurasakan benturan keras di tengkukku. Tubuhku tumbang, otakku berhenti berpikir.

Aku bangun dari pingsanku. Tengkukku rasanya sakit sekali. Hei, dimana aku?! Aku mencoba bergerak. Tak bisa tubuhku diikat kabel. Mulutku disumpal sejenis kain. Aku sulit beranpas. Pengap. Apa ini didepan wajahku. Kuamati…selimut dari kamar hotel. Kucoba untuk tak panik dan tapi otakku panik. Shit, dimana aku?! Hei, deru mesin itu ada dari sejak aku mebuka mataku. Aku mencoba berpikir keras. Shit…aku di dalam bagasi mobil!!!

Tak berapa lama suara deru mesin berhenti. Sayup-sayup kudengar suara pintu mobil ditutup. Shit, aku benar-benar di dalam bagasi mobil. Pikiranku mulai berkecamuk tentang apa dan siapa. Bajingan mana yang berani melakukan ini padaku? Kudengar suara pintu dibuka, lalu udara disini menjadi tidak terlalu pengap. Bagasi dibuka!!! Aku mencoba berteriak…tapi tak ada suara yang keluar dari mulutku. Hanya erangan-erangan kecil saja. Aku meronta…tapi percuma. Shit!!! Tubuhku mulai tenang, tapi pikiranku semakin berkecamuk.

“Selamat sore Bapak Tama Subrata. Apakah anda sudah siap menemui Tuhan anda?”

Hei, sepertinya aku mengenal suara itu…

Previous Post →

6 thoughts on “Sore (Bagian Dua)

  1. Gum says:

    itu kan suara saya, mas. masa lupa? :D
    hihi… keren nih, novel satu babak.

    jadi gimana? itu suami lika? berarti dia juga yang membunuh (atau setidaknya, mencederai) lika?

    atau itu adalah istri tama? yang dengan sarkastik menyapa suaminya dengan sebutan ‘Bapak Tama Subrata’? karena gender pemilik suara tidak dijelaskan di situ.

  2. Mbelgedez says:

    Hwaaaa….ka…ka…

    Ternyata situh pinter ndobos jugak, ya Tiw…..

    ***lanjuuut…dan jangan lupa nyang mesum-mesum jugak ditampilin yah….***

    :lol:

  3. sk says:

    jay lagi jayus ..
    bikin cerita ending ngegantung..
    huhuhu

    mati penasaran lah awak ..!

  4. dhiiiiian says:

    Ini dia yang ditungu – tunggu
    Wah..bener2 seruuu…
    Tiw…masih ada Sore bagian 3 gak???

  5. ratie says:

    LANJUTKAN!!! MARI!!

  6. pasti suara itu bukam milik Anton Prawira.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Latest

Travel Blogger Indonesia

About Titiw

Female, double (hamdallah sudah laku), berkacamata minus satu setengah yang dipake kalo mau liat nomor angkutan umum doang.

Pic of Life

Subscribe Now