Titiw Inside

Mimpi

Monday, 18 August 2008

dream

Aku terbangun dari tidurku lagi malam ini. Mataku kini sedang menatap gelapnya langit-langit kamarku sambil berusaha mengulang kembali setiap detil dari mimpi yang baru saja kualami.

Lagi lagi mimpi itu.    Mimpi yang sama yang terus mengganggu tidurku dalam beberapa malam terakhir ini. Bukan mimpi buruk sebenarnya. Malah cukup menyenangkan…tapi mengganggu. Ada bagian dari mimpi itu yang terasa sangat ganjil. Sangat ganjil sampai aku tak bisa mengacuhkannya begitu saja. Lebih mengganggu lagi ketika mimpi itu terus menerus datang ke dalam tidurku dalam beberapa malam ini.

Rasanya seperti mendapat firasat. Sulit untuk dijelaskan, tapi aku bisa merasakan ada sesuatu tentang mimpi aneh itu. Yang menarik, walaupun tiap mimpi memiliki detil peristiwa yang berbeda, mimpi-mimpi tersebut memiliki satu kesamaan: Nasya. Sosok wanita yang selalu muncul dalam mimpi-mimpi itu. Atau mungkin, bisa kukatakan…mimpi-mimpi itu adalah mimpi tentang Nasya.

Aku tak begitu ingat mimpiku yang pertama. Kalau tak salah, aku berpapasan dengan Nasya di teras sebuah bangunan gedung tua. Yang kuingat di teras bangunan tua itu terdapat pilar-pilar besar, dan ada beberapa anak tangga menuju halaman bangunan tersebut.

Saat itu, di dalam mimpiku, aku sedang berjalan menuruni anak-anak tangga, sedangkan Nasya sedang menuju arah yang sebaliknya. Aku berjalan pelan, sedangkan Nasya berjalan cepat-cepat. Membuat selendang di lehernya berkibar seperti tertiup angin. Dia memakai kacamata hitam besar. Tapi kacamata hitam besar itu tak bisa menutupi kecantikan wajahnya. Saat dia melewatiku. Detak jantungku seperti berhenti. Aku seperti mematung. Berhenti berjalan, dan diam di tempat aku berada saat dia melewatiku. Sedangkan Nasya terus berjalan ke arah pintu utama bangunan tua itu. Sebelum dia menghilang ke dalamnya, aku sempat menoleh ke arahnya. Kalau tak salah begitu.

Dalam mimpiku yang kedua, Nasya muncul di bagian saat aku berada di sebuah ruangan di dalam sebuah museum. Aku tak terlalu ingat museum apa itu. Kemungkinan besar seperti museum sejarah. Karena seingatku, ada bagian dimana aku dengan diam diam memperhatikan Nasya dengan melihat ke arahnya melalui rusuk-rusuk kerangka gajah purba (entah replika atau kerangka betulan aku tak yakin).

Ketika di dalam ruangan museum tersebut banyak sekali benda-benda yang menarik perhatianku, saat Nasya masuk, perhatianku ditarik dengan hebat oleh keberadaannya. Seperti gravitasi planit yang menarik satelit pada orbitnya.

Hanya bagian itu yang mampu kuingat dari mimpi keduaku tentang Nasya. Itu dan mantel berwarna putih yang dia pakai saat di musem itu. Senada sekali dengan kulit mukanya yang putih.

Dalam mimpiku yang ketiga, Nasya memakai gaun putih. Aku dan Nasya sedang berada di sebuah pesta kebun di Taman Kota. Aku sedang sendiri, sedangkan Nasya sedang bersenda gurau dengan teman-temannya yang bergaun bunga-bunga. Lagi-lagi aku memperhatikannya diam-diam. Memperhatikan pulasan perona pipi yang jatuh begitu sempurna di tulang pipinya yang indah. Kali ini aku memperhatikannya menembus sebuah karangan bunga. Melalui ranting-ranting yang terikat longgar dari sebuah karangan berbagai macam bunga. Tapi kali ini Nasya berhasil memergoki aku yang sedang asyik mencuri pandang. Dia lantas tersenyum sambil melambaikan tangan kepadaku. Aku panik. Lalu terbangun.

Dan di mimpiku malam ini, dimana aku masih mengingat detilnya dengan cukup baik, Nasya mengenakan kemeja lengan panjang, sepertinya sih sebuah blus, berwarna putih dan rok lipit selutut berwarna hitam. Kali ini lokasinya di sebuah perpustakaan besar. Aku duduk semeja dengan Nasya. Bersebrangan tapi tidak berhadapan. Dia duduk dua kursi ke kanan dari kursi di depanku.

Saat itu hanya ada kami berdua di perpustakaan itu. Nasya sedang membaca sebuah buku yang kurasa umurnya cukup tua. Kelihatan dari sampulnya yang kusut dan berwarna kecoklatan dan halaman-halamnnya yang berwarna kekuningan. Sedangkan aku pura-pura membaca sebuah antologi puisi. Yang kuingat hanya kumpulan bait. Tapi tak tahu apa isinya. Ya, aku hanya pura-pura membaca. Karena yang sedang kulakukan saat itu adalah (lagi-lagi) memperhatikan Nasya diam-diam sambil berpikir keras:

“Wajahnya familiar, kenal di mana ya?”

Begitu gumamku di dalam hati, sambil terus mengingat-ingat di mana aku pernah melihat Nasya. Di dalam mimpiku itu aku tak berhasil mengingatnya.

Aku sedang asyik memperhatikan Nasya sambil terus mengingat-ingat di mana aku pernah melihatnya, ketika tiba- tiba Nasya menegurku.

“Kamu kenapa sih ngeliatin aku segitunya? Ada yang salah dari aku.”

Aku kaget. Rasanya panik dan malu ketika tiba-tiba Nasya menegurku. Kepergok!!!

“Yo…Aryo!!! Ditanya ko diem aja sih?”

Tunggu dulu!!! Bagaimana bisa dia tahu namaku???

“Hah???!!! Lo, ko tau nama gue?”

“Apaan sih, Yo??? Ga lucu ah…”

“Nama lo Nasya kan?”

“Ya elah. Kamu kenapa sih sayang?”

Sayang? Nanti dulu…nanti dulu! Otakku masih ga mudeng.

“Loh, ko gw bisa tau nama lo?”

“Ini kan mimpi kamu, baby. Kamu pasti tau tentang semuanya di dunia ini. Kan kamu yang bikin dunia ini sama semua isinya. Termasuk aku…”

Nasya tersenyum manis.

Di dalam mimpiku, aku tak bisa mencerna kalimatnya yang barusan.

“Bangun deh…pasti kamu ngerti”

Lalu aku terbangun. Kubuka mata lebar-lebar. Langit-langit kamarku yang gelap…

Uh. Mimpi yang benar-benar aneh. Absurd sekali. Aku bahkan tidak mengerti maksud dari semua mimpi ini. Yang kutahu, semuanya berkaitan tentang Nasya dan aku.
Nasya…

Wajahnya sungguh familiar bagiku. Rasanya aku mengenalnya. Bukan! Bukan dari dunia mimpi. Tapi dari dunia nyata. Aku yakin setidaknya aku pernah bertemu dengannya di dunia nyata. Tapi di mana?

Kunyalakan lampu meja. Kulihat jam di atasnya. 02.06. Lalu aku tidur lagi.

Dan kembali bermimpi.

Sebuah galeri seni. Itu Nasya. Mengenakan gaun berwarna putih. Dia sedang asyik memandangi sebuah lukisan cat minyak bergambar seorang wanita berbaju putih yang sedang memetik labu.

Aku harus menghampirinya. Aku harus mendapatkan jawaban dari semua ini, dari dirinya. Sepertinya kali ini aku cukup memiliki kendali atas mimpiku.

“Suka banget sama lukisannya ya?”

Nasya lalu menoleh ke arahku, lalu tersenyum.

“Eh kamu yo, aku pikir siapa”

“Lukisannya bagus ya?”

Aku mengangguk mengiyakan.

“Ya iyalah…ini kan buatan baby-ku”

Secara tiba-tiba Nasya memelukku. Lalu berbisik di telingaku:

“Baby…please bangun dong! Cuma kamu yang bisa menghentikan semua ini. Udah jangan dilanjutin lagi! Kasian kamu. Kamu cape kan kaya gini terus? Udah cukup ya sayang?! Ayo dong baby…please…bangun!”

Aku berusaha keras untuk mengerti ini semua. Tapi aku tak bisa. Aku tak bisa berpikir jernih di dalam mimpi. Mungkin kalau aku bangun, aku akan mencerna ini semua dengan baik.

Lalu aku terbangun. Kubuka mataku. Langit-langit kamarku yang gelap. Kucoba memikirkan arti mimpiku tadi. Tapi ada sesuatu yang mengganggu. Sesuatu di depan mataku. Tapi aku belum tahu apa itu.

Astaga!!! Langit-langit itu!!! Itu bukan langit-langit kamarku!!! Ini bukan kamarku!!! Dimana aku???!!!

Kunyalakan lampu meja, lalu kumelihat ke sekeliling. Benar, ini bukan kamarku. Ini adalah sebuah lorong. Dan aku berada di ujungnya.

Lalu dari arah lorong kulihat ada seseorang datang berjalan pelan-pelan ke arahku. Seorang wanita berbaju putih. Aku belum bisa melihat wajahnya karena lampu meja tak cukup luas jangkauan sinarnya. Wanita itu berjalan semakin dekat. Nasya!!! Itu Nasya. Loh, bukannya Nasya cuma ada di dalam mimpiku???

Nasya berjalan semakin dekat ke arahku. Dia kini sudah berada di samping tempat tidurku. Dia menatapku tajam. Lalu ia mulai mendekatkan mukanya ke mukaku.

“Keadaannya sudah membaik dokter. Mungkin beberapa menit lagi dia akan siuman. Infusnya sudah mulai bekerja rupanya”

Nasya lalu mematikan lampu meja. Dan seketika semua menjadi gelap. Benar-benar gelap sampai akupun tak bisa melihat telapak tanganku sendiri.

“Hey apa-apaan ini???!!!”

Aku berteriak.

Lalu tiba-tiba lorong tempatku berada mengecil. Aku bisa merasakannya. Lorong ini mulai memendek. Menciut. Menyempit. Aku terjepit. Ugh…sesak sekali. Aku tak bisa bernapas. Aku tak bisa bernapas…

“Uhuk…uhuk!!!”

Aku terbangun. Kubuka mataku. Masih bukan langit-langit kamarku.

Hei, itu Nasya lagi!!! Apakah aku masih bermimpi???? Hei…siapa laki-laki di sebelah Nasya itu???

“Selamat datang kembali mas Aryo”

Ucap laki-laki itu sambil tersenyum padaku.

“Apa?”

Aku mencoba bertanya. Tapi mulutku ternyata tertutup sebuah masker. Sehingga sepertinya suara dari mulutku terdengar menggumam dan tidak jelas.

Aku masih belum bisa paham apa yang sebenarnya terjadi.

“Kerja bagus Suster. Tolong jaga sebentar pasiennya. Saya mau lapor dulu ke Dokter Frans tentang perkembangan pasien kita ini”

“Baik dokter…”

Sepertinya aku sudah mulai mendapat gambaran tentang semua ini.

Nasya lalu menghampiriku. Dia membenarkan letak bantalku. Dia kemudian menatapku sambil tersenyum.

“Selamat datang di duniaku…baby”

Lalu dia mencium keningku.

“Loh apa maksudnya???”

Apakah aku sudah benar-benar terbangun?

← Next Post
Previous Post →

5 thoughts on “Mimpi

  1. zee says:

    Jadi maksudnya? Dia beneran mimpi ato udah mati ato gimana nie… :D

  2. laila says:

    jadi mati atau terbangun dari koma? deng deng

  3. mbelGedez™ says:

    Wadooooh….
    Jangan matek doloo, dong say….

    :roll:

  4. escoret says:

    mimpi kok ga ada skrinsutnya..???

  5. shinta says:

    kayanya cie aryo ini udah mati trus reinkarnasi dalam bayinya si nasya itu yg baru aja dilahirin…. jadi pas kembali ke dunia dia malah jadi anaknya si nasya?
    bener gak cie???

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Travel Blogger Indonesia

About Titiw

Female, double (hamdallah sudah laku), berkacamata minus satu setengah yang dipake kalo mau liat nomor angkutan umum doang.

Pic of Life

Subscribe Now