Titiw Inside

Dosa

Thursday, 18 September 2008

Masih dengan pisau di tangan, kugenggam erat-erat. Bersembunyi. Menanti saat yang tepat. Tarik, bekap, tikam.

02.22. Dia masih belum nampak. Aku masih menanti. Bersembunyi dengan hati-hati. Di gang kecil ini. Aku bersembunyi di balik gerobak kosong yang terparkir begitu saja di mulut gang. Brrr…udara pagi ini dingin sekali.

Calon korbanku namanya Widiyanto. Wartawan politik sebuah surat kabar terkemuka di kota ini. Berita-berita yang ia tulis kerap kali bikin kuping panas orang-orang yang punya kuasa di kota. Pejabat pemkot, petinggi instansi pemerintah, anggota DPRD, petinggi parpol, Camat, Lurah, Kades…asal jabatan itu berhubungan dengan kekuasaan dan birokrasi, sering ia serang dengan tulisannya yang memojokkan dan mengancam kedudukan mereka. Kasus korupsi, penyelewengan jabatan, suap menyuap, birokrasi yang bobrok, pokoknya hal-hal yang melenceng pasti dia tulis.

Aku tak mengerti soal kekuasaan, birokrasi, apalagi politik. Asal aku dibayar dengan jumlah uang yang masuk akal, aku mau melakukan apa saja. Termasuk menghilangkan nyawa. Tapi aku bukan orang yang asal dapat duit lantas senang saja. Aku masih punya nurani. Aku pembunuh bayaran yang punya hati nurani. Terdangar sangat tidak masuk di akal memang. Tapi memang begitu adanya.

Aku butuh alasan lain untuk membunuh. Aku tidak pernah asal bunuh. Bagiku uang bukan satu-satunya alasan. Aku cuma mau membunuh orang yang memang tidak layak hidup. Setidaknya menurut nuraniku begitu. Aku hanya membunuh orang-orang yang merugikan orang lain. Orang-orang yang kalau dibiarkan hidup akan menyusahkan banyak orang nantinya. Seperti si Widi ini.

Aku sama sekali tak keberatan kalau dia suka memberitakan tentang pejabat-pejabat korup di kota ini. Itu hal yang bagus. Biar masyarakat tahu siapa-siapa saja pejabat di kota ini yang curang. Dan biar para pejabat curang itu mendapat imbalannya nanti. Masalahnya Widi juga curang. Dia sering memeras para pejabat di kota ini dengan ancamannya. Jika mereka tak memberinya sejumlah uang, maka dia akan menulis berita tentang borok mereka. Bahakan berita bohong sekalipun.  Semua berita yang Widi tulis hanyalah untuk keuntungan dirinya semata. Semakin banyak ia menulis, semakin banyak orang yang dirugikan. Mengambil kesempatan dalam kesempitan…dasar manusia licik!!! Dia layak mati.

Disgrace movie

Aku profesional di bidangku ini. Aku harus memastikan banyak hal terlebih dahulu sebelum melakukan eksekusi. Langkah pertama adalah mencari tahu siapa si target. Aku harus mengetahui identitas dan latar belakangnya. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah target layak untuk dibunuh. Beberapa kali aku menolak tawaran untuk membunuh orang karena kupikir dia tidak punya cukup alasan untuk kubunuh. Selanjutnya aku harus mengetahui gerak-gerik si target. Memperhatikan semua kebiasaan dan mengetahui rutinitasnya. Tujuannya agar aku bisa menentukan kapan dan di mana waktu yang baik untuk melakukan eksekusi terhadapnya. Langkah kedua adalah merencanakan dan mepersiapkan eksekusi dengan rapi dan detil. Senjata apa yang akan kugunakan, jalur untuk melarikan diri, alibi, waktu dan tempat eksekusi yang pas, rencana cadangan dan lain-lain. Semua kupersiapkan dengan baik dan teliti. Ini kulakukan agar eksekusi berjalan lancar dan agar tidak timbul masalah setelahnya.

Widi adalah targetku yang ke-26. Eksekusi sudah kurencanakan dengan sangat matang. Sudah sebulan lebih aku merencanakan pembunuhan ini. Semua langkah sudah kulakuan agar eksekusi ini berjalan efektif. Keputusan finalnya adalah aku akan membunuh Widi malam ini.

Bronson video Setiap Jumat malam Widi menyambangi sebuah klub dangdut di tengah kota. Dia datang dan pulang sendirian. Masuk pukul 22.00, keluar pukul 02.15. 45 menit lebih cepat dari selesainya rangkaian acara di klub ini. Biasanya dia langsung pulang dengan menggunakan taksi. Taksi yang kebetulan lewat, bukan mangkal atau sebelumnya telah dipesan. Seringnya dia keluar dari klub dalam keadaan mabuk. Membuatku lebih mudah untuk membunuhnya.

Kupilih pisau sebagai senjata mengingat keterbatasan ruang gerak tempat eksekusi. Pisau akan lebih efektif digunakan untuk membunuh dari jarak dekat. Lebih fleksibel. Selain itu pisau tidak meninggalkan jejak seperti senjata api yang meninggalkan proyektil peluru.

Sudah pukul 02.29. Tapi Widi belum keluar juga. Aku mulai khawatir. Rencana akan gagal jika ia keluar pukul 03.00, karena tepat dengan waktu bubaran klub di mana kebanyakan orang keluar dari klub. Aku sangat menghindari membunuh di keramaian. Risikonya terlalu besar.

Aku masih menunggu. Sudah berbatang-batang rokok habis kuhisap. Yang terakhir sekitar 45 menitan yang lalu.

Aku mengintip lagi ke arah pintu klub. Beberapa menit berselang, lalu tampak seseorang keluar dari pintu tersebut. Itu Widi! Aku bersiap. Sebentar lagi dia akan melewati mulut gang ini. Yang harus kulakukan hanya menariknya masuk ke gang, membekapnya dari belakang, lalu menikamnya tepat di dada…berkali-kali sampai dia benar-benar mati.

Hei…tapi siapa perempuan sialan yang sedang bersama Widi itu? Sial, kalau begini rencanaku bisa gagal. Kuputuskan untuk menggunakan rencana cadangan.

Aku keluar dari mulut gang, lalu berjalan menghampiri mereka berdua. Pelan-pelan. Si perempuan melihat ke arahku. Lalu tiba-tiba ia mengambil sesuatu dari balik jaketnya. Sialan! Dia mengeluarkan sebuah magnum! Aku berlari sekuat tenaga mendekatinya. Sebelum ia berhasil membidikkan magnumnya ke arahku, tangannya berhasil kutebas. Crask!!! Tangannya yang menggenggam pistol putus lalu jatuh ke aspal. Darah berceceran banyak sekali di sekitarnya. Lalu wanita jalang itu menjerit keras sekali. Kuambil magnumnya yang kini tergeletak di aspal. Kusingkirkan tangannya yang masih menempel pada gagangnya.

Widi hanya bisa terdiam melihat semua itu. Mukanya pucat. Dia sekarang melihat ke arahku. Aku lalu mengarahkan laras magnum tepat ke titik tengah di antara kedua alisnya.

“Mati kau pendosa…”

Kutarik pelatuk magnum. Sepersekian detik kemudian darah memuncrat dari kepala Widi yang pecah.  Wanita jalang itu masih menjerit dengan kerasnya. Aku harus pergi dari sini sebelum jeritan si jalang ini menarik perhatian banyak orang. Kugeletakan kembali magnum di aspal lalu ku pergi berlari ke dalam gang kecil tempatku bersembunyi tadi.

Kurasa akan banyak orang merasa senang ketika membaca koran esok pagi. Aku masih terus berlari. Bajuku berlumuran darah, nafasku terengah-engah, tapi aku bahagia.

11 thoughts on “Dosa

  1. Ah, Jay, gue berharap ending yang lebih klimaks, seperti tulisan2 lo yang lain. huehehehehe :D

  2. sapimoto says:

    Mantep sekali nih cerpennya…

  3. Anang says:

    mencoba menghayati cerpen

  4. isnuansa says:

    akhirnya gelar “pahlawan” beralih kepadaku di kota ini…

  5. mbelGedez™ says:

    Wadoooh….???

    Untung si Oom pedophile ituh ndak dibunuh sama situh….

    :roll:

  6. Paman Tyo says:

    oh, koran-koran pagi ini belum mewartakan. mungkin besok ya… :)
    oh kesumat. untung hanya dalam angan yang dituang ke dalam cerita. :)

  7. edisamsuri says:

    wah cerpen toh kirain beneran …sukses titiw

  8. matamata says:

    He…he…he…

    Terbawa dari Blog nya mbelgedez…..

  9. tito says:

    lagi sebel sama orang yang namanya widi ya mbak? :D Keren!

  10. ternyata cerpen toh…bikin deg – deg an aja nih.hehe

  11. Harga Hp Terbaru says:

    keren cerpennya….hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Latest

Travel Blogger Indonesia

About Titiw

Female, double (hamdallah sudah laku), berkacamata minus satu setengah yang dipake kalo mau liat nomor angkutan umum doang.

Pic of Life

Subscribe Now