Titiw Inside

Mainstream and Not so Mainstream

Sunday, 8 February 2009

Cuma ngiseng aja nih sedikit bertanya sama anak musik. Suatu hari lagi jalan, saya mendengar salah satu teman saya bilang;

“Eh, musik grup band A bagus ya… ”
Saya yang mendengarnya dan memang enak lagunya kontan menjawab;
“Iya, lagunya gampang didenger… ”
Kemudian teman saya ini membalasnya dengan;
“Tapi sayang, musiknya sekarang dah mainstream banget…”
Saya tanya lagi;
“Mainstream apa sih?”

Jawabnya;
“Mainstream itu berarti komersil, populer, dan laku di pasaran.”

keep-calm-and-be-mainstream-2
Saya langsung terdiam sebentar. Kemudian ingin bertanya tapi takut malu, akhirnya nanyanya disini aja ya.

  1. Kenapa sebuah grup band ketika memasuki dunia mainstream malah kurang disukai oleh penggemar lamanya?
  2. Dengan mainstream berarti kan penggemarnya semakin banyak, apakah itu menghilangkan ke eksklusifitasan genre atau grup band itu?
  3. Lalu, jika band itu menjadi mainstream… kenapa mereka disalahkan? Bukankah itu tujuannya? Menghibur, sekaligus menangguk untung?
  4. Jika sebelum mainstream yang ngefans katakanlah 500 orang, kemudian setelah mainstream menjadi seantero planet ini, salahkah mereka karena membuat musik yang disukai banyak orang?
  5. Jika kita melihat artikel ini, kita mungkin akan bertanya-tanya, kenapa seseorang mengagung-agungkan aliran musiknya begitu tinggi hingga ke tahap semi mengkhultuskan. Dalam hal ini apakah musik diciptakan bukan untuk didengarkan tetapi malah menjadi sebuah identitas?
  6. Jika kita melihat lebih jelas lagi, mungkin para pengusaha dibalik sukses sebuah band indie yang menjadi mainstream tidak perduli dengan hal-hal pengkhultusan dan identitas, mereka lebih suka jika penjualannya tinggi.

Jadi.. begitulah. Saya yang buta musik ini memang banyak bertanya.

11 thoughts on “Mainstream and Not so Mainstream

  1. unee says:

    Saya akan coba menjawab. Karena ini dulu pernah dibahas juga. Jaman saya masih ikut “komunitas2” musik ga jelas.HAHA.

    1. Karena mereka akan jadi “seragam”.Jadi sama dengan yang lain. Penggemar2 yang dulu suka ama mereka karena mereka terkesan “beda”, pelan2 jadi ngerasa band favoritnya gak ada lagi bedanya ama yang lain. Misalnya,kalo 1 band bernama Amazing in Bed * kalo belum pernah denger,coba denger deh,Tiw. KEREN ! * berubah mainstream dan jadi terdengar seperti este’duablas. Saya pasti akan membuang CD mereka jauh ke samudera hindia.

    2. Enggak juga. Mereka cuma bakal jadi makin ngetop. As simple as that.

    3. Disalahkan sih kaya’nya engga.Mungkin band’nya aja yang ke’GR’an atau penggemarnya yang terlalu SOK idealis. Mereka pikir personel2 band itu ga perlu makan. Being mainstream is ok,just don’t sacrifice your true self. Biar tetep masih punya ciri khas gitu.

    4.Sekali lagi,ngga. Mereka cuma jadi lebih ngetop.

    5. INI yang aku rasain waktu dulu sempet – gak sengaja,gabung di komunitas2 musik ga jelas.Waktu SMU,sempet ikut temen2 yang suka Hip Hop *halah*, jadinya yang didengerin cuma hip hop aja. Kuliah sempet ikut komunitas underground dan jadi manager band lokal beraliran underground/hardcore.Jadinya suka diledekin kalo dengerin Alicia Keys atau Madonna. Padahal,apa salahnya ? Hanya karena kita menguasai satu jenis musik aja,bukan berarti aliran musik lain gak bagus kan ? Dari situ saya belajar, music isn’t an identity,it doesn’t make you who you are. It helps you to become who you are. And it could also be an unlimited soundtrack to your life.Musik ada untuk dinikmati.Kalo udah mulai “mengklasifikasikan” diri dan musik,saya justru ngeliatnya…iba.Hehehe.

    6. Can we blame them ? Semua juga pengen dapet untung kan ? Hehe. Dan,saya yakin ya, sejelek apa pun satu aliran musik,pasti tetep akan ada penggemarnya. Example, saya gak pernah bisa “dapet” isi dari musik2 sekelas Kangen Band,ST12,Wali atau…AURA KASIH. Tapi,for one reason and another,mereka tetep punya fans yang histeris dan menggelinjang2 kalo ngeliat/ngedenger mereka.

    Kalo buat aku,mainstream-ism yang ada justru ngebuat aku jadi lebih pengen tau sama yang tidak/kurang mainstream. :)

  2. titiw says:

    Ih.. Uneee…… jawaban kamu sangat2 komprehensif ya nak.. akh.. aku senang punya teman melacur seperti dirimu.. Kalo menurut pendapatku sendiri, yg udah tenar tapi masih agak “menjaga” dirinya itu ya ben2 macem pure saturday, koil, ya begitulah pokoknya pemirsa.. (tp itu menurut aku loh ya..):)

  3. unee says:

    Nah, iya !! Jagoan itu contoh2nya,Tiw. Walaupun gak terlalu suka ama Koil,tapi aku akuin,mereka berhasil go major without being mainstream.

    Kamu hebat,teman mesumku !!

    –> Prego, my dear *baru les bahasa itali mode: on*

  4. mbelGedez says:

    .
    Kalo sayah selalu setia ndengerin Enigma malem-malem dan selalu terbayang dirimu yang menggelinjang, ya Tiw….

    .
    ***pertanyaan lugu, wajib dijawab…***

    –> Akh.. sudahlah om, aku ini abg yg bukan tipe om. Om suka mbak2 badan gombyor, sedangkan badanku bak model2 majalah bobo begini. Nggak mau jawab kalo belon dikirim supenir, hyeheheh…

  5. dede says:

    hahay some music meant to stay underground..

  6. rouju says:

    Ga ada yang salah, cuma kesel aja kalo mainstream itu kan konotasinya musiman (kesel banget kalo pas Band-nya lagi tenar semua nyanyi lagunya , apal liriknya, tapi setelah “lewat” semua kaya lupa. Itu yang dikhawatirkan oleh “baby boomer” yang suka duluan.

    @dede : Sometimes something should stay underground, kinda agree to some extent

    1. titiw says:

      Terima kasih untuk opininya yang cukup menarik bung rouju.. :D

  7. Poprats says:

    buat gw..
    mainstream sudah lumrah..
    toh kita semua juga bisa dibilang mainstream..
    tapi bukan brarti kita cuma bisa ikutin kemauan “pasar”.
    dalam artian, kita bermusik buat sebuah “satisfaction” demi kepuasan, bukan karna sebuah tuntutan.
    lagipula, trus trang gw ga suka sama band yang notabene BAND MELAYU.
    alasannya simple, mereka merusak usaha para musisi sebelumnya yang membangun kembali dunia persilatan musik kita, dari jajahan musik negara sebelah yang MALING.
    dan sekarang justru dirusak sama band² “melayu” dan semakin booming.
    bikin band² baru ikutan bikin yang gtu supaya sekedar dapat label.
    contoh aja salju, merpati, wali..
    dengarkan baik² musik mereka..
    semua kedengaran sama, malah kadang ga di sertai kualitas sound dan hasil record yang baik.
    apakah itu yang disebut profesional..?
    yang saya tau, dan menurut gw *lagi* mereka sudah menjual idealisme mereka demi pasar dan memperkaya MAFIA yang disebut LABEL.

    itu menurut gw..

  8. lagu lagu yang ada skrg sama spt seragam sekolah..sama semua! oke lah mereka punya penggemar yang banyak, tapi mereka justru tidak bisa dibedakan dengan band lain.coba saja band the potters suruh nyanyiin lagunya esteduwabelas, coba dengar..suaranya,cengkok nya sama mungkin bbrp pendengar g nyangka kalau yg nyanyi the potters.
    beda lagi kalau gigi

  9. lagu lagu yang ada skrg sama spt seragam sekolah..sama semua! oke lah mereka punya penggemar yang banyak, tapi mereka justru tidak bisa dibedakan dengan band lain.coba saja band the potters suruh nyanyiin lagunya esteduwabelas, coba dengar..suaranya,cengkok nya sama mungkin bbrp pendengar g nyangka kalau yg nyanyi the potters.
    beda lagi kalau gigi disuruh nyanyiin lagunya SLANK..kita semua pasti tahu bedanya kan. musik skrg terlalu ngikutin pasar dan scr g sadar sedang di peras sama Label untuk nelorin album setiap tahun dalam 5 tahun kontrak..(kalau tiap tahun disuruh bertelor apa baik?apa gak kering kreatifitasnya?)

  10. raelkeenan says:

    # Kenapa sebuah grup band ketika memasuki dunia mainstream malah kurang disukai oleh penggemar lamanya?
    ——->karena begitu band uda mainstream, ‘identitas’ mreka pas blom mainstream uda ilang. tidak mungkin mempertahankan ‘identitas’ begitu udah join ke arus mainstream. penggemar lama mreka tentunya bukan arus mainstream,jd begitu band kesayangan mreka membelot ke jalur mainstream,buat apa diikuti?

    # Dengan mainstream berarti kan penggemarnya semakin banyak, apakah itu menghilangkan ke eksklusifitasan genre atau grup band itu?
    ——->iya.paling tidak mreka tidak mungkin mempertahankan ‘identitas’ mreka seratus persen.krn salah satu syarat menjadi mainstream adalah ‘selera yg sama dengan orang kebanyakan’

    # Lalu, jika band itu menjadi mainstream… kenapa mereka disalahkan? Bukankah itu tujuannya? Menghibur, sekaligus menangguk untung?
    ——->saya sih nggak menyalahkan mreka mau mainstream ato nggak. toh udah jd tujuan mreka buat nge-band:cari duit. perkara menghibur ato nggak,tergantung kuping yg ngedengerin. balik lg, kmu ngerasa terhibur nggak dengan sajian musik dr band mainstream td?

    # Jika sebelum mainstream yang ngefans katakanlah 500 orang, kemudian setelah mainstream menjadi seantero planet ini, salahkah mereka karena membuat musik yang disukai banyak orang?
    ——->nggak salah. yg salah mungkin Pink yg pnah bilang:saya pengen punya fans yg cerdas.

    # Jika kita melihat artikel ini, kita mungkin akan bertanya-tanya, kenapa seseorang mengagung-agungkan aliran musiknya begitu tinggi hingga ke tahap semi mengkhultuskan. Dalam hal ini apakah musik diciptakan bukan untuk didengarkan tetapi malah menjadi sebuah identitas?
    ——->klo saya bilang mah,maen musik cmn punya 2 tujuan. aktualisasi diri dan penyampaian pesan. gada hubungannya sm cari duit. aktualisasi diri,kita bebas berekspresi dengan genre musik pilihan kita. penyampaian pesan, kita pengen yg denger musik kita ngerasa terhibur, ngerti apa maksud kita bikin lagu ini, paham dengan lirik yg kita tulis. muaranya pd kepuasan rasa. dan bukankah semua tindakan punya alesan yg sama? perkara nanti audiens setuju sm kita a.k.a menjadi fans, atopun nggak suka, bukan wilayah kita lagi.

    # Jika kita melihat lebih jelas lagi, mungkin para pengusaha dibalik sukses sebuah band indie yang menjadi mainstream tidak perduli dengan hal-hal pengkhultusan dan identitas, mereka lebih suka jika penjualannya tinggi.
    ——->memang begitulah rule yg berlaku. sebuah band indie yg menjadi mainstream, dalam artian teken kontrak sm mayor label, ga mungkin punya kendali penuh seratus persen atas band mreka sendiri. pasti ada campur tangan dr pihak label. itu bagian dr kompromi, yg jd masalah, sejauh mn kompromi tsb masi bisa diterima oleh sebuah band sehingga mreka tidak kehilangan identitas?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Latest

Travel Blogger Indonesia

About Titiw

Female, double (hamdallah sudah laku), berkacamata minus satu setengah yang dipake kalo mau liat nomor angkutan umum doang.

Pic of Life

Subscribe Now