Titiw Inside

Broken (yet to be fixed but there will always be cracks) Friendship

Thursday, 19 February 2009

Warna kuning menyilaukan pandanganku yang sedang duduk di bangku penumpang sebuah motor. Kuning di kiri, kuning di kanan, kuning di atas, kuning berputar-putar. Di mana aku? Oh, ternyata aku berada di suatu daerah yang merupakan daerah kantor sebuah partai yang berkuasa bertahun-tahun di Indonesia. Pantas saja spanduk ataupun bendera partai berwarna kuning meraja di sini. Tiba-tiba aku menangis.. Memang bukan nangis sesenggrukan bagaikan ada famili yang meninggal, ataupun menangis haru karena masuk 10 besar indonesan aidel. Aku menangis dimana air itu hanya jatuh setetes di permukaan pipi, namun crying a river di bagian hulu sampai ke hilir hati. Loh.. kenapa mata ini tidak berkoordinasi dengan baik dengan otak? Otak berteriak: “Hey, tidak ada perintah dariku untuk menangis!” Namun hati menjawab dengan bijak “Maaf, aku yang membiarkan mata mengeluarkan derai itu.. Untuk kali ini saja.. Boleh..?” Akhirnya otak pun mengalah dengan keputusan sepihak dari hati.

Aku baru tersadar setelah menangis. Slipi. Daerah yang terdiri dari 5 huruf ini merupakan rumah seseorang yang pernah dekat dengan saya. Bukan dekat dalam hubungan romance, melainkan hubungan.. persahabatan? Boy… Did I missed that word.. Friendship. Or should I say.. Friend-shit? Ya.. Sahabat. Satu kata yang sangat berpower sekali nampaknya dalam membuat hidup lebih hidup. Dia mungkin pernah kutasbihkan menjadi sahabat yang terbaik di dalam hidup ini. Haha. Ingin tertawa rasanya mengingat kejadian sekitar 2 tahun lalu. Klise. Sangat klise. Seorang sahabat yang menikung sahabatnya sendiri. Aku pikir, kejadian itu hanya terjadi di sinetron2 norak ala Indosiar ataupun roman2 picisan di dalam novel2 yang laris manis di tahun 90 awal.

Sakit. Sakit sekali perasaan ini ketika itu. Aku terlalu takut konfrontasi akan hal ini dengan orang yang bertitel sahabat itu. Karena.. Mungkin.. Aku jauh lebih sayang sama dia dibandingkan seorang cowok yang menjadi akar pemasalahan perpecahan itu. Aku terlalu takut jika aku bertanya yg sebenarnya, dan kamu bilang itu adalah fakta. Ingin sekali aku bertanya, dan dengan tertawa kamu akan menjawab “Ah, gosip murahan dari mana tuh? Gak mungkinlah aku pacaran sama cowok yang udah pacaran sama kamu 3 tahun itu! Lagipula kamu kan nangis2nya ke aku ketika diputusin dia, how could I?” Dan kita akan meneruskan tidur2an di kamarku sambil membaca komik2 Jepang kesukaan kita. Namun, kenyataan menertawaiku dengan terbahak-bahak. Itu bukan konon, kejadian itu adalah sejarah yang tak dapat dihapus begitu saja. Namun, tidak sampai hitungan tahun, mereka putus. Entah karena apa. Sampai2 aku berpikir “Friends are just enemies who don’t have enough guts to kill you”.

Kejadian menangis di daerah Slipi itu terjadi kira2 2 minggu lalu, dan saat ini aku sedang menulis draftnya untuk dipublikasikan di jurnal nyampah ini. Namun, beberapa hari yang lalu, tiba2 saja orang itu (ya, orang itu, orang yang menjadi fokus pembahasan kita sedari tadi!) mengirimkan surat elektronik yang berisi pernyataan maaf. Is it a sign? Ketika aku sedang menulis apa yang aku rasakan saat ini, ia juga memikirkan aku? Sekelibat ada rasa sinis yang menyeruak. Apakah jika hubungannya dengan pria itu berjalan baik, dia masih akan tetap memikirkan aku..? Some say.. “Friendship is delicate as a glass, once broken it can be fixed but there will always be cracks”. Sama dengan perasaanku saat ini. You are truly forgiven, but not forgotten. Apakah kalau kita bertemu lagi kita akan bersikap kaku? Apakah kalau kita bertemu lagi kita akan membahas hal2 seputar ini? Hell yeah.. Aku terlalu takut untuk menghadapi hal itu.

Yes, I know we’re only human. Yang mungkin akan mati sewaktu-waktu. Aku juga berpikiran sama dengan kamu seperti apa yang kamu tulis di surat tersebut. Takut kalau keadaan kita tidak membaik sampai suatu saat malaikat kiriman Tuhan itu membuat kita terkesima dan akhirnya mencabut dzat yang disebut nyawa. Aku juga ingin menjadi orang yang lebih baik. Moga2 kamu baca tulisan ini. Karena ingatlah selalu.. aku adalah seseorang yang selalu mencintaimu sejak 18 tahun yang lalu ketika untuk pertama kalinya aku bermain Nintendo di rumahmu, juga ketika kita sama2 bernyanyi “For Your Babies”nya Simply Red (dan dengan bodohnya kita rekam di HP), hingga nanti ketika kata “Sahabat” sudah terhapus di kamus besar Bahasa Indonesia karangan J.S Badudu.

“We’ve gone our own ways and I know its for the best, but sometimes I wonder will I ever have a friend like you again?”
-Blink 182

-Suatu sore ketika abu2 maghrib menyelimuti dan curahan air dari langit memayungi-

(c) Broken Friendship

13 thoughts on “Broken (yet to be fixed but there will always be cracks) Friendship

  1. unee says:

    Ah,susah kalo udah gini,Tiw.
    Emang sih tergantung kesalahannya.
    Tapi kalo dibaca dari cerita kamu, ampe 2 minggu gitu “marahan”nya, it must be something – quite, serious.

    Aku juga pernah gitu. Tapi aku diposisi orang yang buat salah. Aku minta maaf,tapi aku gak paksa si temen untuk langsung memaafkan – apalagi melupakan,kesalahan aku itu. It was all up to her.
    Percaya gak percaya,walau dia langsung maafin, but it took her over 6 months to forget.
    Kalo kamu dibagian ” pemberi maaf “,pikir baik2 deh. Karena lebih susah untuk melupakan daripada memaafkan.

    Hope everything ends well ya,darl’..

    *mwah*

  2. titiw says:

    Anyway bukan 2 minggu tuh beb “marahan”nya.. 2 taun.. lebih.. hehe.. ayang.. maacih ya.. *huek*.

  3. thalique says:

    tenang tiw..i’ll be two step behind..ngemeng apa soch loe ‘liq..

    aku sahaja tiw tidak bisa berkata kata, persis ketika dengar cerita ini pas kita teriak teriak gila di senayan..ketika si dia itu adalah orang yang sering kau pajang di FS itu..aiy tak tawu aku perasaan dan jiwamu kawan…

    1. titiw says:

      Hee.. ah mas T.. Makanya aku bingung, lha selama ini situ kemane ajee..? kok baru nyambung siiiihhhhh…? hehe.. Kapan2 tereak2 gila nonton bola lagi yuk di senayan!! eh btw hari ini aku mo joging di senayan abis ngantor. Care to join? hehe..

  4. siska_q says:

    You are truly forgiven, but not forgotten..:)

    saya baru membaca lagi postingan january 2008..
    hidup adalah pilihan menelikung atau ditelikung..
    mau memaafkan ataupun sebaliknya..
    klo mbaca postingan lama kamu..klo saya diposisi kamu mgkn masih tak bergeming dan enggan dgn permintaan maaf dr jauh..
    didalam badan kamu yg mungil tnyata masih ada jiwa yg besar ti.. :)

    smoga orang itu aka = “sahabat” kamu itu tidak sketika lega begitu saja ktika permintaan maafnya diterima..dan hanya sekedar menghapus satu kesalahannya bgitu saja ketika kamu mau mau memaafkannya..
    buat “sahabat”nya titi..yaa mendingan telat daripada gak sama sekali..

    hidup adalah pilihan??
    eeeh jd inget kata2 mang usil di kompas dulu
    “hidup adalah kelakuan”..uhuuk uhuuk..

  5. thalique says:

    yha kalau jumah aye kagak bise empok..selasa kalau tidak ada perubahan jadwal ngampus boleh lah diriku kau ajak..tapi itu juga jadwal ngampus bisa berubah ubah sich..thanks anyway ajakannya

  6. titiw says:

    @sisca: “Membaca lagi?” Jadi sebelumnya pernah baca..? ohh.. *usap2 dagu* Makasih atas point of view yg kamu kasih ya.. Tapi you talk like you knew me for years. Boleh tau ini siska mana..? (ini bukan paksaan lho, hehe.. Kalo gak bisa bilang di sini, boleh japri langsung ke imel pribadi aku..) :)

    @ mas T; Hu.. Jumat kemaren right after office hour aku udah senam2 poco2 ala tante2 di snayan.. Kapan2 kita atur waktu lah bro.. ahahah…

  7. hamdiyyyy says:

    hooohh, Tiw, masa gwe melupakan keberadaan blog inih, huhuhu,,
    sampe barusan ada yang post pake nama gwe, jadi klo ada comment masuk ke email gw, fufufu..

    udah, Tiiw, maapin, maapin,,
    lagian yang salah kan orang yang ngasih tauin lo klo dia jadian ma si mantan lo ituhh,, parah orang ituh,, dia aja tuh yang ga usah lo maafin, merusak persahabatan orang ajaa,,

    *kabuuuuuuuuuuuuuuurrrr…

    1. titiw says:

      @ Hamdun: Hoho.. maap yak, entar eike edit.. Abis desye gak pernah join lagi sih.. huuu.. nah. maksutnyah kalimat di bawah ini apa??!!

      orang yang ngasih tauin lo klo dia jadian ma si mantan lo ituhh

      Emang dr dulu eike gondook sama desye, hoho..

      @ sisKa: em.. selama comment itu gak yg berkaitan sama selangkangan, gak bakal diapus lah.. sama aja ngapus sejarah dong.. siapapun dia.. atau kamu..

  8. siska_q says:

    mmh..saya pikir commentnya dhapus :)
    taun kmren pas baca postingan lama smpet iseng menelusuri comment2 dr org2 yg muncul..iseng2 lewat google en jreng jreeeng..ktemu deh sm tmen lama itu kamu tii..*psti titi gakpcaya..gakpapa kok..coba deh searching dgoogle nama titiw =D
    soal nama?apalah arti sebuah nama…fiktif kok..
    gak sngaja tp kok jd mirip yah?:)

  9. hamdiy says:

    iya nih, ntar join deh..
    abisan kan gwe bilang waktu itu, ga bisa access si blog lo inih, terus jadi lupa deh, huhu..

    anyway, sama, Tiw, gwe juga gondok sama dia, kita gebukin aja apah? ahaha..

  10. Nugi says:

    kalo kata William Blake: “It is easier to forgive an enemy than to forgive a friend.”

    –> Gitu ya..? :)

  11. seno says:

    *sodorin tissue+crepes* etapi belum ada ya zaman itu? sodorin pundak aja deh. #eaaa

Leave a Reply to hamdiyyyy Cancel Reply

Your email address will not be published.

Latest

Travel Blogger Indonesia

About Titiw

Female, double (hamdallah sudah laku), berkacamata minus satu setengah yang dipake kalo mau liat nomor angkutan umum doang.

Pic of Life

Subscribe Now