Titiw Inside

GANJA: Regulate it, Not Just Legalize it!

Friday, 8 May 2009

marijuana-leaf

Tulisan di bawah ini adalah tulisan teman saya bernama Aryo Wibisono, yang merengek minta tulisannya dipajang di sini biar rada tenar. There you go, Mas YO!

“GANJA”

Hal pertama yang ada di kepala setiap orang jika mendengar kata “ganja” mungkin adalah ILEGAL. Sebagian orang menganggap haram, sebagian menganggap merusak kesehatan, sebagian menganggap identik dengan kejahatan, dan masih banyak persepsi tidak baik lainnya.

Ganja (Cannabis sativa syn. Cannabis indica) adalah tumbuhan budidaya penghasil serat, namun lebih dikenal karena kandungan zat aktif, tetrahidrokanabinol (THC, tetra-hydro-cannabinol) / Delta 9 tetrahydrocannabinol, untuk catatan didalam ganja terdapat 400 zat aktif yang tidak terdapat dalam tumbuhan lain, namun THC adalah zat aktif yang biasa dikenal sebagai halusinogen pada Ganja.

Ganja menjadi simbol budaya hippies yang pernah populer di Amerika Serikat. Hal ini biasanya dilambangkan dengan daun ganja yang berbentuk khas. Selain itu ganja dan opium juga didengungkan sebagai simbol perlawanan terhadap arus globalisme yang dipaksakan negara kapitalis terhadap negara berkembang. Di India, sebagian Sadhu yang menyembah dewa Shiva menggunakan produk derivatif ganja untuk melakukan ritual penyembahan dengan cara menghisap Hashish melalui pipa Chilam/Chillum, dan dengan meminum Bhang.

Tumbuhan ganja telah dikenal manusia sejak lama dan digunakan sebagai bahan pembuat kantung karena serat yang dihasilkannya kuat. Biji ganja juga digunakan sebagai sumber minyak nabati yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk subtitusi bahan bakar minyak.

Namun demikian, karena ganja juga dikenal sebagai sumber halusinogen dan kegunaan ini lebih bernilai ekonomi, orang lebih banyak menanam untuk hal ini dan di banyak tempat disalahgunakan (penulis sebenarnya tidak suka dengan istilah ini). Di sejumlah negara penanaman ganja sepenuhnya dilarang. Di beberapa negara lain, penanaman ganja diperbolehkan untuk kepentingan pemanfaatan seratnya. Syaratnya adalah varietas yang ditanam harus mengandung bahan halusinogen yang sangat rendah atau tidak ada sama sekali. Sebelum ada larangan ketat terhadap penanaman ganja, di Aceh daun ganja menjadi komponen sayur dan umum disajikan.

Bagi penggunanya, daun ganja kering dibakar dan dihisap seperti rokok, dan bisa juga dihisap dengan alat khusus bertabung yang disebut bong, yang dikenal dengan beberapa jenis bong, dari yang berbentuk pipa, dan mekanismenya sama seperti pipa rokok, sampai bong air, yang dapat ditambahkan berbagai rasa (seperti sisha).

Dibalik semua kontroversi yang ada, dibalik semua pertentangan dan propaganda, jika dilihat dari satu sisi dalam implementasinya di Indonesia, yang terjadi adalah ganja dianggap sebagai narkotik, setara dengan zat-zat kimia psikotropikum yang efek jangka panjangnya berpengaruh terhadap sistem kerja syaraf. Para pengganja ditangkap, “katanya diproses hukum” dan ternyata semuanya berujung pada uang (sebuah pandangan sinikal dari penulis). Penyalahgunaan kekuasaan, dan mafia peradilan (terdengar sinis tapi sudah merupakan rahasia umum, walaupun efek ini sama dengan rusaknya susu sebelanga karena nila setitik).

Dalam kasus Ganja di Indonesia saya pernah melakukan beberapa penelitian kecil yang mungkin bisa dijadikan sebuah tolak ukur terhadap sebuah komponen peng-Ganja-an di dua kota (jakarta, bandung) dan secara lebih luas dapat menjadi tolak ukur di Indonesia, dengan melakukan wawancara di beberapa minimarket tertentu yang menjual kertas papir/ kertas rokok / papir (merek tertentu yang biasa dipakai untuk melinting ganja. Kemungkinan papir itu dipergunakan untuk melinting rokok sangat kecil, karena orang akan lebih memilih membeli rokok yang sudah jadi ketimbang melinting dengan banyak resiko, dan ketidak praktisan (dianggap pengganja), dan masih banyak pemikiran logis lain yang mendasari kesimpulan saya tentang merek kertas rokok tersebut 98% (persentase yang hanya perkiraan) hanya akan dipakai untuk melinting Ganja).

Singkatnya, di beberapa minimarket tersebut terutama di daerah Jakarta dan Bandung, satu kali drop adalah 60 bungkus papir, yang dapat diestimasikan akan menjadi 25 linting ganja satu boks papir (1 linting ganja menggunakan 2 lembar kertas rokok), dan satu paket ganja 50.000 IDR dapat menjadi sekitar 8-10 linting. Sedangan 1 Kg bisa menjadi sekitar 60 – 70 paket 50ribu-an. Bayangkan, dalam riset kecil yang saya lakukan satu minimarket dapat menjual 60 boks dalam satu – dua hari. Di Jakarta, riset yang saya lakukan adalah terhadap 10 minimarket yang ada di Jakarta Selatan, dan 5 minimarket yang ada di Bandung. Semua memiliki rata-rata penjualan yang sama, yaitu 60 bungkus papir setiap 1 – 2 hari.

Bayangkan berapa Kg/ hari dalam satu spot penjualan papir? Bayangkan berapa orang pengganja yang masih beredar bebas di masyarakat? Semua tidak akan terdeteksi, karena setiap hari pasti ada pengganja aktif yang baru, karena saya juga melakukan sebuah riset kecil yang mungkin tidak akurat namun dapat dijadikan sebuah dasar pembayangan, dimana beberapa pengganja yang saya temui dan wawancara, telah mengganja semenjak remaja, yaitu sejak SMP atau pun SMA, ada yang telah 10 tahun lebih pada umur 24, dan rata-rata penggganja menjadi pengganja aktif semenjak SMA.

Banyak orang yang mengidentikan ganja dengan tindak kriminal dan penurunan kesehatan individu, namun menurut pikiran saya Ganja sangat jauh dari tindakan kriminal dan degradasi kesehatan, karena:

  1. Harga ganja sangat terjangkau (tidak seperti Heroin atau shabu yang mahal dan atau putaw yang sangat mengadiksi, sehingga penggunanya harus melakukan tindak kriminal untuk membelinya)
  2. Ganja dengan THC-nya tidak memiliki tingkat ketagihan seperti heroin, putaw, morph beserta turunannya, anti depresan, psikotropikum, anti panik, alkohol, dan bahkan rokok. Pengguna tidak akan merasakan sakit fisik jika berhenti menggunakannya, kata yang tepat adalah (sugesti terhadap keinginan menggunakan ganja) dan tidak akan terlalu besar jika orangnya tidak mendramatisasi dan melebih-lebihkan (biasanya yang melakukan tindak dramatisasi berlebih saat berhenti menggunakan ganja hanya anak dengan rata-rata umur 14 – 20 tahun).
  3. Sifat halusinogen pada ganja adalah hayalan yang tidak terlalu parah seperti halusinogen lain (magic mushroom pada LSD, jamur tahi kerbau (yang dapat menimbulkan halusinasi visual tingkat tinggi dan akan sangat nyata)), hal yang biasa disebut “giting” pada penggunaan Ganja adalah sebuah efek dimana seseorang merasakan disorientasi waktu, imajinasi berlebih, detilisasi pada pendengaran (jika mendengar musik maka satu-persatu suara alat musik dapat terdengar dengan baik (efek ini mungkin tidak dirasakan oleh semua orang)), tingkat humor yang berlebih (semuanya akan terlihat lucu), rasa damai, perasaan tenang, dalam kasus tertentu dapat menjadi stimulasi untuk berpikir, walaupun tidak jarang para penggguna merasakan rasa malas yang berlebih, adapun demikian adrenalin tidak akan terpacu, dan emosi dapat dipastikan akan ter-redam dengan pengaruh THC (hampir mustahil seseorang yang akan merampok sebelumnya menghisap ganja, dan hampir mustahil orang yang menghisap ganja akan melakukan tindak kriminal dalam bentuk apapun, kecuali sambil mengganja orang tersebut mengkonsumsi alcohol, anti depresan, dan atau psikotropikum lain dengan efek berbeda).
  4. Stimulasi Halusinasi pada ganja dapat menyebabkan hayalan yang jika melalui proses kreatif tertentu dapat menjadikan hasil karya yang menakjubkan (Bob Marley, Sublime, Peter tosh, Mbah Surip, Andy Warhole, beberapa musisi, seniman, publik figur, pekerja seni, dalam bentuk apapun).
  5. Ganja akan menimbulkan efek lapar setelah pemakaiannya (rata-rata setiap pengganja akan merasakan efek ini), sehingga orang tersebut akan makan dan akan tidur di rumah (mencari tempat yang nyaman) setelah mengganja (istirahat cukup, gizi seimbang), tidak jarang beberapa responden saya berat badannya bertambah akibat mengkonsumsi Ganja.
  6. Ganja tidak mengandung Tar, dan nikotin yang dapat mengendap dalam darah dan sistem pernafasan (saya belum pernah mendengar orang meninggal karena ganja; Bob marley meninggal karena tetanus bukan karena ganja).
  7. THC dalam otak yang menstimulasi halusinasi, akan berkurang setelah efek tinggi (high) selesai, dikeluarkan melalui urin, keringat.
  8. Ganja adalah sesuatu yang herbal, tanpa pencampuran zat kimia dan proses kimiawi yang panjang dan berbelit-belit (setelah panen dikeringkan dengan tungku, dipack, dipress, dikemas, langsung siap pakai).
  9. Ada penelitian yang saya baca di Antara News, menyatakan bahwa Ganja dapat menyebabkan gangguan mental, namun pada kenyataannya efek halusinogen yang ada pada ganja merupakan obat stress paling mujarab dan paling herbal jika dibandingkan dengan nitrazepam (dumolid, nipam), diazepam (valium), alprazolam (Xanax (anti panik yang biasa diguanakan oleh orang yang terkena serangan jantung)), dll, yang keseluruhannya merupakan campuran kimia, dan efeknya tentu saja lebih buruk dari sesuatu yang bersifat herbal (dalam kasus stress, skizofrenia, secound personality, atau apapun namanya saya lebih sering menemukan kasus-kasus dengan penyebab berasal dari penyalahgunaan psikotropikum yang berasal dari campuran kimia).
  10. Ganja tidak dapat menularkan HIV, Kanker, yang dapat menular adalah Hepatitis C (bila mengganja satu linting dengan pengidap Hep C), Flu (kasus jarang ditemukan), TB (pengidap TB yang meludah sembarangan pun bisa menulari banyak orang), beberapa penyakit menular lainnya yang media penularan dominannya bukan dari Ganja, tapi bisa saja menular lewat Ganja (namun kasusnya sangat jarang (hanya mungkin menular lewat media air liur, dan media air liur dapat menularkan jika seseorang mengganja bersama orang yang mengidap penyakit tersebut)).

Masih ada beberapa hal yang dapat menjadi alibi jika ganja diidentikkan dengan kriminalitas dan degradasi kesehatan. Jika pembahasannya tentang kontroversi dan alibi terhadap prasangka, maka tidak akan habis dibahas sampai kapan pun.

Sebuah solusi mungkin dapat ditemukan jika semua orang membuka pikirannya seluas mungkin, sebuah ungkapan:

REGULATE IT!

Pemerintah dapat menjadi pengatur sekaligus aplikator dari aturan yang dibuatnya, aturan yang mengatur tentang pemanfaatan ganja beserta komponen lainnya. Dalam pembahasan ini kita harus mengesampingkan norma agama (yang dalam agama apapun mungkin ganja diidentikkan dengan sesuatu yang negatif dan merusak (walaupun jika kita melenceng sebentar dan melihat agama mayoritas yang ada di Indonesia, dengan berpedoman pada kitab suci Al-Quran, dalam AL-Quran tidak spesifik mengganja dilarang dan keadaan “giting” tidak dapat disamakan dengan keadaan mabuk alkohol, dimana kesadaran dapat menghilang sama sekali, dan alcohol dilarang karena pada zaman nabi Muhammad SAW, salah satu sahabat nabi, mabuk dan membaca surat Al-Kafirun secara berputar-putar, sehingga mulai sat itu alcohol dinyatakan tidak baik, merusak, dan haram), norma sosial yang selama ini sudah terbentuk dalam masyarakat, dan segala macam bentuk norma yang mengikat masyarakaat dalam satu keterbatasan berpikir (terdengar sinis, tapi dalam konsep pemikiran ini kita harus membuka lebar logika dan pemikiran kita agar mendapatkan sesuatu yang objektif dari sudut pandang yang subjektif).

Aturan yang mungkin dibuat adalah aturan-aturan yang melakukan pembatasan, lokalisir, regulatif secara bertanggungjawab dan beberapa aturan lain yang dapat membuat segalanya lebih baik (sebuah pernyataan subjektif dari saya dengan menyatakan “sesuatu yang lebih baik”).

Aturan-aturan tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk:

  1. Pengaturan Penanaman Ganja, dimana pemerintah secara terorganisir mengatur daerah yang dapat ditanami Ganja, walaupun pihak pengelola adalah swasta, namun pemerintah harus mengaturnya dengan bentuk aturan seperti cara pengolahan, standar penanaman, cara distribusi, kepemilikan, pajak penanaman seperti yang dilakukan pada tembakau.
  2. Pengaturan batasan legal kepemilikan ganja, misalnya satu orang hanya boleh memiliki tidak lebih dari 30 gram ganja, jika kedapatan memiliki lebih dari 30gram maka orang tersebut dianggap pengedar, dan pengedar tidak resmi akan dikenakan sangsi (missal) 5.000.000 IDR.
  3. Pengaturan tentang batasan umur pengguna Ganja, seperti regulasi pada SIM mobil atau motor yang ditetapkan pemiliknya harus 17 tahun, maka sama halnya dengan Ganja, pemerintah harus melakukan riset yang bertujuan untuk menemukan pada umur berapa seseorang dapat bertanggungjawab atas pilihan yang dipilih oleh dirinya sendiri. Misalnya standar yang ditemukan kemudian adalah 21 tahun, maka orang yang berumur dibawah 21 tahun tidak boleh menggunakan Ganja, dalam kata lain, ganja akan menjadi illegal untuk umur 21 tahun kebawah, jika anak dibawah 21 tahun kedapatan mengganja, maka orang tuanya lah, atau orang yang memberikan anak tersebut Ganja yang harus dihukum dengan hukuman yang berat, misalnya kurungan penjara 3 tahun atau denda 150.000.000 IDR, dengan implementasi yang tidak melenceng dari peraturan tersebut dan peraturan harus “saklek”.
  4. Pajak penjualan Ganja, yang dapat lebih tinggi dari cukai rokok, sehingga harga jual ganja yang selama ini tinggi, mungkin dapat lebih tinggi dan atau stabil, yang pasti pendapatan Negara akan bertambah akibat dari pajak tersebut.
  5. Aturan atas pengedar, dimana setiap orang yang memenuhi kualifikasi tertentu dapat menjadi pengedar, dari segi fisik dan mental (sehat jasmani dan rohani) dimana kemungkinan orang tersebut mengedarkan pada anak dibawah umur akan sangat kecil, maka orang yang akan menjadi pengedar harus ditest psikologi terlebih dahulu.
  6. Pajak atas pengedar, dimana pengedar Ganja dikenakan pajak dari keuntungannya (misal) 20% dari keuntungan adalah pajak.
  7. Deposit atas pengedar, dimana pengedar harus punya deposit uang pada Negara dalam jumlah tertentu yang gunanya untuk menjamin orang tersebut jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan ataupun orang tersebut melanggar aturan. (atau hanya sebuah regulasi yang menjadi standarisasi mengenai orang yang boleh menjadi pengedar).
  8. Lokalisasi. Penentuan tempat legal untuk mengganja, misalnya café tertentu, rumah pribadi dimana tidak ada anak dibawah umur, (smoking area), dll
  9. Ekspor Ganja, dimana Ganja utamanya adalah produk ekspor yang dapat dilakukan oleh pihak swasta dengan aturan tertentu termasuk perpajakannya (jika ganja diekspor, bayangkan berapa devisa yang akan masuk ke Indonesia? Karena Negara di eropa banyak yang melakukan legalisasi pada Ganja).

Dibalik regulasi, dan kontroversi yang pasti akan timbul jika sebuah regulasi tentang Ganja diberlakukan, maka efek positif yang sangat mungkin tercipta antara lain adalah:

  1. Penyalahgunaan Ganja dapat diminimalisir, dengan pembatasan umur dan dengan peraturan yang ketat, maka peredaran ganja dapat dikontrol dan tidak akan menjadi “penyakit masyarakat” (sebuah sebutan sadis yang sinikel dan diciptakan oleh norma social yang terbentuk dalam masyarakat).
  2. Pengguna Ganja oleh anak dibawah umur secara otomatis akan berkurang, karena dengan sendirinya akan terbentuk kontrol sosial atas batasan umur pengganja, dengan demikian lama-kelamaan bukan mustahil penggunaan Ganja di Indonesia akan berkurang.
  3. Devisa Negara akan bertambah, dan dapat dijadikan sebagai sumber pendanaan untuk membayar hutang Negara terhadap “lembaga bantuan keuangan Internasional” dan sebagai sumber pendanaan terhadap pembangunan nasional (Kata bapak pembangunan nasional, Indonesia adalah Negara “agraris” dimana petani merupakan mayoritas penduduk Indonesia. Lalu kenapa kita tidak memanfaatkan sektor pertanian, dengan komoditas baru yaitu Ganja?)
  4. Penyalahgunaan kekuasaan dan mafia peradilan dapat ditekan beberapa persen (saya tidak melakukan penelitian terhadap sektor ini, tapi yang pasti ada beberapa orang yang saya kenal tertangkap karena kasus Ganja dan harus membayar antara 10 – 100juta untuk mendapatkan keringanan hukuman), jika Ganja dilegalkan.
  5. Lembaga Pemasyarakatan narkoba akan bersih dari kasus Ganja, karena Ganja sendiri bukan narkoba, (penggganja bukan “Junkie” dan bukan kriminal).

Selain efek positif, maka akan tercipta pula efek negatif dimana secara alami efek negatif sekecil apapun dimungkinkan terjadi akibat sebuah perubahan yang signifikan, efek negatif tersebut antara lain adalah:

  1. Terjadinya kontroversi terhadap regulasi tersebut oleh pihak-pihak agamais seperti MUI, NU, Muhamadiyah, dll. Namun jika implementasinya baik dan pemerintah dapat menyampaikan maksud regulasi tentang Ganja, maka hal tersebut dapat diminimalisir.
  2. Terjadinya konflik sosial di masyarakat, antara yang pro dan yang kontra, namun lagi-lagi jika penyampaian pemerintah atas regulasi tersebut baik kepada masyarakat, maka konflik dapat ditekan dan consensus dapat terjadi.

Penutup

Sebenarnya menurut hemat saya tidak akan terjadi efek negatif selain konflik, antara pihak yang pro dan yang kontra. Konflik yang akan tercipta adalah karena pihak yang kontra akan menganggap regulasi tersebut sebagai sesuatu yang negatif, sementara yang pro berpikiran bahwa regulasi tersebut diciptakan untuk sesuatu yang lebih baik, yaitu menjaga generasi muda kita dari efek negatif yang mungkin terjadi.

Di lain pihak, Negara kita adalah Negara hukum dimana persyaratan sebuah Negara menjadi Negara hukum yang pertama adalah, bilamana sebuah Negara mengakui HAM masyarakatnya. Mengganja adalah sebuah pilihan, selama hal tersebut tidak mengganggu kepentingan orang lain, dan selama hal tersebut hanya berefek kepada dirinya sendiri, maka menurut saya hal tersebut merupakan Hak Asasi Manusia.

Halal dan haram, adalah hubungan manusia dengan tuhan (sebuah hubungan vertikal) dan legal-ilegal adalah hubungan manusia dengan manusia (hubungan horizontal), Legal belum tentu halal, dan illegal belum tentu haram, legal-ilegal, dan halal-haram sama sekali tidak saling berhubungan. Manusia bebas memilih yang mana yang haram dan yang mana yang halal bagi dirinya sendiri, karena hal tersebut merupakan tangggungjawab pribadinya kepada tuhan.

Legal-ilegal adalah hal yang berhubungan dengan kemasyarakatan, dan walaupun Ganja merupakan barang illegal, toh penggunanya masih banyak, sampai tidak bisa dikontrol. Alangkah lebih baik jika penggunaannya dikontrol, dan diatur sedemikian rupa, sehinggga batasan legal dan illegal, manjadi lebih jelas dan dapat diimplementasikan dengan baik oleh semua pihak. Pada akhirnya semua orang bebas mempunyai pilihannya masing-masing dengan tanggungjawabnya masing-masing, selama tidak mengganggu kepentingan orang lain.

So, GANJA: Regulate It!!! Not Just Legalize It!!!!

PS: Sedikit embat kata dan aksara dari Mpok WIKI.

Previous Post →

179 thoughts on “GANJA: Regulate it, Not Just Legalize it!

  1. beefcake says:

    Ganja sudah dilegalisasi di beberapa propinsi di Amerika, tapi fungsinya untuk pengobatan untuk beberapa penyakit.
    1) HIV, orang yang kena HIV cenderung kurus, untuk mencegah agar terlalu kurus diberi ganja

    2) Kanker, untuk tahan sakit dan napsu makan setelah diobati, chemoteraphy itu bisa bikin muntah2 dan badan sakit2

    3) insomnia, agar bisa tenang dan bisa tidur

    4) sulit makan/ anorexia , biar napsu makan

    5) Depresi , biar lebih happy

    Ganja telah ditemukan lebih EFEKTIF dalam mengobati/membantu beberapa penyakit ini daripada obat2 yang lain, dan tidak mempunyai banyak efek samping.

    Dibandingkan narkoba lain, ganja memang tidak terlalu parah (tidak menyandu, tidak mahal, efek samping tidak berat ).

    Riset di amerika membuktikan, tidak ada efek samping ( jadi bodoh , pelupa , dll) kecuali jika sedang dalam efek ganja. Sebenarnya banyak publikasi pemerintah yang bias, yang menyudutkan ganja dengan mengatakan ganja adalah membahayakan , ada efek sampingan.

    Beda halnya dengan ekstasi- pemakaian yang banyak dapat menyebabkan , kehilangan memori, kebodohan dan lain2.

    Tapi ada riset bahwa ganja bisa menyebabkan kemalasan pada pemakai yang berumur di bawah 21 tahun.

    Memang ganja patut dikaji ulang fungsinya.

    Cara penanaman ganja tidak terlalu sulit, dan 6 bulan bisa panen.
    Cuman pertama2 harus rajin cek seks ganjanya dan pengaturan lampu. Jangan sampai ada yg laki2 , yang kita incer perempuan saja, laki2 di babat abis. Kalo hobi liat aja di youtube jorge cervantes.

    Yang paling jago ganja itu di Belanda, kebanyakan bibit unggulan dari situ. Ganja lokal terlalu parah untuk dikonsumsi bagi org2 yang sudah mencoba lebih bagus ( disini punya kualitas bener2 parah, karena petaninya ga bedain yang cowo sama cewe ). Cowo dikasi hidup dan akhir mem pollenisasi yang cewe, akhirnya bukannya tumbuh bunga malah tumbuh biji.

    Untuk di Indonesia yang MUInya kuat, ga munggkin dilegalisasi, karena faktor agama. Kecuali di negara islam lain bisa di legalisasi baru bisa. Sini sih, ga munggkin lah.

  2. The most factual indisputable reason knp Ganja gak bisa di legalisasi or even di regulasi adalah
    1. Industri rokok akan mati orang mending Nyimeng dari pada nyemok :P which means gak ada pemasukan pajak untuk pemerintah :P
    2. Industri obat-obatan terancam pasien patah tulang, pusing, sampai datang bulan lebih milih nyimenk dari pada beli pain killer :P

    I can’t imagine what if i found an upgrade youtube video of a 2 years old indonesian baby smoking weeds… is that cool or keblinger :P

    but for sure i’m still waiting for another seasons of WEEDS episode damn kapan keluarnya ya :P

    1. Aryo Wibisono says:

      coba di tanggapi ya…
      1. menurut gua sih, saat ganja diregulasi maka pemerintah dan pengusaha harus melakukan penyesuaian terhadap “kesepakatan” ber-pajak… karena kedepannya ganja memiliki kemungkinan menggeser tembakau sebagai sebuah “commodity” yang memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi (dari pada tembakau sekarang).. nah dari sisi pengusaha (dalam hal ini: pengusaha tembakau (gak usah kita sebut lah, pastinya sekarang aja mereka udah masuk 10 besar orang ter-kaya di Indonesia)).. kemungkinan besar mereka akan beralih ke komoditi lain, yang dalam hal ini ganja.. hal tersebut bukan berarti nggak mungkin menyebabkan efek lain (misal: petani yang biasa menanam tembakau, akan beralih ke ganja karena permintaan akan ganja menjadi tinggi)…
      dari penjelasan di atas sedikit banyak nangkep ya mas maksud gua… hehehe…
      oleh sebab itu pemerintah, yang dalam hal ini sebagai pembuat kebijakan publik dapat meregulasi peraturan perpajakan baru untuk ganja…
      kalo sampai dalam tahap ada cukai ganja untuk keperluan dihisap (misal: pajak /gram=Rp.500,- maka /kg ganja akan berpajak Rp. 500.000, dan 1 ton ganja akan menghasilkan pajak Rp. 500.000.000,-) kebayang kan “Indonesia adalah negara Agraris” maka berapa banyak ganja yang dihasilkan oleh petani Indonesia?? dan berapa banyak pajak yang diperoleh pemerintah Indonesia???

      2. untuk industri obat2an mungkin serupa dengan industri tembakau tapi dengan penyesuaian2 tersendiri tentunya (sebagai analogi: sekarang aja banyak obat2 alternatif yang dijual di pasaran (sampe cacing tanah aja jadi obat tipes))…

      sama men, gua juga nggak bisa ngebayangin kalo anak 2 taun ngebaks (pasti lucu banget ya… kucing gua aja yang belom 2 taun doyan banget ngebaks… hehehe) … anyway, ini lah yang membedakan “Re-Regulasi” dan “Legalisasi”… pemerintah juga nggak bodo2 amat lah, buat sembarangan “oke ganja legal ya boi… bebas deh lo semua ngebaks…”
      naif banget sih boi…
      kita ciptakan lah pembatasan2 tertentu, dan kalo sampe ada anak 2 taun yang ngebaks… ya orang tuanya lah dipenjara…
      owh penonton Weeds ya… good..

      salam,
      AWB

    2. Rizal says:

      Weeds, I think its gonna be end of Summer this year!

  3. Yeah i do know what you meant and i agree with most of the argument you made. My comment earlier was just to intrigue more conversation.

    Pastinya regulasi Ganja memang penting. Seperti disini we can all buy weeds di warung kopi, dan pemerintah belanda pun dapat banyak pemasukan lewat pajak dari penjualan ganja tersebut:P

    Memang byk keuntungan duniawi yang bisa didapatkan dari regulasi Ganja, most definetly komoditas perkebunan yang menguntungkan. Hanya saja Hukum di Indonesia hampir gak ada penegakannya so if there is regulation or even legalization on weed still its only going to bring more problem as it is karena gak ada penegakan hukum di Indo :P

    Btw talking about Ganja
    my band name is Psikotropika :P http://www.psikotropika.tk
    We cannot go pass through lame mainstream recording company because is not legalize yet ahaha

    1. Aryo Wibisono says:

      wih ternyata anak PISIP ya…good…
      emang Indonesia sama sekali nggak bisa disamakan sama belanda atau negara manapun..
      dari segi masyarakat dan bahkan mungkin (pasti sih sebenernya) pamerintahnya sendiri belum siap untuk re-regulasi ganja, oleh sebab itu beberapa temen kita di Indonesia bikin sebuah pergerakan ( http://www.legalisasiganja.com/ ) sebelumnya sih ada FB nya juga… tapi beberapa minggu yang lalu dibredel polisi … hehehehe
      nah tujuan mereka adalah untuk mensosialisasikan, menginformasikan dan sedikit banyak mengedukasi masyarakat yang selama ini udah punya pandangan negatif dan skeptif terhadap ganja… walaupun dalam pergerakannya mereka mengusung “Legaisasi Ganja”… atau “Regulasi Ganja”, walaupun seharusnya (menurut gua) “Re-Regulasi Ganja” hehehehe…(piss anak LGN)
      tapi menurut gua lagi.. hal tersebut merupakan awal yang baik untuk sebuah regulasi yang lebih bijaksana..hehehehe
      mari lah kita berdoa supaya ganja bisa dikeluakan dari golongan narkoba di UU narkoba…siapa tau pas lo balik jakarta (tau2) ganja udah dijual di toko souvenir dan oleh2…
      anyway… temen kita di fb kok banyak ya?? add dulu lah…

      best,
      AWB

    1. Aryo Wibisono says:

      thank you…

  4. Rizal says:

    420 on coming bro Aryo sudah ada planning?

    1. Aryo Wibisono says:

      akan selalu ada rencana…;)

  5. seno says:

    lengkap banget. ngeganja lagi deh kalo gitu.

  6. bowo_dulu pernah ngebaks says:

    men, menurut gua nih ya…
    gua pernah ngebaks waktu jaman gua kuliah, dan ampe sekarang gua sadar, emg ada satu sisi positif dari itu semua, tp men efek negatifnya edan… kita semua bakal jadi malas boiii… kepikir gak boi kesitu, malas mandi.. malas segala2nyalah… edan. thx all.

    1. Aryo Wibisono says:

      hadeuh kawan.. kayanya kalo males emang pribadi masing2 aja kali ya…
      just kill ur ego…

  7. budi says:

    bro… jangan bicarain regulasi ganja di indonesia… indonesia regulasi yg lain ajah masih bisa “diatur”… hukum di indonesia implementasi nya masih kurang bro…. regulasi OBAT ajah di kedokteran masih belum jelas aturannya… obat yg seharusnya hanya boleh di dapat dari surat dokter.. ini bisa di dapatkan bebas… nah.. gimana kalo GANJA di sah kan… bisa bayangin ga bro… istri atau anak ente make GANJA… abis itu naek motor.. karena efeknya akhirnya jatuh dan ketabrak…. (in case doang yak)… coba deh bro di pikirin lebih jauh lg… klo GANJA itu BEBAS.. indonesia mau jd apa?? 4:20 <=== orang indonesia bisanya ngikutin tp ga tau artinya…wkwkwkkw

    1. Aryo wibisono says:

      Hai budi,
      Yang pertama gue tanggapi: kayaknya gue nggak akan ngebiarin istri dan anak gue naik motor deh :) hehehe
      Aturan pasti ada yang melanggar, mau di indonesia ataupun di surga sekalipun (refer to nabi adam makan buah kuldi), pointnya bukan aturannya bud, tapi pengakuan terhadap apa yang dilakukan..
      Pengakuan bahwa ganja tidak sama dengan cocaine, bahkan benzodiazepine yang budi maksud sebagai “obat”..

      Kalo nggak tau arti 4:20 ya digoogle dong bud… Masa orang selamanya mau hidup dalam kebodohan..
      Anyway 4:20 pun bukan budaya indonesia, tapi bisa menciptakan budaya atau sekedar lifestyle untuk orang indonesia, saya rasa itu sah-sah saja..

      Kalau ganja bebas, saya rasa biasa aja deh..
      Bolivia, hampir semua orang mengunyah daun koka.
      Ada suatu daerah di afrika (saya nonton di DC) hampir semua orang mengkonsumsi daun kat yang mengandung methampetamine..
      Anyway di aceh ganja juga masih dimanfaatkan sebagai bumbu masak..

      Back to the topic, saya rasa kalau ganja di regulasi (bukan sekedar dilegalisasi) maka segala sesuatunya bisa jadi lebih baik, terutama untuk memprevent anak kecil naik motor setelah mengganja. :p ( btw apa bedanya sama berkendara sehabis minum alkohol???, justru lebih berbahaya) toh alkohol tetep sah2 aja.

      Salam aman berkendara,
      AWB

      Ps: jangan berkendara saat ngantuk (apa ngantuk musti dilarang juga)

  8. nusantaraya says:

    ini menurut saya loh ya… sederhana saja… tak semua sepintar dan selogic kawan kawan disini…. harus diukur juga penyalahgunaan dari ganja ini. masalah mental, masalah tanggung jawab, budaya latah kita…
    bahwa faktanya ganja multi manfaat adalah benar.. bagi kelas menengah dan berpendidikan mungkin. tapi berapa banyak yang bisa memahami dan bisa mempertanggungjawabkan penggunaan ganja agar benar pada tempatnya. matursuwon :)

    1. Aryo Wibisono says:

      Sungguh bijaksana

    2. titiw says:

      Ah. Bijak sekali masnyah.. :)

  9. Siwenk blink says:

    GANJA…

    Dan halusinogen ( Psikedelik )

    merubah standart pemikiran, persepsi, dimana rasa saling menghargai, empati, dan kasih sayang menjadi tinggi.. :D

    Tidak ada perang yang ada hanya pelangi..hehehe

    1. rinaldy arizal says:

      Kerenlah abang ini

  10. bison says:

    SETUJU!!! Regulate it, Not Just Legalize it!

    1. Aryo Wibisono says:

      yuhuuuyyyyyy…

  11. wim says:

    Bagai mana dengan panic attact yang disebabkan oleh ganja? Saya rasa sudah banyak orang yang mengalaminya termasuk saya sendiri.. kenapa sih tulisan tulisan mengenai legalitas ganja tidak pernah membahas soal itu..

    1. Aryo Wibisono says:

      Hai Wim, Panic attact yang seperti apa ya? Bad Trip seperti yang dapat terjadi saat makan mushroom dalam situasi yang tidak kondusif? atau trip ampethamine yang sangat pecah sehingga seseorang menjadi kaget dan depresi pernapasan?
      mungkin bisa dishare panic attack yang seperti apa…:)

      1. bison says:

        Mungkin panic attack yg dimaksud sdr. wim adalah ketika seseorang mengalami perasaan cemas dan paranoid yg terjadi sesaat setelah mengkonsumsi ganja.

  12. Bramadity says:

    baru baca tulisannya serieus banget ya ceu…. tapi bagus dan menarik!!!

    *pufff* sambil sembur asep ke titiw

    1. titiw says:

      Nyahahaha. Ngarti kagak tulisan panjangan kek ginih..?! x))

  13. verdi says:

    Jenius. Ni otak masa depan , menjadikan sesuatu jauh lebih bermanfaat . Untuk yang tidak setuju , sebelum coment baik baik tulisan nya

    1. titiw says:

      Makasih kakak Verdiii :)

  14. verdi says:

    Jenius , ini otak masa depan . Yang tidak setuju sebelum coment baca baik baik tulisan nya , karna jawaban dari ketidak setujuan ada di tulisan itu.

  15. daljono says:

    GO…ROLL IT…!!!!

  16. Expedizi says:

    Benar sekali, sebenarnya seh tidak ilegal atau negatif. Cuma disini hanya penggunanya saja yang melebihkan untuk mengkonsumsi barang tsb. Contoh: pil koplo macam dextro dan sejenisnya, yang sebenarnya obat batuk, tapi toh? banyak yang mengira pil seperti itu negatif.

  17. 619 says:

    Saya sangat suka dan sangat setuju dengan pemikirannya.
    Tapi masalah yang terjadi di Indonesia lebih besar dari itu.
    Narkoba termasuk ganja (saya tidak setuju ganja disebut narkoba) di Indonesia dikendalikan oleh aparat itu sendiri.
    Khusus ganja, mereka sebenarnya sangat bisa untuk memberantas sampai ke akar-akarnya dan sangat bisa untuk melegalkan tanaman ini.
    Cuma ini semua masalah bisnis.
    Jika ganja dilegalkan, pendapatan mereka berkurang dan pendapatan petani bertambah berkali-kali lipat.
    Sangat berbeda dengan yang terjadi sekarang.
    Pendapatan mereka berkali-kali lipat dari ganja ini, sementara petaninya dibayar dengan sangat murah.
    Kabar terakhir saya dengar petani di Aceh dibayar 500 ribu perkilonya.

    Stigma kriminal terhadap benda berharga
    Semua fitnah burukkan citra yang ada
    Berkedok mulia padahal mengontrol harga
    Bisnis kotor merajalela

    Bukan narkotika!!!

    Kalian gila membungkamnya
    Budi daya sekarang juga
    Negeri kita pasti jaya

    N.A.D Kush – Rajasinga

  18. Riotsoak says:

    Cuma 1 kata “Legal” kan utk ganja, jgn bicara rusak kehidupan orang atau ga sehat,haramlah, tai kucinglah. Ini kehidupan di dunia, ga ada 1 orang pun didunia ini yg mndapat Nobel utk kategori orang suci. Yg nmanya kehidupan itu abu-abu resiko tanggung sendiri..pengurus negara ini munafik mknya gw anti pmerintah..ada pemerintah juga ga brdampak lngsung dlm hidup gw..udah saatnya ganja dilegalkan di indonesia..ga usah pake Tax Amnesty sgala utk nambain keuangan rakyat bukan keuangan negara..

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Travel Blogger Indonesia

About Titiw

Female, double (hamdallah sudah laku), berkacamata minus satu setengah yang dipake kalo mau liat nomor angkutan umum doang.

Pic of Life

Subscribe Now