Titiw Inside

Berkunjung ke Tempat Sakit Jiwa: Yayasan Galuh

Monday, 3 August 2009

Yayasan Galuh

Pernah liat orang menderita gangguan jiwa, atau orang gila..? Apa yang lo rasakan..? Apa yang kamu pikir..? Apa yang kamu lakukan..? Mungkin sebagian besar dari kamu akan menjawab “peduli amat”, atau ya malah menjauh agar tidak diapa-apakan. Apakah kamu tau apa penyebab orang menjadi gila..? Apa saja yang bisa dilakukan oleh orang gila..? Simak laporan pandangan mata saya dalam mendatangi Yayasan Galuh, sebuah yayasan yang bergerak di bidang sosial untuk membantu orang-orang yang cacat mental.

Datang dengan nyali yang ciut, akhirnya saya memberanikan diri untuk turun di Yayasan yang berlokasi di Bekasi ini. Sore itu saya bertemu dengan Bapak Suhartono selaku ketua Yayasan, sedangkan pendirinya sendiri adalah Bapak Gendu Mulatif yang usianya sudah sepuh. Bapak Gendu yang merupakan jawara Betawi ini merupakan pemenang Kick Andy Heroes 2009 untuk kategori di bidang sosial karena dedikasinya yang tinggi untuk mengurus yayasan dan segenap pasiennya.

Dengan luas tanah 3200 meter, total pasien di sana berjumlah lebih dari 250 orang, dengan 60 pengurus. Pengurus rata-rata merupakan pasien yang sudah sembuh, dan juga anak cucu dari Bapak Gendu. Diceritakan bahwa pasien di sini merupakan kiriman dari berbagai pihak, seperti keluarga sang pasien sendiri, kiriman dari  Polisi, DLLAJ, serta dari beberapa rumah sakit umum di Bekasi. Sebagian lagi merupakan orang-orang yang ditemukan Bapak Suhartono di jalan-jalan, khususnya di Bekasi. Bapak Suhartono menjelaskan “Mbak Titi, kalo di jalan ada wanita cantik, belum tentu saya liat. Tapi kalo ada orang gila, udah pasti saya berenti, tanya2 dan ujung2nya membawa mereka ke sini.”

Pasien Termuda 9 tahun

Beliau berkata bahwa ada beberapa sebab yang membuat seseorang menderita sakit jiwa seperti ini. Karena faktor keturunan (watch out, guys!) karena ada sakit di bagian sarafnya (narkoba, kecelakaan), ataupun karena derita secara psikis (putus cinta, kurang kasih sayang keluarga). Bapak Suhartono menambahkan bahwa rata-rata pasien di sini cukup ganas, namun tetap ia urus dengan kekeluargaan. Biasanya orang-orang seperti itu menjadi sakit karena kurangnya kasih sayang, sehingga mereka harus diurus dengan kasih sayang pula.

Maka daripada itu, jika ada pawai yang diadakan oleh pemerintah kota Bekasi, para pasien ikut berpartisipasi dalam pawai. “Ahahaha.. Saya mah dibawa seneng aja mbak. Tiap acara pawai itu kan rame sekali orang2 di samping jalan, pas kita2 lewat mereka minggir. Saya kira mereka menghormati kita, eh ternyata karena takut, hehehe. Kurang lucu apa coba kalo barisan kita yang harusnya ke depan eh malah jalan mundur?” Sahut Bapak Suhartono dalam mengenang kebersamaannya dengan para pasien.  Di sini juga pernah berlangsung pernikahan antara pengurus dan mantan pasien, yang dihadiri oleh Bapak Walikota Bekasi. “Pernikahan itu sungguh merupakan keajaiban Mbak. Kami yang tidak mempunyai dana untuk biaya pernikahan, tiba2 ada rejeki dari beberapa media untuk melaksanakan hal itu. Pak walikota datang juga dan sempat menangis karena terharu.

Lebih jauh lagi, Bapak Suhartono yang hanya lulusan SMP itu bercerita bahwa cara untuk mengontrol pasien yang baru datang adalah dirantai selama 3-4 hari. Selama itu, kotoran dari pasien dibersihkan oleh pengurus yang rata-rata mendapatkan kurang lebih Rp 100.000 untuk uang lelah. Setelah itu, baru dilihat apa faktor penyebab sakit si pasien, baru sitentukan apakah pasien ini akan diberikan doa-doa, dipijit, dan semacamnya. “Mbak Titi, saya sudah di sini 16 tahun bertaruh nyawa. Gigi saya patah. kelingking saya putus, jidat saya sobek, dagu saya kena besi panas, karena ada2 saja ulah pasien. Namun Alhamdulillah saya masih ada di sini untuk membantu mereka sembuh.

Mess pengurus & barak bagian luar

Ketika kami masuk ke kantornya, terlihat atap kantor masih memakai asbes dan tripleks. Di ujung-ujungnya atap terbuka, dan sekeliling ruangan terlihat kusam dan tidak rapih. Dari situ, kami berjalan melihat rumah Bapak Suhartono yang terdapat di dalam kompleks panti juga. Lanjut melihat barak pasien yang terbagi tiga. Di bagian kanan, merupakan tempat pasien wanita, dan di tengah dan sebelah kiri merupakan tempat untuk pasien pria. “Maaf ya.. di sini agak bau, karena memang rantai mereka tidak dilepas selama beberapa hari. Jadi semua kotoran mereka keluarkan di sini saja. Nanti pengurus yang membersihkannya.” Dan yes indeed, broder. Saya yang biasanya super NGGAK jijikan ini tiba2 mau ngeludah mulu bawaannya. Bau sampah dicampur bau kotoran manusia ples penyakit kulit yang diderita pasien membuat saya agak miris dan kasihan. Tiba2 dari jauh ada cewek telanjang yang marah dan ngedorong bak air.. Waduh.

WC pasien

Sisi yang paling sebelah kiri merupakan mess pengurus. Terlihat kebersihan yang kurang di sini, sampah berceceran di selokannya. Melewati barak, adalah kamar mandi yang terbagi 2. Kamar mandi tertutup untuk para pengurus, sedangkan kamar mandi terbuka untuk pasien. Kamar mandi dan barak yang baru saja dilewati baru saja dibangun, dan merupakan sumbangan seseorang secara pribadi untuk Yayasan Galuh. “Maaf lagi nih kalo agak vulgar ya..” Yak, apa boleh buaaat.. mata saya udah nangkep sekelebat bayangan bugil cowok di bagian tengah. Damn. Mana si mas Arif, orang kantor saya pake moto pula.. “Buset deh Ti, liat deh nih cowok bugil, jembutnya panjang2 bener!” Et dah mas.. gak usah disebut juga kaleee..

Pria Santri. Lihat bagian belakang baik-baik.

Di samping barak, ada sebuah mushalla, dan di sampingnya lagi, ada puing-puing yang nantinya akan dijadikan poliklinik jika dana dari kami  memungkinkan. Selain poliklinik, bagian panti yang ingin direhabilitasi juga adalah mess pengurus yayasan. Sembari jalan2 gitu, adaaaa aja kelakuan dari para pasien. Ada nenek2 yang mondar mandir pake baju menyolok. “Nah, si Ibu ini nih emang doyannya yang berbau harta gitu (apa coba berbau harta..?), jadi kalo nemu gelang, kalung, atau apa gitu langsuung dipake semua.” Lagi asik cerita, ada cewek lewat, eh ini cowok apa cewek ya..? “AGUS!!!!!” si Agus ini diteriakin sama Pak Hartono karena.. MAKE BAJU CEWEK!!! Sontak si Agus ini langsung nangis! Ahahahah!!! “Dah elah elu dah, baru dipanggil udah mewek. Kebiasaan bener!” Saya hanya ternganga nganga melihat pemandangan absurd yang terjadi di depan mata kepala sendiri saya.

Ibu Harta & Agus si pemakai baju cewek

Oh, kalian kira itu sudah cukup..?! Belum, kawan. Ada nih pasien yang ngaku2 kalo dia itu adalah santri dari Ciamis. Pertanyaan dari si “santri” ini ialah “Menurut Anda.. Nabi Muhammad itu punya KTP gak..?” hwaa… Gemana guah gak ikut gokiil!! Belum lagi saya lihat ada 2 pria yang dirantai bareng. Katanya, itu supaya seimbang. Si pasien yg satu maunya jalan2 terus, pasien satu maunya diem aja. Jadi mereka jalan beriringan, dan tanpa sadar saling mengontrol antara diri mereka asing2. “Makanya saya paling kesel sama orang egois. Liat aja, orang gila pun punya cara kok untuk berbagi. Kalo orang waras egois, itu mah lebih gila dari orang gila menurut saya.“, ujar Pak Hartono.

Yin Yang

Dari situ, kami berjalan ke luar kompleks yayasan untuk melihat beberapa ekor kuda, karena penghasilan yayasan ini didapat dari usaha delman dan odong-odong, sebuah permainan anak. Di depan kandang kuda, terdapat pula beberapa rumah pengurus lainnya. Sehingga jika dirangkum, penghasilan yayasan berasal dari uang makan pasien yang didapat dari keluarga pasien, delman dan murni dari donatur-donatur. Ketika saya bertanya kapan para pasien dilepas emua untuk berkumpul. Pak Suhartono berkata “Oh, itu mah biasanya setengah 5 sore, kita semua absen. Paling bentar lagi.” Shit. Udah jam 4 lewat men!!! Akhirnya, daripada terjadi hal2 yang orang gokil itu inginkan, saya dan beberapa teman kantor pun pulang setelah dadah2 dengan para pasien.

Yak, itu dia pengalaman tak terlupakan saya dalam mengunjungi panti sakit jiwa. Kalo ada temen2 yang mau bantu dalam sumbangan baju bekas, bisa langsung datang ke alamat panti di:

Jl. Cut Mutiah Kp. Sepatan Gg. Bambu Kuning IX RT 03/02 Sepanjang jaya Kec. Rawalumbu Bekasi 17114 dan nomor telpon (021 33622559), Suhanda Gendu (ketua yayasan yg baru) 0817184336

Karena Pak Hartono berpesan, kalau ada baju bekas yang mungkin bisa disumbangkan, mereka menerima dengan senang hati. Akh.. jadi inget lagunya Mbah Surip tentang orang gila yang ngaku2 kalo dia udah sembuh..

“Orang-orang.. Belum tahu, kalau aku sudah semboooh..
RT RW, belum tahu kalo aku sudah sembooh..
Carik Lurah, Belum tahu, kalau aku sudah semboooh..”

Previous Post →

122 thoughts on “Berkunjung ke Tempat Sakit Jiwa: Yayasan Galuh

  1. Gazela says:

    Ass . wr . wb kakak sayaminta tolong nomor hapenya,saya ingin menanyakan tentang kekurangan kakak saya. trims

    1. titiw says:

      Maap ya, saya ini cuma nyeritain pengalaman saya kunjung ke sana. Bukan berarti saya bisa bantu apa2.. Mungkin Gazela bisa langsung aja hubungi nomor telpon di atas? Semoga membantu.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Travel Blogger Indonesia

About Titiw

Female, double (hamdallah sudah laku), berkacamata minus satu setengah yang dipake kalo mau liat nomor angkutan umum doang.

Pic of Life

Subscribe Now