Titiw Inside

Menawar Arti Sebuah Persahabatan

Wednesday, 21 October 2009

Di umur saya yang tidak dapat lagi dikatakan muda ini (Yaa.. Meski saya suka ngaku-ngaku masih ABG sama kapster di salon, atapun ngaku masih kuliah supaya dikasih diskon sama tukang ojek), saya¬† mulai rancu apa arti persahabatan itu. Makin menanjak usia kita, makin kabur pendar-pendar keemasan di sekeliling kata “SAHABAT” yang bersinar terang di kala kita kecil dan dipakaikan bedak secara semena-mena oleh Mamah, ataupun di saat bangku SMA ketika diospek bareng-bareng sama teman-teman yang nantinya akan kita panggil “sahabat”. Arti sahabat tidak secemerlang dulu. Tidak sekinclong dulu. Dan tidak membuat rasa bahagia kita melonjak-lonjak lagi seperti dulu.

Dulu, di saat kita dengan sombongnya menantang dunia dengan sahabat-sahabat kita, tak ada harga yang tertempel di jidat para sahabat. Kita tidak ragu untuk bersahabat dengan siapapun, karena persahabatan memang tidak untuk dijual. Not For Sale. Namun sekarang? Sahabat kita mulai satu persatu meninggalkan kita. Untuk kuliah di luar negeri, pindah rumah, dan yang jamak untuk orang2 di umur saya, ditinggalkan untuk menikah. Kita merasa tertinggal hingga akhirnya pacaran dengan ABG kuliahan dan minta kawin ketika ia bahkan belum selesai kuliah. Sahabat kita mulai tidak membalas sms kita dengan alasan sibuk meeting dengan klien yang membicarakan prospek batu bara di Kalimantan. Ada apa dengan batu bara..? Dulu waktu pelajaran Geografi, dia orang paling sucks dalam batu-batuan, dan sekarang dengan sok mau bicara tentang batu bara..? Sahabat kita mulai tidak bisa kongkow2 lucu lagi di hari Sabtu karena suaminya melarangnya pulang malam. “Siapa yang nanti menjaga si adek Mam..? Papa kan udah capek kerja, masa masih Papa juga yang begadang ngebersihin popoknya“? Itu adalah kalimat-kalimat yang kita baca dengan tingkat kekepoan cukup tinggi ketika melirik isi sms seorang sahabat yang sedang terlihat panik ketika kita baru 5 menit ketemu dengannya di mall paling hip di Ibukota.

Kalimat-kalimat seperti “People change” dan “Dia berubah, aku ngerasa jalan kita udah beda“, dengan liar ngebut dengan cepat di lintasan otak kita. Sebenarnya.. Siapa yang berubah..? Sahabat kita..? Atau kita..? Atau sudut pandangnya yang sekarang sudah berbeda..? Dulu cekakak dan cekikik kita berkumandang di loteng sambil mendengar lagu “Bermimpi” dari Base Jam dengan lipsync murahan yang disempurnakan dengan sisir sebagai mic yang tidak kalah murahannya. Dan yang paling murahan, memang gaya kita waktu itu. Kita sama2 bermimpi untuk meraih apa yang kita inginkan di hadapan bintang dan bulan di malam itu. Well, pada jamannya, langit di Jakarta masih banyak bintang lho, tapi bulannya tetep 1 kok.

Sahabat kita bermimpi jadi guru, kita bermimpi jadi atlet basket. Sahabat kita bermimpi untuk menjadi pemain seppatu roda terkenal, kita bermimpi untuk jadi dokter bedah plastik kalau-kalau si sahabat luka dan harus dioperasi. Di rumah lain pada masa yang sama, ada sahabat-sahabat yang berjanji untuk menanam semacam time capsule yang akan mereka buka 20 tahun kemudian, di saat umur mereka 30. Namun tampaknya, tidak ada lagi yang bersemangat untuk mengumpulkan serpih2 mimpi dari kapsul yang masih belum digali itu. “20 th lagi aku udah jadi Profesor”; “Pas kapsul ini dibuka, aku mau masih tetep temenan sama kalian berlima”; “20 th lagi, aku udah jadi pelukis terkenal yang bisa bikin karikatur presiden dan dipanggil sampe luar negeri untuk ngelukis“, hanyalah penggalan kata-kata bisu yang mungkin hanya dapat menghibur satwa dalam tanah. Seperti puisi gemerlap bagi belatung-belatung dan tikus tanah dalam ruang lingkup hidupnya yang gulita.

Kalau bisa menawar, saya ingin kalau sahabat itu dapat dibeli ataupun dijual. Agar hal-hal di dunia bisa menjadi lebih mudah. Membelinya dengan mahal agar kita tidak menyia-nyiakannya, ataupun menjualnya sajalah daripada ia hanya kita simpan di etalase bernama “kumpulan sahabat”, yang mana mereka sendiri mungkin tidak pernah mempertimbangkan sedikitpun untuk menjadikan kita sahabat. *menghela napas* Sampai sekarang, saya masih punya orang-orang yang saya pertimbangkan sebagai sahabat. Meskipun sekali dua kali mereka membatalkan janji temu karena ini dan karena itu. Hal itu menjadi biasa di umur segini dengan aktifitas yang segitu.

Terakhir, pesan saya terhadap anak jaman sekarang yang moncong tangannya masih berani untuk dikepalkan ke langit dan masih bisa nyolot dengan dunia: Hey nak, ingatlah baik2 hari ini. Hari dimana kalian menorehkan tulisan “Friendship Forever” di meja kayu dalam kelas komputer. Ingatlah detik ini dimana tulisan “TheGals” kalian jahit di sweater yang kalian beli kodian untuk dipakai bersamaan. Dan jangan pernah lupakan “nama kamu & nama sahabat kamu” yang ditulis dengan huruf besar2, keriting dan berdempet di agenda yang kalian tukar tiap jam istirahat. Karena, saat itulah.. Saat itulah dimana arti persahabatan adalah fixed price, harga mati yang tidak dapat ditawar. Ingat. Tawa. Canda. Sekolah. Kelompok. Best Friend. Forever. Selamanya.

Once Upon a Time.. :’)

31 thoughts on “Menawar Arti Sebuah Persahabatan

  1. tya says:

    ahh sama persis sama yang daku alami jeng. trutama sahabat masa sma yang dulu berdua belas ke wc, ke kantin, ke perpus, madol, ngegencet adek kelas sampe nangis berjamaah sekarang tinggal kenangan.

    walopun udah dibikinin arisan bersama tiap bulan tetep aja yang dateng yang itu2 aja, ga nyampe setengahnya! haha *tertawa satir*
    tapi gpplah akyu yakin pasti ada sahabat baru yang gak kalah menyenangkan dari mereka semua.

    hugs!
    muawaaahhh ^3^

    1. titiw says:

      Hiyaaa!! iya banget tuh ty!! sekarang juga ada arisan yg mana 2 bulan sekali!! dan orang2nya udah pad bececeran entah ke mana. Entah memang sibuk atau sekarang prioritasnya bukanlah persahabatan..

  2. Nugi says:

    nice writing, nice topic..

    1. titiw says:

      Terima kasih dan kembali kasih

  3. zam says:

    hahaha..

    aku sih memaklumi aja. emang udah beda jaman. beda generasi. gak bis kita minta untuk balik kayak dulu lagi.

    menurutku sih tinggal bagaimana kita menyikapinya. dan menurutku, seiring bertambahnya usia dan kesibukan, harusnya “kongkow” dan “menyikapi persahabatan” itu yg harus ikut berubah.

    rasanya kok ndak lucu, kalo udah punya anak 2 tapi masih suka mejeng dan ngecengin ABG.. hihihihi..

    kalo aku sih begitu mikirnya. gak usah dianggap terlalu serius lah.. yang penting masih tetep kontak aja.. :D

    1. titiw says:

      HAhaha.. keliatan ya tipenya mas zam ini sangat realistis.. sedikit melankolis juga gak papa kok maaas.. :D

  4. wulan says:

    tiw,, 1st of all, for yr info eike termasuk yg rajin baca blog mu lohh hehehe…
    nice writing and nice topic neh, coz somehow i feel the same way. tapi akupun juga suka ngerasa sebaliknya.. justru kalo udah umur2 segini persahabatan mending kayak pohon. sejajar tapi tetep ada ‘jarak’nya, yg penting support and kontak tetep jalan. kalo udah gitu dijamin jauh dri konflikk dehhh and bakal awet…

    1. titiw says:

      Eh ya ampun neng wulan jauh2 dateng dari depok (kesannya kita masih kuliah gitu) buat komennin blog eike.. hehe.. makasih buat opininya yaa.. :D

  5. thalique says:

    everybody’s changing and i (you) don’t feel the same

    mengambil kata kata keane … at least masih bersahabat di dalam hati, walaupun secara fisik jarang bertemu kali jeung

    1. titiw says:

      Ahahah.. I consider you as a sahabat juga loh mas.. tho we met on this online world.. :D

  6. Introverto says:

    errr…betapa bahagianya saat masa2 ABG ‘kan ya?

    first visit nih tiw…after PB 09 kemaren..

    ketemu2 di blog ya ntar2…

    -ocha-

    1. titiw says:

      AHoy!! welcome welcome ocha!! hihihi.. ntar eike kunjung balik dan liat2 blog kamu ya bibeh!! ;D

  7. v1rzh4 says:

    People change, and forget to tell each other…
    *quote by Lilian Hellmann*

    :D

    1. titiw says:

      Awwww.. thanks for the qute, darl.. :D

  8. gimbal says:

    ini postingan paling bagus dan terbaik. Great tante..

    1. titiw says:

      Aih kamu.. tante jadi senank *peyuk2 gimbal*

  9. Rani says:

    aku suka postinganmu yang ini tiw.. bagus banget!

    1. titiw says:

      Eneng ranih!! kamu ke mana aja sih??! kakimu apa kabar..? udah baik..? iya nih.. aku kan sekarang tak kerja kantoran.. ajaklah diriku ini untuk melacur bersama.. aku kangen padamu.. huhu..

  10. cinta says:

    knp ya persahabatan yang aq alami gak sempurna, bukannya memperbaik malah memperburuk………….
    aduuuuuuuuh ksh tau dunk cara gimana ngedapetin sahabat yang baik dan benar…………

  11. arsya says:

    knp ya persahabatan yang aq alami gak sempurna, bukannya memperbaik masalah malah memperburuk masalah………

  12. titiw says:

    @ cinta, gue, dan arsya yang memiliki IP address yang sama: All you can do is being loved.. and the rest is up to them, nak..

  13. eMGe says:

    “Sahabatku bukan kamu, bukan dia, bukan juga mereka…!!
    “Sahabatku adalah telapak-telapak tangan kalian yang selalu siap menamparku di kala aku lena oleh lupa…”

    WuEietszzz…!!
    Untung gw cpet ngeles…..
    Gak kena..!! Gak kena..!! gak kena..!!
    Hehehee…

    1. titiw says:

      Ahahha.. apaan sih mas.. *keplak*

  14. aisalwa says:

    yuhuuu … ulasan tentang persahabatan-nya keren nih. seiring waktu, perubahan usia dan aktivitas, cara pandang pada kata persahabatan pun berubah. meskipun tk lagi berdekatan, namun suatu saat jika bertemu, maka akan terucap ” dia adalah sahabatku dan pernah menjadi bagian dalam hidupku.”

    cieeee ….
    ;)

    1. titiw says:

      Hehe.. thx for sharing ya mbak aisalwa.. :D

  15. Lala Bohang says:

    Di usia segini persahabatan lebih jadi asas manfaat

    waktu gebetan mau pameran “Oh lo mau opening pameran? Penyiar radio B sahabat gue tuh!” (padahal cuma ketemu di keriaan)

    kira-kira seperti itu :(

    1. titiw says:

      Ouch.. Hihihi.. iya, kalo dulu kayaknya gak peduli dia orang miskin, kaya, kenal siapa, nggak kenal siapa, pinter, bego… Hmph.. :(

  16. tasya says:

    WaH AkU MaU SaMA TaSya Dia CanTik banget dia pergaulan x bagus jg enak tmn x di ajak main :)

    1. titiw says:

      @tas: maksud kamu apa darling..? kamu segitu narsisnya ampe muji2 diri sendirikah..?

  17. seno says:

    ini buagus buanged!!! *empat jempol* *hugs*

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Latest

Travel Blogger Indonesia

About Titiw

Female, double (hamdallah sudah laku), berkacamata minus satu setengah yang dipake kalo mau liat nomor angkutan umum doang.

Pic of Life

Subscribe Now