Traveling

Melihat Penyu Bertelur di Ujung Genteng

Monday, 2 April 2012

Ujung Genteng Trip FTW!

Pengakuan: trip saya ke Ujung Genteng dilakukan 2 tahun yang lalu, tepatnya di tengah bulan Desember 2010, namun baru mood menuliskan ceritanya sekarang ini. Kalo melihat foto-fotonya di sini dengan muka-muka yang familiar, trip Ujung Genteng memang dimanage oleh sohib saya bernama Nikka Sasongko. Sedangkan oknum-oknum yang ikut ada juga Kete, Amel, Erick, Babang, Wida, Ony, Amie, Udik, dan beberapa teman baru yang tidak kalah ngocol.

Di bulan yang memang disukai oleh hujan, kami menuju ke Sukabumi hari Jumat malam dan sampai di lokasi pada hari Sabtu pagi. Sesampainya di penginapan Mama’s Losmen, kami langsung meluncur ke Gua Sumbing dengan angkot dari penginapan kami. Perjalanannya sendiri memang agak bumpy karena jalanannya memang tidak semulus muka saya. Waktu tempuh dari losmen ke area dekat gua sekitar 1 jam lebih, ditambah treking 15 menit menuju gua.

Mama’s Losmen. Atas penginapan cewek, yang bawah penginapan cowok.

Gua seluas 6 hektar ini terhitung cukup sempit, namun tidak membuat napas sesak, dan relatif aman. Pemandu kami membawa pelita yang sangat terang sehingga tidak usah takut gelap. Meski demikian, bawalah senter untuk berjaga-jaga. Slatagtit coklat yang bermunculan secara sporadis membuat saya ternganga. Indah bukan buatan, euy. Di beberapa tempat, terlihat ada sedikit sajen yang menyimbolkan masih adanya kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal seperti itu. Waktu yang kami habiskan dalam gua kurang lebih 45 menit.

Gua Sumbing

Sebelum dan sesudah masuk gua, perjalanan kita dikelilingi oleh hijaunya sawah para petani. Sangat cocok jika sesi foto juga dilaksanakan di sini. Selepas berpetualang di dalam gua, lanjutlah kami naik getek selama sekitar 1 jam untuk menyambangi air terjun Cikaso atau yang lebih terkenal dengan nama Curug Cikaso. Waaaw.. Pemandangan air terjun ini sangat indah dan tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Karena hujan, kami berteduh terlebih dulu di warung dekat air terjun sambil makan siang. Cuaca adem, pohon rindang, cericit burung, dan suara deras air terjun membuat suasana makin oyeh.

Curug Cikaso

Seakan tidak mau kehilangan waktu, perjalanan kami teruskan ke villa Amanda Ratu. Daerah ini terlihat seperti kompleks perumahan yang mana pemandangannya adalah laut lepas yang super kece seperti Uluwatu di bali. Sayangnya saat kita ke sana air laut tampak berwarna coklat karena hujan. Selesai foto-foto, kami kembali ke penginapan untuk ganti baju. Selesaikah perjalanan hari itu? Beluum! Karena kami langsung menyongsong beberapa pantai, yaitu pantai Pasir Putih, Pantai Pangumbahan, dan pantai Cipanarikan.

Villa Amanda Ratu

Di pantai Pasir Putih, kami hanya mampir sebentar untuk foto-foto dan meroda dan foto-foto loncat ala levitasi, dan lanjut ke Pantai Penyu Pangumbahan dimana kita bisa melihat penangkaran penyu dan saat-saat tukik tersebut dilepaskan ke laut. Tukik sudah dapat dilepas sehari setelah 20 hari mereka ditangkar. Rasanya bahagiaaa banget lihat tukik-tukik itu berjalan-kalan dengan terseok-seok ke arah pantai. So long, lil sea turtles! Till we meet again! :’)

Penangkaran Penyu di Pantai Pangumbahan

Run tukik, run! :)

Camkan dalam pikiran bahwa kita menuju pantai-pantai ini dengan ojek karena jalanannya yang kurang oyeh. Gak cuma ke dua pantai itu aja, pantai terakhir yang kita datangi adalah pantai Cipanarikan. Tipikal pantai-pantai selatan ini memiliki ombak yang cukup besar, air yang tidak terlalu jernih (seperti anyer), namun memiliki sunset yang luar biasa cantik.

Kiri atas maksudnya ACI. Meroda. Melompat.

Di malam harinya, ada alternatif lain yaitu melihat penyu menetas di pantai Pangumbahan lagi. Melihat penyu ini tidak bisa sembarang waktu ataupun go show karena ada waktu-waktu tertentu. FYI, di mana penyu pertama kali bertelur, di situ lagilah dia akan bertelur seterusnya. Jadi meskipun penyu-penyu tersebut sudah ke Australia, kalau dia pernah bertelur di Ujung Genteng, dia akan tetap kembali ke sana. Seperti perantau yang selalu kembali ke kampung halamannya.

Umur penyu dapat mencapai 200 tahun, dan baru bisa bertelur setelah berumur 30 tahun. Beruntung kami dapat melihat 2 penyu berukuran gedaaa banget yang sedang bertelur. Menurut petugas setempat, datanglah ke Ujung Genteng di bulan Juli karena dalam semalam bisa sampai 80 penyu bertelur dalam semalam.

Penyunya bertelur!

Kita diperbolehkan untuk foto penyu-penyu itu asalkan dari belakang, sehingga tidak membuatnya kaget. Sekali bertelur, bisa 100 telur yang mereka hasilkan, namun tidak semuanya jadi. Ini dikarenakan berbagai macam faktor. Pencurian telur, telur dimangsa oleh binatang lain, atau penyu memang rapuh sehingga tidak bisa menetas. Besoknya, kami leyeh-leyeh dan foto-foto cantik aja di pantai dekat penginapan sambil bikin video clip ancur dengan theme song Didik Kempot. Pulangnya sempet mampir makan Bakso Libanon plus ketawa tiwi nonton VCD Sangkuriang yang disetel di tivi bus.

That’s my trip story for Ujung Genteng. Ada beberapa detail yang saya lupa karena perjalanan ini memang sudah cukup lama. Lesson learned: Buru-buru ditulis laporan perjalanannya sebelum kita males dan lupa akan hal-hal yang menarik untuk diceritakan. Jadi, apakah kamu tertarik untuk ke Ujung Genteng? Happy Traveling! :)

Notes:

  1. Biaya trip: Rp 550.000. Total 20 orang. Termasuk bus AC, penginapan, ojek, makan, dan segalanya. Yang agak mahal memang di ojek karena pantai-pantai yang kita kunjungi tidak bisa ditempuh dengan mobil pribadi
  2. Jangan lupa bawa obat anti nyamuk, di beberapa tempat nyamuknya ganas
  3. Beberapa foto adalah hak cipta teman-teman trip saya yang juga ke Ujung Genteng.

13 thoughts on “Melihat Penyu Bertelur di Ujung Genteng

  1. seno says:

    Akhirnya nongol nih tulisan ujung gentengnya.. itu curugnya keren yah, sama di sini kamu masih gondrong! XD

    1. titiw says:

      Masih gondrong, kurus, dan muda.. Ah.. Kembalikan kemudaanku.. *minum darah uler*

  2. budiono says:

    fyuh ini sudah lama banget tiw, tapi masih ada juga ya file fotonya xixixi…

    1. titiw says:

      Eits, kalo foto2 mah gak boleh ada yang ilang broder..

  3. Bieb says:

    udah 2 tahun dan masih inget cerita perjalanannya. Mantep deh mba’ Tiw!! :)

    1. titiw says:

      Haha.. Bieb bisa aja.. *benerin beha*

  4. tya says:

    masya allooooohh udah berapa abad diriku gak main dimarih, huahhh kangenn poll!!!!!!! eh ini trip 2 taun yg lalu? pasti waktu kamu masi kinyis2 ya ;)

    1. titiw says:

      Ah, baru juga 2 tahun lalu terakhir kamu main ke sini.. Jadi post yang satu ini gak terlalu lama deh jatohnya.. *ngambek*

  5. wida says:

    acara tebak iklan sambil nunggu penyu belum diceritain kak..

    1. titiw says:

      Ah kamuuuh.. Iya juga ya.. Nih tebaK “No net nenonet nonet..”

  6. Jefry says:

    Ini dua tahun yang lalu ya,, kapan berkunjung lagi ke Ujung Genteng mas..
    pasti seru bisa kesana kembali sambil mengingat memori sebelumnya..

    1. titiw says:

      Sepertinya belum kepikiran untuk ke sana lagi. Kalo misalnya ada rejeki lagi, pengennya sih ke tempat-tempat yang belum pernah.. :)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Travel Blogger Indonesia

About Titiw

Female, double (hamdallah sudah laku), berkacamata minus satu setengah yang dipake kalo mau liat nomor angkutan umum doang.

Pic of Life

Subscribe Now