Traveling

Secercah Harapan Dari Kampung Naga

Saturday, 27 October 2012

Manusia punya rencana, namun tetap Tuhan yang menentukan. Klise? Mungkin. Namun saya percaya sesuatu yang klise itu bertahan di dunia karena ada artinya. Berencana membeli sepatu merah, ternyata uang kita hanya cukup untuk membeli yang hitam. Berencana menjadi atlet, namun cidera berkepanjangan membuatnya pupus. Berencana menabung untuk traveling keliling dunia, nyatanya kita lebih memilih untuk menaikkan haji orangtua. Dan sejuta rencana-rencana yang berakhir dengan implementasi yang berbeda.

Begitu pula ketika saya mengunjungi Kampung Naga di daerah Garut – Tasikmalaya di awal bulan ini. Saya dan Bang Maxie, seorang karib di ACI 2011, berencana naik bus menuju Garut pukul 5 sore. Namun macet dan hujan yang diturunkan dengan derasnya pada hari itu oleh Tuhan membuat kami naik bus terakhir dari Cililitan, yang mana tidak tersedia lagi tempat duduk di dalamnya. Berencana duduk-duduk selonjor santai di tempat duduk yang bisa direbahkan, berakhir dengan duduk di lantai bus yang dingin ditemani pelukan baju dan jaket lembab serta tusukan dari dengkul-dengkul penumpang lain.

Rencana awalnya, saya ingin ke Bandung minggu itu. Seorang diri. Hanya ingin duduk-duduk saja di Selasar Soenaryo sambil meminum coklat hangatnya yang nikmat dan juga menghindari riuhnya Jakarta. Di minggu itu juga, seseorang yang pernah dekat dengan saya akhirnya menikah. Bukan dengan saya. Dengan wanita pujaannya. Yang mana bukan saya. Saya pernah berencana untuk selalu bersama dengannya, namun Tuhan menentukan jalan lain dalam hidup saya. Lalu mengapa saya berangkat ke Garut?

Seorang kawan bernama Dadang dan Yudi mengajak saya untuk bantu-bantu program yang mereka laksanakan, yaitu Indonesia Membaca. Program ini bertujuan membantu anak-anak di daerah untuk mendapatkan buku-buku layak baca dan menghibur mereka dengan kegiatan seperti bercerita, lomba gambar, serta nonton film bersama. Saya yang pertamanya ingin menyepi demi diri sendiri merasa tertohok. Untuk apa saya menyepi yang malah membuat hati merintih? Mengapa tidak memberi waktu saya yang entah sampai kapan berakhir ini, kepada orang lain yang lebih membutuhkan? Di satu titik, saya merasa egois. Saat itulah saya meng-iya-kan tawaran tersebut dengan segenap hati.

Serenity

Satu hal lagi yang membuat saya semangat untuk bergabung adalah adanya Kang Gola Gong, penulis kenamaan dari Balada Si Roy yang merupakan otak dari Indonesia Membaca tersebut. Seseorang yang pernah dekat juga dengan saya adalah penggemar berat Gola Gong. Bahkan di hari ulang tahunnya saya pernah memberi bundel Balada Si Roy yang diterimanya dengan sangat suka cita. Maka secercah harap saya muncul, apakah jika saya lebih mengenal penulis favoritnya, maka senyum suka cita itu dapat ia arahkan lagi pada diri saya ini? Entahlah. Hanya Tuhan yang tahu. Namun harap itu tidak akan ada artinya tanpa usaha. Maka saya berusaha untuk lebih tau tulisan Gola Gong, lebih tahu tentang Gola Gong itu sendiri. Hingga jika suatu saat ia bercerita tentang Gola Gong dan karyanya dengan riang, saya dapat masuk ke dalamnya dengan gembira.

Gola Gong

Kampung Naga dengan segala kearifan lokalnya membuat saya tersenyum setiap waktu. Tenang. Damai. Sejuk. Tentram. Apalagi ditambah dengan teman-teman yang menyenangkan di kala itu. Kak Dadang, Yudi, Ike, Ullil, Dayu, Gola Gong, Deden, dan tim lain yang membuat acara Indonesia Membaca ini dapat berjalan lancar. Melihat senyum anak-anak Kampung Naga yang ceria ketika menggoreskan kelirnya di atas kertas gambar kosong, saya merasa pilihan saya untuk ke sini tidak salah. Membantu mereka merapikan nama, mengabadikan gambar mereka dalam kamera, dan merangkul bahu-bahu kecil mereka.. Membuat harapan saya akan kebahagiaan muncul lagi.

Teman-teman yang menyenangkan

Di akhir lomba gambar, hujan mengguyur Kampung Naga. Namun entah mengapa semua orang terlihat gembira menyambutnya. Ternyata, itu adalah hujan pertama setelah berbulan-bulan tiada hujan di Kampung Naga. Apakah mungkin titik-titik hujan itu ingin menemani hati saya yang sempat mendung? Apakah ini “imbalan” Tuhan untuk teman-teman saya yang sudah merelakan waktunya demi memberi ilmu lebih bagi anak-anak di Kampung Naga? Wallahualam, yang jelas senyum saya ikut membentuk kurva melengkung ke bawah seiring dengan hujan yang turun.

Selamat ya dek.. :’)

Memberi memang jauh jauh lebih baik daripada menerima. Namun kali ini sepertinya saya yang lebih banyak “diberi” pelajaran positif dari semua elemen di Kampung Naga. Harapan yang sempat hilang, terpupuk kembali. Dari situ, saya yang sempat apatis mulai membuat rencana-rencana lagi dalam hidup. Memang Tuhan yang menentukan. Namun pasti Tuhan lebih suka rencana yang rapih kan? Terima kasih Kampung Naga, telah memberi saya secercah harap untuk masa depan.

:)

PS: Beberapa foto diambil dari hasil jepretan Bang Yudi @kudaliarr, dan beberapa foto lain bisa dilihat di SINI

21 thoughts on “Secercah Harapan Dari Kampung Naga

  1. titiwww…makasih banyak atas segala bantuan dan keriangannya.
    kutunggu saat utk bertemu dgn mu utk sekedar berbagi kehangatan :)

    1. titiw says:

      Sama-sama Bang Yudi.. Minggu ini tapi sebelum Jumat yuk! :)

  2. ike hamdan says:

    Wew, ternyata perjalanan ini adalah healing untukmu. Senang bisa ikut menceriakan hidupmu & melewatkan malam bersamamu =))

    1. titiw says:

      Aku juga terima kasih udah diajak seru-seruan di sana.. :)

  3. gerandis says:

    ini yang nulis titiw bukan sik, tumbenan banget melo galo gini aku bacanya :p
    tapi baguslah ya kak, kamu melo galo gitu masih bisa disalurkan buat kegiatan berbagi dan peduli gini, ayo smangat kakaaak

    1. titiw says:

      Semoga kita semua bisa jadi orang kayak gitu kak. Anak muda kalo galo gak boleh ngemeng di twitter aja, tapi juga melakukan sesuatu untuk sekitar.. *tumben bijak*

  4. Farchan says:

    tulisan tergalaaaau sepanjang masanya kak titiw!
    kayaknya butuh ngetrip menggila lagi nih ya kamu kak? :)))

    1. titiw says:

      Huwaaaa.. Ayooo.. Kita curhat2 lagi di pesawaaat! x)

  5. tya says:

    :’) :’)
    hepi akhirnya perjalanan ini bikin kamu hepi lagi. jgn melow2 kelamaan ya dear, kamu punya kehidupan yg indah dan bisa bikin org senyum2 (dan iri) becos of tulisan n lala lili kamu, cheers! :*

    1. titiw says:

      Makasih beeeb.. Semoga aku masih dikasih rejeki waktu dan kesehatan sama Tuhan supaya bisa bantu orang lain dan tentunya diri sendiri.. :’)

  6. Frenavit says:

    Pertama-tama, puk puk kak Titiw karena ditinggal menikah sama seseorang yang pernah dekat dengan kakak…

    Yang kedua, semoga kedepan rencana-rencana kak Titiw diberikan jalan dan kemudahan.. aminn.. Semangat ya kakak!!

    BTW, kapan nih saya diajakin jalan2nya.. pengennn.. :D

    1. titiw says:

      Amiiin Ya Allah! Ah kamu mah gawsah aku ajak juga udah sering jalan2.. ;) Makasih kavit udah komen2 di sini!! :D

  7. deeko says:

    aiihhhh sungguh tulisanmu kali ini menyayat hati kakak……kasian amat yak si penggemar gola gong ituh dia menyianyiakan orang sebaik dirimu..

    1. titiw says:

      Ah.. Jangan gitu.. Mungkin aku juga sempat menyia-nyiakan sehingga begini.. Intinya sih pengen jadi orang yang lebih baik lagi aja.. Makasih udah mampir ya.. :’)

  8. Bieb says:

    Mba’ Tiw…

    Seneng deh lihat tawa lepasmu di foto yg bawah. Itu tuh yg lagi ngayak beras :D

    1. titiw says:

      Makasih banyak ya Bieb.. :’)

  9. kunjungan balik,
    Jika traveling lagi ke priangan timur, mampir ke garut aja, k rmah saya

    1. titiw says:

      Terima kasih kang dadan atas tawarannya. :)

  10. cumi says:

    kalo bikin acara2 kayak gini boleh dong di share, pingin ikutan acara2 kayak gini hehehe

    1. titiw says:

      Siaaap! Ini juga soalnya dadakan banget.. x)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Latest

Travel Blogger Indonesia

About Titiw

Female, double (hamdallah sudah laku), berkacamata minus satu setengah yang dipake kalo mau liat nomor angkutan umum doang.

Pic of Life

Subscribe Now