Traveling

Suku Kajang: Tak Kenal Maka Tak Sayang

Monday, 11 February 2013

Kawasan-Adat-Ammatoa kajang

Mau datang ke Kawasan Adat Ammatoa di Kajang, Bulukumba – Sulawesi Selatan? Datang saja ke sana dengan kerendahan hati, kejujuran, dan senyum. Suku ini ternyata lebih terbuka dibandingkan kisah-kisah yang mengatakan bahwa mereka tidak menerima kedatangan wisatawan. Sebenarnya apa dan siapa sih masyarakat adat Ammatoa yang biasa disebut orang Kajang ini? Sebagai gambaran, ingat suku Baduy di Banten?

Nah, mirip-mirip deh kayak gitu. Terkesan “terbelakang” dan enggan bersosialisasi dengan orang luar, dan mistis. Sekali lagi saya tekankan: Terkesan. Karena faktanya tidak demikian. Mari saya ceritakan dikit mengenai suku ini dan seluk beluknya, hasil dari jalan-jalan dan pandangan mata saya saat ACI 2011 bersama Oke dan Kak Nunuk.

Masyarakat Kajang memiliki kearifan lokal yang betul-betul concern dengan pengelolaan hutan. Mengapa demikian? Apakah karena daerah ini terpencil? Surprisingly tidak. Lokasi daerah ini hanya sekitar 30 km dari Kabupaten Bulukumba, namun mereka menganggap kalau hutan itu memberi segalanya, sehingga harus dijaga dengan baik. Jika ada pelanggaran seperti potong pohon seenaknya, dapat didenda 1 hingga 2,5 jt.

Denda paling berat: dikucilkan. Lalu apa agama orang-orang Kajang? Terdengar suara adzan di sela-sela waktu saya di sana, namun mereka beranggap bahwa agama adalah patuntung, berasal dari tuntungi, kata dalam bahasa Makassar yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti “Mencari sumber kebenaran”. Wallahualam.

Yang menarik dari Kajang, rumah panggung mereka ini terbuat dari kayu yang seluruhnya menghadap barat. Selain itu, dapur yang umumnya terletak di bagian belakang rumah, di sini malah terletak di ruang tamu. Menurut keponakan Pak Kades yang mengantar kami di pagi hari setelah menginap semalam di rumahnya, filosofi dari hal itu adalah karena mereka menganggap semua manusia itu sama derajatnya, dan dapur di depan karena mereka menunjukkan bahwa mereka terbuka dengan tamu yang datang berkunjung.

Seperti waktu saya namu ke rumah Ammatoa dan disambut oleh istrinya (Ombu), betul lho dapurnya ya di ruang tamu itu. Penganan yang disuguhkan semacam kue gula merah yang enak, dan sembari saya bermain dengan cucu Ombu, terlihat Oke ngobrol dengan Ombu pake bahasa mereka masing-masing, namun mereka berdua ketawa-ketiwi seakan saling ngerti!

Oh ya, jangan lupa untuk memakai baju berwarna gelap (biru donker – hitam) saat menyambangi daerah ini. Selain untuk menghormati masyarakat setempat, pakaian gelap yang mereka kenakan itu memiliki arti kesederhanaan sehingga mereka selalu mawas diri. Jika sudah masuk kawasan Ammatoa, hati-hati ketika jeprat jepret. Selalu tanyakan kesediaan mereka, maukah mereka untuk difoto, karena orang Kajang itu kalau jalan kaki sangat cepat. Jadi daripada dapet foto jelek, mending minta ijin dulu.

Bagaimana caranya menempuh Kajang dari Makassar, pergilah ke terminal Malengkeri (bukan Mariah Carey). Carter Panther di situ untuk ke Bulukumba. 275 rb, non AC, waktu tempuh sekitar 3-4 jm (250 km). Dari Bulukumba, bisa tanya-tanya transportasi ke Kajang, namun biasanya jarang. Saya sendiri diantar oleh ajudan Kadis Pariwisata Bulukumba dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam.

Usahakan juga punya network orang yang pernah ke sini juga untuk memperkenalkan kamu kepada Kepala Desa. Karena di tangan kepala desa inilah keputusan apakah kamu bisa masuk lagi ke Kajang bagian dalam atau tidak. Again, seeing is believing. Jadi, daripada banyak ketakutan dan menganggap mistis hal-hal yang belum kamu ketahui, lebih baik langsung saja datang ke Kajang dan tebarkan senyuman kepada mereka. Happy traveling! :)

Ammentengko nu kamase-mase, accidongko nu kamase-mase, a‘dakkako nu kamase-mase, a‘meako nu kamase-mase (berdiri engkau sederhana, duduk engkau sederhana, melangkah engkau sederhana, dan berbicara engkau sederhana) – Filosofi masyarakat kampung adat suku Kajang. 

Trivia:

  • Kenapa namanya Kajang? Menurut mitos di sana, burung kajang adalah cikal bakal manusia yang dikendarai oleh To Manurung sebagai Ammatoa.
  • Bahasa yang digunakan oleh penduduk  adalah Bahasa Makassar dialek Konjo.
  • Tidak ada bedanya Kajang dalam dan luar, jangan sekali-kali membedakan karena nanti kena lirikan maut dari Pak Kades.
  • Suku Kajang di Tana Toa (bagian dalam) tidak memiliki perabotan, tidak ada kursi, kasur, ataupun alat elektronik karena katanya mengganggu hubungan dengan leluhur. Sedangkan di bagian luar (minimal yang saya liat di rumah pak Kades) sudah ada sofa, bahkan ada TV.
  • Jika dulu tidak ada sekolah, sekarang sudah ada, tapi letaknya tepat di perbatasan antara kawasan Tana Toa dan Kajang bagian luar.
  • Ammatoa (kepala adat Tana Toa) tidak boleh difoto dengan istrinya, dan jangan pernah nekat.
  • Salah satu mata pencaharian ibu-ibu di kampung adat: menenun. 1 kain dijual kurang lebih Rp 400.000

31 thoughts on “Suku Kajang: Tak Kenal Maka Tak Sayang

  1. Aan Burhany says:

    Jadi teringat, teman kuliah yang lebih dulu berhenti kuliah dari aku, karena harus jadi Kades di Kajang. Waktu ke sana Kadesnya masih alumni arsitektur unhas ’93 ya? Lupa namanya euy..

    1. titiw says:

      Wah.. Waktu aku ke sana nggak nanya Kadesnya lulusan mana.. :D

  2. rasehaM says:

    Kalo di Banten (Suku Baduy) kan udah sering dijadikan destinasi untuk edu wisata. Kalo Suku Kajang ini gimana, ay? Paling engga yang dateng anak2 sekolah di Bulukumba (khususny) dan Makassar (umumnya) mungkin.

    Lalu, yang enforce dendanya siapa? Kades kah? Masuk sebagai PPNBP ke kas umum daerah dong.

    1. titiw says:

      Masih jarang kayaknya.. Karena pas aku liat buku tamunya.. kebanyakan wartawan.. atau malah kebanyakan dari luar negeri. NAh, kalo untuk dendanya, aku gak nanya juga deh.. Coba nanti aku tilik2 lagi yes.

      1. rasehaM says:

        Ay, sebenernya pada 2008, masyarakat adat Kajang tuh pernah minta kepada Pemerintah Kabupaten Bulukumba untuk ngelola kawasan hutan Kajang sesuai adat masyarakat setempat. Nah, setelahnya, terbit Perda Bulukumba 4/2009 Tentang Hutan Kemasyarakatan.

        Intinya berdasarkan Perda tsb, untuk mengelola hutan (bukan memiliki) itu wajib punya Izin Usaha Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan yang diberikan oleh Bupati kepada Kelompok Tani Hutan yg udah memenuhi syarat.

        Masih menurut Perda tsb, bagi KTH yg melakukan kegiatan tdk sesuai ketentuan Perda akan diberikan sanksi berupa (i) pengehentian kegiatan; (ii) pemberhentian pengurus KTH; atau pencabutan izin.

        #sekedar share, kita kan care #semoga bermanfaat

        1. titiw says:

          Wow, you’re good. Berarti intinya hukum yang berlaku di hutan tersebut sekarang siapa..? Apakah masy suku Kajang sudah memiliki ijin tersebut..?

  3. tya says:

    somehow perjalanan kamu ke kajang ini mengingatkan aku waktu aku pergi ke poso, sulawesi pas taun 2003 beb. taun dimana poso baru2 bergejolak n pembantaian dimana2 (katanyah) tapi ternyata orang2nya ramah n alamnya indahh banget. seeing is believing!

    1. titiw says:

      Eh kamu dalem rangka apa beeb ke Poso..? Aku malah belum pernah nih. Gak horor beb ke sana..? But then again.. seeing is believing. :)

      1. tya says:

        dalam rangka temu keluarga besar mahasiswa arsitek se indonesia gituh dear, jadi kita melanglang buana ke daerah n melihat langsung kehidupan sosial sukur2 arsitektur tradisionalnya,

        poso banyak pantainya dan masih perawan, huah jd kangen :’) padahal klo mw kesana mesti offroad 26 jam dari makassar dan diperiksa penduduk yg bersenjata, hiy!

        1. titiw says:

          GILAAA! Seru banget tapinya yak kalo punya pengalaman ngetrip gitu. Aaaak! :D

  4. Burufly.com says:

    Wah, baru tau sistem denda di hutan ini. Kalo yang sampe dikucilkan itu kalo melanggarnya kayak gimana, tau ngga? (buat jaga-jaga). Btw, yang di atas pakai celana pendek itu pak Kepala Desa nya bukan ya? Hihi. Salam kenal ya :)

    1. titiw says:

      Kalo emang banyak pohon yang ditebang tanpa bilang2 dan tanpa punya fungsi yang jelas. Namun untuk detailnya waktu itu belum tanya2 lebih detail. Bukaaan.. Kepala Desanya aku gak fotom, soalnya aku takuut.. x))
      Salam kenal juga..

  5. maswanz says:

    Wah… 3 kali ke Bira lewat Kajang (saat ini tugas di Bone, jadi kalo mau ke Bira lewat jalan alternativ Sinjai-Kajang-Bira lebih deket daripada mutar Bulukumba) eh malah lum pernah masuk ke suku Kajang, boleh nih kapan2 maen kesana… lam kenal :)

    1. titiw says:

      Wajib kunjung deh ke Kajang ini. Tapi memang harus ada sedikit koneksi untuk bisa masuk ke Kajang bagian dalam..

    2. rusli says:

      orang kajang itu ya orang yg palin baik dan tak perna ilan dari mata saya sampai mati

  6. kunjungilah suku kajang ammatoa sebagai penelitian
    .saya, kami dari perwakilan dari kajang ammatoa, terimah kasih atas partisipasinya
    .lingka_lingkaki mae rikajang

    1. titiw says:

      Terima kasih juga telah berkunjung ke sini. :)

  7. kajang tepatnya bulukumba bagian timur

    1. titiw says:

      terima kasih masukannya mas

  8. Andi Rury Rudansy says:

    Aku orang bulukumba gan.
    Yg mau jalan ke kajang.. hubungi aku aja.
    Aku jadi pemandu,gratis kok. Salam kenal

    1. titiw says:

      Asiik.. siapa nih yg mau ke kajang bisa hubungi daeng rury ini. :)

    2. Debby says:

      Daeng Rury boleh dishare contactnya? Mau tanya2 kl mau jalan ke Kajang Amatoa

    3. galuh says:

      Mau minta contact yang bisa dihubungin dong kakk hehehe

  9. ellen says:

    hai tititw dan pak andy .saya ellen perkenalkan .saya asli jakarta nih ..apa boleh saya minta contact nya mba titiw untuk tanya2 nih ..

    1. titiw says:

      Silakan email saja ke titi.akmar @ gmail mbak :)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Latest

Travel Blogger Indonesia

About Titiw

Female, double (hamdallah sudah laku), berkacamata minus satu setengah yang dipake kalo mau liat nomor angkutan umum doang.

Pic of Life

Subscribe Now