Traveling

Wibawa Kepala Desa Tanah Towa

Wednesday, 13 February 2013

“Jika suatu daerah menjadi kaya, yang kaya terakhir adalah ketuanya, dan jika suatu daerah menjadi miskin, yang miskin lebih dulu adalah ketuanya”.

Itulah salah satu filosofi yang dianut oleh Kepala Desa Kajang saat kami mengunjungi rumahnya di kampung kajang, sekitar 30 km dari Kabupaten Bulukumba. Kepala Desa bernama Pak Sultan menerima kita dengan tangan terbuka di rumah beliau meskipun kami baru sampai di malam hari. Pak Sultan ini memiliki fisik tipikal orang Makassar, kulit coklat, badan tegap, dan muka sangat laki-laki, dilengkapi kumis yang menambah wibawa. Dari pembicaraan dengan Pak Sultan, tersirat bahwa banyak orang yang menganggap Kajang itu aneh, terlalu mistis, dan tidak mau mengikuti aturan hukum mengenai agama. “Kami ini Islam, tapi kami juga menjalankan budaya adat yang turun temurun dan tidak bisa diganggu gugat. Pemerintah tidak bisa menghilangkannya begitu saja karena hal itu bukanlah agama.”

Rumah Kades Tanah Towa

Sayup-sayup terdengar suara anak kecil di rumah panggung yang cukup luas tersebut. Ternyata, Kades Kajang memiliki empat orang anak yang semuanya perempuan. Ia menambahkan “Peran Kepala Desa di sini menengahi pemerintahan di luar Kajang, dan Ammatoa (ketua suku Kajang).” Ketika saya bertanya mengenai perbedaan Kajang Luar dan Kajang Dalam, beliau dengan tegas mengatakan:

Saya kurang begitu suka dengan istilah Kajang Luar ataupun Kajang Dalam. Semua Kajang sama. Hanya saja, ada masyarakat yang memilih untuk tinggal di kawasan dalam dan tidak terterpa modernitas, ada yang memilih tinggal di luar karena memudahkan“.

Yang cukup membuat saya kaget, istri Pak Kades bukanlah orang Kajang, melainkan orang Surabaya. Mereka bertemu ketika Pak Sultan ini sedang ada seminar di sana. Jadi jangan salah, Kajang memegang teguh adat, namun tidak tertutup dengan ilmu dan pendidikan. Kepala Desa juga yang memberikan izin untuk bisa masuk ke Kajang bagian dalam atau tidak. Jika kita tidak diperkenankan masuk, jangan coba-coba memaksa. Di rumah Pak Kades, kami diperkenankan menginap semalam di 2 kamar kosong yang berada di depan. Ini salah satu simbol bahwa mereka terbuka dan selalu siap dengan tamu. Cuma jangan harap ada kasur empuk untuk tidur. Saya aja tidur cuma beralaskan tikar ditemani angin sepoi-sepoi yang masuk dari sekat-sekat dinding kayu rumah. Dan bukan hanya tamu saja yang begitu, satu rumah juga nggak ada yang pake kasur. Sama rata.

Kamar Tamu

Dari buku tamu yang tersedia, saya sempat melihat cukup banyak tamu yang bertandang, dari dalam maupun luar negeri. Jika kamu kapan-kapan akan menginap di rumah Pak Kades, jangan takut harus buang air ke hutan atau sungai, karena sudah ada kakus yang cukup mumpuni di rumah ini.  Di pagi hari, istri Pak Kades menyuguhkan penganan pasar dan teh hangat yang mengingatkan saya akan teh buatan Mama. Lega banget dengan sarapan pagi itu. Maklum, darah Makassar saya memang harus meminum teh hangat kental di pagi hari, kalau tidak saya bisa cranky seharian. *loh jadi OOT*

Sarapan pagi

Di pagi itu juga, kami melihat keseharian masyarakat Kajang yang pergi ke pasar, anak-anak yang ke sekolah, dan bermain-main dengan anak bungsu Pak Kades yang sangat lucu. Kembali lagi ke Pak Kades, ia juga ternyata gemar menulis tentang adat istiadatnya untuk bukti-bukti tertulis kepada anak cucunya nanti. Wah, saya jadi tambah salut dengan beliau. Semoga saja tulisan tersebut dapat menjadi sebuah lukisan yang menorehkan sejarah, karena menulis adalah suatu keabadian. Terima kasih telah menerima kami dengan baik, Kampung Kajang!

Keluarga Pak Kades

PS: Maaf gada foto Pak Kades, takut mintanya bo! x)

Notes:

  1. Kajang dapat ditempuh dengan angkutan umum dari Bulukumba dengan harga 10.000. Pete’-pete’ (angkot) ini hanya ada sampai siang, tidak ada lagi sore atau malam hari.
  2. Akses ke Kajang cukup baik (ada jalan aspal, bisa dilalui motor dan mobil)
  3. Bawa mainan atau buku atau stiker untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak yang banyak terdapat di Kajang.

9 thoughts on “Wibawa Kepala Desa Tanah Towa

  1. rasehaM says:

    Aku memang belum riset lebih dalam sih bahkan terus terang, baru kali ini denger nama Suku Kajang. Tapi, kalo liat dari tulisan dan foto kamu, rasa-rasanya, Suku Kajang tidak se-mistis dan se-mengucilkan diri itu ya, ay.

    I mean, kalo kaya Suku Bajo atau Ikat Kepala Merah atau bahkan Baduy (yg notabene deket sama Jakarta), kan kesan mistis dan mengucilkan diri-nya kental tuh.

    1. titiw says:

      Nah, tapinyaa.. YAng selalu dan selalu bilang mistis itu orang2 luar.. Malah wartawan yang udah berkali2 ke situ bilang kalo selalu aja ada hal2 aneh yang dia alamin. Apa mungkin itu “bumbu” supaya Kajang terdengar lebih eksotis..?

      1. rasehaM says:

        Yang jelas gak se-eksotis kamu, sayang!

        1. titiw says:

          Yakin? Bukan dekil..?

  2. tya says:

    ahhh jadi kembali mengingat keluarga kecil yg sempet aku tumpangin di poso selama seminggu disana… kangen dimana hidup begitu sederhana ga mikir hari ini macet gak ya heee

    1. titiw says:

      Bangeuut.. apalagi pas bangun pagi disapa udara adem abis ujan dan suara gelak tawa bocah2 di rumah itu.. dan secangkir teh hangat.. :’)

    1. titiw says:

      Thanks mbak Zee.. :)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Latest

Travel Blogger Indonesia

About Titiw

Female, double (hamdallah sudah laku), berkacamata minus satu setengah yang dipake kalo mau liat nomor angkutan umum doang.

Pic of Life

Subscribe Now