Traveling

Bank Sampah Maluk: From Trash to Cash

Thursday, 20 June 2013

Masih bercerita tentang perjalanan Bootcamp di Sumbawa Barat, saya dan teman – teman berkesempatan mengunjungi Bank Sampah Lakmus di Desa Maluk. Tahukah kamu apa itu Bank Sampah? Apakah konsepnya sama dengan menamung uang di bank? Apakah bisa nabung sampah masyarakat? Betul. Hanya saja uang itu digantikan dengan sampah. Sampahnya pun bukan sembarang sampah, namun sampah yang memiliki nilai jual. Ketika berkunjung ke Bank Sampah ini, ada dua orang anak kecil yang berkata kepada resepsionis di sana “Saya mau menabung!” Dan dengan ramah mbak resepsionis cantik yang berjilbab itu mempersilakan anak-anak tersebut untuk masuk. Ih saya juga jadi pengin nabung biar disapa sama mbak-mbak cantik. *eh* Lalu bagaimana proses menabung sampah ini?

Resepsionis bank sampah

Sampah yg bisa ditabung

Pertama-tama sampah dari mereka akan dipilah, karena beda jenis sampah (materinya), beda pula harganya. Harga plastik yang kotor dan bersih saja berbeda, apalagi jika materi kaleng dan alumunium yang ditabung, lebih berbeda lagi. Lalu sampah-sampah ditimbang, dan saldo sampah akan dicatat di buku yang betul-betul mirip selayaknya buku tabungan. Setelah itu “nasabah” bisa memilih, apakah hasil dari sampah tadi mau ditabung dulu atau langsung dicairkan dalam bentuk cash atau dalam bentuk pulsa. Jika ditabung, maka harga yang ditawarkan Bank Sampah lebih mahal. Makin rajin menabung, maka makin besar point yang dapat ditukarkan dengan voucher, tas, sampai handphone! Maka daripada itu kebanyakan dari nasabah memilih untuk menabung. Bahkan katanya saldo anak-anak di sana sudah mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Proses memilah sampah

Hadiah pengumpulan poin

“Di daerah sini mbak, percaya atau tidak.. Nasabah kami mayoritas adalah anak-anak setempat. Jika ada anak yang belum memiliki tabungan, biasanya akan merengek untuk dibukakan tabungan oleh orangtuanya. Dan mereka merasa bangga kalau sudah punya tabungan Bank Sampah”.

Itu menurut Direktur Bank Sampah Lakmus ini. Wow. Berarti bukanlah uang, wanita, dan harta yang merupakan lambang pergaulan anak-anak di Desa Maluk, namun Tabungan Bank Sampah! Beliau juga menjelaskan bahwa Newmont yang memberikan modal untuk membangun Bank Sampah, yang selanjutnya akan dikelola oleh masyarakat setempat. Intinya, ini salah satu program CSR Newmont. Nantinya, sampah-sampah tersebut akan diolah di Lombok. Saya lihat-lihat, ada juga kerajinan-kerajinan hasil ibu PKK dari sampah plastik yang dijual dengan harga bersaing, dan juga ada halaman yang ditanami dengan sayur-sayuran organik yang diniatkan untuk konsumsi pribadi.

Lambang pergaulan

Tanaman organik & hasil karya ibu PKK

Keren banget ya.. Jika hal ini berjalan lancar, maka daerah Maluk akan lebih bersih karena hasil kerja keras warganya sendiri. Bayangkan, ada sampah di jalan, anak-anak akan berebut untuk mengambilnya. Hahaha. Memang sudah sepatutnya juga sampah itu diolah, bukan hanya dibuang begitu saja. Jadi pengen tahu, daerah mana saja sih yang sudah mengadaptasi Bank Sampah ini? Setahu saya ada juga di Malang dan Surabaya. Apakah di daerah kamu ada Bank Sampah? Share dong.. Siapa tau sampah itu bisa jadi uang, seperti tagline Bank Sampah Lakmus: From Trash to Cash! Have a green day! :)

18 thoughts on “Bank Sampah Maluk: From Trash to Cash

  1. Bieb says:

    aihh..keren banget ya. Anak-anak pasti jadi mikir sebelum membuang sampah sembarangan. Seandainya hal itu bisa diwujudkan di Jakarta :)

    1. titiw says:

      Pasti ada deh somewhere di Jakarta Bieb, cuma kita belum tahu aja. eh ada gak yaa..? :D

  2. Abdurrohman Hakim Darmawan says:

    Di Maluk tepatnya dmna iya tempat bank sampah tersebut, saya jadi pengen ikut menabung….:) Ibarat nyelam sambil minum air, bersih2 sekaligus dapat uang.

    1. titiw says:

      Oh, mas Abdurrohman ini tinggal di Maluk jugakah..? Tepatnya bank sampah ini ada di Jl. Dr. Sutomo RT 005/ Rw 002. Bisa ditanya-tanya di nomor telpon 08175738479 ya. :)

  3. thalique says:

    Ech di Indonesia ada juga yha, pernah liat di tepe di LN ada tp kaykna sudah sangat canggih..padahal aku pernah selintas pengen meniru ech tepatnya berharap usaha sejenis yang mendaur ulang sampah

    1. titiw says:

      Maksutnyah mas T.. Dirimu mau bikin usaha bank sampah ini? Waaaa.. Aku mendukungmu maaaas! :))

      1. thalique says:

        Ngga segitunya Kak Tiw, cuma kadang gerah liat di Jakarta (umumnya hampir di seluruh negeri ini), kayakna nga berdaya ngurusin sampah. Pernah kepikir itu ketika liat tayangan itu, coba disini ada. Nah, liat namanya aja TPA tempat pembuangan akhir, yha sampah cuma dibuang saja, ganti ke namanya TPA tempat pengolahan sampah atau apa ke…

        1. titiw says:

          Doain sama2 aja mas T supaya persoalan sampah ini gak dianggap “sampah”. Aamiin.

  4. rasehaM says:

    Gak mau banyak berharap agar pemerintah bisa mencontoh program ini, takut sakit hati karena gak kesampean. Tapi, semoga program kaya gini bisa ditiru bahkan dikembangkan dalam program CSR perusahaan-perusahaan di Indonesia. Dengan logika dan harapan, bahwa perusahaan akan lebih profesional. Aamiin.

    1. rasehaM says:

      *Maksudnya perusahaan lebih profesional daripada pemerintah*

      1. titiw says:

        Sebelum kamu ngedit ini aku udah ngeh kok maksudnya apah. Hahaha..

    2. titiw says:

      Kak kamu anaknya insecure ya..? Sampe-sampe bilang :takut sakit hati”. Tapi pointnya sih aku setuju sama kamu, minimal masih ada yang ngembangin program gini yang sustainable, dibandingkan cuma program2 anually yang hanya seremonial.

  5. Laura says:

    waaah makasih bgt tulisnnya kak. aku lagi riset mau bikin bank sampah di Manado. lagi ngumpul2in info buat mulainya.

    aku lg punya mini pilot project yg hampir mirip di daerah kos2an tempat aku ngekos dgn ‘memanfaatkan’ penjaga kosan yg merangkap tukang bersih2 yg gak tau kalo sampahny harus dipilah biar bs jadi uang. blessing in disguise aku keluar kota hampir 6 bulan, mereka tetep nerusin dgn drop langsung ke pengepul yg deket kosan tapi baru sampe ke barang2 yg nilai uangnya termasuk kategori ‘mahal’, selebihnya ttp dibuang biasa.

    1. titiw says:

      Waah.. Semoga bisa jadi bahan untuk development bank sampah di Manado ya kak. :)

  6. tya says:

    iya nih keren konsepnya, klo semua daerah punya sistem kek gini program 3R terlaksana banget. btw sama bank sampah, sampah2 itu dikemanain ya? apa dijual lagi?

    1. titiw says:

      kalo di sini sih sampah2nya akan ke lombok untuk dipilah pilih dan ke pembuangan akhir kak. :D

  7. Robby Mahdi says:

    kpengen bgt terapin sperti ini deh jadinya, pernah memulai dengan kerajinan bambu yg di buat untuk kipas, udah berhasil ada yg order sampai 5000buah kipas tp tetap aja ada yg mencemooh niat baik ku supaya orang2 di sekitar bisa bekerja, :(

    1. titiw says:

      Tetap semangaat kak Robby! :’)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Travel Blogger Indonesia

About Titiw

Female, double (hamdallah sudah laku), berkacamata minus satu setengah yang dipake kalo mau liat nomor angkutan umum doang.

Pic of Life

Subscribe Now