Titiw Inside / Traveling

Women’s Travel Writing: A Thesis

Sunday, 18 August 2013

Minggu lalu ketika sedang berada di Pulau Seribu, notifikasi email di gadget yang tak pernah lepas dari tangan saya tiba-tiba berbunyi. Isinya:

“Halo Kak Titi, apa kabar? Semoga kakak dalam keadaan baik. :). Perkenalkan, aku Sefin, mahasiswi tingkat akhir jurusan Sastra Inggris di UI. Berhubungan dengan kuliahku, aku tengah menyusun skripsi mengenai Women’s Travel Writing di Indonesia dan aku ingin mewawancarai kakak sebagai seorang Indonesian female travel writer untuk skripsiku tersebut. Boleh, ya?”

Karena saya tahu  betapa sulitnya mendapatkan data dari informan jaman saya bikin skripsi dulu, tentulah saya dengan senang hati membantu anak ini. Berikut tanya jawab saya dengan Sefin (yang sudah sedikit diedit), siapa tahu bisa juga membantu teman-teman yang lain untuk menarik analisa yang berhubungan dengan tema yang diusung Sefin, yaitu Women’s Travel Writing:

1. Bagaimana kakak melihat diri kakak sebagai seorang traveler–terutama sebagai seorang traveler dan travel writer perempuan?

Aku melihat diri aku sebagai seorang woman traveler yang bebas. Bebas dari sini definisinya adalah lepas dari label. Kadang aku bisa jadi backpacker yang bisa jalan-jalan karena modal kasihan dari orang lain, kadang kalo ada rejeki ya jadi turis yang gerek-gerek koper tanpa harus gendong backpack segede dosa. Untuk nulis sendiri sih aku udah ngeblog dari lama, sekitar 2005 mungkin. Tapi untuk nulis perjalanan sepertinya dari sekitar tahun 2008 ketika sudah mulai suka jalan-jalan.

2. Sejak kapan kakak ngeh akan kehadiran traveling sebagai budaya? Adakah dorongan dari tradisi keluarga, misalnya karena dari kecil sering diajak orang tua keliling Indonesia.

Yang jelas aku baru kena digigit “traveling bug” sekitar th 2008, tapi untuk traveling sendiri sebagai budaya, mungkin sejak maraknya media online dimana orang dapat dengan mudah memperoleh informasi mengenai jalan-jalan. Ortuku sendiri gak terlalu jalan-jalan minded, tapi karena orangtuaku aslinya bukan orang Jakarta (orang Makassar), dulu waktu kecil sering pulang kampung dan pergi ke tempat-tempat wisata di kampung. Ortuku gak saklek gak ada jalan-jalan, tapi juga bukan yang sebulan sekali harus jalan-jalan.

3. Mengapa kakak memilih Twitter dan blog sebagai media travel writing? Kenapa kakak memilih untuk menulis tentang travel writing dalam beberapa media yang berbeda?

Karena kekuatan twitter dan blog dan social media lainnya itu adalah massal, murah, dan semuanya bisa mengakses. Aku share di media yang berbeda karena karakter pengguna socmed itu bisa berbeda satu sama lain. Misalnya aku share di twitter untuk followers aku aja, di FB aku sekalian share banyak foto yang bisa dilihat keluarga dan kerabat yang tidak memakai twitter.

women travel writer

4. Kita tahu ada beberapa klasifikasi bagi traveler, seperti flash-packer, solo traveler, slow traveler–apakah kakak mengklasifikasikan diri sebagai satu tipe traveler tertentu?

Liat jawaban nomor 1. Aku bukanlah traveler dengan label tertentu, dan semua orang bebas menentukan cara mereka bepergian, asal tidak ekstrim dan menghakimi para pejalan lainnya.

5. Menurut kakak sendiri, apa bedanya tourist dan traveler? Kenapa mereka harus dibedakan?

Gak ada bedanya. Cuma aja kalo denger kata “turis” tuh lebih berduit.. Lebih pengen jalan-jalan karena ingin melihat-lihat tempat tertentu karena belum pernah ke sana. Sedangkan kalo denger “traveler” tuh kesannya backpacker, explorer, berbaur dengan orang-orang setempat, dll, dsb, dkk. Namun tetap saja, di mata penduduk lokal kita adalah turis. Jadi santai aja bro, gak usah dibedain. Penduduk setempat cuma ngelihat dua hal kok, kamu turis/traveler yang baik atau tidak. Yang mana yang kamu pilih?

6. Traveling is actually the tension of being away and home. Bagaimana kakak memandang home atau rumah? Setiap kali kakak traveling, apakah pandangan tentang rumah sebelum pergi meninggalkan dan setelah kembali ke dalamnya menjadi berubah?

Pastinya. Being away from home, making you a grateful person and not taking something for granted. Misalnya saja, di rumah santai aja mandi dengan air bersih dan seenak jidat. Pas dateng ke sebuah pulau, airnya payau, sedikit, dan harus nimba. Di rumah bisa tidur dengan kasur dan guling, pas pergi traveling, ke hotel mahal sekalipun, jarang ada guling. Itu yang membuat aku menjadi pribadi yang selalu bersyukur ketika lagi-lagi bisa sampe rumah lagi dan meluk guling lagi. :)

7. Belakangan muncul buku-buku travel writing dalam bentuk novel. Sebut saja Laskar Pelangi dan 9 Summer 10 Autumns yang mengadaptasi perjalanan seorang anak dari desa yang menjadi seorang yang sukses di suatu negara. Kisah ini menyerupai kisah metamorfosa Cinderella yang dikupas dalam satu catatan perjalanan. Bagaimana kakak melihat fenomena ini? Apakah kakak melihat diri kakak sebagai seorang travel writer yang sama sekali berbeda dengan dua penulis tersebut?

Hahahaha.. Duh jadi nggak enak dibilang travel writer. Ok, I’m blogging, and I do write traveling matters. Tapi tentu belum bisa banget (jauuuuh) dibandingkan penulis-penulis travel fiksi maupun non fiksi. Tapi apapun dan bagaimanapun bentuk karya seseorang, aku selalu appreciate. Karyanya jelek? Minimal dia sudah selangkah lebih maju daripada orang yang tidak membuat karya.

Sekian percakapan singkat antara saya dengan Sefin via email. Apakah ada teman-teman di sini yang punya opini tertentu terkait dengan pertanyaan Sefin? Will be happy to read them all, karena seperti semangat dari tagline blog ini, Sekedar share.. Kita kan care.. So, happy sharing! :)

(c) Image

12 thoughts on “Women’s Travel Writing: A Thesis

  1. Raseham says:

    Merinding bacanya! Kamu bijak sekali dan aku bangga.

    1. titiw says:

      Ahahaha.. Makasih masnya. :)

  2. thalique says:

    Sedikit berbeda cara pandang, kak Tiw menyebut dirinya traveller tanpa label, menurut saya sendiri itu juga label..label travel nya yha tanpa label hehehe.. anyway dek Sefin Anda bertanya ke orang yang pas

    1. titiw says:

      Hahaha.. Klasik Thalique. :D

  3. Zizy Damanik says:

    Aku suka dengan pandangan tentang labeling para traveler. Memberi label berarti tanpa sadar membuat suatu batas, dan pembatasan justru akan bikin banyak orang jadi tidak betah.

    1. titiw says:

      Betul! Jalan mah jalan aja yesss.. Gak usah ada penamaan dkk itu..

  4. didut says:

    aku terinspirasi oleh postingan ini *siapin visa* =))

    1. titiw says:

      Terinpirasi apanya kak? Aku ikut doong ke Jepaaaang.. :)) #eh

  5. muthz says:

    kakak sangat keren aku bangga pernah tidur sekamar ama kakak hheheheheheheh

    1. titiw says:

      Ah aku juga bangga pernah tidur sama kamu. *sounds wrong*

  6. Albert Ghana says:

    Ka Titiw…. aakkkk terimakasih banyak telah menulis ini kak… langsung mengontak ka Seffin buat ngurus skripsian :D

    1. titiw says:

      Siap kakaaak! Sakses yaa :D

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Latest

Travel Blogger Indonesia

About Titiw

Female, double (hamdallah sudah laku), berkacamata minus satu setengah yang dipake kalo mau liat nomor angkutan umum doang.

Pic of Life

Subscribe Now