Traveling

Desa Mantar: Desa Kabut Para Serdadu Kumbang

Saturday, 31 May 2014

Menilik beberapa film sendiri yang pernah berputar dan beredar, sepertinya tidak banyak film yang dikhususkan untuk tontonan anak. Dari situ, berarti tambah sedikit pula film yang khusus anak-anak, yang memang kualitasnya baik. Adalah Alenia Pictures, rumah produksi film yang menurut saya hampir selalu film-filmnya bagus untuk ditonton anak-anak, dan juga mengandung unsur edukatif serta memasukkan setetes kebudayaan lokal di dalamnya. Misalnya saja KING yang berlokasi di Kudus, ataupun Serdadu Kumbang yang mengambil tempat pengambilan gambar di Desa Mantar, Sumbawa.

Tepat bulan Mei tahun lalu, saya berkesempatan untuk berkunjung ke Desa Mantar tersebut yang dapat ditempuh dalam 45 menit hingga 1 jam dengan mobil 4WD dari kota Taliwang. Track menuju desa yang berada di puncak ini sangat terjal, penuh dengan batu, onak, dan duri kehidupan. Bonusnya? Kiri kanan jurang. Belum lagi jika langit sedang mood untuk menangis, tambah becyek dan curamlah perjalanan ke sana. Lalu, bagaimana dengan mobilitas penduduk setempat? Katanya sih mereka sudah biasa memakai motor trail ataupun ojek dari Desa Tapir Seteluk. I wonder betapa kuatnya pantat-pantat orang yang berlalu lalang di situ. Ojek-ojek Blok M harusnya pada berlatih di sini nih biar kagak mata duitan dan lebih tertempa dengan kemacetan ibukota.

Awal track. Foto by Rohib

Agar tidak terlalu fokus dengan jalanan yang mengocok perut, layangkan pandangan kamu jauuuh ke sana, karena di situlah terlihat Selat Alas, selat yang memisahkan Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Jangan lupa pula untuk menekan shutter kamera kamu ketika melihat kegagahan Gunung Rinjani yang dipatri dengan kokoh oleh ibu pertiwi. Daan.. Perjalanan yang sulit itu terbayar lunas ketika sampai di Desa Mantar, desa cantik setinggi 630 mdpl yang hampir selalu berselimutkan kabut.

Misty village

Keramahan penduduk Mantar tersirat dari senyum yang merekah ketika menyambut kami yang dengan berisik memasuki daerah mereka dengan gerungan mobil 4WD. Saya langsung bersemangat ketika menemukan sekelompok anak-anak yang sedang bermain bola dan menepok-nepok bulu a.k.a bulutangkis! Dengan sedikit berlari saya menyambangi mereka untuk bergabung dan ikut bermain. Saya pun berkenalan dengan bocah berkulit hitam yang sepertinya senang sekali saya samperin, “Halo, aku boleh ikutan main ya. Nama kamu siapa?” Ia menjawab “Amar“. “Waw, kalo begitu cocok nih kita main bulutangkis bareng, kenalin namaku Akmar!”

Amar vs Akmar

Teman-teman saya yang lain juga mencari kesibukan lain. Ada Mumun yang bermain karet bersama anak-anak perempuan Desa Mantar, Bram yang menunjukkan foto-foto dari kamera digital kepada bocah-bocah ompong yang sliweran, Alfonso dan cowok-cowok yang ikutan acara balap ayam dengan para serdadu kumbang setempat, dan teman-teman lain yang sekadar duduk-duduk dan ngobrol dengan para penduduk mengenai sejarah Desa Mantar.

:D

Mumun & Alfonso

Ngomong-ngomong sejarah, Desa Mantar ini dulunya bernama Mount Tarry, yang artinya Gunung Tempat Tinggal. Bagaimana bisa disebut seperti itu? Jadi sekitar abad 16, sebuah kapal dagang Cina yang berisikan orang-orang dari berbagai belahan dunia melakukan pelayaran. Ketika melewati Selat Alas Sumbawa, kapal karam dan terdampat di Kuangbusir yang sekarang terkenal dengan sebutan Bangkabelah. Orang-orang kapal itupun mencari tempat tinggal yang layak dan sampailah mereka ke bukit yang tinggi, tanahnya luas, datar, dan cocok untuk bermukim. Dinamakanlah tempat itu Mount Tarry namun seiring dengan perkembangan desa, desa tersebut lebih tenar dengan nama Mantar.

Rumah panggung

Ketika ngobrol dengan para penduduk, saya juga melihat ada beberapa anak albino. Itu juga ternyata ada sejarahnya yang berhubungan dengan karamnya kapal yang saya ceritakan di atas. Jadi di kapal tersebut ada 7 orang bule kulit putih, dan ketika pimpinan pelayaran (Abdul Rahman) akan meninggal, ia berpesan kalau di Desa Mantar tidak boleh ada lebih dari 7 orang kulit putih di dalam Desa Mantar. Sejak saat itu, mulai lahirlah bayi-bayi yang Albino seakan-akan sebagai pengganti 7 bule yang disebut oleh Abdul Rahman. Jumlahnya? Selalu 7 orang. Jika ada 1 yang meninggal, akan lahir 1 albino. Dan bila ada 1 yang lahir, tiba-tiba saja ada 1 albino yang meninggal. Aneh. Tapi sangat nyata.

Lelah bermain, melompat, dan berlari, kami pun menyusuri daerah Mantar untuk melihat Pohon Cita-Cita yang ada di film Serdadu Kumbang. Namun karena saya, Odre, Regy, dan Bram kecentilan untuk foto-foto sepanjang perjalanan, maka kami kehilangan jejak teman-teman yang sudah berjalan duluan. Akhirnya kami foto-foto sapi yang lagi pada chill di sawah, dan juga mengabadikan foto kuda-kuda poni yang berbulu tebal dan sangat lucuk. Ada pula jamur-jamur yang tumbuh di atas kotoran sapi ataupun kuda yang bisa membuat “mabok”. Inget mushroom yang suka dijual-jual itu kan? Di sini banyaaak, tinggal buat sendiri dengan cara indie. Hehe..

Mantar landscape

Hari mulai gelap, dan tibalah saatnya kami mengucapkan selamat tinggal kepada penduduk terutama bocah-bocah serdadu kumbang yang sepanjang sore bermain dan berfoto bersama kami. Saat melemparkan salam selamat tinggal, sekali lagi saya menoleh ke belakang dan deretan rumah panggung yang senada mulai terlihat kecil. Di situ saya menemukan kesederhanaan yang tersirat dari desa Mantar, desa cantik di atas bukit yang selalu berselimutkan kabut. Selamat tinggal Desa Mantar, selamat tinggal para serdadu kumbang, sampai bertemu lagi!

How i love kiddos. :D

Notes: 

  • Jarak tempuh Kota Taliwang – Desa Tapir Seteluk – Desa Mantar: Sekitar 23 km.
  • Untuk ke Desa Mantar, bisa naik ojek dari Desa Tapir Seteluk seharga Rp 10.000 dengan jarak tempuh kira-kira 8 km. Siap-siap pantat cadangan ya.
  • Hanya ada 1 sekolah dan 1 masjid di Desa Mantar
  • Karena Desa Mantar agak sulit untuk dicapai dan bisa saja hujan terjadi di tengah jalan, maka bawalah perbekalan cukup dengan jas hujan yang mumpuni.
  • Dan karena daerahnya yang agak terpencil, kunjungan kamu akan sangat membahagiakan mereka. Jadi bawalah sekadar buku-buku cerita atau mainan yang bisa dibagikan kepada para serdadu kumbang kecil di sana. Kalo triknya Kak Nunuk sih, apalagi selain bagi-bagi stiker. :D
  • Naiklah ke Desa Mantar saat masih terang, begitupun pulangnya, karena jalanan akan lebih bahaya jika ditempuh malam-malam dengan jarak pandang yang terbatas

11 thoughts on “Desa Mantar: Desa Kabut Para Serdadu Kumbang

  1. Vira says:

    gue juga penggemar film2 Alenia! tapi.. Serdadu Kumbang belum nonton sik :P

    1. titiw says:

      Aku jg belom nonton, hihi.. Tapi pernah nonton filmnya Alenia yang Denias di outdoor malem-malem, bareng sama anak-anak kampung naga, dingin2 ditemani teh panas sama cemilan-cemilan rebus kak. Enaaaak.. Kapan2 indohoy adain nobar gitu dong pas lagi ngetrip. :D

      1. Vira says:

        hmm… nobar ya.. ide bagus.. yuk, bantuin bikinnyaaa :)))

        1. titiw says:

          Ganciil.. ajak aja akuh ngetrip duluuuk x)

  2. Hae Titiw… Di desa Mantar sinyal HP masih susah kayak di film Serdadu Kumbang? Lihat nggak rumah yang mengingat ponsel di antena TV itu? :)

    1. titiw says:

      Mbak Tikaa.. Aku belum nonton filem si Serdadu Kumbang inih, jadi gak tau yang kamu maksud. Tapi untuk sinyal HP.. Seinget aku suseh deh.. Telkomsel waktu itu sih rada blank ya.

  3. Efenerr says:

    Ini perjalanan paling epik! Pake 4 WD nyetirnya pake takut melorot. *benerin kutang*

    1. titiw says:

      Kalo gak dipegangin ntar turun berok ya broo! :))

  4. yofangga says:

    wiiihh, ternyata desanya yang ini
    kurang lengkap kak kalo gak sekalian ke pulau kenawa
    hehe
    deket kok dari pototano :)

    1. titiw says:

      Aaa, waktu itu jadwal berkunjungnya cuma ke sini kak. Insha Allah ada waktu dan rejeki disempatkan ke tempat2 tersebut. Makasih udah berkunjung yaa.. :)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Travel Blogger Indonesia

About Titiw

Female, double (hamdallah sudah laku), berkacamata minus satu setengah yang dipake kalo mau liat nomor angkutan umum doang.

Pic of Life

Subscribe Now