Traveling

Sebuah Kisah Tentang KM Bontoharu dan Candoleng-doleng

Wednesday, 17 September 2014

KM Bontoharu (3)

Di tahun 2011 lalu, tepat di hari ke-tujuh kami tim ACI Sulawesi 2 bertolak dari Sulawesi Selatan menuju Sulawesi Tenggara. Ya, hari mulai malam ketika kami memikul bawaan kami yang cukup banyak menuju Pelabuhan Bira, tidak jauh dari penginapan kami di Tanjung Bira. Sebetulnya berat meninggalkan Bira yang nyaman dan biru sejauh mata memandang. Belum lagi adegan-adegan seru ketika bermain dengan penyu. Namun life goes on, perjalanan harus diteruskan.

KM Bontoharu (2)

Pemandangan dari atas Kapal

Tiket tujuan Pelabuhan Sikeli-Raha seharga Rp 90.000/orang sudah di tangan, namun kami masih berjibaku dengan awak-awak kapal KM Bontoharu untuk masuk kamar VIP. Dengan pertimbangan bebas asap rokok, meminimalisir kebisingan, dan tidur lebih nyaman, kami akhirnya menambah 100.000/orang untuk dapat ruang VIP. Camkan bahwa perjuangan untuk naik kapal ini bikin nyali mengkeret. Pertamanya kami hanya mau duduk-duduk saja di tempat duduk depan TV, seperti kapal ferry pada umumnya. Hingga tiba-tiba saja segerombolan pria menyeruak ke ruangan itu dan mengusir kita.

Kak Nunuk, teman seperjalanan saya yang nyawanya berasa kayak kucing (ada 9 bo!) menantang para pria itu: “Heh, kenapa kita harus pindah ya? Kita yang pertama duduk di sini!” kalimat itu meluncur dari bibir kak Nunuk yang naik pitam. Salah satu sopir itu melirik pelan (Ya Allah pokoknya lirikannya maut sampe bikin saya mau pipis di celana!), dan ia berkata pelan namun tegas “Ini tempat duduk khusus sopir“.

Hoo sopir.. Pantas saja penampakan mereka jeger dan bikin mata menunduk. Bukan karena gak mau zinah mata, tapi karena ngeri bos! Kak Nunuk membalas: “Khusus sopir?! Manaa? Gak ada tulisannya tuh!” Dan sejurus kemudian, dengan santainya sopir lain di bagian belakang menulis-nulis sesuatu di atas selapis bekas kardus aqua “KURSI KHUSUS SOPIR” dan ia gantungkan di langit-langit. Si sopir yang adu mulut sama kak Nunuk pun menunjuk ke belakang “Itu ada tulisannya!

OHMAIGOOOTTTT ini antara bikin takut sama ngocol sama hasrat pengen eek bercampur baur dalam diri hamba ya Allah! Kak Nunuk masih mau ngeyel, tapi saya, Oke, dan Indra teman seperjalanan yang lain memaksa kak Nunuk untuk pergi dari situ dan kita duduk-duduk dulu di atas. Setelah adem, baru deh Indra dan Kak Nunuk mencari siapapun yang berwenang di situ agar kita bisa duduk di ruang VIP. Namun wanti-wanti dari petugas bikin jiper “Kalau bisa, jangan keluar dari ruangan ini ya. Kalo sopir-sopir itu liat mereka bisa ngamuk karena iri kalian masuk ke sini“.

KM Bontoharu (4)

Ruang VIP Kapal

 

Kapal berangkat pukul 23.00 dan sampai di Pelabuhan Sikeli sekitar pukul 10.00 keesokan harinya. Transit satu jam, kami sempat turun untuk melihat tulang paus yang dipajang di Pelabuhan, dan sempat minum-minum es dulu di tengah hari bolong. Segaaar.. Selepas berlari-lari ke kapal karena takut tertinggal, sang KM Bontoharu mulai melesat menuju pelabuhan Muna. Itu berarti masih sekitar 7 jam lagi kami menempati ruangan dengan toilet berbau pesing dan diwarnai kecoa-kecoa mungil yang merayap di karpet maupun kursi.

Pelabuhan Sikeli

Pelabuhan Sikeli

Mati gaya pun kami hadapi dengan tabah sambil nyanyi-nyanyi lagu Lingua, sampe nari-nari ala Candoleng-ndoleng di saat kami bener-bener gak tau mau ngapain lagi. Nih saya sekalian beri video aib kami bercandoleng-doleng, tapi mohon video ini jangan disalahgunakan. :’))

""

Jam 18.00 pas, tibalah kami ber-empat di pelabuhan Muna. Namanya doang pelabuhan, tapi tidak ada listrik, tidak ada sinyal, sepi, cuma ada tukang sate, dan yang paling penting lagi.. Tidak ada kendaraan untuk kami keluar dari daerah itu! Tapi Tuhan maha mendengar jeritan hati kami yang sudah sangat lelah. Adalah mobil Panther yang datang ke pelabuhan kecil itu, dan mau dicarter mobilnya untuk ke Raha. 2,5 jam kemudian setelah perut mual karena jalanan yang rusak dan menyeruak hutan gelap, sampailah kami ke motel Alia di kota Raha.

Selfnote: Jangan sampe gak ada tebengan kalo ke Muna, pastikan bahwa ada yang menjemput, sebelum kamu hopeless dan gabung sama pemancing di pelabuhan Muna karena gak ada yang jemput. Saatnya makan, bersih-bersih, dan istirahat, karena esok hari akan menyambung perjalanan menuju ke Bau-Bau. Itulah perjalanan antar Sulawesi yang cukup keras. Selamat tinggal Sulawesi Selatan, dan kali ini, selamat datang di Sulawesi Tenggara!

PS: Perjalanan ini saya lakukan di tahun 2011, sehingga harga dan jadwal mohon direcheck kembali.

Notes:

  1. Jika mau ke Bau-Bau tanpa ke Bira, lebih baik naik kapal saja dari Makassar. Perhatikan jadwalnya yang tidak tersedia tiap hari, di website PT Pelni.
  2. Untuk ke Bau-bau dari Raha, beli tiket kapal cepat seharga Rp 70.000 (Cantika) di loket belakang motel Alia. Raha-Bau-bau ditempuh hanya dengan waktu 1-1,5 jam
  3. Pelabuhan di Raha ada dua, pelabuhan besar dan pelabuhan kecil. Pilih pelabuhan besar untuk ke Bau-Bau.
  4. Ojek dari motel Alia seharga Rp 5.000 sudah termasuk angkat-angkat barang, namun untuk masuk pelabuhan per-orang dikenai biaya Rp 1000 dan tambah Rp 1.000 lagi untuk masuk dermaga. Kuatkan kuping karena di pelabuhan tidak ada orang yang kenal dengan teknologi earphone. Semua HP (kebanyakan merk Mito) yang mereka miliki disetel loudspeaker dengan volume pol!
  5. Kapal cepat Cantika adalah kapal ekonomi ber-AC. Pilih tempat di depan agar mendapatkan ruang untuk meletakkan barang-barang di depan kamu.

8 thoughts on “Sebuah Kisah Tentang KM Bontoharu dan Candoleng-doleng

  1. Putri says:

    kunjungan perdana, salam kenal ya

    1. titiw says:

      salam kenal, putri. :)

  2. Ayu says:

    singgah kemari sambil menyimak saja ^_^, salam perkenalan ya. bila ada waktu mampir ketempat saya ya ^_^

    1. titiw says:

      Terima kasih atas kunjungannya, putri. :)

  3. Tia says:

    ah akupun waktu jaman kuliah pernah melanglang buana ke sulawesi pake KM jadi kebayang perasaan didalam buritan dan terombang ambing di laut, buat kita org (pulau) jawa kehidupan sulawesi mayan keras yah

    1. titiw says:

      Buat orang sulawesi aja keras kak. Gemana kamu. :’)

    1. titiw says:

      Hahahaha Selayar rempoong boook.. Tapi di mana ada niat di situ ada jalan. :D

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Latest

Travel Blogger Indonesia

About Titiw

Female, double (hamdallah sudah laku), berkacamata minus satu setengah yang dipake kalo mau liat nomor angkutan umum doang.

Pic of Life

Subscribe Now