Traveling

Indahnya Berbaur Dalam Kearifan Lokal Jempanang

Wednesday, 22 October 2014

Kearifan lokal selalu didengungkan oleh para pejalan yang melakukan perjalanan nan intim di sebuah daerah, ketika berpadu dengan masyarakat setempat. Secara textbook, kearifan lokal adalah gagasan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Tapi kalo mau lebih gancil lagi sih, nilai-nilai budaya yang baik yang ada di dalam suatu masyarakat. Dan di suatu masa saat Jakarta sedang panas-panasnya, saya mengalami sendiri asyiknya mengamalkan kearifan lokal di daerah dingin bernama Jempanang, yang terletak di pulau dewata, Bali.

Beberapa aktivitas saya dalam tiga malam di bulan Oktober 2014 ini semoga bisa menjabarkan beberapa kearifan yang dimiliki oleh warga Jempanang, sebuah banjar (atau setara dengan RW kalau di Jakarta), dengan jarak tempuh kurang lebih 2,5 – 3 jam dari bandara Ngurah Rai.

1. Sembahyang bersama

Sembahyang bersama hendaklah dilakukan oleh para pendatang yang ingin masuk ke banjar Jempanang, khususnya yang sampai menginap dan mengadakan beberapa kegiatan. Maklum, selama tiga malam ke depan kami memang menginap di rumah warga yang bernama bapak Pasek, dan melakukan segala aktivitas di sana. Dan ikutlah kami melaksanakan ritual berdoa agar selamat, membakar dupa, menyematkan beras di kening, hingga dipercikkan air suci oleh pedanda (dibaca pedande: ulama untuk umat hindu). Udara yang sejuk, bacaan yang lirih dari pedanda, dan matahari keemasan yang mulai kembali ke peraduan, semuanya bagaikan paket lengkap kebajikan lokal dalam menerima kami.

Sembahyang di Jempanang Bali

2. Belajar dan bermain bersama murid-murid SD 2 Belok

Sebagai lulusan LSM yang fokus di bidang pendidikan, saya tidak asing lagi bermain dengan anak-anak. Baru saja datang ke SD yang tidak jauh dari penginapan itu, mereka sudah excited cium tangan kami sambil menghaturkan “Om Swastiastu“. Di sana, saya dan beberapa teman dari Medan (Halo Nelli!), Surabaya (Halo Awang dan Run!), Bali (Halo Alit!) dan Bandung (Halo Nanda!) bersama-sama mengajak anak-anak untuk bermain yang ke semuanya bermuara kepada kampanye “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat” (PHBS) yang digalakkan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat Janma dan PT Tirta Investama, yang masuk dalam program Dari Kita Untuk Indonesia #DariKita. Nanda yang memang jagoan gambar dari ITB, membuat desa idaman anak-anak. Awang, Run, dan Alit menggawangi game estafet sedotan, sedangkan saya dan Nelli seru-seruan di permainan ular tangga yang informatif.

Apa saja sih PHBS yang kami ajarkan pada mereka? Cuci tangan dengan sabun, buang air harus di WC, hingga belajar untuk menari yang lagunya mengingatkan untuk hidup sehat dan hemat dengan air bersih. Kenapa PT Tirta Investama concern dengan PHBS? Karena ketersediaan air bersih dan sanitasi yang kurang dapat menyebabkan diare. Dari penyuluhan di SD itu saya jadi tahu kalau penyakit itu adalah pembunuh anak-anak terbesar di dunia dan nomor 4 di Indonesia. Pokoknya saya sukaaa banget dengan kunjungan ke SD ini, apalagi ketika seorang anak bernama Ayu yang duduk di kelas 4 SD tidak mau melepas tangan saya. Aaah.. Tidak akan terlupa pengalaman ini. Sampai jumpa lagi Ayu, Koming, Arya, Made, Joni, dan semuanya! Jangan lupa yang kakak ajarin ya! :)

Anak-anak SD Belok Sidan Jempanang Bali

3. Pupuk, kopi, sayuran, semuanya organik!

Kearifan lokal yang satu ini juga kece nih. Kita sendiri tahu kan makin banyak rekayasa cinta genetika karena pemakaian pestisida dan bahan-bahan kimia untuk tanaman-tanaman yang kita konsumsi? Nah, hal tersebut sangat diminimalisir di Jempanang dengan membuat penghilang hama yang dibuat sendiri bernama Agensi Hayati: proses pembuatan musuh alami penyakit tanaman. Bahan-bahannya? Dari kentang rebus dan gula putih, dan juga dicampur bio urine sapi yang mempercepat perkembang biakannya. Pupuk organiknya dibuat dari apa? Dari kayu langgung, kayu yang cocok ditanam di sana dan bisa juga untuk membuat bangunan rumah. Tak lupa juga kami foto-foto yang banyak di ladang bunga gumitir, bunga yang biasa dipakai untuk sesajen dan sering kita lihat menjadi kalung para dewa-dewa Hindu.

ladang gumitir jempanang

Ladang Gumitir. Pic by @MahandisYoanata

Selain sayuran yang dikembangkan secara organik, ada juga kopi aseli buatan Jempanang. Namanya: Kopi SER. Ada kepanjangannya, yaitu Sedap Enak Rasanya. Hahahahaha, Serrrrr… Di tempat pembuatan kopi SER, kami melihat bagaimana biji kopi dengan beberapa tingkat kualitas diproses. Untuk biji kopinya sendiri sudah didistribusikan keluar Bali, namun kopi SER kemasan masih didistribusikan di Bali saja. Harganya? Murah.. Sebungkus ukuran sedang dijual Rp 10.000, sedangkan yang sachetan hanya Rp 1.000. Langsung pada beli buat oleh-oleh deeeh. Eh saya sudah bilang belum kalau sayuran macem terong dan makanan sehari-hari kami yang dimasak oleh Pak Pasek diambil dari ladang sendiri? Asik yes! :D

Kopi SER dan tanaman organik

4. Menanam pohon dan mengecat kincir air bersama

Dahulu, daerah Jempanang merupakan daerah yang sulit air, mungkin seperti Gunungkidul. Padahal air mereka bersih dan segar, hanya saja aksesnya yang kurang baik membuat masyarakat kurang paham akan pentingnya sarana air bersih. Umumnya mereka akan menggali tanah dan buang hajat di sana, tanpa fasilitas air. Mengapa tidak di sungai? Sungai dianggap sumber kehidupan, sehingga sungai dipandang suci di daerah Jempanang. Circa 70an, warga mulai mendapat air dari aliran sungai yang disambungkan dengan gugusan bambu dari atas ke bawah. Baru di tahun 80an pemerintah melirik kebutuhan akan air bersih warga dan membantu pengadaan pipa air.

Dimulai pada Juli 2014, warga sekitar mulai mendapatkan air dari sungai di bukit yang dipompa menggunakan kincir air tenaga hidrolik. Ya, tidak ada bahan bakar apapun yang dibutuhkan untuk membuat kincir berputar. Di sini, kami bersama-sama melihat kincir tersebut dan mengecatnya beramai-ramai. Oh ya, sebelumnya kami juga menanam bibit-bibit pohon langgung yang disebarkan di lahan dekat kincir air tersebut. Kepleset lumpur, tangan kenceng karena ngangkat ember-ember berisi air, sampe keringet segede-gede jagung, gak ada apa-apanya dibanding gotong royong kami bersama anak-anak Jempanang yang sangat ringan tangan. Semoga air di sana tetap terjaga kebersihan dan kesegarannya, demi masa depan mereka.

Hamish Daud Jempanang

Hamish Daud ikut bantuin :3

5. Gotong royong dan bermusik bersama

Udah lama nggak sih kita nggak denger kata “Gotong Royong”? Kayaknya kata itu udah punah di kehidupan sehari-hari dan hanya bercokol di buku PPKN (atau lawasnya buku PMP). Tapi jangan salah, di banjar Jempanang, gotong royong masih kental terasa. Buktinya kami sempat bebersih desa di sore hari bersama para warga dan bareng-bareng nanem pohon seperti yang udah saya deskripsikan di point ke-4 di atas. Kita juga sempet gotong royong bikin sate Bali, sate yang terbuat dari daging ayam dicampur dengan ikan. Rasanya wenak! Beberapa hari sekali, anak-anak muda Jempanang (dan juga segelintir anak kecil) berlatih musik dengan bimbingan dari mahasiswa kampus Warmadewa. Kami diajak nyobain alat musik juga lho! Alat musik yang kelihatannya gampang dimainkan itu, ternyata beraaat dan harus super konsentrasi kalo mau ngikutin lagu tertentu. Salut deh sama anak-anak muda Jempanang!

Main musik bareng!

Itulah lima kebajikan lokal masyarakat Jempanang yang betul-betul membuat saya bahagia ketika menjadi bagian dari mereka. Selain hal-hal di atas, saya juga sempat jalan-jalan di pagi hari memotret Pura demi Pura dan ngobrol dengan warga bersama mas Yoan dari Natgeo Indonesia, berkunjung ke pabrik Aqua di Mambal, Leloncatan di Jembatan dengan pancang tertinggi di Asia Tenggara bernama Jembatan Tukad Bangkung, berkunjung ke Pura Mumbul di Bukian tempat air suci, dan melihat pembuatan briket batok kelapa di Tanah Lot sebelum pulang ke Jakarta. Empat hari 3 malam yang sangat berbekas di hati, semuanya dimulai dan diakhiri dari kita sendiri, untuk ibu pertiwi. Dari Kita Untuk Indonesia. Selamat tinggal Jempanang. Dinginnya hawamu anehnya malah menyisakan kehangatan di hati. Sampai jumpa lagi!

Jempanang

The team! :)

16 thoughts on “Indahnya Berbaur Dalam Kearifan Lokal Jempanang

  1. Nelli Ratna Dewi Siringo Ringo says:

    What a wonderful story by a wonderful writer ^_^

    1. titiw says:

      Thank you for dropping by, dear. Miss youuu :*

  2. roel says:

    dalam hal pelestarian kearifan lokal, bali memang plg depan, dan harus dicontoh

    1. titiw says:

      Betul kaaak.. kangen yaaa bareng2 lg sama temen2 di sanaa.. :)

  3. Kresnoadi says:

    Wah itu asoy banget ya kalo apa-apa organik. Dan, gotong royong. Ini aku udah seminggu nyari pinjeman golok buat motong cabang pohon mangga depan rumah yang udah turun nggak ada yang mau ngasih. Syedih. :”)

    Dan, aaaaak aku baru tahu blog mbak ini dari hashtagh #kumpulblogger kemaren. Ampuni aku kakak sesepuh blogger. :))

    1. titiw says:

      Ahahahaha.. sesepuuh.. yaah ngeblognya doang kok kak yg udah lama. Usia sih masih kuliah. Kuliah S3. X)) semoga cepet dapet pinjeman goloknya yaaaa :D

      1. Kresnoadi says:

        Ini kenapa jadi aku yang dibalikin dipanggil kak. Jangan membolak-balikan fakta ya. Hihi. Amiin.

        Oya, mbak, aku mau tau blog-blog jaman mbak dulu awal-awal ngeblog dong. Mau mampir-mampir ke tempat para sesepuh, siapa tahu dapet ilham. \:p/

        1. titiw says:

          Dulu sih aku suka ke blognya:
          Mas Iman: http://blog.imanbrotoseno.com/ (belajar sejarah)
          Mbok Venus: http://venus-to-mars.com/
          Zam: http://matriphe.com/ (Udah berubah ke techno, dlu masih banyak ulasan jalan2)
          Jie: inijie.com (kuliner)

          Semoga ttp ngeblog yaa.. selamat hari blogger nasional!

  4. biasa says:

    Baru baca kalimat pertama langsung berasa nyeeeesss! Adeeemm xD Kayak bisa ikut ngerasain. Emang endonesya tuh sebenernya kaya banget sama kearifan-kearifan lokal. Tiap daerah pasti punya dan spesifik ke area mereka masing-masing. Seneng ya bisa ngerasain langsung ti. :D

    1. titiw says:

      Iyaaah.. eh baru inget deh aku belum pernah ke mana2 ya sama kamu selain anyer? Kapan2 ngetrip yang serius dan bisa gabung2 masyarakat kayak gini dong wiii.. :D

  5. rasehaM says:

    Terbuka dan mudah serta aman untuk pariwisata gak? Pengen juga sih nikmatin sisi lain Bali yang kontemplatif nan jauh dari hingar bingar yang sudah termakan sifat materialistis semata. Sungguh arif Jempanang.

    1. titiw says:

      Aman kook kecuali banyak anjing aja sih. Hahaha.. iya, dalam 3 hari gak satupun liat bule. Hal yang hampir gak mungkin kalo ke bali bagian yang komersil.

  6. Fahmi says:

    Wah kayaknya makin banyak tempat di bali yang masih kelewatan buat di datangi deh :D nama tempatnya itu jempanang kan ya? Lain kali bisa mampir kalau ke bali lagi~ :D

    1. titiw says:

      Iyes, Jempanang. Ke arah sangeh, 2-3 Jam dari bandara. Kalo cuma liat pemandangan sih gak terlalu banyak kak, tapi karena gabung banget ngapa2in ama mereka, jadinya lebih asoy. :)

  7. magda says:

    mbak titiw

    tolong info bgm cara dapat gambar ular tangga besar itu
    mau kami gunakan utk mengajar anak anak ttg kebersihan juga rencananya
    terima kasih magda

    1. titiw says:

      Halo, sudah saya jawab via email ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Travel Blogger Indonesia

About Titiw

Female, double (hamdallah sudah laku), berkacamata minus satu setengah yang dipake kalo mau liat nomor angkutan umum doang.

Pic of Life

Subscribe Now