Traveling

Instastory: Jempanang Pagi Itu

Wednesday, 17 December 2014

jempanang

Bangun di waktu yang teramat pagi ketika orang-orang belum terjaga itu menghantarkan sensasi tersendiri jika kita sedang melancong ke sebuah daerah. Apalagi jika daerah tersebut memiliki hawa dingin yang tidak biasa kita nikmati di Jakarta yang derajat celcius kepanasannya hampir mendekati derajat kehangatan badan manusia. Seperti waktu saya melanglang ke Jempanang, Bali. Jempanang pagi itu sejuk, dengan ditaburi cercahan sinar matahari yang muncul sedikit demi sedikit di atas Pura belakang rumah yang saya tinggali selama tiga hari. Ketika langkah demi langkah lesap saya nikmati di sekitar rumah, tiba-tiba langkah ini terhenti ketika saya bersirobok dengan mas Yoan, wartawan dari Natgeo Indonesia. Sepertinya bukan saya saja manusia yang bangun pagi hari itu.

Mas Yoan pun mengajak saya untuk hunting foto dengan cara menyusuri desa ke arah bawah. Sebetulnya sih itu sudah jadi wacana saya sejak bangun tadi. Namun dasar saya memang manusia penakut yang keringat dinginnya langsung terbit jika melihat anjing, sehingga wacana itu tinggal wacana karena Bali memang adalah tempat dimana anjing bebas bermain di jalanan. Akhirnya kami berdua menyisir Jempanang dengan riang sambil ngobrol sejarah-sejarah yang memang dikuasai mas Yoan sebagai penulis, seraya sekali-sekali berhenti untuk mengambil foto di sana sini. Di akhir perjalanan, mata mas Yoan tertumbuk dengan sebuah rumah yang letaknya sedikit ke atas. Kami pun menaiki tangga satu persatu, dan betapa kagetnya saya ketika kami dihadang seorang bapak yang sedang memegang.. Arit.

Ternyata bapak itu adalah pemilik rumah, dan pagi itu ia akan pergi berladang sehingga memegang arit. Fyuh. Alhamdulillah tidak ada drama seperti di film-film India. Mas Yoan selaku wartawan langsung mengerahkan kemampuannya untuk menggali informasi dengan cara ngobrol-ngobrol dengan Bapak yang bernama I Wayan Jumboh itu. “Ini rumah Bapak? Bagus sekali ya Pak..” Pertanyaan mas Yoan dijawab Pak Wayan “Bukan, ini bukan rumah. Ini hanya pondok. Saya bukan orang kaya, tidak punya rumah.” Ketika menebarkan pandangan, mata ini beradu pada seorang perempuan muda yang sedang duduk di dalam, di samping perapian. Ia mengelus seekor kucing, saya memberi senyum seramah mungkin, ia juga┬ábalas tersenyum. Seorang Ibu yang ternyata istri pak Wayan keluar dari sebuah ruangan, saya inisiatif untuk mengajaknya bersalaman dan tentunya ngobrol. Si Ibu langsung mencerocos, tapi.. Dengan bahasa Bali. Saya pun membalasnya dengan anggukan-anggukan simpatik. Sambil mendengarkan si Ibu bercerita dengan bahasa yang asing di kuping, saya berbasa-basi dengan perempuan muda di dalam. Yang mengagetkan, ia bahkan tidak mengeluarkan bahasa Bali dari mulutnya. Namun.. Bahasa isyarat. Pak Wayan langsung berkata “Itu anak saya mbak. Dia tidak bisa bicara.” Saya berikan lagi senyum kepada anak pak Wayan, dan lagi-lagi ia menyambutnya dengan senyuman yang tak kalah manis dari senyum yang pertama.

 

Jempanang pagi itu membawa berbagai macam emosi dan kisah untuk saya pribadi. Bahwa tidak semua orang di Indonesia bisa berbahasa Indonesia. Bahwa senyuman itu adalah bahasa universal. Bahwa tidak harus menjadi orang kaya untuk bisa tersenyum. Begitulah pelajaran singkat yang saya petik dari Jempanang pagi itu.

Pondok Bambu, 17 Desember 2014

8 thoughts on “Instastory: Jempanang Pagi Itu

  1. Senyum mmg bahasa universal, dan aku akan tersenyum paling manis :-)
    Btw mas yoan bilang umah bapak bagus sekali itu arti secara harfiah atau bagaimana ??? sehingga bapak itu menjawab demikian ???

    1. titiw says:

      Secara harfiah kok kak. Desainnya itu kayu2nya bagus dan kayak berseni. Maklum kita kan orang kota yang gak biasa liat yang begituan. Ternyata itu jatohnya pondokan dan ya gak bisa dikatakan rumah juga karena kecil banget..

  2. Vira says:

    hahaha… anjing di Bali memang masalah banget! Gue suka putar balik kalo lagi jalan tau2 anjing seliweran di jalanan sana.. Sampe2 ke Villa Kitty di Ubud aja batal masuk karena ternyata banyakan anjingnya daripada kucingnya, ngegonggong keras2 pula! hih.

    1. titiw says:

      Laaah kamu jg takut anjing kaaak? Buahahaha.. PR banget buat traveler. Sampe2 kata temenku “tiw lo mendingan jangan ke india deh. Ntar lo mati. Anjingnya ada semeter sekali”. 😂😂😂

      1. Vira says:

        anjrit!! waduh, padahal India masih ada di daftar destinasi impian!
        gue kalo papasan sama anjing gede yg dipegang tali ama orang pun suka gak yakin tu orang bisa nahan kalo anjingnya lari ngejar gue, aplg kalo orangnya ceking, yuk bye mending gue balik badan maju jalan..! *entah kenapa suka GR bakal dikejar anjing, pdhl siapalah aku ini*

        1. titiw says:

          Kaaak ya Alloh anjing gede dipegang orang aja aku pernah nangisss liatnya. Hahahaha.. Kamu kenapa takut asuuu kalo aku karna pas kecil pernah dikejar dan jatoh sampe ada luka di pahaa.. :))

  3. Vira says:

    konyolnya, gak pernah ada kejadian apa2. malah ingat waktu kecil gue bisa santai aja jalan di samping anjing yg lagi leyeh2 di pinggir jalan.. tapi kakak gue yg pernah digigit anjing takut banget sama anjing (tentunya). trus karena gua emang suka ikut2an kakak gua dalam hal apapun, jadinya terpengaruh.. jadi ikut2an takut sampe sekarang, apalagi kalo anjingnya ngegonggong -__-‘

    1. Vira says:

      eh mestinya reply yg di atas :))) *akibat ngomen sambil laper, gak konsen*

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Latest

Travel Blogger Indonesia

About Titiw

Female, double (hamdallah sudah laku), berkacamata minus satu setengah yang dipake kalo mau liat nomor angkutan umum doang.

Pic of Life

Subscribe Now