Traveling

Nyok Jali-Jali Ke Pelabuhan Tanjung Priok!

Monday, 2 November 2015

Pelabuhan Tanjung Priok. Panas. Bronx. Gersang. Macet. Itulah bayangan saya selaku anak Jakarta yang dari kecil sudah wara wiri di Tanjung Priok. Maklum, keturunan langsung orang-orang Bugis yang kerjaannya memang melaut sehingga saya memiliki banyak saudara yang tinggal di kawasan Priok. Selain itu, prosentase sanak famili saya yang bekerja di kapal lebih banyak dibandingkan mereka yang bekerja di kantoran adem daerah Sudirman Thamrin dan sekitarnya. Ditambah lagi, dari kecil saya pasti memakai jasa PELNI untuk pulang kampung ke Makassar. Makin khatamlah saya dengan Tanjung Priok.

Namun, siapa sangka, Pelabuhan Tanjung Priok yang imejnya terlanjur condong ke arah negatif itu pelan-pelan mulai melakukan make over di segala bidang. Hari Sabtu yang lalu dengan beruntung saya dan beberapa blogger mendapat kesempatan untuk jali-jali ke Pelabuhan Tanjung Priok selama setengah hari. Dari yang ekspektasi saya bakal 1 jam lebih sampai di Pelabuhan dari arah Kuningan, loh kok kurang lebih 30 menit saja sudah sampai. Mana nih antrean pelabuhan yang biasa dipenuhi angkot dan truk-truk besar?

Pertanyaan-pertanyaan makin berkecamuk ketika masuk ke perut pelabuhan, pelabuhan itu bagaikan tidak ada kegiatan! Cargo-cargo yang lewat hanyalah satu dua saja tanpa keribetan yang berarti. Segala pertanyaan saya terjawab jelas ketika kami masuk ke gedung PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II) atau IPC yang modern dan bersih. Apa saja penjelasan yang kami dapatkan dari mbak Banu (Secretary Corporate) dan Pak Sofyan (Humas) dari IPC?

Pertanyaan pertama. IPC itu apa sih? IPC atau Pelindo II adalah BUMN yang bergerak di bidang jasa Kepelabuhan. IPC yang mengatur dan manage pelabuhan, dengan Bapak R.J Lino sebagai direktur utama. Istilahnya bandara Soekarno Hatta, Pelindo II ini adalah Angkasa Pura-nya. Apakah IPC hanya mengatur Pelabuhan Tanjung Priok? Tidak. IPC memiliki kaki-kaki di 10 propinsi, yang terdiri dari 12 cabang. Dari atas gedung kantor IPC, saya menengok keluar dan menemukan bahwa pelabuhan sudah tertata rapi. Pak Sofyan bilang “IPC sekarang sudah menerapkan SOP dengan standar internasional. Kita mulai melakukan perubahan secara cepat kurang lebih sejak tahun 2009“. Pelabuhan adalah muka pertama yang dilihat oleh eksportir dan importir, maka ya harus banget ditata sehingga terlihat lebih cakep. Secara pintu masuk ke ibukota gitu lho.

Pelabuhan Tanjung Priok - Pelindo 2

Rapih yaa? :D

Dari pembeberan mbak Banu juga sangat jelas flow dan inovasi yang dilakukan oleh IPC dari tahun ke tahun. Malahan demi mendapatkan sumber daya manusia yang lebih kompetitif, IPC memiliki Corporate University di Ciawi! Modern dan keren. Ada simulasi, ruang kontrol, perpustakaan, dan ruang terbuka hijau yang sangat memanjakan “mahasiswa”nya. Agar lebih transparan juga, IPC membuka diri kepada sekolah-sekolah yang ingin mengadakan karya wisata ke Pelabuhan Tanjung Priok. Hal ini agar anak-anak paham mengenai pelabuhan sejak dini. Bahkan ada bukunya juga yang berwarna-warni dengan bahasa yang mudah dimengerti anak-anak.

Pelindo 2

Cute book

Bertolak dari gedung IPC, kami mulai mengitari pelabuhan. Dari terminal satu ke yang lain, kami mampir ke terminal penumpang. Di sini saya nostalgiaaaaa. Dulu setiap pulang kampung ke Makassar selalu naik kapal Pelni. Ingatan saya dulu sih terminal ini rusuh luar biasa, kotor, dan bau muntah. Sekarang udah bagus dan rapi lho. Tempat tunggu penumpang layaknya bandara, ada ruang bermain anak, serta tempat menjemput yang dilengkapi dengan minimarket. Lanjuttt lihat tempat dimana kapal bersandar untuk bongkar muat.

Pelindo 2

Ruang tunggu penumpang

Pelindo 2

Ruang antar/tunggu orang yang gak punya tiket

Di sini, saya tiba-tiba merasa jadi keciiiiil banget. Karena alat-alat berat yang dipake untuk ngangkut kontainer segala rupa itu ternyata segede-gede gaban! Bahkan crane yang bernama GLC itu bisa ngangkut muatan seberat 40 ton dalam sekali angkut. Gile lo ndro. Belom lagi ada terminal yang khusus buat mobil doang. Jadi terminal di atas laut gitu buat ngirim ataupun nerima ratusan mobil-mobil! Gokil.

pelindo 2

GLC

pelindo 2

Gak cuma jalan-jalan secara jalur darat. Apalah artinya di pelabuhan kalo gak liat-liat sekitar dengan kapal. Maka naiklah kami di kapal yang asoy dan berAC. Sungguhlah takjub melihat keseluruhan Pelabuhan Tanjung Priok yang luasnya kurang lebih 600 hektar itu. Segala peti kemas berbagai ukuran dan perusahaan ada di sini. Ketika saya tanya Pak Sofyan “Pak, kok sama sekali tidak ada kapal yang sandar ya?” Pak Sofyan menjawab “Karena kita sekarang sudah zero traffic mbak“. Heh? Apa pula itu zero traffic?

Ya dulu kan arus kapal hanya one way kalo dari laut, sekarang sudah two ways, belum lagi lautnya sudah dibuat lebih dalam sehingga manuver kapal bisa lebih mudah. Alat-alatnya juga sudah lebih canggih sehingga kapal tidak harus sandar terlalu lama dan mengantre dengan kapal lain. Ini juga membuat cost yang keluar jauh lebih rendah karena ternyata cost untuk kapal bersandar lebih mahal daripada ketika kapal berlayar. Dalam 24 jam, ada 100 – 150 kapal wira wiri. Dan kemarin saya tidak melihat adanya antrean kapal. Two thumbs up untuk IPC dan team! :)

pelindo 2

Jalan-jalan pake kapal ini. Dalemnya tsakep!

pelindo 2

Pak, setirin aku ke pelabuhan hatinya dooong! x)

Dari segi monitoring, kantornya IPC udah canggih dan punya teknologi tingkat tinggi sehingga untuk monitoring gak harus panas-panasan di lapangan. Cukup dengan kordinasi dari kantor ke orang lapangan. Eits, gak cuma Jakarta loh yang dibenerin, branch-branch lain juga dibenerin. Seperti misalnya pelabuhan di Belitung yang diberi nama Pelabuhan Laskar Pelangi. Wah sayang kemarin pas main ke Belitung gak sempat melihat pelabuhannya.

pelindo 2

Ruang Monitoring & Control

Sekiranya itu yang bisa saya ceritakan tentang inovasi IPC dalam remodeling pelabuhan-pelabuhan di Indonesia, khususnya Pelabuhan Tanjung Priok. Berikut sedikit trivia menarik yang dapat kamu baca tentang Pelabuhan. Have a nice day and happy traveling! :)

Tanjung Priok trivia:

  • Kalo dulu angkot boleh masuk sekarang gak bisa, biar gak riweh dan berantakan
  • Mengapa di laut sudah tidak terlihat sampah mengapung lagi? Karena ada 5 kapal sampah setiap hari yang beroperasi setiap saat.
  • Pelabuhan Tanjung Priok ternyata sudah berusia 130 tahun! Kenapa ia dibangun? Karena pada tahun 1900, pelabuhan utama kita yaitu Pelabuhan Sunda Kelapa yang sudah ada sejak abad 5 (jaman Tarumanegara) mengalami pendangkalan atau sedimentasi.
  • PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) masih tetap beroperasi meski lebih banyak melayani Indonesia bagian timur. Jadwal dan informasi selengkapnya dapat dilihat di websitenya.

8 thoughts on “Nyok Jali-Jali Ke Pelabuhan Tanjung Priok!

  1. Noe says:

    Ruar biasa nih bumil, kuat banget tour di Tanjung Priok yang hot. Hihi… Tapi emang seru sih, pelabuhannya sekaran udh ngga kotor n kumuh ya. Btw, masih suka mudik ke makassar naik kapak pelni? Aku pingin ih naik kapal laut ke makassar, blm kesampaian ajaa. Huhuu

    1. wow salah satu bidadari traveler nih, salut saya, hehehehe

    2. titiw says:

      Ah dirimu juga kuat, busui. Hehehehehe.. Terakhir naik Kapal Pelni ke Makassar kayaknya lebih dari 10 tahun yang lalu. Jaman SMA. *menyingkap usia* x)

  2. Ester says:

    Gak nyangka sekarang udh bagus gitu. Image saya thd pelabuhan ini sama persis dgn yg mba titiw bilang di awal, makanya males klo kesana. Hehe.. Perubahannya luar biasa ?

    1. titiw says:

      Iya, kapan2 boleh loh orang sipil macem kita masuk dan lihat-lihat. Apalagi kunjungan dari sekolah. Boleh banget. :D

  3. rasehaM says:

    Pelindo II di bawah kepemimpinan Pak RJ Lino emang punya rapor yang bagus! Semoga akses ke sana juga semakin mudah dan terintegrasi dgn Tol Lingkar Luar maupun Dakota.

  4. titiw says:

    Sepertinya bung tahu betul ttg Pelindo II ini ya? coba dong ceritakan lagi dengan lebih detail..

  5. Adiitoo says:

    Aku sudah lama tidak ke Pelabuhan ini, semenjak seringnya naik pesawat. Dulu keluarga ayah adalah pengguna setia jasa Pelni. Dari Medan ke Jakarta, Riau Jakarta, Aceh Jakarta, dan sebaliknya. Dulu paling males ke sini karena kontainer di mana (semacam uji nyali ketika berhadapan dengan mereka), banyak copet, panas (sudah pasti), dan hal2 menyebalkan lainnya. Tapi selesai baca tulisan kakak jadi pengen ke sana lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Travel Blogger Indonesia

About Titiw

Female, double (hamdallah sudah laku), berkacamata minus satu setengah yang dipake kalo mau liat nomor angkutan umum doang.

Pic of Life

Subscribe Now