Traveling

Negara Mana yang Paling Terjangkau untuk Wisata Kesehatan di Asia?

Friday, 17 May 2019

MHTC Malaysia titiw.com

Sudah punya jawaban atas pertanyaan saya di judul postingan kali ini? Tahan. Sebelum kita temukan jawabannya, saya mengadakan survey singkat di Instagram mengenai wisata kesehatan atau healthcare tourism. Yuk simak hasil surveynya!

MHTC Malaysia healthcare tourism 2019 (4)
MHTC Malaysia healthcare tourism 2019 (4)

Mayoritas orang-orang yang menjawab polling saya, mengatakan bahwa “Berobat di Luar Negeri” bersinonim dengan pergi ke Singapore, Penang, Malaysia, dan negara-negara Asia lainnya. Singapore dan Malaysia mendominasi jawaban. Namun sebetulnya negara mana yang paling affordable? Yuk kita bandingkan.

Dari perbandingan cost, ternyata Malaysia adalah negara yang paling terjangkau jika kita ingin berobat, checkup, ataupun wisata kesehatan. Mengapa hal ini dapat terjadi? Karena batas harga RS Swasta di Malaysia diatur oleh Kementrian Kesehatan-nya. Jadi tidak ada RS yang muahaaaaal buangetttt meskipun fasilitasnya udah super duper canggih. Istilahnya, pemerintah mengatur ceiling rate RS Swasta. Tidak berlaku untuk RS Negeri, karena RS tersebut dikhususkan untuk warga negara Malaysia yang memang disubsidi oleh pemerintah.

Sebagai ilustrasi, harga RS di Singapura sungguhlah membumbung tinggi. Padahal, ada beberapa RS canggih di sana yang ownernya, dokternya, hingga susternya adalah orang Malaysia. Fasilitasnya 11-12, kenapa harga RS di SG bisa 3-4x lebih mahal daripada Malaysia? Karena Malaysia menerapkan batas atas atau ceiling rate tadi yang saya tulis di atas. Takutnya mau berobat jantung, eh malah jantungan beneran pas ngelihat tagihan RSnya kan yeeeeh.

Trus, Malaysia lebih affordable tapi kualitasnya lebih jelek dong? Nope. FYI, ada 23 fasilitas IVF (in-vitro fertilisation alias bayi tabung) yang diakreditasi di seluruh dunia, dan 5 di antaranya ada di Malaysia. Itu berarti kualitasnya tidak sembarangan dong. Untuk IVF center di Malaysia, bahkan ada yang tingkat keberhasilannya hingga 60%. That’s quite high!

Makanya, Malaysia khususnya Kuala Lumpur mulai menggalakkan wisata kesehatan mereka, dipandu oleh Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC). MHTC adalah agency non-profit di bawah Kementrian Keuangan yang berfungsi untuk menggaungkan dan memfasilitasi mereka yang ingin melakukan perjalanan kesehatan ke Malaysia. Uniknya, agency seperti ini hanya satu-satunya di dunia, lho!

Bekerja sama dengan 79 Rumah Sakit swasta terkemuka di Malaysia, MHTC berusaha mempromosikan fasilitas kesehatan Malaysia agar menjadi tujuan nomor 1 untuk layanan kesehatan di Asia. Secara meyakinkan, Malaysia mulai banyak merebut hati warga dunia, dan trendnya makin menuju ke arah positif menjelang Visit Malaysia 2020.

Apa saja fasilitas yang dimiliki oleh MHTC? End to end service. Seperti:

  • Layanan konsultasi calon pasien yang mau ke Malaysia (bisa melalui telpon, chat, ataupun langsung ke perwakilan kantornya di Jakarta)
  • Dari membantu calon pasien membuat itinerary, hingga menyarankan RS mana yang cocok dengan keluhan dan budget mereka
  • Memfasilitasi pasien yang datang ke Malaysia dengan menjemputnya di gate kedatangan bandara, menyiapkan antrian khusus di imigrasi, dan juga menyediakan kursi roda jika dibutuhkan
  • Menyediakan concierge dan lounge nyaman di Kuala Lumpur International Airport  dan Penang International Airport yang dapat dikunjungi pasien. Di sana, pasien bisa duduk-duduk, konsultasi, baca-baca brosur kesehatan, dibantu mengaktifkan layanan internet, sampai mendapatkan refreshment sebelum menuju RS atau hotel tujuan.

Dan bener aja, saya dan temen-temen blogger serta media yang datang ke Malaysia pekan lalu berkesempatan untuk menikmati fasilitas ini. Dijemput di gate dan melewati antrian imigrasi dengan lancar car caaaaar. Sesampainya di lounge, dengan sigap tim XOX mengganti simcard Indonesia kami dengan simcard Malaysia hingga komunikasi kami berjalan dengan memadai.

Lounge MHTC di bandara
Foto dulu depan Lounge MHTC

Dari bandara kami meluncur ke hotel Pullman Kuala Lumpur yang terletak di Bangsar. Bersih, nyaman, dan spacious! Kusukaaaaaaa.. Dan staffnya pun sungguh ramah. Kulkas di kamar hotel yang sebelumnya terkunci bisa saya request untuk dibuka karena saya pakai untuk menaruh ASI perah. Dan ketika saya butuh ASInya untuk dibekukan, mereka pun tak segan menyimpannya di freezer resto.

Tibalah welcome dinner dimana kami media dan blogger Indonesia, dikumpulkan dengan teman-teman dari negara lain yaitu Brunei Darussalam dan Myanmar. Ada pula perwakilan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang tampak dalam perjamuan makan malam. Di situ, CEO dari MHTC Sherene Azli mengemukakan beberapa fakta tentang wisata kesehatan di Malaysia.

The CEO Sherene Azli

Jadi penasaran, berapa banyak orang Indonesia yang datang ke Malaysia untuk “berobat”? Menurut MHTC, sejak didirikan tahun 2011, hingga 2018 ada 1,2 juta turis asing yang mana lebih dari setengahnya berasal dari Indonesia., yaitu sekitar 700.000 orang. Kebanyakan dari mereka datang ke fasilitas oncology, dermatology, cardiology, dan yang marak sekarang juga ke pusat fertility untuk menjalankan IVF (bayi tabung).

Ngomong-ngomong tentang IVF nih, MHTC bekerjasama dengan IDI akan mensponsori penuh 10 pasangan dari Indonesia untuk melakukan prosedur IVF di Malaysia. Program sejenis dilakukan tahun lalu dengan pasangan asal Cina. Waaa, semoga semuanya sukses! :’)

Untuk saya pribadi, jika berpikir tentang berobat di luar negeri, yang langsung ada di otak saya adalah Penang, salah satu state dari Malaysia. Ketika saya menanyakan apa alasan Penang menjadi top of mind banyak orang, ibu Sherene mengatakan bahwa Penang sudah melaju terlebih dahulu untuk pemasarannya. Tepatnya, sudah 20 tahun Penang menjejakkan cap “wisata kesehatan” bagi banyak orang, khususnya di Indonesia. Apalagi orang-orang Medan, mereka mungkin lebih mudah ke Penang dibandingkan berobat ke Ibukota.

Well, that’s a wrap for day 1, now it’s time for me to tell you the rest of the journey in #ExperienceMalaysiaHealthcare in Kuala Lumpur!

Visit Pantai Hospital

Yes, hari ke-dua saya di Kuala Lumpur dibuka dengan sarapan enak di Hotel Pullman, dan dilanjutkan dengan mengunjungi salah satu rumah sakit dengan category “Elite Membership MHTC” di KL, yaitu Pantai Hospital Kuala Lumpur. Pantai Group adalah bagian dari Parkway Pantai Limited, anak perusahaan IHH Healthcare Berhad.

Didirikan 45 tahun yang lalu, RS ini memiliki 14 jaringan yang tersebar di seluruh Malaysia terdiri dari 10 RS Pantai dan 4 RS Gleneagles. Dengan total lebih dari 890 dokter dan 2.800 perawat, saya berkesempatan untuk mengintip “dalaman” dari RS ini.

Seharian itu kami tim blogger dan media, dibawa berjalan-jalan melihat fasilitas kesehatan mereka dan melongok lebih dekat lagi untuk tahu apa yang sebetulnya RS ini lakukan. Dari ruang Emergency Room yang memiliki beberapa tipe kamar berdasarkan kegawatannya, kami beralih menuju ruang ultrasound, MRI, dan Citiscan.

Menurut Pak Akmarul (head of allied health of imaging), pasien di sini akan menerima sekeping CD untuk report karena semua dokumen berbentuk e-file. Jadi tidak ada lagi yang namanya report manual dengan buanyaknya lembaran kertas. Go green banget! :)

Lanjut ke Breast Care center, saya terkezuuut ketika seorang Nurse Manager bernama Vemalah Arulappan mengatakan bahwa ibu hamil dan menyusui juga dapat terkena kanker payudara. DEG. Sebagai bagian untuk awareness mengenai breast cancer, Pantai Hospital kerap mengadakan promo Mammogram, misalnya disc hingga 30%, mengadakan talkshow, dan sebagainya. Yang keren, ada 3 dokter bedah di sini dan tiga-tiganya perempuan! Sungguh girl power at the highest form!

Tak lupa juga kami mengunjungi bangsal khusus pasien internasional di block C6-D6. Dengan total 46 kamar, Pantai Hospital juga memfasilitasi lounge, meeting room, hingga nursery room untuk para pasien internasional tersebut. Loungenya sungguh nyaman, stafnya ramah, dan beberapa staf dan dokternya fasih berbahasa lain seperti Jepang dan Indonesia. Menurut saya, ini salah satu faktor penarik juga untuk wisata kesehatan di Malaysia. Orang akan lebih comfortable ketika mendengar penjelasan kesehatan dalam bahasa ibu mereka.

Suite Room untuk pasien internasional
Salah 1 kamar untuk pasien internasional

Mendengar paparan dokter dan perawat, melihat fasilitas kesehatan nan canggih dan tahu nama serta fungsinya, somehow saya merasa jadi jauh lebih pintar! LOLLLL kocak tapi it’s true. Apalagi ketika mendengar penjelasan dari Dato dr. Abdul Jalil (consultant radiologist nuclear medicine physician) tentang Padcity dan Specity, yang bermanfaat untuk mendeteksi alzheimer pada seseorang. Aaaaa otak aku sungguh bekerja keras dan saya jadi lebih hepi! :’)

Afirmasi positif di tiap cap tangan untuk para cancer survivor dari praktisi kesehatan & pasien lain

Oh ya, uniknya di Pantai Hospital, mereka memiliki beberapa center seperti: Cancer Center, Breast Care Center, Endoscopy Center, dan center lainnya. Ini membantu tenaga kesehatan maupun pasien agar lebih fokus dan tidak antre bersama pasien-pasien lain yang punya tujuan berbeza. Huaaah, serunyaa! :D

Sunfert IVF Centre

Selesai jali-jali di Pantai Hospital yang bagaikan mall karena banyak restoran dan toko buah serta kembang, kami berkunjung ke Sunfert. Apa itu Sunfert? Sunfert adalah salah satu IVF Center terkemuka di KL. Wait, kalian tahu IVF alias bayi tabung kan? Nah, ternyata IVF ini juga merupakan salah satu tujuan terbanyak dari wisatawan Indonesia yang mengharapkan buah hati.

Di kunjungan ke Sunfert, lagi-lagi saya mendapatkan banyak ilmu seputar kehamilan dan fertilitas. Ternyata fertilitas tidak hanya semata-mata subur atau tidak subur dari wanita. Mungkin saja yang tidak subur pria. Bisa saja karena nutrisi yang diasup tidak baik. Bisa jadi karena pikiran yang tidak nyaman dan damai.

Maka daripada itu, Sunfert juga memiliki expert yang menangani nutrition problem, hingga massage service sehingga mind and body will be more relax. Kami juga diperlihatkan time lapse embryo imaging dalam 6 hari. Subhanallah banget itu embrio dari yang geraknya lemah hingga yang aktif dan kencang. Video time lapse ini tidak hanya untuk kepuasan visual, namun juga membantu agar inkubator tempat si embrio tidak perlu dibuka tutup untuk diperiksa keberhasilannya.

Dr. Eeson Sinthamoney, Medical Director & Fertility Specialist menyempatkan diri untuk berbincang dengan kami. Beliau sangat sabar mendengar pertanyaan-pertanyaan yang mungkin konyol bagi para expert. Misalnya saja “Apakah boleh memilih jenis kelamin anak?” Saya baru tahu jika di Malaysia tidak boleh jika tujuannya itu. Namun, jika tujuannya punya anak, dan diberitahu bahwa embrio yang baik katakanlah ada 3, dari 3 itu ada yang perempuan ada yang laki-laki, itu hak pasien untuk memilihnya. Di akhir pertemuan, dr Eeson yang sungguh friendly dan humoris tersebut memberikan kami buku yang ia tulis bertajuk “Overcoming Infertility“. Terima kasih Sunfert dan dr. Eeson!

Hop On Hop Off Kuala Lumpur

Selepas kunjungan Sunfert, kami memiliki beberapa jam free time yang saya, mbak Eka, dan Mbok Venus habiskan di Pavillion Mall. Lumayan kami sempat belanja baju di Uniqlo, makan di resto Thailand, dan juga jajan PopCorn Garrett untuk oleh-oleh. Selayang pandang, mudah sekali saya menemukan makanan enak nan halal. Aha, ini juga bisa menjadikan Malaysia negara pilihan wisata kesehatan untuk mereka yang muslim. Peace of mind to the fullest.

Trus, waktunya istirahat? Eits tunggu dulu. Masa udah ke Kuala Lumpur kita gak jalan-jalan? That’s why jam 8 malem kami naik bus atap terbuka untuk keliling KL! Nama programnya ini Hop On Hop Off, yang mana kita ikut tur KL City Lights.

Kami turun di beberapa tempat seperti di Istana Negara, Jamek Mosque, dan berfoto bersama di River of Life. Ingat untuk bawa jaket atau syal supaya gak masuk angin jika kamu memilih untuk duduk di bangku tanpa atap. Thank you Hop On Hop Off tour, saya jadi banyak belajar sejarah dari perjalanan ini. You have a great guide as well!

Perjalanan hari ke-dua saya tutup dengan mandi air hangat di bathtub hotel yang ditaburi seasalt hampers MHTC, ditemani sebuah buku dan playlist late night jazz. Dan karena ini adalah kali pertama saya meninggalkan bayi beberapa hari, tidur saya malam itu sangat nyenyak. Recharge lagi sebelum balik ke Jakarta dengan perasaan senang dan kangen ke anak-anak. :’)

Petronas Twin Tower

Sebelum bertolak menuju kampung halaman, kami masih ada satu schedule untuk mengunjungi salah satu pusat kesehatan. Namun di pagi hari, saya dan Mbak Eka menyempatkan diri untuk mengunjungi Petronas Twin Towers. Mbak Eka niat untuk foto-foto, sedangkan saya sih simply karena gak tahu free time pagi-siang mau dihabiskan ngapain.

Niat pertama kami mau naik Grab, tapi lihat di peta kok nggak jauh ya. Akhirnya kami memutuskan untuk jalan kaki. Jalan jalan jalan jalan jalan lho kok gak nyampe-nyampe yaaa? :’) Ternyata kami salah masukin nama di peta! LOLLLL bangattt, sebelumnya tulisannya cuma 600 meter, ternyata sampe 2 km! Mayannn olahraga pagi. Balik ke hotel, baru deh naik Grab, gak nyampe 10 menit.

MHTC Office

Sembari menunggu teman-teman yang melaksanakan solat Jumat, kami makan siang di kantor MHTC yang berlokasi di Menara Kembar Bank Rakyat. Serunya, setelah makan siang kami mendapatkan servis foot reflexology dari sekumpulan teman-teman yang tunanetra. Syakiitt tapi suegerrr.

jet pijet pijet

Golden Horses Health Sanctuary

Ini dia salah satu yang saya tunggu-tunggu dalam #ExperienceMalaysiaHealthcare, yaitu tes kesehatan! Nah, tes kesehatan itu kami adakan di Golden Horses Health Sanctuary (GHHS) yang terletak di Mines Wellness City, Seri Kembangan, Selangor. Uniknya, Palace ini dulunya dibangun sebagai hotel saja, namun seiring waktu bertransformasi menjadi wellness center juga.

Bagus banget yaaa :’)

Didirikan sejak 20 tahun yang lalu, GHHS pernah menjadi tempat berlangsungnya APAC Conference. Pemuka-pemuka dunia pernah ke sini dan menginap, yaitu pak SBY dan pak Habibie. Tidak hanya itu, public figure dunia juga pernah melangkahkan kaki di sini, seperti Tiger Wood dan David Beckham.

Acara dibuka dengan presentasi kesehatan, yang membuat kami semua tersenyum kecut, mengingat pola hidup yang mungkin agak berantakan. Dari kebiasaan makan, olahraga, hingga tidur yang ternyata kurang baik. Lalu saatnya periksa kesehataaan! Saya mendapatkan slot untuk Live Blood Analysis. Apa tuh? Darah diambil sedikit seperti mau periksa golongan darah, lalu dilihat di bawah mikroskop. Hanya dalam 5 detik, kita bisa lihat level kesehatan kita, apakah darah kita normal, berlemak dan lengket, kolesterol, dll.

Saya lihat teman-teman juga tes kesehatan seperti totok badan untuk pankreas, tes BMI, tes retina mata, dan lain-lain. Pengen cobain juga, dan ternyata boleh sama tim GHHS! Yay! Akhirnya saya sempat tes retina mata (hamdalah normal), BMI, dan tes darah juga tapi dilihat dari permukaan saja tanpa membutuhkan darahnya. Dari tes-tes tadi, body fat saya agak overdan hormon saya tidak seimbang. Namun katanya wajar karena saya masih dalam fase pasca melahirkan. Hehe, semoga itu tidak jadi alasan saya untuk tidak bergaya hidup sehat ya.

Masih ingin tes yang lain lagi dan tanya-tanya para dokter di sana, namun kami harus mengejar waktu agar on time di bandara. Maklum antrian imigrasi dan segala tetek bengeknya bisa makan waktu yang cukup banyak. Alhamdulillah saya sampai ke Jakarta dengan selamat, dengan dijemput oleh suami tersayang di bandara, dan disambut pelukan hangat anak-anak di rumah. :)

Terakhir, saya mau share Do’s and Dont’s dalam melakukan wisata kesehatan. Terima kasih MHTC dan segenap tim yang membuat saya tambah pintar dalam dunia kesehatan, tambah aware juga, plus ini semua bisa menjadi bekal saya untuk berbagi dengan teman dan kerabat yang membutuhkan. Kamu punya experience kesehatan juga di Malaysia atau di negara lain? Boleh dong bagi-bagi pengalamannya di kolom komentar. Have a healthy day, guys! :)

PS: Yang mau lihat cerita-cerita lain saya ketika di Malaysia seputar acara ini, bisa klik IG Stories Highlight saya ya. Semoga membantu! :)

do's and don'ts healthcare travel
The media and bloggers from Malaysia, Myanmar, Indonesia, & Brunei Darussalam

Malaysia Healthcare Travel Council:

Level 28, Lot 28-01, Tower 2,
Menara Kembar Bank Rakyat,
Jalan Rakyat, 50470,
Kuala Lumpur, Malaysia
 +603 2267 6888
pr.mhtc@mhtc.org.my

Perwakilan MHTC di Indonesia:

International Financial Centre 2,
Level 33, Unit 41. Jalan Jend. Sudirman Kav.,
22-23, Jakarta Selatan 12920,
Indonesia

Contact Person: Ms. Renata Devita
+62 21 808 694 22/ 23
 Mobile: +62 812 897 100 29 
 callcentre.IDN@mhtc.org.my
IG: @medtourismmy.id

5 thoughts on “Negara Mana yang Paling Terjangkau untuk Wisata Kesehatan di Asia?

  1. Fitri says:

    Keren ih pake polling dulu

    1. titiw says:

      ehe, makasih bunn :’)

  2. rasehaM says:

    Eh yuk kapan2 kita wisata kesehatan ke sana. Check up check up aja. Mudahan sehat2 aja ya, jd rest of the holiday gak murung :)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Latest

About Titiw

Female, double (hamdallah sudah laku), berkacamata minus satu setengah yang dipake kalo mau liat nomor angkutan umum doang.

Pic of Life

Subscribe Now