Family

A-Z Tips Sunat Anak Balita

Sunday, 19 May 2019

Tips sunat rumah sunat

Alohaaa! Layaknya seorang Ibu yang harus terlihat sayang kepada keluarga dan care terhadap sesama, maka beberapa waktu yang lalu saya membuat Instagram Stories thread mengenai anak. Tentang apa tuh kakak? Tentang potong memotong bebek angsa sekerat daging di kelamin anak aliaaaaaaas S U N A T!

Namun sebelum membuat thread, saya seperti biasa tanya-tanya dulu kepada followers, agar supaya memiliki insight-insight yang useful digunakan ketika mau membuat postingan blog seperti sekarang ini. Berikut polling saya:

Dari 75 orang followers yang menjawab, 30 orang sudah menyunat anaknya dan 45 belum. Dari yang sudah, rata-rata menyunat anaknya di usia balita. Bahkan ada yang menjawab ketika usia anak seminggu! Lalu sebetulnya di usia berapa sih anak itu sebaiknya sunat?

Menurut theAsianparent, sunat anak itu baiknya dilakukan ketika anak: MASIH BAYI. Karena, makin besar anak ya makin besar pula resikonya. Jika sunat dilaksanakan saat anak di bawah 10 hari, maka prosesi sunat hanya makan waktu 5-10 menit, beda dengan anak yang sudah besar, bisa sampai 1 jam. Sunat bayi juga dapat menghindari anak dari trauma, plus juga perawatan pasca sunat tentunya lebih mudah karena bayi belum banyak bergerak.

Fungsi sunat itu sendiri apa? Selain karena alasan agama, banyak sekali alasan kesehatan yang tak dapat dinafikkan, memang dapat menurun resikonya jika disunat. Seperti:

  • Titit anak jadi lebih mudah dibersihkan, sehingga resiko ISK dapat ditekan. Meskipun, ISK juga dapat disebabkan karena bakteri.
  • Mengurangi resiko infeksi penyakit menular seksual dan kanker penis
  • Menghindari radang dan iritasi

Wah, banyak gunanya yaaa sunat itu. BUT WAIT. Budaya di Indonesia itu kan melakukan sunat ketika sudah gedean atau pas usia SD lah. Resikonya aposeeee kalo sunat pas gede gini?! Ternyata ini dia nih resikonya:

  • Syakitnya lebih lamaaaaaa dan panjaaaaang
  • Terjadi perdarahan atau infeksi
  • Iritasi pada kepala penis
  • Peningkatan resiko cystitis (radang pembukaan penis) dan cedera penis

JREEEENG! YA UDAH KALO GITU BOCAH DISUNAT PAS BAYI AJA! Eitttsss tunggu dulu Fernando. Meskipun resiko sunat bayi lebih rendah, bayi ya juga tetep ngerasain sakit. Jadinya kudu extra perawatannya pasca sunat, jangan cuma buat anak gede doang yang dirawat. Apalagi kalo cuma ngerawat bapaknya *tunggu dulu ini gemana maksudnya*

Tapi ya, kalo saya pribadi lebih memilih sunat anak ketika dia usia 2-3 tahun atau sudah lancar ngomong. Dengan begitu gak nebak-nebak apakah dia biusnya udah bekerja atau belum, dia nyaman atau nggak daaan lainnya. Lho, tante anaknya udah disunat? Udah doonggg. Maret lalu, Kedua anak tante udah disunat nat nat sampe abis bis bisss. *untuk calon istri anak-anakku, ini becanda kok. Disisain kok buat kamu*

Makanya nih, saya mau share segala tips and trik persunatan anak balita. Secara usia anak saya ketika disunat itu adalah 3 tahun (si kakak), dan 4 bulan (si adek). Kenapa sih saya memutuskan untuk sunat anak di usia ini? Coba kita lihat lagi hasil polling di atas. Kebanyakan nyunatin anaknya dan balita karena kena Infeksi Saluran Kencing (ISK), fimosis (kulup penis lengket sehingga nggak bisa ditarik), atau malah karena sunah nabi (kalo yang satu ini saya belum nemu dalilnya, please share kalo ada yaa).

Saya sendiri sudah kepikiran untuk nyunatin anak karena ketika Sherpa masih belum setahun, beberapa ibu-ibu di grup Buibuk Socmed nyunatin anaknya yang kena ISK. Dan katanya anaknya jadi mogok makan, emosi, kesakitaaan, tititnya bengkak, sampai nangis-nangis dan badannya panas. Saya yang pengen pencegahan, menyampaikan keinginan sunat sejak dini kepada pak Mahe. Tentu saja dia MENOLAK KERAS. Yodahlah ya, sebagai istri pemalas penurut, saya gak nantangin.

Sampe beberapa bulan lalu, Mahe kok malah pengen sunat. Eh maksudnya pengen nyunatin anak-anak. Dia berdalih “Dulu kan aku belum riset, setelah baca-baca lagi, ternyata emang mendingan nyunatin anak dari kecil. Lagipula setelah dipikir-pikir, dulu aku sunat SD trauma banget. Deg-degan. Dan aku gak mau anak-anakku mengalami hal yang sama“. Wah, oqelah qalaw beghituh.. BUNGKUUUS!

Proosedur sunat anak

Tapi sebelum melangkah bersama Rindi lebih lanjut, apa saja yang harus dilakukan dan dipersiapkan sebelum sunat? Mari ditilik bersama:

  1. Pastikan anak tidak memiliki penyakit yang dapat lebih parah jika dilakukan sunat atau jika terjadi pendarahan
  2. Kamu sudah yakin mau melakukan sunat dengan tipe apa, dan yang mana yang paling cocok untuk anak. Tipe bedah biasa (konvensional), laser, electric cauter, clamp, atau yang lain. Untuk anak gemuk, menurut dr. Mahdian yang cocok adalah tipe konvensional.
  3. Menjalani pemeriksaan darah rutin di laboratorium. Hasilnya akan dibaca dokter sebelum memutuskan sunat aman atau tidak
  4. Pastikan anak tidak sedang sakit (demam, pilek, batuk, dll)
  5. Berikan afirmasi positif pada anak

Gimana caranya supaya anak tidak takut disunat? Cek point 5 di atas. Yes, afirmasi positif pada anak itu super penting. Saya dan Mahe tidak pernah menakuti Sherpa kalau sunat itu sakit. 1-2 minggu sebelum sunat, kami selalu sounding mau sunat, tapi degan kalimat-kalimat seperti “Yaaay, minggu depan kita sunat! Hore hore seru ya Sheeer!” Dia pun kesenengan sambil bilang “Asiiik! Abis sunat boleh minum susu coklat ya Moy!” Hhmmm, andaikan dia tau apa itu sunat, dia mungkin mintanya susu onta, bukan susu coklat lagi. Nyahahahaha. *emak emak tega mode: on*

Setelah melakukan semua prosedur di atas, dengan Bismillah kami mendaftarkan kedua anak kami untuk sunat di Rumah Sunat dr. Mahdian. Rumah Sunat ini ada di mana-mana, tapi saya memilih di Cipinang (samping Bassura City) karena dekat dengan rumah.

Ketika masuk ke dalam Rumah Sunat, hawa adem menerpa tubuh, dan Sherpa langsung kepincut dengan playground corner yang ada. Hmmm, gak tahu aja dia apa yang akan terjadi nanti. *ketawa jahat* Karena kami memilih hari Minggu, maka Rumah Sunat terlihat lengang dan tak ada antrean sama sekali. Menurut teman Mahe yang pernah sunat anaknya di hari Sabtu, ngantrinya ampun-ampunaan. Jadi coba cek ricek ketika mau daftar via telpon, enaknya hari apa yang gak terlalu rame.

Hmm, masih belum tau dia apa yang akan terjadi..

Tak lama, dokter yang akan melakukan khitan datang dan memperkenalkan diri. Sherpa dipersilakan pipis sebelum masuk ruang sunat agar lebih rilek kayak di komplek. Oh ya, kalau bisa anak juga jangan terlalu kenyang dan kembung sebelum sunat. Yak, saatnya pak dokter beraksi!

Berikut step-step sunat di Rumah Sunat:

  1. Pipis dulu
  2. Masuk ruangan yang unyu
  3. Dateng 1 dokter, 1 asisten dokter, dan 1 orang lagi yang megangin anak kalo berontak
  4. Anak diminta tiduran
  5. Anak buka celana dan bagian tititnya dibersihkan dengan betadine
  6. Dikasih ipad (khusus anak yang agak gedean)
  7. Dibius dengan semacam pompa non jarum
  8. Tim sunat keluar ruangan sebentar untuk menunggu bius bekerja
  9. SUNAT DIMULAI
  10. Dipasang clamp
  11. Dipakein celana batok
  12. Selesai!

Total jendral semua prosedur di atas saya hitung-hitung sekitar 20 menit. Hamdalah Sherpa kooperatif banget. Nangis nggak dia? YA NANGIS. Tapi lebih karena tidak nyaman, dan surprisingly badannya tidak berontak. Mamoy bangga nak. Mungkin inilah hasil dari saya bisikin dia: “Lemesin aja shaaaay..

Kasih dehhh Ipad demi anteeeng

Sedangkan ketika sunat Kalandra yang masih 4 bulan, saya lebih deg-degan sih. Setelah dibius dan mulai operasi, dia nangis KUENCEEEENG BANGEEET! Saya panik dan bilang “Dooook, ini biusnya udah bekerja beluuummm kok nangisnya sampe gini bangeeet!” Mbak tim Rumah Sunat bilang “Bu, seperti yang saya bilang tadi di bawah, anak nangis bukan karena sakit tapi karena perasaan gak nyaman. Ibu tenang ya.” Fyuh fyuh, emang deh kalo gak kuat mental, JANGAN masuk ruang sunat. Saya aja meski masuk, gak lihat bagian yang disunat sedetik pun. Yang ada nanti malah saya yang pengsan, berabe dah.

Dari seluruh prosedur di atas, saya cukup amazed dengan cara masukin bius ke tubuh anak dengan sebuah pompa kecil. Jadi si pompa adalah injektor pengganti jarum suntik. Nah, pompa ini nembahin obat bius dengan tekanan udara. Tekanan udara itu membuat obat bius jadi butiran superrrrr kecil yang nembus kulit sehingga lebih cepat mencapai target syaraf. Ini kece banget sih bikin anak jadi nggak takut.

Oh ya, di Rumah Sunat ini memakai metode Clamp. Semacam katup untuk mengencangkan ujung penis anak. Fungsinya sebagai pengganti jahitan, dan supaya terhindar dari benturan langsung. Selain proses sunat jadi lebih mudah dan cepat, teknik ini juga membuat perdarahan minimal, tak membutuhkan jahitan, dan proses recovery lebih cepat dibanding teknik konvensional.

Lalu yang saya suka lagi dari Rumah Sunat ini, selain bersih, ruangan dibuat se-kids friendly mungkin dengan gambar-gambar menarik. Tim sunatnya pun tidak menakut-nakuti dan tau banget caranya menghadapi anak-anak. Two thumbs up!

Perawatan pasca sunatnya, gimana tanteee? Ketika mau pulang, kita akan diberikan sepaket perawatan pasca sunat. Tim Rumah Sunat akan memberitahukan secara detail fungsi masing-masing barang dalam paket itu. Untuk detailnya cek gambar di bawah ini.

Kurang lebih kayak di atas perawatannya. Jadi abis sunat tetep mandi, malah harus mandi. Cuma bersihin clampnya yang harus hati-hati. Untuk yang bertugas membersihkan anak, harus paham betul langkah-langkahnya. Anak rewel nggak? Pasti rewel, tapi kurang lebih rewelnya 2 hari, dan dalam 2 hari itu saya memberi anak paracetamol agar mengurangi rasa sakit, seperti anjuran dokter.

Setelah seminggu, harus balik lagi ke Rumah Sunat untuk lepas clamp. Dari situ, baru deh jangan mandi dulu supaya lukanya kering. Bersih-bersih dan lap-lap aja badan anak-anak. Kalopun kudu kena air, wajib pake si celana anti air atau celana plastik. Bilas masih pake NACL, keringin masih pake kasa, tapi abis itu dikasih bubuk putih semacem pelengket luka.

Kalau ditotal, kita ketar ketir sampe 2 minggu lah, setelah itu amaaaan, legaaaa. Bahkan percaya gak percaya, Sherpa setelah 2 hari sunat udah lari-lari dan banting dirinya di kasur like nothing happened. Plus gak nyampe seminggu dia udah main sepeda.

Yang terakhir dan pasti ditunggu-tunggu oleh kalian semua, BERAPA BIAYA SUNAT DENGAN METODE CLAMP DI RUMAH SUNAT?

Kalau hanya sunatnya saja, sekitar Rp 1,6 juta per anak. Jika mengambil paket lengkap dengan celana batok, celana anti air, obat-obatan, sertifikat, foto ala penganten sunat, maka harga yang perlu dibayar adalah Rp 2,1 juta per anak. Kalau saya, bayar Rp 2 juta per anak karena tidak ambil paket lengkap, namun ambil obat-obatan dan menambah celana batok dan celana anti air.

Yak, itulah pengalaman saya dan Mahe dalam menyunat anak. Hamdalah sekali kami terbantu oleh 2 mbak di rumah yang super satset dan inisiatif. Jadi, kalau kamu mau nyunatin anak, usahakan ada yang bantu juga ya biar gak stress sendiri, Bun. Ada pertanyaan, kesan pesan, ataupun kata mutiara untuk saya ataupun postingan ini? Cuss ditanya di komen bagian bawah. Untuk pengalaman di Instastory, klik IG STORIES HIGHLIGHT SUNAT ANAK. Akhirul kata, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakaaaatuuuh!

Kami semua sudah sunat!

PT. RUMAH SUNATAN INDONESIA

Kantor Pusat
Jl. Raya Jatiasih No. 7  Jatiasih, Bekasi – Jawa Barat, Indonesia
Telpon : (021) 8242 0020, (021) 8243 8530, (021) 8243 8532
Whatsapp : 0858-8165-8589
Email : info@rumahsunatan.com
Instagram: @rumahsunatdrmahdian

2 thoughts on “A-Z Tips Sunat Anak Balita

  1. rasehaM says:

    Alhamdulillah juga bentuknya bagus dan rapi meski gak dijahit.

    1. titiw says:

      Kalo Ayn iya aku liat cakep. Kala aku belum bisa liat x)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Latest

Travel Blogger Indonesia

About Titiw

Female, double (hamdallah sudah laku), berkacamata minus satu setengah yang dipake kalo mau liat nomor angkutan umum doang.

Pic of Life

Subscribe Now