Black and Rainy

Cerita sebelumnya 

Jam 17.00 akhirnya saya berhasil keluar kampus bareng Arief dan Adit. Di luar pemandangannya mencekam. Jalan yang biasanya super macet dan rame itu sekarang sepi. Hanya ada orang-orang lalu lalang dengan wajah yang penuh dengan kemarahan.

Tidak ada mikrolet, bis, bajaj, taksi, yang ada cuma tukang ojek. Itu juga jarang sekali. Dan kalaupun mereka mau, tarif sampai kampung Melayu paling murah Rp. 50.000 ,-. Waduh mana saya mampu. Saya cuma ngantongin 5000 perak waktu itu. Akhirnya kita bertiga memutuskan untuk berjalan. Kebetulan arah rumah kita searah, sama-sama di Pondok Bambu.

Sepanjang perjalanan, kewaspadaan harus penuh. Batu-batu beterbangan, orang-orang berlarian tidak jelas arahnya. Di kampus YAI di Jl. Salemba, kita memutuskan untuk beristirahat. Saya mencoba untuk menelepon rumah via telepon umum. Karena gagal, saya langsung keluar dari phone booth. Tiba-tiba sebuah batu besar meluncur ke arah telepon umum saya sampai memecahkan phone booth.

Akhirnya saya melanjutkan perjalanan, carefully and a bit hurry. Di Matraman, orang-orang berhamburan dari toko buku Gramedia. Seorang anak kecil, kira-kira SMP, menawarkan saya 1 unit laptop hasil jarahan dengan harga Rp. 50.000,-. Wah, saya sudah terlalu ngeri melihat keadaan saat itu. Akhirnya saya cuma bisa menolaknya.

Perjalanan relatif aman dari Matraman sampai Pondok Bambu. Mungkin para perusuh itu sudah terlalu sibuk memikirkan jarahannya. Saya sempat bertemu orang-orang di Kampung Melayu yang berjalan kaki dari Ancol sedang menuju Kampung Rambutan… daaamnn!!

Akhirnya jam 20.00 an saya sampai rumah.

3 thoughts on “Black and Rainy

  1. thalique says:

    Ini persis seperti percakapan thalique dengan seorang ibu, teman kantorku dalam taksi waktu kami akan melapor soal kepindahan kami ke Tj. Priok tanggal 8 Juni 2007 kemarin. Entah bagaimana awalnya sampai kita tidak bosan mengulang kejadian kerusuan Mei 98 itu. Waktu itu kata dia ketika kerusuhan belum meluas, kita (thalique mah masih calon orang masih kuliah di Sekolah Tinggi Ikatan Dinas) para PNS (maklum PNS waktu itu masih dianggap rezim Soeharto yang pro Golkar)di wajibkan tetap bekerja, namun untuk berjaga-jaga disuruh bawa pakaian bebas bila terjadi sesuatu. Benar katanya entah hari kedua atau ketiga kerusuhan dia disuruh pulang dari kantor karena kerusuhan sudah mendekat kantor, bayangkan saja ditengah kerusuhan di harus jalan kaki dari Tj. Priok sampai Rawamangun. Apa ngga gempor tu kaki..ga kebayang dech !! Mayday..mayday..!!

  2. titiw says:

    Eek nih siapa ya..? tunggu saya cek imel anda dulu.. Oh.. erik!! damn you! make nama eek lagi.. you stole my middle name!!
    Ini kerusuhan yg tahun 98 yang dialami oleh temanku, sayang.. Ini ada cerita sebelumnya loh.. Mangkanya dibaca semua..
    Heh? sejak kapan aku mau hape murah? maunya mah hape gratis! Huehehehe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *