Cold Letter

Auranya dingin.
Hanya ada kata maaf yang tak berbilang.
Dapat tertebak bagaimana rautnya kala itu.

Siapakah yang tersia-sia?
Ia, aku dan semua tak dapat menjawabnya.
Apakah ia merasa?
Dan mengapa tak berkata-kata?
Agar semua lara tak mengendap dan membusuk.
Tak sedikitpun rangkaian aksara bermain untuk membentuk dua kata:
Terima Kasih.
Aku tidak minta untuk dikasihi.
Namun itu adalah sebuah sunnah dalam sebuah hubungan manusia yang beradab.

Kata orang, diam itu emas.
Kata orang, diam itu tanda mau.
Tapi menurutku, diam adalah simbol dari ketakutan.
Ketakutan yang amat sangat.
Daripada tertinggal, lebih baik meninggalkan.
Bukan salahku, bukan salahnya, bukan salah siapa-siapa.
Rasa tawar itu bergelut dalam diri sejak saat itu.
Apakah pantas seseorang yang mengaku lebih dewasa,
Dan lebih banyak melihat dunia,
Menghempas beberapa kalimat yang membentur-bentur hati nan rapuh,
Hanya dalam sebuah surat elektronik..
Namun siapa aku yang hanya dapat berasumsi?
Aku hanyalah seorang sudra.
Yang hanya dapat menghambur ribuan tanya,
Tanpa mendapatkan jawaban yang esa.
Auranya dingin, mendingin dan membeku..

4 thoughts on “Cold Letter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *