Popeye’s Cuisine

Sayuran, dari kecil orang tua kita selalu menjejalinya. Mereka sering mempropaganda dan sedikit menipu bahwa sayur itu lezat. Kalau menurut saya manusia itu sebenarnya karnivora. Coba sodorkan sepiring ayam goreng dan semangkuk sayur – katakanlah sup berisi sawi atau seledri kepada 10 anak kira-kira berumur 5 tahunan. Kita pasti tak akan terkejut jika 8 dari anak-anak tersebut akan memilih sepiring ayam goreng.

Jauh sebelum manusia mengenal sayuran dan bercocok tanam, berburu dan berpindah tempat menjadi siklus penting manusia untuk bisa bertahan hidup. Waktu itu tidak terbersit sedikitpun para manusia savage itu untuk mengkonsumsi buah-buahan — terlebih lagi daun-daunan.

Manusia-manusia yang mengkonsumsi sayuran adalah manusia yang lebih advanced atau lebih beradab sebenarnya. Di zaman sekarang ini, sayuran dikonsumsi berdampingan dengan daging. Walaupun menanam dan mengkonsumsi sayuran merupakan salah satu tonggak kemajuan manusia, daging tetap merupakan sajian yang mahal.

Pernah kepikiran nggak sih kenapa Popeye itu asalnya dari Amerika, negara barat yang dianggap maju itu? Popeye sang pahlawan yang rajin memakan sayur bayam itu merupakan propaganda paling efisien dan efektif untuk memotivasi anak supaya mengkonsumsi sayuran. Di Cina, tokoh semacam itu bisa dibilang tidak ada. Anak-anak kecil di Cina selama berabad-abad menikmati sayuran melalui diversifikasi hidangan-hidangan yang menakjubkan. Kemiskinan panjang yang melanda Cina, mendorong mereka untuk menciptakan metode memasak kreatif sehingga hidangan-hidangan dengan bahan murah mampu terlihat dan terasa menawan. Itulah sebabnya anak-anak Cina tidak pernah merasa kesulitan memakan sayurannya.

Teknik menumis sayuran menggunakan wajan sebenarnya asli milik Cina, sementara di negara-negara barat masakan sayuran tidak terlalu banyak ragamnya. Di Cina rempah-rempah yang kaya rasa mampu mengeluarkan potensi tersembunyi dari rasa sayur-sayuran.

Untuk urusan masak-memasak, Cina juga lebih unik. Pada saat mengadakan sebuah event, misalnya merayakan ulang tahun, daripada memasak sedikit masakan dalam jumlah yang besar, mereka membuat masakan jadi lebih beragam dengan sebagian besar masakan mengandung sayur. Jika memungkinkan, sedikit daging akan disajikan untuk memperkaya rasa. Jadi, apakah kamu lebih memilih daging, atau sayuran?

15 thoughts on “Popeye’s Cuisine

  1. thalique says:

    Survey itu pasti tidak buat diriku (dari tahun 1994 sampai 2002) karena saya vegie..jadi kalau disodorkan sepiring ayam ama sepiring sayuran..ya pasti pilih sayuran lah..palagi tumis kacang panjang ibu baru matang dari kuali alias fresh from de oven..wah ga terkalahkan !

  2. apy says:

    hmmm berarti kita harus bikin klub pencinta sayuran. btw oseng-oseng combrang ala orang banyumas itu enak banget ya ternyata. plus mendoan, wuaah maknyuss… rasanya unik, gurih, minim kolestrol, dan tempenya itu loh… tidak terperai rasanya.

  3. thalique says:

    Ayo mas..kalau di kampung mas, thalique tuch biasa tuch sarapan , atawa makan siang tanpa nasi cuma sepiring sayuran oseng-oseng ibu aja..Waduh mas ang, kalau thalique lagi sakaw sama yang namanya oseng-oseng sayuran itu..binggung nyari dimana..dikau tahu dimana warung jualan oseng-oseng !!!

    Disini mah masakan mengandung santan banyaknya..baik di warteg atawa warung padang, …sayur ..sayur..!!

  4. titiw says:

    Lokal banget ni omongan orang2 pueto rico.. Iya bener banget kenapa popay itu buatan Amrik. Waktu itu juga guah pernah mengemukakan teori ini sama temen2 guah mas ang.. dan mereka semua setuju.. (ih bodo amatan yak..)

  5. thalique says:

    Dikau belum pernah sich menikmati indahnya kota Puerto Rico dan sedapnya masakan situ sich..Tapu sebagian besar jarang yang pakai daging atawa ikan, tidak seperti masakan Makassar mbak..yang seringnya bahan utama seringnya daging dan ikan.

  6. thallique says:

    mas kalau lewat casablanka..mampir ke sroto eling mbayumas..kalau perginya ma Titiw taruh tuich titiw di daeng tata..impas kan !! semua kembali ke masakan daerahnya masing masing

    Jamin nyelkamin banget mendoannya !! yakinlah sumpah (nada mbanyumasan)

  7. nugi says:

    anjrit! tempe yg “tak terperai rasanya” tu yg kayak gimana, mas? :D

    owya, terakhir pas ke daeng tata awal taun ini, koq rasa conro-nya gak seenak dulu ya? (dulu = pertengahan taun 2006 deh..). barangkali ada yg punya pendapat yg sama?

  8. thalique says:

    mas nug..apakah anda tidak terkena ayng namanya “Law of deminishing return” ..nilai kepuasan mencoba setelah terlalu sering mencobanya..

    Kayaknya menurut thalique mah tidak terlalu berubah dari dulu, ya menurut thalique not so special tuch Daeng Tata, gimana tidak mencoba di Karebosi di Klapagading,, beda dech rasanya !!

  9. titiw says:

    Hih.. daeng tata itu ga ada apa2nya dibanding coto makasar bikinan papahku (ya gak mas ang?!)
    Konro itu emang lebih enak di Kelapa gading mas T, tapi kalo untuk coto, tempat yg terenak itu di cilincing. Hidiiih…. berantakan bgt rasanya! langganan di situ dari kecil, sekali makan minimal 2 mangkok, kesian papahku yg setiap dari situ uang di kantung selalu menipis.. hihihi.. lopyu pah..

  10. thalique says:

    aiiyh yang dimana tuch tepatnya yang di cilincing..nanti ma club kuliner thalique bila ada waktu tak sambangi dech..tapi apa ga macet tuch di cilincing..thank before anyway sayang !!

  11. titiw says:

    Susah bilangnya di mana.. pkoknya di situ.. hehehehe.. aduuh.. susah deh.. macet? wah kurang tahu.. udah lama gak ke sono, udah berubah kali ya.. (apanya?!)

  12. thalique says:

    wah..memang kalau nanya alamat ke kaum hawa radha puyeng..berarti ada benarnya bukunya Allan & Barbara Pease yang judulnya “Why Men Don’t Listen & Women Can’t Read Map”..hehe no what what mbak..ntar syapa tahu pas lewat cilincing nenggok sana neggok sini..kan mata thalique jelalatan..haha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *