Titiw Inside

We Just Need to See Your Paper.

Saturday, 9 February 2008

Cuma ingin berbagi…

IceBreaker dvd Di suatu malam yang cerah saya dan teman ayah saya berbincang-bincang dengan beberapa dosen di sebuah rumah makan di Solo. Mereka adalah dosen Universitas Sebelas Maret (UNS). Teman ayah saya itu seorang Insinyur Teknik Sipil yang sudah puluhan tahun makan asam garam dunia konstruksi. Dia ingin membuat sebuah pendidikan Field Engineering yang memungkinkan lulusan Sarjana Teknik Sipil langsung bisa terjun ke dunia konstruksi.

Sang dosen yang juga sarjana Sipil berargumentasi bahwa metode yang mereka terapkan telah cukup mumpuni agar lulusan bisa langsung menuju bidang mereka. Tapi lain halnya dengan teman ayah saya ini. Sudah tak terhitung jumlahnya, lulusan mahasiswa yang bekerja dengannya harus melampaui tahap-tahap “training” yang mengganggu. Menurutnya, para lulusan itu belum cukup terampil melakukan hal-hal yang bahkan menurut para “kuli” dianggap sederhana.

Akhirnya mereka berdebat. Teman ayah saya ini ingin mengadakan sebuah short course sebagai add-on atau tambahan bagi para lulusan. Tapi kemudian para dosen itu menanyakan; “Lalu sertifikasinya bagaimana, Pak? Apakah akan diakui secara akademis? Atau nanti bagaimana, Pak?”

Menurut teman ayah saya ini sertifikasi sebetulnya tidak terlalu penting, toh, sudah ada ijazah S1 mereka dan short course yang notabene kebanyakan pengajarnya adalah para praktisi hanya menggembleng mereka menjadi ahli yang lebih baik via pengalaman para pengajarnya. Tidak seperti dosen, para pengajar ini memiliki pengalaman bertahun-tahun di berbagai konstruksi.

Akhir kata, setiap argumen selalu berakhir dengan sertifikasi…..

Ini dia bedanya praktisi dengan akademisi. Akademisi is nothing but talk, dan praktisi is forged by experience. Di dunia kerja tidak ada buku panduan, tidak ada buku teks, yang ada hanya kita dan skill kita. Kontribusi apa yang bisa kita berikan. Improvisasi apa yang bisa kita lakuan. Inisiatif seperti apa yang baik dijalankan. None of that are taught by lecturer or teacher.

Jadi pada saat kita kuliah atau belajar apapun, here’s what I think we all should do….

Oxygen film

Walaupun nilai itu penting sebagai motivasi dan reward, jangan terlalu terpaku dengannya. Yang penting adalah bagaimana ilmu itu terserap dan menyatu dengan kita… Belajar untuk ujian itu bagus, tapi lebih bagus lagi belajar untuk kita sendiri. Tidak penting hasilnya, yang penting prosesnya….

“The journey is the reward.

“Tell me and I’ll forget; show me and I may remember; involve me and I’ll understand.”

← Next Post
Previous Post →

17 thoughts on “We Just Need to See Your Paper.

  1. ichi says:

    How trueee… i agree so much about how important is the process. Ga cuma yang nyontek dan tiba2 dapet A :D
    Tapi bukan berarti akademisi cuma bisa ngomong doang de. Akademisi yang baik menurut gw adalah yang juga punya experience dalam bidangnya, dan banyak juga de dosen2 kaya gini.

  2. Setuju tiw… Nilai akademis bagus ga jamin dah, gua udah liat banyak buktinya. Trus banyak orang bilang kuliah sia-sia, ga kepake di dunia nyata, well menurut gua mereka mungkin ke kampus cuma asal ngeceng aja. Karena gua berasa apa yang gua pelajari di kampus kepake banget di kerjaan. Secara gua jurusan akuntansi ^o^

  3. muthe says:

    yak gw setuju sekali!!! bener banget ini… gw juga dibilangin hal serupa sama senior2…

  4. ega says:

    menohok diriku..
    bener bgt..smpt keteteran n bingung ngejalani tugas kantor euy…cultureshock abes

  5. MaNongAN says:

    ke solo jeng? kok gak kabar-kabri, atau sekalian mampir ke YK. Rekan² disini pasti siap jadi guide.

    btw, saya kuliah sospol, kerja di IT (nyambung gak yah?)

    .::he509xâ„¢::.

  6. Ratie says:

    Hihihih… Saya belajar juga kayanya cuma biar bisa lulus dan cepat2 keluar dari kampus deh.. Ahahaha..

  7. kenji says:

    sebenarnya bukan berarti text book dll itu ga berarti di dunia kerja…

    sistem pendidikan kita masih ada cacat, satu sisi kita di”push” untuk mengejar kemampuan memahami sesuatu secara teoritis, itu bagus sekali !

    tapi sisi lain, kita lupa diajarkan bagaimana mengaplikasikan teori itu ke dalam praktek real !

    biasanya penyakit freshgraduate ga jauh2 dari ini :D

  8. saya says:

    ih titi, maennya ama om-om ..

    *kabur*

  9. unee says:

    *shock!!*

    Wah wah… bijaksini sekali kata2mu,nak..
    Ibu terharu. Tak ibu sangka dan ,pastinya, tak ibu duga.
    Sungguh ibu bangga padamu !!.

    Mending kae’ kita ya,tiw..biar lulusnya lama tapi , bukan gak mungkin, bisa makan siang sambil maen gaple’ sama Bill Gates.

    Gyaahahhaha !!..
    cuph !

  10. titiw says:

    Yak.. coba tolong untuk semua yang udah komentar di sini.. Yang menulis postingan ini adalah APY, teman saya yg membuatkan saya site ini.. IYa.. coba dibaca dulu di halaman “aBout”, karena saya gak pernah ke solo dan saya juga tidak sewise ini. Terima kasih..
    @saya: AKu mah bukan main lagi ama om2.. udah melacur malah, htyahahahahha..
    PS: Ini yg lo cerita waktu itu kan mas? Hyehehehe..

  11. thalique says:

    Betul mas ang,.tapi mas seringkali seleksi awal dalam mencari kerja ditentukan dengan nilai akademis. Jadi, memang kita sendiri yang harus pandai mengambil inti sari dari teori yang kita pelajari di dunia pendidikan formal untuk kita aplikasikan di dunia kerja.

  12. apy says:

    Nah itu, nggak setiap orang bisa seperti itu jika tidak dikondisikan di dunia pendidikan sebelumnya. Liat aja deh dosen2 yang terlalu mengagungkan nilai itu. Nanti kamu saya kasih C lo nanti kamu saya kasih A, B, yaah itu kan cuma angka….
    Ilmu yang membuat kita nyaman adalah ilmu yang menyatu, jadi bagian dari diri kita dan mendefinisikan cara kerja kita. Not just some stupid point.

  13. rNest says:

    Setuju,, kalau proses lebih penting daripada hasil. yang terutama tu kita dah berusaha ngelakuin yg terbaik. tapi gw ngga setuju ama orang-orang yang bilang kalo kuliah tu ngga kepake di dunia kerja… paling ngga cara pikir yang dibentuk waktu kuliah pasti bakal kepake.. (which is why,, proses belajar ampe nyatu ama kita kayak kata mbak titiw tu penting) ^_^

  14. rNest says:

    wahhh.. baru menyadari bahwa yg post bukan mbak titiw.. berarti comment saya di atas di ralat.. “seperti kata apy” hehehe…

  15. thalique says:

    Kalau masalahnya begitu mas ang..berarti ada yang kurang tepat di sistem pendidikan kita. Mungkin prosentase praktek perlu diperbanyak, dan dipilihkan materi kuliah yang memang hanya menunjang dalam dunia kerja (tanpa mengecilkan arti materi kuliah yang lain)..Bayangkan saja dari SD SMP SMU Kuliah ada ada materi yang itu itu aja.

    Kalau memang sebagian besar orang harus dikondisikan (baca dipaksa) mengerti hanya dengan mempraktekkan tepat rasanya seperti pepatah orang Kroya daerah talik (promosi dikit boleh kan).. I hear I forget; I see I remember and I do I understand. Harusnya memang tidak ada lagi kuliah jangka pendek, karena untuk bisa paham dengan praktek memerlukan waktu yang tidak sebentar. (ngawur nga ini komentarnya hehehe)

  16. Mbelgedez says:

    Tiw, loe percaya ndak, sayah ngerasain sendiri waktu pertama mangslup ke Jakarta, sayah jadi kuli bangunan, dan ngeliat sendiri, para Fresh Graduate insinyur ini emang kalah sama tukang…

    Masoolloo….

  17. stey says:

    liat komen Mbelgedez, setuju banget..
    kadang yang namanya ijazah kalo dibanding pengalaman di lapangan ga ada apa2nya..

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Latest

About Titiw

Female, double (hamdallah sudah laku), berkacamata minus satu setengah yang dipake kalo mau liat nomor angkutan umum doang.

Pic of Life

Subscribe Now