Titiw Inside

Sore (Bagian Satu)

Thursday, 17 April 2008

.!.

The story is written by the other author of this site: JaY 

Aku belum pernah langit semembosankan langit sore ini. Abu abu. Itu saja. Tak ada awan. Tak ada silaunya sinar matahari. Tak ada jingganya langit sore. Tidak ada apa apa. Jalanan di depan kantorku yang biasanya ramai pun kini terlihat lengang.

Kulihat jam di meja kerjaku.

Jam tiga sore. Masih dua jam lagi. Argh…sore ini sepertinya akan menjadi sore yang sangat membosankan.

Kuhisap rokok kretekku dalam dalam. Kutahan asap beracunnya di dalam paru paruku sejenak, biar nikotinnya menjalar ke seluruh aliran darahku. Lalu kuhembuskan pelan pelan.

Fffuuuhhh…

Asap mengepul di atas cubicleku.

Aku tak peduli ruangan kerjaku menggunakan pendingin ruangan. Sama tak pedulinya dengan komplain si jalang penghuni cubicle sebelah tentang asap rokokku yang mampir ke paru parunya.

Silakan! Adukan aku pada si berengsek itu! Tp kalau suamimu memukulimu karena kuceritakan apa yang kulihat kau dan si berengsek lakukan di ruang kerjanya jangan salahkan aku.

Biasanya si jalang langsung diam setelah mendengar kalimat jagoanku itu. Begitu juga dengan si berengsek. Kalau dia menegurku soal hal lain di luar urusan kerjaan, seperti kebiasaanku merokok dan mencorat coret dinding cubicleku dengan segala macam benda, aku akan memuntahkan kalimat jagoan yg kurang lebih isinya sama ke mukanya. Padahal aku tak pernah melihat apa apa di ruang kerjanya. Awalnya aku asal nyeletuk saja karena muak dengan ocehan si jalang egois itu. Tapi setelah melihat reaksinya terhadap kalimat jagoanku, kurasa memang sesuatu pernah terjadi di ruang kerja si berengsek. Apa yang terjadi, peduli setan. Aku tak peduli.

Kutatap layar monitor Mac-ku. Hanya ada garis garis, huruf huruf dan angka angka bodoh itu. Membosankan. Sudah dari satu setengah jam yg lalu pekerjaanku selesai. Kuambil kopi moka instan kaleng dari atas mejaku. Kuteguk sampai habis. Kubuat tulisan ‘bosan’ yang cukup besar di dinding cubicleku dengan kaleng kosong itu sebelum akhirnya kaleng itu kulempar ke pojok ruangan. Kulihat dinding cubicleku. Wow, tulisan bosan yg baru kubuat barusan ternyata tulisan bosan paling besar yg ada di dinding cubicleku. Kuambil kaleng yang baru lalu membukanya. Tidak ada kopi yang lebih enak dari kopi moka kaleng ini. Apalagi jika dibandingkan dengan kopi buatan anak anak OB yang rasanya seperti kencing monyet. Iya, kencing monyet. Dan tidak ada cairan yang lebih memuakan rasanya dari kencing monyet.

Huh…bosaaaan!!!

Sambil menenteng kotak rokok, lighter, dan kopi moka kalengku, dengan rokok menyala di bibir aku berjalan menuju lobby lantai 7. Saat sebelum melewati ruangan si berengsek, sayup sayup aku mendengar suara orang yang sedang berdebat dari ruangan itu.

Hei, itu kan suara si jalang dan si berengsek sedang bertengkar.

Yang kudengar dari pertengkaran itu hanya tapi, suamimu, istrimu, bunuh, hubungan, cinta, kita, ga adil. Sambil melewati ruangan itu aku berceloteh agak keras:

Kemana saja selama ini? Hidup memang tak adil, tuan dan nyonya!

Entah mereka mendengar celotehanku apa tidak, aku tak peduli. Apa yang mereka pertengkarkan, aku tak peduli. Apa benar ada sesuatu di antara mereka, aku tak peduli. Mau mereka berantem sampai bunuh bunuhan pun aku tak peduli.

Aku sudah sampai di lobby. Ada satpam berbadan besar bermuka bodoh sedang serius menonton tv yang digantung di dinding lobby. Kumenoleh sejenak ke arah tv. Infotainment bodoh. Tak aneh kalau si satpam bodoh itu bertampang bodoh. Kuambil remote tv dari meja si satpam. Kupencet tombol channel search…lalu channel tv mulai berganti ganti. Infotainment bodoh, infotainment bodoh lagi, reality show bodoh, iklan bodoh, berita bodoh, iklan bodoh lagi, infotainment bodoh lagi…ok, aku pilih berita bodoh.

Mayat ditemukan. Di sungai. Wanita. Di duga korban pembunuhan…

Ah, pembunuh tolol. Kalau mayat dibuang ke sungai tentu akan ditemukan. Mayat kan mengambang di air. Tolol! Klo mau, mayatnya di kubur yang dalam sekalian. Atau kalau mau niat sedikit masukkan mayatnya ke mobil, lalu tenggelamkan mobilnya ke dalam sungai. Beres. Niat mau membunuh atau tidak sih? Dasar bodoh!

Lika Prameswari, 34 tahun, warga Kalimalang Jaktim…

Lika Prameswari??? Terdengar familiar…

Dilaporkan hilang oleh suaminya, Anton Prawira, sejak dua hari yang lalu…

Anton Prawira??? Terdengar lebih familiar. Anjing!!! Si berengsek Anton Prawira! Dua hari yang lalu si berengsek kan tidak masuk kerja. Jangan jangan memang si berengsek Anton Prawira berengsek yang dimaksud.
Terus berarti…

Belum selesai aku berpikir, dari lift keluar lima orang berbadan tegap berjaket kulit yang langsung menghampiri si satpam bodoh.

Polisi reserse! Seperti yang di tayangan berita kriminal bodoh di tv tv itu.

Lalu mereka terlihat seperti yang sedang terlibat pembicaraan serius dengan si satpam bodoh yang mukanya langsung berubah dari bodoh menjadi tegang campur panik tapi masih terlihat bodoh. Si satpam lalu terlihat sibuk menginterkom beberapa orang. Polisi polisi itu berrjalan ke arah ruangan kerja si berengsek.

Aku matikan rokokku, lalu meneguk kopi moka kalengku sampai habis. Lalu aku berjalan cepat menuju ruang kerja si berengsek yang ternyata sudah ramai dikerumuni oleh orang orang satu ruangan kerjaku. Aku mencoba menembus kerumunan untuk melihat apa yang terjadi di dalam sana. Yang kulihat hanya sekilas. Salah satu polisi sedang memborgol tangan si berengsek sementara dua yang lain memeganginya. Dua yang lainnya lagi memegangi si jalang yang menangis meraung raung.

Sudah jam lima. Langit mulai berubah warna menjadi abu abu pekat. Membosankan! Hey, ternyata di ujung horison langit sedikit berwarna jingga. Jalanan di bawah gedung kantorku pun mulai terlihat ramai dan macet dengan orang orang munafik dan mobil mobil milik orang orang yg lebih munafik yg pulang kerja.

Ok sepertinya keterangan anda sudah cukup, kepolisian republik indonesia akan sangat menghargai bantuan anda. Selamat sore.

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum palsu. Sambil berkata dalam hati:

Yeah, whatever!!!

Kuambil sebatang rokok kretek dari kotaknya yg berada di saku kemejaku. Kunyalakan. Kuhisap rokok kretek itu dalam dalam. Kutahan asap beracunnya di dalam paru paruku sejenak, biar nikotinnya menjalar ke seluruh aliran darah ku. Lalu kuhembuskan pelan pelan.

Fffuuuhhh…

Asap mengepul di atas cubicle ku.

Ternyata sore ini tidak terlalu membosankan.

20 thoughts on “Sore (Bagian Satu)

  1. imgar says:

    yang brengsek dan jalang sebenarnya “aku”

  2. untung nama si brengsek bukan anton ashardi

    :p

  3. thalique says:

    ditunggu kelanjutannya… :)

  4. Mbelgedez says:

    Kalok sayah senengnya dirokok….

    :D

    –> Dirokoknya mau yang putih apa kretek?!

  5. dhiiiiian says:

    Damn…Great Story…baru chapter 1 yah jeung..

    Ditunggu Chapter selanjut nya yah

  6. Mbelgedez says:

    Loh, Post soal pengen dikawinin kok ilang, Tiw….???

    –> Auk, kata yang nulis pengen dirapihin. Yang nulis kan apy, bukan akuh bo.. Siapa apy? baca ini

  7. tyo says:

    ceritanya bgus bgt tapi kok serem ya!!!! btw ditunggu cerita laenya….

  8. ditunggu sekuelnya, neng..
    Cant hardly wait, neh..
    hehehe… :D

  9. escoret says:

    ga asik,kok bersambung..????

    *penonton kuciwa*

  10. Ghatel says:

    ceritanya serem ada bunuh2annya… :neutral:
    cerita nyata ya.. :???:

  11. TJ says:

    wah.., entah kenapa gw lansung teringat sama lagu en video klip Madonna, Bad Girl, ya..
    mungkin kalo ada soundtracknya, pake lagu ini juga keren.

    btw, emang bersambung ya? kok gw ga liat tulisan bersambung disitu?

  12. jayakabajay says:

    sebenernya sih ga bersambung…cuman ini bagian satu dari trilogi “sore” saya.tunggu aja prekuel dan sekuelnya…
    makasih

  13. pudakonline says:

    menarik, dna yang tidak membosankan itu sewaktu menyalakan rokok, entahlah ada penghilang segala kebosanan disana

  14. morishige says:

    menarik. menarik…
    menariiiikk…
    salam kenal..
    :mrgreen:

    –> Salam2an *lebaran*

  15. dme says:

    suka sama karakter aku nya. such a cynical person. menarik. ditunggu sekuelnya yaaa

  16. kuy says:

    Cakep say…lanjut….
    ketika membaca bagian si tokoh merokok, terasa seperti merokok beneran…
    melepas segala kepenatan..

    StaRt ThE MusIc…
    buRn tHe cigarette…
    Comes TheInSPiration….

  17. zaskya says:

    ur smoking while u`re writing rite? i really can felt it.. even i havent see you.. i can imagine ur face look like on the end of the part..hahhaha.. muka lo sgt berkarakteristik..hehehe..shall we go on with the story???

  18. ratie says:

    Tipikal pekerja-kantoran-sinis yg hidup di ibukota.. Feel likes a lil’ bit part of me.

    Can’t wait for another cynic.. ;)

  19. yah.. cuman segitu doang kemunculan namaku yg fenomenal itu? hih..
    aneh ih Lika Prameswari, kayak nama mbak-mbak. hwhehe..
    lanjutannya mana coba,, pgn baca lagi

  20. ratrinamaku says:

    imgar itu temen apa kamu ti?
    yang brengsek itu Fe, yang jalang itu Jey..

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Latest

About Titiw

Female, double (hamdallah sudah laku), berkacamata minus satu setengah yang dipake kalo mau liat nomor angkutan umum doang.

Pic of Life

Subscribe Now