Titiw Inside

Mei

Thursday, 8 May 2008

.!.

“Hei! Mau kemana?”
Dia menjawab…tapi aku tak bisa mendengar suara yang keluar dari mulutnya dengan jelas. Suara kendaraaan yang lalu lalang di jalan ini terlalu bising.
“Hah? Kemana?”
“Flowers!”
Oh. Flowers adalah nama majalah tempat ia bekerja sebagai editor. Dia pernah menceritakan padaku tentang pekerjaan barunya itu.
“Pindah sini?!”
Aku menunjuk tempat duduk di sebelahku yang kosng.
Dia menggelengkan kepalanya. Lalu dia mengisyaratkan agar aku saja yang pindah ke tempat duduk di sebelahnya.
Aku diam.
“Lo aja yang pindah. Sini!”
Aku pun bangkit dari dudukku, lalu pindah ke tempat duduk di sebelahnya.
“Kemana?”
Suaranya kini terdengar jelas.
“Kampus”
Dia tertawa kecil, tapi masih terdengar renyah. Aku tahu kenapa Ia tertawa. Aku sudah sangat memaklumi itu.
“Lo udah ga pernah ke kampus lagi, mei?”
Dia diam. Lalu tersenyum. Senyumannya manis. Ternyata dia lebih cantik dari yang kulihat di foto friendster-nya. Aku mengamati wajahnya lagi.

“Mau?”
Dia menyodorkan ku sekotak wafer stick roll coklat. Aku sedikit terkejut, karena tadi terlalu serius mengamati wajah cantiknya.
“Boleh”
Kuambil satu dari lima biskuit wafer stick roll coklat dari kotaknya. Kubuka bungkusnya. Lalu sunyi sebentar. Aku diam. Dia diam. Tapi entah mengapa terasa nyaman.
“Coklat kesukaan gw nih”
“Oh ya?”
“Iya…”

Bis DAMRI sudah dari tadi melaju, dan kami sudah terlibat dalam percakapan tentang ini itu. Hanya sebuah percakapan dua orang asing. Orang asing yang sedang belajar saling mengenal. Tapi entah kenapa, aku merasa seperti sudah lama mengenalnya. Well, aku memang sudah lama ‘mengenalnya’. Lewat friendster. Dan sudah beberapa kali aku mengobrol denganya. Lewat Yahoo Messenger. Tapi baru kali ini aku benar-benar terlibat dalam sebuah percakapan nyata dengannya.

“Eh, duluan ya?”
“Ok. Sukses ya!”
Dia tersenyum, lalu berdiri dan berjalan ke arah pintu belakang bis. Tak berapa lama Ia turun. Aku masih terus memperhatikannya. Sampai bis melaju jauh meninggalkannya, dan aku tak bisa melihatnya lagi. Otakku tiba-tiba sibuk. Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Ada apa?

Aku merebahkan punggungku ke sandaran kursi. Lalu melihat keluar jendela bis. Tatapanku kosong. Otakku memutar ulang wajahnya di dalam kepala.

Cukup lama aku memutar bayangan wajahnya di dalam kepalaku. Lagi dan lagi. Sampai kusadari, ada sesuatu tergeletak di samping tempatku duduk. Sebuah benda sebesar kepala tangan berwarna merah. Lah?! Sebuah hati? Hatinya Mei! Kurogoh saku celanaku, mengambil telepon selularku, masuk ke menu buku telepon, mencari namanya…ketemu. Mei, kutekan tombol Yes, lalu kudekatkan ponselku ke telinga.

Kutunggu cukup lama untuk menndengar nada sambung.
“tuuuuut…tuuuuut…tuuuuut”
“Halo…kenapa jay?”
“Hei Mei, hati lo ketinggalan!”
“Oh itu. Sengaja ko…buat lo. Simpen ya?!”
Aku diam. Dia diam. Tapi kini aku tahu mengapa rasanya begitu nyaman.

12 thoughts on “Mei

  1. TJ says:

    weleeeehh… hatinya ketinggalan..
    ini namanya kopi darat tapi jadi demen versi ‘dialus2in’. hehehehe..

  2. deideimeimei says:

    i like the part when he was still looking at mei after she leaved the bus. who knows that she wanna looked at him too, but she’s too shy? hihihi..lucu juga kali nih scene buat cerita film (apa sih!?), heheheu.. ayo bikin cerita lagi..

  3. Anang says:

    hm ceritanya menghanyutkan sampai endingnya, so sweet

  4. teh anggy says:

    “Halo…kenapa jay?”
    “Hei Mei, jantung lo ketinggalan!”
    “Oh itu. Sengaja ko…buat lo. Simpen ya?!”
    “Kenapa jantung yang lo tinggalin?”
    “Supaya setiap detik lo bisa denger detak nya jay”

    (Halah) :p

  5. nonacito says:

    “Hei Mei, hati lo ketinggalan!”
    “Oh itu. Sengaja ko…buat lo. Simpen ya?!”

    hehhuheuheuhuehue
    ya alloh..
    hahaha

  6. doedoedoe says:

    Ampun jay..ini cerita horor ya? ko bisa ninggalin hati di dalem bis..
    jgn2 si mei ini jelmaan suzana ya?
    pilihan kata2nya bagus..ceritanya bagus..cuma endingnya aga terlalu dibuat2..kesannya jd cuma sebuah ‘cerita’ doang..
    hehehhehe…

  7. dhiiiiian says:

    Ciyeee…..ceritanya hati ketinggalan
    eh sengaja ditinggalin hihihihi
    Nice Story Tiw.. ^_^

  8. ratie says:

    Saya kira pas di telepon ga akan diangkat karena mei-nya udah mati.. secara hatinya copot gituh.. Haha.. Maafkan otak saya yang sering berkhayal ekstrem ini.. But, it’s a nice story overall,jay!

  9. Gum says:

    hehe… so swit. keren2..

  10. ratrinamaku says:

    hatinya kamu jual apa kamu kasih makan buat kucing dirumah??
    *ampun jatu ratri resmisari, mengapa setelah diputus pacar kamu jadi bitter begini???

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Latest

About Titiw

Female, double (hamdallah sudah laku), berkacamata minus satu setengah yang dipake kalo mau liat nomor angkutan umum doang.

Pic of Life

Subscribe Now