Titiw Inside

Untitled

Friday, 1 August 2008

Kilau matahari senja perlahan menghilang. Lambat. Bayangan gedung-gedung tinggi lenyap tersapu gelap. 18.18. Dua puluh juta lampu dinyalakan. Beberapa masih padam. Beberapa sengaja dibiarkan padam. Angin malam mulai bertiup. Aku sendiri, berdiri di tengah hiruk pikuk kota ini. Aku benar-benar sendiri. Tak ada yang peduli. Bahkan tak ada satupun yang melihat atau memperhatikan keberadaanku di sini saat ini.

Kota ini bernama Jakarta. Dan sungguh aneh bagiku betapa kota ini telah menjadi magnit bagi jutaan manusia untuk mengejar mimpi-mimpi mereka. Mimpi yang dibenamkan di dalam kepala mereka oleh televisi dan persepsi-persepsi. Mimpi-mimpi yang seringnya malah berubah menjadi tidak menyenangkan ketika mereka bangun.

Bangun atau tetap bermimpi. Bukankah itu pilihan yang sulit?

Aku hanyut dalam pikiranku. Tapi diam diam, dengan seksama, aku mengamati manusia-manusia yang lalu lalang di depanku. Beragam muka, beragam raut, beragam bentuk. Tapi tujuan mereka sama. Untuk tenggelam. Tenggelam dalam waktu yang memacu. Tenggelam dalam rutinitas. Tenggelam dalam kenyataan yang membenamkan harapan dalam-dalam. Tenggelam dalam hidup yang dibentuk secara sistematik oleh kepatutan-kepatutan dan nilai-nilai jutaan kepala-kepala asing. Tenggelam. Bukan menyelam.

Jalanan di sekitarku masih saja padat. Kerumunan manusia yang lalu lalang juga tak kunjung melonggar. Tap tap tap. Mereka melangkah cepat cepat. Sedangkan kendaraaan terhambat. Maju tersendat-sendat. Apa gunanya buru-buru? Berjalan cepat-cepat pun kalian tetap akan terlambat. Berjalan pelan-pelan rasanya akan lebih menyenangkan.

Uh, manusia-manusia yang datar.

Kota yang datar.

Malam yang datar…

Sampai tiba-tiba terdengar ledakan besar.

Duarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr!!!

Kaca-kaca gedung di sekitarku berdiri pecah. Manusia-manusia itu berlarian panik tak tentu arah. Aku melihat ke sekeliling. Ada asap putih tebal di langit. Asalnya tak jauh dari tempatku berdiri. 18.24. Waktunya semakin dekat. Kulihat keadaan di sekelilingku semakin semrawut. Manusia-manusia itu kalut. Kalang kabut. Beberapa penumpang kendaraan umum berhamburan keluar. Tumpah di jalanan. Mobil-mobil memaksa bergerak. Tabrak-tabrak. Jalanan di depanku makin penuh sesak. Aku beberapa kali tertabrak manusia-manusia yang berlarian. Mereka  benar-benar tidak melihatku rupanya. Aku tak bisa tetap di sini. Begitu pikirku. Aku harus pergi. Tugas menanti.

Aku berjalan sambil melihat ke arah gedung yang meledak. Sinting!!! Gedung tinggi itu kini hanya tersisa tigaperempatnya. Bukannya menjauh dari asal ledakan, aku malah mendekat. Instingku mengatakan dia berada di sekitar situ. Kuperhatikan sekeliling. Puing-puing bangunan berserakan. Pecahan kaca bertebaran. Darah berceceran. Puluhan manusia cedera, terkena pecahan ledakan. Di dekat pagar tembok gedung yang meledak ada sesosok pria yang tertimpa puing besar. Tak ada yang berusaha menolongnya.

Aku berlari menghampirinya.

“Pak? Pak?”

Dia tidak menjawab. Dia sudah tidak bernafas. Berarti bukan dia. Aku kembali berdiri. Kulihat di halaman gedung yang meledak. Banyak manusia yang juga tertimpa puing besar. Mungkin banyak dari mereka yang juga tak bisa selamat. Sial!!! Tak ada yang berusaha menolong mereka. Semua hanya sibuk dengan keselamatan dirinya masing-masing. Sinting!!! Kota ini sudah merubah manusia menjadi mahluk tak berhati nurani.

Aku tak bisa menolong mereka semua sendirian. Tugasku memang penting. Tapi aku harus sebisa mungkin menyelamatkan  manusia-manusia ini. Nyawa mereka lebih berharga dari tugasku. Entah apa Tuhan setuju. Tapi menurutku begitu.

“Tolong…tolong!!!”

Kudengar erangan dari arah kiriku. Aku menoleh. Sekitar empat setengah meter dari tempatku ada sesosok wanita yang kakinya tertimpa puing bangunan yang cukup besar. Aku berlari menghampirinya.

“Tolong saya…”

Dia menatap mataku penuh harap mengiba. Aku hanya menggangguk, lalu menunduk berusaha mengangkat puing yang menimpa kakinya. Fiuh…puing ini berat sekali. Aku tak kuat. Kucoba mengangkat puing sialan itu sekali lagi. Ternyata aku masih tak cukup kuat untuk mengangkatnya.

“Bentar ya, mba? Saya mau cari bantuan lain dulu”

“Jangan!!! Jangan tinggalkan saya!!!”

Tangannya memegang lemah bagian bawah celanaku.

Sial!!! Dia banyak mengeluarkan darah. Kurasa dia terluka parah.

“Temenin saya…”

Aku diam, menatap matanya dalam, lalu mengangguk pelan mengiyakan.

Aku rasa dia orangnya.

Dia membalas menatapku dengan dalam, lalu tersenyum miris. Hatiku teriris melihatnya. Manusia di kota ini…selalu mementingkan diri sendiri, tapi tak mau sendiri ketika dalam situasi sulit. Tapi aku tak mau seperti mereka. Aku harus menolong wanita ini. Kenapa? Karena aku bukan salah satu dari mereka.

Otakku berpikir keras. Lalu aku berteriak keras-keras untuk meminta bantuan dari manusia-manusia itu.

“Toloooong!!! Ada yang terluka disini. Siapa saja???!!! Tolong bantu saya!!!”

Tak ada yang datang. Kurasa tak ada yang mendengarku.

“Sabar ya mba? Saya janji bakal nolong mba. Saya janji semua bakal baik-baik saja. Sabar ya? Yang kuat ya mba???”

Aku mencoba menghiburnya.

“Makasih udah mau nolong saya…”

“Ah, ga masalah ko mba…”

Aku berbasa-basi.

Kurasa wanita ini ingin memulai percakapan untuk mengalihkan rasa sakit dan ketakutan yang ia rasakan. Sedikit menarik rasanya dia masih bisa berusaha tenang mengingat kondisi yang dia hadapi saat ini. Tapi bagus lah kalau dia tidak panik. Aku jadi ikut tidak panik.

“Ngomong-ngomong nama saya Kayla. Nama kamu siapa?”

Kayla??? Ternyata memang dia orangnya!!!

“Nama saya…”

Belum sempat aku menjawab menyebutkan namaku, terdengar lagi ledakan besar yang memekakan telingaku.

DUAAARRRRRRRRRR!!!

Dalam sekejap semua gelap.

Badanku terasa berat. Mataku terasa berat. Nafasku terasa berat.

“…Izrail. Nama saya Izrail”

Lalu tiba-tiba semua berhenti.

Tugasku sudah selesai.

← Next Post
Previous Post →

10 thoughts on “Untitled

  1. ratie says:

    Anjritttt!!!! Baguuusssssss….. Plok..plok..plok… *standing applause for mas Jay* :D

  2. Ennyanya says:

    Wow… Baguussssss….
    Jey emang selalu jago nulis…
    Ayo jangan keasikan, skripsinya harus dikerjainnya juga yayah…
    Kaya city of angel ga..? Malaikat2 gt… Hihihiii…

  3. escoret says:

    salut..!!!!

    jadi,kpn akan ke jogja..????

    nunggu ada SK turun dr langit dulu mas…

  4. mita says:

    niceeeee…….:)

  5. djibril says:

    Gw kasih aja judulnya nih…”Mission Is Possible” coming soon on “theater” near you…kekekek….

  6. Kurt says:

    Aduuh dari awal sudah tegang akhirnya justru menegangkan… hmmm hebat!

  7. mbelGedez™ says:

    Dari kemaren senengnya dar der dor. Mangkanya dijemput sama Izrail…. :lol:

  8. mfajrinet says:

    Sip, begitulah ibu kota.. ;)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Latest

About Titiw

Female, double (hamdallah sudah laku), berkacamata minus satu setengah yang dipake kalo mau liat nomor angkutan umum doang.

Pic of Life

Subscribe Now