Books vs Movies Ala Remy Sylado

Kita masih saling argue dengan hal2 seperti ah-kerenan-bukunya-daripada-filmnya cliche atau sebaliknya? Pasti berasa banget tuh untuk film Laskar Pelangi, Harry potter, dll. Nah.. Saya yg orang awam perfilman atupun perbukuan akan banyak mengutip catatan Remy Sylado ketika duluuuu banget dia pernah menghadiri seminar di kampus saya, sewaktu dia membahas tentang novelnya yang difilmkan, yaitu Ca Bau Kan. Nggak semuanya saya tulis, karena ada beberapa paragraf yang kurang sesuai dengan tema kita kali ini. Btw, doi nulisnya pake mesin tik lho, hehe.. Semoga membantu memperluas pandangan kamu2 selama ini. Cheers!

-Catatan seadanya untuk seminar “Novel Mampir Ke Bioskop”, di FISIP UI, 22 November 2006-

BAHASA TEKSTUAL KE BAHASA PIKTORIAL

Terlebih dulu harus dikatakan untuk diingat, bahwa bahasa novel sebagai bahasa tekstual tidak muradif dengan bahsa film sebagai bahasa piktorial. Dalam bahasa anglo-Amerika, kita dapatkan pengertian teoritis akan wujud asasi film, yaitu, sebagai piranti budaya yang dapat dinikmati masyarakat luas dalam waktu yang bersamaan. Film adalah sebuah “motion picture”, artinya lukisan atau gambar bergerak yang menceritakan kehidupan. Sebelum istilah “motion picture”, pada 1905 orang masih menyebut film sebagai “story picture”, dihubungkan dengan film yang dibuat oleh Edwin S. Porter pada 1903, The Great Train Robbery. Di Indonesia, sampai 1960-an orang pun masih lazim menyebut film sebagai ‘cerita gambar” atau “gambar hidup”.

Yang segera kita pahami dari istilah-istilah itu adalah, bahwa film merupakan cerita dramatik -apapun jenisnya- yang dinikmati penonton melalui aktor-aktor yang menafsir peri kehidupan insani melalui alat-alat tubuhnya, yang digali dari sumber eksternal dan internal, lewat seni aktingnya, dibantu oleh kamera yang merekamnya dengan berbagai sisi kepandaian. Mulai dari konsep artistik sutradara, teknikalitas di bidang suara, cahaya, penyuntingan, sampai ilustrasi musiknya, dst.

Bahwa sebuah film sangat ditentukan oleh bintang, memang tak disangkal. Tetapi setelah itu, sebuah film tak akan menjadi sebuah “motion picture” jika pengerjaannya tanpa skenario, tanpa sutradara, tanpa pekerja pandai di bidang lampu, suara, kamera, musik, dst, juga tak disangkal. Yang sedang kita bahas di sini adalah gambaran kehidupan yang ditafsir dari novel. Sejarah melintasnya novel menjadi film, sebagai tontonan teater, kira-kira sejalan dengan rangsangan naskah drama yang awalnya diperagakan di teater, lantas dibentuk sebagai film di bioskop.

Salah satu novel yang termasuk banyak menantang sutradara untuk membuatnya menjadi film adalah karya Nathaniel Hawthorne, The Scarlet Letter, cerita tentang Hester Prynne yang membayang zina di Salem, berselingkuh dengan Hanson. Terakhir, pada 1995 cerita ini disutradarai oleh Rolland joffe dengan bintan Demi Moore, Gary Oldman, Robert Duvall, dll. Sebelumnya, pada 1973 cerita ini disutradarai oleh Wim Wenders dengan bintang Senta Berger, Lou Castle, Hans-Christtian Blech, dll. Mundur 40 tahun ke belakang lagi, pada 1934 cerita ini disutradarai oleh Robert G. Vignola dengan bintang Colleen Moore, Hardie Albright, Henry B. Walthall, dll. Dan mundur satu dasawarsa di belakangnya lagi, pada 1926 cerita ini disutradarai oleh Victor Seastrom dengan bintang Lillian Gish, Lars Hanson, Henry B. Walthall, dll.

Dari gambaran selintas ini kita mendapatkan jawaban yang telah disinggung di atas, sebagai bukti, bahwa novel sebagai pustaka bisa awet di semua masa dalam berbagai waktu. Sementara pandangan-pandangan filmis menyangkut estetika sinematografis, bisa berubah-ubah menuruti prayojana mode, selera, dan gaya hidup yang berlangsung di dalam progresi budaya, dan di situ mau tak mau orang mesti pula menghiraukan semboyan-semboyan kepentingan pasar.

Saya rasa, dengan melihat gambaran ini, maka pernyataan tentang novel sebagai bahasa tekstual dan film sebagai bahasa piktorial, bisa berarti: Saya bisa memahami terjadinya tafsir yang beda, dan bahkan menyimpang atas film Ca Bau Kan yang berangkat dari novel. Ca Bau Kan bukan novel pertama saya yang dibuat film, Pada 1977 novel saya Gali Lobang Gila Lobang, ditulis pada 1970, difilmkan dengan skenario yang dibuat oleh Sjumandjaja dan sutradara Abrar Siregar. Bayangkan, cerita yang memakai set kota Manila lengkap dengan benturan-benturan kultural bangsa Pilipina -yang sosoknya seperti Cina, namanya Spanyol, dan bahasa resminya Inggris- dipindahkan ke Banten karena alasan-alasan biaya dan perizinan di sana.


Yang hendak saya katakan di sini, bahwa saya bisa mengerti perbedaan visi dalam menafsir sebuah latar bahasa tekstual menjadi bentuk bahasa piktorial. Untuk itu malah saya bisa memberi apresiasi khusus, sejauh bahwa yang diejawantahkan itu adalah suatu karya interpretasi terhadap kehidupan insani disertai dengan pelbagai aspek menyangkut ciri-cirinya secara sosial, etnikal, kultural. Terhadap masalah ini, lumrah terjadi sikap dan visi yang berjalan seiring denga progresi tatanan yang berubah atas mode, selera, dan gaya hidup tersebut.

Barangkali contoh paling evidensial mengenai kasus ini adalah menonton film Mutiny On The Bounty. Saya memberi contoh film Amerika, sebab pameo sinis yang berlangsung di antara pekerja film Indonesia, adalah: Jika orang Indonesia menonton film Amerika, sikapnya menjadi murid, sementara jika menonton film Indonesia sikapnya menjadi guru yang sok-pintar.

Dua kali novel Mutiny On The Bounty karya Charles bernard Nordhoff & James Norman Hall ini difilmkan di Hollywood. Keduanya bertolak belakang pada teks aslinya. Yang pertama, pada tahun 1935, cerita disutradarai oleh Frank lloyd dengan bintang Charles Laughton, Clark Gable, dll. Di situ Clark Gable pulang ke Inggris untuk diadili. Lalu, pada 1962 cerita ini disutradarai oleh Lewis Mitchell dengan bintang Marlon Brando, Trevor Howard, Richard Harris, dll. Di situ Marlon Brando ngumpet di sebuah pulau kawasan Pasifik bersama kekasihnya Tarita.

Jangan kira hanya terhadap teks novel saja film Amerika menunjukkan imaginasinya yang liar dari interpretasinya yang berbeda tersebut. Malahan teks-teks yang peka bagi umat beragama, dalam hal ini Kristen, Hollywood bisa mekakukannya dengan bebas.

Ambil contoh sosok Kristus dalam teks Perjanjian Baru. jika kita menonton The Greatest Story Ever Told oleh sutradara George Stevens, The greatest Story Of All Time oleh sutradara Roger Young, King of Kings oleh sutradara Nicholas Ray, setidaknya boleh dikatakan alkitabiah. Artinya bersumber pada kitab-kitab kanonik, yaitu teks-teks yang diterima gereja sebagai kitab suci. Tetapi, dimulai dari Jesus Christ Superstar, opera rockyang ditulis oleh Tim Rice dan Andrew lloyd Webber dan disutradarai oleh Norman Jewison, kita lihat terjadinya interpretasi yang berbeda dengan teks kanonik. Dan terakhir, The Last Temptation of Christ, sungguh menyimpang dari injil kanonik, yang membuat penganut Kristen geram. Tetapi, sementara itu film yang membuat semua orang Kristen menerima dengan bulat hati, walaupun juga tidak tersurat detailnya di dalam injil kanonik, adalah The Passion of The Christ, yang disutradarai mel Gibson.

Dengan memberikan catatan kecil tentang ini, akhirnya saya bermaksud mengatakan bahwa “KITA MASUK KE BIOSKOP BUKAN UNTUK MENONTON NOVEL, TETAPI UNTUK MENONTON FILM”.

12 thoughts on “Books vs Movies Ala Remy Sylado

  1. didien says:

    Kabarnya si oom Remy sendiri kecewa sama film Ca Bau Kan. Gak sesuai sama yang dia gambarin di novelnya katanya… Oh iya, jadi inget tulisannya Soleh Solihun. Nama remy sylado diambil dari nada 2 3 7 6 1 [re mi si la do] dari bait lagu “i give her all my love” dari lagu the beatles “and i love her”. Maap yak jeng, jadi OOT :)

  2. lala says:

    saya tidak memilih option manapun :D

    saya memilih untuk melakukan social engineering (baca : minjem DVDnya ma temen)

  3. unee says:

    Aku ,sampe sekarang belum pernah sih ngebandingin buku sama film. Biasanya karena – kadang2, udah nonton pilemnya tapi blm baca bukunya or vice versa.Perbandingan itu ngebuat kita jadi ga enjoy nonton ato baca karena udah terlanjur punya ekspetasi *tsah!* yang tinggi.
    Kalo ada kekurangan di filmnya,pasti kita bisa dapet kelebihannya di buku.Gitu juga sebaliknya. Yang jelas , dua2nya sama2 untuk dinikmati.

    * ah,saya bijak sekali.. silahkan timpuk *

  4. apy says:

    yaa wajarlah ekspektasi kita tinggi pas nonton filmnya. tapi bikin visual effects dan tetek bengek lainnya tidak semudah membayangkannya di otak kita. tapi nonton film memberi cara pandang lain. saya setuju nih sama artikel ini. kalau mau nonton ya nonton aja, kalo dah baca bukunya, diem aja. jangan spoiler. saya tahu kok anda sudah baca bukunya, dan saya nggak peduli anda dah baca buku apa saja. saya cuma mau menikmati ini film…. SYAA HA HA HA HA….

  5. tito says:

    katanya a picture is worth a thousand words. Nyatanya buku masih ga kalah digemari dari film. Piktorial tidak akan pernah menggantikan tekstual, cuma akan memberi sensasi baru.

  6. apy says:

    bilang aja piktorial = movie/film
    terus tekstual = books/buku/novel

    i hate jargons, makes me look stupid (soalnya ga tau artinya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *