Garuda di Dadaku: Review

.!.

Garuda di Dadaku

What:
Bayu (Emir Mahira) seorang anak laki-laki berumur 12 tahun punya hobi bermain bola. Tidak ada yang salah dengan hal itu, namun kakek si Bayu ini (Ikranegara) merasa bahwa bermain bola adalah hal yang sia-sia. Hanya akan berujung pada masalah, dan menurutnya pula seseorang sama sekali tidak bisa dibilang menjadi orang sukses dengan bermodalkan suka pada sepakbola. Ujung-ujungnya, kakek menghujani Bayu dengan les lukis, les musik, dan les-les lain yang dilakoni Bayu hanya untuk menyenangkan kakeknya.

Memiliki teman difabel bernama Heri (Aldo Tansani) yang menyupportnya habis2an, Bayu mulai berani mewujudkan cita-citanya untuk lolos dalam seleksi Tim Nasional U-13. Agar bisa menjadi pemain nasional yang memiliki emblem garuda di bagian dada. Apalagi ketika mereka bertemu dengan Pak Johan (Ari Sihasale), seorang pelatih klub bola ternama yang menawari Bayu untuk masuk klubnya. Makin terbukalah peluang tersebut. Bagaimana usaha Bayu untuk lolos seleksi? Mengapa kakek begitu melarang Bayu untuk bermain bola? Tonton filmnya yang masih beredar di bioskop-bioskop Β kesayangan Anda.

Garuda-di-dadaku

Tiw’s opinion:
Lima huruf untuk film ini: WAJAR. Semua berjalan sangat wajar. Meskipun ada iklan produk rambut sedikit yang ditampilkan di sini. Tapi iklan itu masih sangat wajar dibandingkan film2 lain yang bertebaran iklan sana sini. Belum lagi acting semua orang yang sangat wajar pula. Porsi bang Duloh, sopir Heri yang diperankan oleh Ramzi juga wajar, perannya yang lucu dapat mengimbangi acting anak2 yang masih baru di dunia film. Tidak lucu-lucu berlebihan ala cong style yang diusung Olga dan kawan2nya itu yang mulai memuakkan. Oh ya, perhatikan adegan menangis Maudy Koesnaedy, ck ck ck. Ini baru namanya artis, jarang main film, tapi sekalinya naik, menampilkan acting yang ciamik dan wajah yang tetap segar. Oh yeah, lagu2 Netral sebagai mengisi soundtrack film ini juga yahud. Btw perhatiin gak kalo lagu Garuda di Dadaku ini satu nada sama “Apuse.. Kokondao.. Yarabe.. Sorendoreri..”

Cocok Ditonton:
Kamu-kamu yang mau rasa nasionalisnya bertambah at least 5 %, dan para orangtua yang MERASA selalu tahu apa yang terbaik untuk anaknya. Oh ya, serta kalian anak-anak Indonesia yang sedang libur, ayo minta mama papa keluarin uang untuk nonton film ini ya!

Kudos:
Untuk film yang (nampaknya) berbajet rendah, namun jauh lebih ok dibandingkan film2 ra mutu berbajet tinggi dengan efek2 yang DIRASA canggih.. Saya memberi film ini: 3 garuda kinclong bak baru saja dielap memakai Brasso.

18 thoughts on “Garuda di Dadaku: Review

    • titiw says:

      Well… Hehe, namanya juga selera say.. Cuma emang aku juga gak bilang film ini BAGUS, tapi aku bilang WAJAR. :D

  1. kuy says:

    lima huruf juga buat film ini “CUKUP”….
    pesan moralnya cukup…
    akting pemain ciliknya cukup…
    branding sponsor pengeramas rambutnya juga tidak berlebihan, cukup
    joke2 yang dilontarkan Bang Dulloh (jadi inget temi ya?) juga cukup.

    tapi ada dua poin minusnya menurut saya, yaitu :
    1. bahasa anak2 itu kok rada ketuaan ya buat seumur mereka?
    2. sama si zahra kok indo banget, sementara bapaknya melayu mejen gitcuh (mungkin nyokapnya cuaaaanttttiiiiikkkkbanget kuy?)
    [usaha berbaik sangka]

    *just info :lagu “garuda di dada ku” itu adalah yel2 para suporter timnas indonesia…..

    • titiw says:

      Kalo poin minus yang kamu kasih ini kuy.. di poin pertama aku gak terlalu setuju, karenaaa.. Anak2 sekarang tuh emang ketu2 banget, tawukk!! *sindrom kebiasaan gaul ama bocah* nah tapi poin yg ke2 itu setujuh!!! set dah, doi indo, bapaknya tapi kayak buruh tanam paksa japan jepang gitu. Iya juga yak, berarti mungkin emang emaknya cuantiiiiiiikkk beraaaat..
      PS: Yoi, secara eike juga suka gabung ama bonek2 itu, jadi apal ama lagunya.. Hahaha..

    • titiw says:

      Eh.. ada mas2 yang gila bola.. eh gila sinema.. oh iya..? 4 out of 5..? Sebuah angka yg cukup tinggi dari anda bung..

    • titiw says:

      Yaa.. lumayan bang daripada lumanyun.. Eh.. mas Kurt pindah alamat blog ternyata..? ck.. pantes saban dikunjungi gak ada apdetan.. *sotoy marotoy*

    • titiw says:

      Ember.. dari dulu mah aku emang gak suka ama doi. Waduh.. hajar langsung dua2nya lah hayyy!!Tapi mending garuda dulu, soalnya kayaknya udah mau turun tuh dari bioskop2 kesayangan anda.. He..

  2. ratie says:

    Kalo dibandingin sama film luar Indonesia, film ini pasti masih kalah dan banyak kekurangannya. Tapi kalo dibandingin ama film2 Indonesia ra mutu yg kata lo tadi, tiw this movie is surely a better movie! Cocok bgt buat anak2, walopun gw juga sempet kaget dengan bahasa percakapan yg mereka pakai di film itu. Tapi gw pikir lagi, emang anak sekarang kaya gtu kali yeee cara ngobrolnye…. Lo dah yg lebih tau, tiw secara skrg begaolnya ama anak SD mulu. Hihihi..

    Dari segi penceritaan, editing dan penyutradaraan juga cukup rapi sih sebenernya. Gw banyak nonton film Indonesia yg dialognya aneh, editingnya kacau, durasi kepanjangan, pokoknya jadi ga enak bgt dah ditonton.. Nah, pas nonton film ini ga ada tuh rasa2 kaya gtu. Hehehe.. Oya, gw setuju klo aktingnya Maudy bagus! Apalagi akting om Ikranegara.. Pinter deh tim castingnya!

    Overall, gw kasih 4 dari 5 untuk tema yg bagus, penceritaan, editing dan penyutradaraan yg apik, akting yang ciamik dan pesan moral yg bagus juga tentunya. Maju perfilman Indonesia!!!

    • titiw says:

      Weits.. beda dah yg bininya film maker.. Iya tau rat.. bocah2 jaman sekarang nih kadang2 ketu bener. Kecil2 tua! Ya meski gak semuanya begitu sih.. Iya, akting 2 orang itu two thums up yeh.. Ikutan teriak deh, MAJU!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *