Film Dokumenter Pertaruhan (At Stake)

pertaruhan dokumenter

Pertaruhan (at stake) ialah sebuah film dokumenter produksi Kalyana Shira Films yang berisi 4 film pendek. Masing-masing cerita memiliki angle berbeda, namun memiliki satu benang merah, yaitu tentang PEREMPUAN. Kalyana Shira memang selalu concern dengan kedudukan atupun peran wanita di mata masyarakat. Bagaimana jika saya membahas satu-satu..?

Film 1: Mengusahakan Cinta: Effort for love --> oleh Ani Ema Susanti

“Indonesia mengirim lebih dari 400 ribu buruh migram setiap tahun ke berbagai negara kawasan Asia Pasifik dan Timur Tengah”
“Jumlah buruh migran perempuan mencapai lebih dari 72% dibandingkan jumlah buruh migran laki2”

Film pertama yang mengambil tempat shooting di HongKong ini menceritakan perjuangan 2 wanita yang sudah lama menjadi TKW di sana. Tentang Wati yang mau pulang ke Indonesia untuk menikah, namun ada sedikit ketegangan antara dia dan calon suaminya, karena ia haru menjalankan operasi yang mengharuskan ia dioperasi melalui lubang vagina. Si calon suami kurang percaya dan berkata bahwa harusnya Wati jujur saja kepada dirinya tentang dirinya yang -mungkin- sudah tidak perawan.

Sedangkan perempuan ke-dua, Ryan (nick name dari Ryantini), adalah seorang TKW bertugas menjaga seorang Nenek tua. Ketika masih menikah di Indonesia (FYI, ia dipaksa menikah pada umur 13 tahun) ia difitnah berselingkuh oleh suaminya sehingga mereka bercerai dan Ryan memilih orientasi seksual yang lain. Ryan menjadi seorang lesbi.

Titiw’s Opinion: Lihat detail2 film, dimana Wati merasa lega karena pesawat yang ditumpanginya transit di Singapur, bukan di Jakarta yang banyak pungli di mana2.

Film 2: UNTUK APA: What’s The Point --> oleh Iwan Setiawan & Muhammad Ichsan

“Penelitian oleh Population Council melaporkan 86% – 100% perempuan Muslim di 6 propinsi telah disunat”
“Pada 2004, DepKes melarang sunat perempuan, belum diketahui data terkini dari praktek sunat perempuan”

Film dibuka dengan berbagai opini masyarakat tentang sunat perempuan. Di Indonesia, khususnya di daerah, sunat perempuan seperti menjadi hal yang wajib untuk dilakukan, karena jika tidak, mereka akan dikucilkan dari komunitas.

Beberapa kyai mengatakan, hal tersebut HARUS dilakukan karena jika tidak, perempuan akan TIDAK SETIA kepada pasangan, bagian dalam vaginanya menjadi tidak Mantabh, dan kehidupan sex dengan pasang menjadi tidak keruan. Kata Gus Dur sendiri dalam film ini, taka ada yang namanya khitan untuk perempuan, itu hanyalah budaya masyarakat yang mengatasnamakan agama.

Titiw’s Opinion: Saya terhenyak ketika seorang pengajar mengatakan bahwa khitan perempuan sduah ada sejak jaman jahiliyah, namun karena Nabi Muhammad tidak mau membuat kekacauan dengan mengapusnya secara tiba2, maka beliau mengatakan pada umatnya “Fine, do it, but do it moderately”. Yang mana dalam opini pribadi saya adalah: Boleh saja dikhitan, tapi itu semua adalah hak yang bersangkutan.

Wow.. Ternyata nabi kita itu emang sedikit psikolog juga ya.. Dan menurut saya lagi. apakah betul wanita itu akan liar jika tidak disunat..? Lalu kalo cewek nafsuan kenapa..? Selama pasangannya gak masalah dan nafsunya disalurkan dengan benar. Kalo tujuan khitan memang untuk menyenangkan pasangan, maka hal itu sangat2 tidak islami. Masak bersakit-sakit untuk menyenangkan orang lain..?

Film 3: NONA ATAU NYONYA: Miss or Mrs? --> oleh Lucky Kuswandi

“Jumlah dokter ahli kebidanan dan kandungan hanya sekitar 7000 orang, dibandingkan jumlah penduduk Indonesia yang hampir 230 juta”
“10 pemeriksaan dilakukan oleh dokter ahli kebidanan dan kandungan, 81% dilakukan oleh bidan.”

Film ke-tiga ini mengisahkan kegundahan para wanita yang ingin memeriksakan kesehatannya ke dokter kandungan. Kelly, remaja baru lulus SMA yang gak ngerti ke mana dia harus bertanya tentang keputihan yang dia alami.

Ada juga testimonial dari para perempuan yang sempat mengalami ketidaknyamanan untuk ke ginekolog karena akan disangka perempuan “tidak benar”, ada yang karena takut sakit, dll. Intinya pertanyaan “Nona atau Nyonya” selalu menggantungi pundak mereka2 yang masih single untuk mendapatkan hak untuk mengetahui kesehatannya.

Titiw’s opinion: Eh si Tika penyanyi juga merupakan salah seorang yang menceritakan pengalamannya ketika ke ginekolog lho. Dan kamera tersembunyi itu.. Oh My Gawd. Dokter apa polisi moral sih..? Scene PANCASILA bikin air teh yang sedang saya hisap tersembur otomatis dari mulut.

Film 4: Ragat’e Anak (The Children’s fortune) --> oleh Ucu Agustin

“Lebih dari 60% perempuan PSK memiliki anak”
“Di tulungagung, 25% dari PSK bekerja sebagai buruh kasar, penjaga warung dan bertani di siang hari”

Di Tulungagung, Nur, seorang Ibu dari 3 anak yang siangnya menjadi pemecah batu, memiliki pekerjaan lain ketika malam hari, yaitu menjadi PSK di Kuburan Gunung Bolo. Gaji Nur sebagai pemecah batu hanyalah 400 ribu per bulan, dan dengan tarif Rp 10.000 saja sekali tidur dengannya di kuburan tersebut, ia masih tertatih-taih untuk mencukupi biaya sekolah dan makan anaknya.

Berbeda lagi dengan Mira yang memiliki satu anak. Ia menjadi semacam simpanan untuk preman2 di Kuburan tersebut, dan badannya sudah berkali-kali dirasakan oleh pria2 pemabuk di sana.

Titiw’s opinion: Dalam film, ada pria yang amit-amit-najis-banget ngasih testimoni kalo cewek itu ya cuma buat temen tidur, pertamanya pasti dia emang liat muka, tapi setelah itu dia harus merasakan keseluruhan. Super njijiki. Pada akhir cerita, mereka semua tidak ada yang mau terus kerja seperti ini, dan mau anaknya sekolah tinggi agar terbebas dari beban yang menghimpit selama ini.

Untuk Anda yang merasa bermoral, jangan bicara MORAL di sini, karena menurut saya, yang namanya prostitusi bukanlah simbol kemerosotan moral wanita, melainkan simbol kesulitan ekonomi mereka.


 

Singkat kata, film ini menarik dan dapat menjadi topik yang cukup hangat untuk sebuah grup diskusi yang hangat pula. Eh, jangan lupa beli DVD yang asli ya! ;)

20 thoughts on “Film Dokumenter Pertaruhan (At Stake)

    • titiw says:

      Betuuul!!! Coba ayo ditilik kakak.. dan emang beda ya kalo nonton dipidi aslinya.. gak deg2an bakal scratch.. hahaha..

  1. ratie says:

    Eits.. saya nontonnya di metro tv lhooo.. halal kan tanpa harus beli dvd nyaa.. ahahaha..

    Iya, film dokumenter yg bagus dan edukatif sekaligus menyentil beberapa kalangan. Kalyana Shira emang cerdas dalam mengangkat suatu tema! Setuju bgt ama komen lo ttg sunat perempuan. Kenapa perempuan mesti menyakiti dirinya untuk orang lain melulu sih??? Dan terus kalo cewe nafsuan kenapa?? –> Kalimat favorit gw di postingan ini. Haha..

    • titiw says:

      Iyaaa.. yang dulu di metro itu aku kelewatan nduuutt!! huhuhu.. Ya gak ya gak ya gak..? kalo cewek napsuan emang KENAPA..? Buktinya kamu.. sekarang udah punya anak.. cihuy!!

    • titiw says:

      Cari di toko2 kayak disc tarra, atau di tempat2 komunitas seni macem galeri soenaryo bandung.. atau di salihara pasar minggu.. :D

  2. ade s says:

    lucky me, waktu itu bisa nonton pas premierenya di kotaku. Dan sempet diskusi (plus jalan2) sama film maker dan Teh Nia nya juga. hohoo… filemnya bagus ya. tapi sayangnya hari gini masih ada aja orang2 yg berpikir, ngomongin masalah vagina itu sama aja ngomong jorok. film begini malah dibilang vulgar. aneh!
    dan, iya! adegan PANCASILA itu bener2 konyol..!! haha..
    satu lagi. kalo cukup jeli ngeliatnya, sutradara film no.1 ikutan ngasih testi di film no.3 lhooo

    • titiw says:

      Emang tuh dasar orang2 muna semua. Yakin deh orang2 yang ngmong tabu itu juga punya istri buat dikawin kontrak di subang (kenapa harus subang..?) OH YAAA..? Ada si sutradara film 1? oh yg rada cina itu yaa..? *puter ulang*

    • titiw says:

      Wah.. di malang ya.. saya kurang tahu deh.. tapi cek aja di toko2 musik yang lumayan ede macem disc tarra. Biasanya ada sih DVD Indonesia macem gini..

    • titiw says:

      Heeh.. haru banget yang adegan si ibu itu pulang malem2 abis kerja di kuburan itu.. dan harus ke rumah tetangganya dulu untuk ngambil anaknya.. trus anaknya yg lagi tidur itu dia gendong.. huhuhu..

  3. ooww says:

    tiw saya mao ngirim film dokumenter buat titiw gratis sekedar mao sharing pendapat aja bisa ga?
    minta alamat tiw kirimin aja ke email saya , tapi cuma 1 syaratnya nonton sampe abis baru sharing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *