Once Upon A Time In Changi

Sudah satu jam aku menunggu di sini. Katanya pesawat menuju Jakarta di delay karena ada masalah dengan bahan bakarnya. Hah, aku kira cuma di Indonesia yang jadwal keberangkatan pesawatnya tidak tentu begini. Entah hanya perasaanku saja atau bagaimana, namun ruangan ini jadi semakin dingin. Syal coklat yang baru kubeli di Orchard Road kemarin kuikat dengan erat di leher yang makin keriput ini. Lagu Tiger In The Rain dari Michael Franks berkumandang lamat-lamat dari pengeras suara yang di ujung sana. Pilihan yang cukup bagus, karena Michael Franks adalah salah satu dari sekian banyak penyanyi jazz favoritku.

Kantuk menyerang, tapi lebih baik jangan mengikuti nafsu ini untuk tidur karena aku takut kebablasan. Untuk itu, aku pakai kacamata bacaku dan mulai membaca buku kumpulan Esai karya penulis kawakan Remy Sylado. Buku ini hadiah ulang tahunku yang ke-60 dari cucuku, Dhika. Pikiran ini melayang menuju 10 tahun yang lalu, malam ketika Dhika dilahirkan.

Aku ikut panik karena anakku Rika menelponku pada jam satu dini hari untuk menyuruhku cepat-cepat datang ke rumah sakit. Akh, sudah 10 tahun aku menjadi seorang kakek. Waktu berlalu begitu saja tanpa kusadari. Dhika sudah kelas 2 SD sekarang, kata ibunya sih dia cukup rajin belajar. Baguslah kalau begitu. Aku melanjutkan bacaanku ketika pria di sebelahku bertanya:

“Mau ke Indonesia juga, Pak? Jakarta?
Iya”, sambil menengok ke arahnya yang mungkin seusia denganku.
Saya juga”, tambahnya.

Meskipun aku tahu ini adalah dialog basa basi, aku jawab juga, “Oh begitu..”.
Baru dua kata lagi terbaca dari buku ini, ia bertanya lagi.
“Buku apa Pak? Oh Remy Sylado.. Saya juga baca cukup banyak buku dari beliau”.
Kalimat darinya kubalas dengan senyum.
“Ke Singapura ada urusan dinas ya Pak? Kopernya cuma satu”, Katanya sambil mendelik ke arah koper semata wayangku di depan kaki ini.
Aku jawab “Oh tidak, saya sudah pensiun, ke sini hanya berkunjung ke rumah anak saja”. Wah, sepertinya aku salah menjawab, mengapa aku harus membahas kalau aku pensiunan? Pasti dia..
“Bapak sudah pensiun? Saya juga, dulu di Departeman Kehakiman”.

Dan beberapa kalimat meluncur begitu saja dari mulutnya. Apa ia tidak melihat kalau aku ingin membaca buku ini dengan khusuk? Ketika aku merasa sudah tak tahan lagi dengannya dan ingin pindah tempat duduk, terdengar pengumuman bahwa pesawat menuju Jakarta sudah siap. Ah.. leganya hati ini. Dengan tergesa aku menuju pesawat yang dimaksud dan mencari kursiku.
Kuhempaskan badan ini ke atas kursi empuk. Perjalanan yang hanya sebentar akan kuisi dengan tidur agar badan ini lebih segar sesampainya di Jakarta. Kan aku harus naik bis lagi ke terminal Rawamangun, baru di sana akan dijemput Karyo, sopirku yang setia.

Tiba-tiba, kursi di sebelahku diduduki seseorang, aku menengok ke arahnya dan..
“Wah.. Bapak duduk di sini? Pas banget ya Pak, sampai di mana cerita kita tadi?” Duh.. si bapak yang tadi di ruang tunggu.. Apa? Cerita kita? Sepertinya dari tadi kau yang terus bercerita. Wah, tahu begini lebih baik aku suruh si Karyo menjemputku di bandara, karena tampaknya aku akan sangat lelah dan kelelahan..

Diambil dari blog lama di Friendster, 31-5-2007

19 thoughts on “Once Upon A Time In Changi

  1. sudi says:

    Malah dengan SKSD, saya dibayarin tiket bus patas Bungurasih (Sby) – Arjosari (Mlg). Tapi cuman sekali itu saja.

    Setelahnya, semua daya-upaya ndak berhasil. Ndak tau kenapa orang2 semakin pelit akhir2 ini :p. Ngarep.

    • titiw says:

      @sudi: Gahahahah! Bus jurusan bungurasih – arjosari! Eh ini fakta apa fiksi nih..? Kamu pasti modal senyum2 malu2 ala pembantu baru ke om2 itu ya.. Hihihi..

  2. deshi says:

    Diambil dari blog lama di Friendster, 31-5-2007

    duduuuh..friendster apa kabar yak?;p
    klo ada lagi tiw, gih diposting lagi…skrg daily blog visiting nya including titiw.com lhoo hihuuyy (^o^)v

    • titiw says:

      @deshi: Hihi.. frenster tau tuh apa kabar.. meskipun begitu aku berterima kasih pada dirinya yang bikin aku melek internet.. :D Iya2 kalo ada postingan lama yang sekiranya ho oh diposting lagi deh dimari.. Thx for visiting this nyampah blog darliing..

  3. tya says:

    duuuh kacian tampang pasang beler aja tuh bapaknya, nguap2 gitu trus merem deh ntar juga brenti sendiri

    eh ini komennya ko kaya tips2 ttg mengatasi orang yg suka sksd yaa, hihi

    • titiw says:

      @tya: Ahaha.. benerrr juga kamu ya.. orang2 pada komen cara2 mengatasi orang yg suka SKSD nih. Pada dari dalem hati yang paling dalem kayaknya.. :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *