Zombie di Media Populer

Saya sangat menyukai zombie diantara genre-genre horror dan thriller lainnya. Zombie pada awal kemunculannya di film adalah manusia yang sudah mati kemudian hidup lagi menjadi mayat hidup. Makanan kesukaan zombie klasik ini adalah otak manusia yang masih hidup. Zombie ini berjalan lambat, berkelompok, dan tentu saja bau karena pembusukan yang terus terjadi. Orang mati memang busuk, tapi koruptor sih tetap wangi karena bisa beli parfum-parfum mahal kesukaannya. Makanya saya lebih suka zombie daripada koruptor.

Anyway, pada awalnya cerita zombie berbau supranatural. Zombie-zombie bangkit karena mantra khusus atau bisa juga karena sesuatu ramuan yang sudah dijampi-jampi. Mayat-mayat di kuburan pun bangkit dan mulai lapar mencari otak manusia yang masih hidup. Cih, padahal otak itu mahal harganya kalo di Kedai Sop Kambing. Film-film zombie klasik juga pada awalnya berbudget rendah dan sangat mengandalkan make up dan prostetik lainnya.

Zombie pada masa itu bergerak amat lambat atau sluggish dan kadang-kadang dibumbui sedikit kejang-kejang. Untuk membunuh zombie jenis ini, agak sulit. Hancurkan kepalanya. Boleh ditembak, dikepruk, dipenggal, ditusuk pakai tombak, di shotgun sampai kepalanya pecah, dan sebagainya. Alasannya sederhana, otak primitif atau naluri menjadi andalan zombie-zombie itu untuk bergerak, jadi untuk memusnahkannya ya hancurkan kepalanya. Lagipula jantungnya kan sudah tidak bergerak.

Tapi itu dulu, zombie sekarang lebih keren lagi dan konsepnya sudah banyak berubah. Bahasa kerennya berevolusi. Zombie bukan lagi mayat hidup seperti kebanyakan film-filmnya George A. Romero. Zombie juga sudah tidak lagi bergerak lambat macam siput. Kalau Dian Sastro di AADC bisa bilang ke Zombie, mungkin doi bilang: “Kamu tuh udah berubah..” dengan aksennya yang imut.

Zombie modern punya plot yang sedikit kompleks dan berbau fiksi ilmiah. Supranatural mulai ditinggalkan. Asal muasal zombie pun kebanyakan selalu dikaitkan dengan virus, bakteri, dan penyakit-penyakit microkosmik lainnya. Jika zombie dulu adalah mayat hidup, sekarang zombie tidak selalu mayat hidup. Di 28 Days Later dan sequelnya Weeks Later, zombie yang berkeliaran adalah manusia hidup yang terjangkit penyakit “rage“, penyakit yang tidak ada obatnya, menyebar dengan cepat dan membuat manusia menjadi liar dan ingin saling memakan. Kalau di sini kita mengenalnya dengan PMP (Pren Makan Pren). Iya, mereka saling memakan…. literally. Karena mereka sebetulnya manusia yang masih hidup dan memiliki organ-organ yang masih berfungsi, membunuh zombie jenis ini lebih mudah. Kita bisa membunuhnya layaknya manusia hidup biasa. Tembak di dada, kaki, kepala adalah beberapa cara populer untuk membunuh zombie jenis ini.

zombie-brains

I Am Legend juga menawarkan zombie yang sedikit berbeda. Sepanjang sejarah perfilman zombie, I Am Legend mungkin yang paling mahal. Mengosongkan kota dan menambahkan detail aging (penuaan) di tiap sudut kota dengan CGI menjadi alasan utama mengapa film ini begitu mahal. Of course, Will Smith juga konon bayarannya mahal. Di film ini, zombienya lebih mirip vampir. Zombie yang hanya berkeliaran di malam hari ini disebut hemocyte (disebutkan di subtitle resminya pada scene ketika Will Smith menerjang tembok kaca untuk keluar dari bangunan setelah menyusul Sam). Hemocyte ini merupakan hasil dari mutasi virus yang pada awalnya digunakan untuk menyembuhkan kanker. Seperti juga zombie modern, pada dasarnya manusia yang menjadi zombie bukan mayat. Mereka adalah manusia yang terjangkiti virus mematikan dan mengubah fisik dan kepribadian manusia.

Sebetulnya alasan zombie modern dibuat adalah untuk menciptakan subplot tentang kerasnya bertahan hidup. Jika zombie bisa berlari akan ada subplot keren kejar-kejaran di gang sempit yang super tegang. Jika zombie lebih agresif, pasti ada subplot baru tentang para survivor yang tidak akan berleha-leha dan cengegesan membasmi zombie.

Zombie modern banyak yang pro dan kontra. Yang satu bilang, nggak realistis dan yang lain bilang nggak orisinil. Ada juga yang bilang zombie modern kurang mencekam. Tapi sebetulnya cerita zombie menurut saya bukan di zombie dan darah-darah atau slashernya. Cerita zombie sesungguhnya adalah bagaimana tatanan sosial dan peradaban yang sudah dibentuk manusia hancur karena epidemi yang tidak bisa dihentikan oleh siapapun. Politik, kekuasaan, dan uang sudah tidak berguna lagi. Bertahan hidup menjadi prioritas nomor satu dan manusia yang terdesak akan melakukan apa saja untuk bertahan hidup dengan membuang jauh-jauh nilai-nilai moral yang sudah lama dipegangnya baik-baik.

Jadi… siap-siaplah, siapa tahu zombie akan menyerang Jakarta… COOL ABIES kalo itu terjadi.

(c) Image

14 thoughts on “Zombie di Media Populer

  1. perez says:

    eh…aq ga gitu suka si ma film2 zombie gitu, palingan yg rada suka yg macam zombieland gitu :)
    eh game plant vs zombie juga suka :D , tapi udah bosen!

  2. Bieb says:

    wah…tulisan ini pas banget sama keluarnya film Resident Evil :)
    Zombie modern juga dikisahkan karena ketularan virus rabies seperti di film “Quarantine” (cmiiw)

  3. kuy says:

    hail to Romero…
    *eh perasaan udah pernah comment kayak gini deh di postingan mas anggit.

    btw (sekedar sharing aja nih) kalau tertarik sama cerita zombie, coba cari comic The Walking Dead. ceritanya keren banget, sesuai sama deskripsi Mas Anggit ttg postapocalyptic era. Ceritanya ttg orang2 yang berusaha survive di masa sulit. yang menarik di comic ini adalah yang lebih jahat adalah manusianya, zombie nya cuman jadi bingkai yang menambah tegang suasana.
    *ehm benerin celana…hloh?!

  4. macangadungan says:

    jadi inget, ada orang yg pernah ngmg ke gue, jgn2 ide film zombie yang berubah jadi zombie krn virus sebenernya based on true story. Seperti kecurigaan klo di suatu tempat, memang sdg ada pengembangan virus sbg senjata biologis. hahahahhah…
    gak perlu pake virus zobie, manusia juga kan udah saling memakan manusia. beda di gayanya doank :p

  5. manunk says:

    yeaahh setuju!! film zombie emang cool abis, mule dari yg mistis taun 80an sampe yang sekarang dibungkus penjelasan yang diilmiahkan,hehehe…
    can’t wait melihat zombie berlarian dimonas!

  6. Asop says:

    Duh duh duh, tema zombie ini salah satu tema kesukaan saya dan adik saya. :)
    Bicara soal zombie, jangan lupakan serial game dan pilem “Resident Evil”. “Resident Evil” atau “Biohazard” versi Jepangnya (yang asli) adalah game “survival horror” pertama yang ada. Jangan lupakan juga Pak George A. Romero, maestro pilem zombie yang sesungguhnya. :D Karya2nya sejak tahun 70-an sungguh luar biasa….

    Zombie pun semakin ke sini dijadikan objek komedi, seperti di pilem “Shaun of the Dead” dan “Zombieland”. :lol:

    Kalo yang di pilem “28 days & weeks later” itu menurut saya bukan zombie, karena itu cukup disebut sebagai “orang yang terinfeksi”. Kalo zombie itu perubahannya mati dulu, baru bangkit kembali. Lihat aja di “Resident Evil”. Sedangkan persebaran virus di “28 days & weeks later” sangat cepat, manusia gak sampe mati udah langsung berubah. :)

    Jujur aja, dulu waktu SD dan SMP, jamannya game “Resident Evil” di konsol PSX, saya sempat berpkir untuk ngambil jurusan Mikrobiologi nanti pas kuliah. Alasannya simpel, saya pengen bisa bkin virus untuk senjata biokimia. :razz: Aneh dan terasa mengerikan ya…. :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *