Fear Factor Ala Gunungkidul: Menyantap Belalang!

belalang Gunungkidul

Gunungkidul (tanpa spasi, digabung). Mendengar nama tempat yang berada di Wonosari – Yogyakarta tersebut, pikiran saya berkelana ke sebuah tempat yang tandus, sulit air, dan kondisi sarana dan prasarana masyarakatnya yang kurang layak. Namun pikiran tersebut terkikis ketika saya menyambangi langsung Gunungkidul di akhir tahun lalu bersama teman-teman blogger dan wartawan dalam rangka Jelajah Gizi yang diadakan oleh Sarihusada. Menurut masyarakat setempat, ketika dulu sempat terjadi krisis pangan di Indonesia, Gunungkidul tetap “hidup” karena kayanya alternatif makanan yang mereka miliki. Apa saja makanan tersebut? Mari saya jelaskan satu persatu:

1. Padi Gogo
Sesampainya di Jogja, kami langsung meluncur menuju desa Semanu tepatnya ke Warung Pagi Gogo. Di tempat ini, kami disuguhkan banyak makanan lokal seperti ikan wader, sambel ijo, ayam kampung, ada pula nasi merah yang katanya disemai dari padi gogo. Nyam-nyam, semuanya membikin air liur langsung terbit dari ufuk timur ke ufuk barat. Apa itu padi gogo? Padi gogo merupakan tipe padi lahan kering yang relatif toleran tanpa penggenangan seperti di sawah. Itulah mengapa saat Gunungkidul mendera kekeringan, padi dapat tetap tumbuh.

Manfaat dari beras merah: kandungan glisemiknya rendah, sehingga rendah pula kemungkinannya untuk menaikkan kadar gula dalam darah.

Warung Pari Gogo

2. Belalang
Yes, you read it right. Prosesi fear factor mamam belalang ini saya lakukan pertama kali dalam hidup saya! Pertama kali! diulang: PERTAMA KALI! Untuk makan binatang-binatang macem ini sih nggak pertama kali, karena mulut saya sudah pernah dijejeli jangkrik goreng saat bertandang ke Thailand tahun lalu. Rasanya belalang apa? Crunchy, gurih, dan berasa seperti udang goreng! Yakinlah sumpah. Belalang yang dianggap hama, malah berbalik menjadi komoditas makanan siap saji yang dijual di beberapa tempat di Gunungkidul. Namun hati-hati bagi yang punya potensi alergi. Karena belalang ini proteinnya tinggi (bahkan lebih tinggi dari daging sapi), maka bisa bikin bengkak-bengkak buat yang nggak kuat.

Manfaat Belalang: karena protein yang tinggi, maka penyerapan gizi dapat lebih dimaksimalkan.

3. Es Krim Ketela
Hobi jajan memang tidak dapat dielakkan dari seorang anak kecil. Namun sebagai orangtua, ibu-ibu PKK di Desa Sambirejo nampaknya sangat bijak cendekia dalam mengakomodir hal tersebut. Daripada anak-anak mereka jajan es krim dan permen-permen yang mengandung gula dan pewarna yang super banyak, maka mereka membuatkan es krim untuk anak-anak mereka. Eh, kenapa warna es krimnya ungu begini? Pewarnanya gemana? Tenang, warna ungu ini didapat karena bahan dasar es krim adalah ketela rambat yang berwarna ungu.

Manfaat es krim ketela: mengandung antioksidan yang tinggi sehingga dapat mengurangi polusi yang kita “hisap” selama ini. Manfaat secara sosial? Anak-anak tetap senang jajan tanpa harus terpapar pemanis dan pewarna buatan! Say goodbye to jagoan neon! *melet2*

Es Ketela Rambat

4. Tiwul dan Gathot
Di hari ke-dua Jelajah Gizi, kami diajak berkunjung ke Yu Tum, tempat pembuatan Tiwul dan Gathot. Thiwul terbuat dari tepung gaplek (singkong yang dimasak selama 2 hari) sedangkan Gathot adalah singkong yang di fermentasi sehingga warnanya menjadi agak gelap. Ajaibnya, singkong ini tumbuh dengan subur karena tidak terlalu memerlukan air yang banyak, sangat cocok dengan kondisi tanah di Gunungkidul. Subhanallah, Tuhan maha BESAR kak. Kearifan penduduk lokal yang memanfaatkan thiwul dan ghatot sebagai pengganti nasi ini pun menjadi salah satu faktor dalam menekan angka kekurangan gizi. Oh ya, saat bertandang ke sini sih sok-sok mandang thiwul sebelah mata. Cuma mikir “oh, singkong”. Eh ternyata, tak kenal maka tak sayang, bagaikan air di daun talas. Pas nyoba sekali, saya sah jadi penggemar thiwul! Udah nambah buanyag, dimakan combo dengan padanan teh hangat bikin lidah saya hore-hore!

Manfaat Tiwul dan Ghatot: baik untuk diet rendah kalori

Thiwul & Gathot

Itulah cerita wisata kuliner alternatif saya di Gunungkidul. Ada yang punya cerita lain tentang kearifan lokal Gunungkidul? :) Happy traveling & eating!

17 thoughts on “Fear Factor Ala Gunungkidul: Menyantap Belalang!

      • thalique says:

        di kantorku kadang ada ibu-ibu ke ruangan jualan thiwul tp dicampur cenil (semacam aci warna merah).. tp itu juga jaaaaaaaraanng banget ibunya jualan itu..saya tanya dimana belinya biasanya pasar dekat kantor tp yha td tidak khusus menjual thiwul tp kadang2 aja..

  1. Bagus Gowes says:

    Kuliner Belalang di setiap warung makan di Gunungkidul pasti tersedia: kripik, peyek, dll. *kalau lagi musimnya*

  2. The Dusty Sneakers says:

    Hai Titiw! Sudah lama nggak mampir ke sini. Kami juga pernah mencicipi belalang ketika di Bangkok beberapa tahun lalu. Setuju, rasanya memang lebih enak dan mudah dicerna daripada kalajengking, apalagi belatung!
    – Gypsytoes dari The Dusty Sneakers

  3. Indie_ana Jones says:

    Loh di Yu Tum ga nemu mbak peyek, kripik dll? :-) hahaha belalang jd agak hits nih di kantor saya sekarang, gara2 mudik lebaran kemaren saya bawa oleh2 belalang goreng :-). Btw pas musim kepompong ulat daun jati nggak pas kemaren ke Gunkid? Itu juga crunchy looohhhh :-). Satu lagi kebanggaan Gunkid, semua jalanannya aspal hotmix *halah hehehe

  4. rasehaM says:

    Kapan-kapan coba ah. Tp katanya proteinnya tinggi bgt. Eh berarti bagus dong? Atau maksudnya ‘ketinggian’, jadi bakal berakibat buruk. Kalo ketinggian kadar gula bisa diabetes, kadar lemak bisa hipertensi, kalo protein? Bisa jadi Ade Rai curiganya. Nyahaha.

    • titiw says:

      Semua yang berlebihan gak bagus kak. Ini bahaya buat yang alergi atau sensitip. Berarti bahaya sih buat kamu. Nyahaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *