Pantai Natsepa: Bukan Cuma Punya Rujak

Pantai Natsepa bukanlah objek wisata yang saya rencanakan untuk dikunjungi saat ke Ambon. Apalagi untuk menyempatkan diri berenang atau kata orang setempat: mandi-mandi. Namun setelah bertolak dari Desa Waai untuk mengunjungi belut raksasa yang tenar dengan nama Morea, ternyata Nancy, teman yang anter-anter kita di Ambon, bilang bahwa kita akan melewati Pantai Natsepa searah dengan pulang ke rumahnya.

Mau mampir nggak cobain Rujak Natsepa dan es kelapa?” Batin ini tergelitik dengan ajakan tersebut, ditambah lagi waktu menunjukkan pukul 17.00, sudah dekat matahari terbenam. Pantai. Buah. Sunset. Ah, tak ada daya untuk menolak itu semua.

Maka melipirlah mobil Kijang kepunyaan Ferdy suami Nancy ke Pantai Natsepa. Natsepa di hari Minggu sore itu tidak terlalu padat namun tetap penuh keriaan dengan riuhnyaΒ orang-orang yang memesan rujak, menghirupΒ es kelapa, dan juga nyaringnya suara anak-anak yang bermain air di pantai.

Saya lihat banyak sekali warung-warung rujak berderet di jalanan sebelum kita ke Pantai. Ada puluhan warung bahkan! Tanpa berlama-lama saya dan Vina berganti baju renang yang sudah basah basian dari Ora Beach di hari sebelumnya.

Main air di Natsepa

Dan teman.. RupanyaΒ memang Pantai Natsepa itu bukan cuma tentang rujak. Saat saya berjalan melangkah ke bibir pantai, Pantai tersebut ternyata bersih.. Airnya biru, pasir cukup putih, dan tak terlihat sampah berserakan padahal banyak juga pengunjung yang datang ke sana. Betul-betul di luar ekspektasi saya, secara Natsepa itu adalah pantai umum yang dibuka untuk semua orang dan dapat didatangiΒ dengan mudah.

Sambil berenang-renang, Vina pun memanggil saya untuk makan rujak. Asam, gurih, manis, rasa pala, dan pedas jadi satu. Tapi rasa yang paling menggigit itu adalah pedasnya! Hahahaha, sebagai orang yang tidak kuat pedas, buru-burulah saya menghirup es kelapa yang dibeli Nancy. Segaaaar, namun sayang terlalu manis untuk lidah saya.

Rujak Natsepa
Mamam Rujak sambil nyemplung

Pantai yang tenang, ombak yang diam, dan sunset yang kuning terang membuat saya mengabadikan momen tersebut banyak-banyak ke dalam kamera antiair pinjaman. Pokoknya menyesal deh kalau tadi tidak mampir ke Natsepa. Anak-anak kecil di sekitar juga ramah dan minta foto bareng di bawah air.

Aaaaaw, mereka manis-manis bangetttt. :’) Akhirul kata, waktu piknik di Pantai Natsepa harus berakhir juga dengan ditutup oleh gerakan headstand yang baru saja saya ajarkan ke Vina dan tentu saja gerakan meroda. Terima kasih Pantai Natsepa sudah memberikan kenangan manis, kapan-kapan kami main lagi ke sana ya. :)

Sunset Pantai Natsepa
Sunset Natsepa

Notes:

  • HTM Natsepa: Rp 2.000/orang
  • HTM Mobil: 10.000/mobil
  • Jika mau mandi, ada kamar mandi umum, cukup bayar Rp 2.000/orang
  • Jarak tempuh Ambon kota – Pantai Natsepa sekitar 19 km dengan waktu tempuh kurang lebih 45 menit.
  • Angkutan yang bisa dinaiki adalah angkot jurusan Suli yang lewat depan pantai, dengan ongkos 4.000 – 5.000

11 thoughts on “Pantai Natsepa: Bukan Cuma Punya Rujak

  1. rasehaM says:

    Wah jadi inget waktu aku inap di Aston Natsepa. Tinggal jalan kaki dikit keluar hotel udah bs mendapatkan sunset yang manis sambil ngerujak pedas.

  2. Fahmi Anhar says:

    kapan aku terakhir mantai? rasanya sudah lama sekali. saking lamanya, sampai lupa bagaimana aroma laut, desiran angin, gemuruh ombak dan insang pun kering.

    aku hanya bisa termangu di depan monitor, menatapmu di pantai natsepa. senja itu, rujak itu, keriaan itu…

    ahh… sudahlah…

    mungkin belum saatnya aku melaut lagi. sebelum kutemukan kunci dari gembok kubikel sempit ini….

    #edisisokpujangga #pujanggagagal #malahcurcol #maapkanakukaktiw #seperti_ittuhh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *