Pantai Mandala Ria Nan Sunyi, Serasa Milik Pribadi

Pantai Mandala Ria (1)

Pantai Bira? Checked
Pantai Bara? Checked.
Desa Kajang? Checked.
Apparalang? Checked.
Desa Pembuat Pinisi? Checked.

Dua kali perjalanan ke Sulawesi Selatan, sudah beberapa objek wisata yang saya sambangi di Kabupaten Bulukumba. Di tahun 2015, MaheΒ yang kadang suka sok indie itu menemukan daerah yang masih jarang didatangi oleh turis: Pantai Mandala Ria. Sebuah pantai yang berada di desa Lembanna Ara, Bulukumba.

Itinerary kami (saya, suami, dan adik) setelah bersenang-senang di Pantai Bara dan Cosmos Bungalow adalah menginap di Pajoka, sebuah Eco Resort yang terletak persis di depan pantai Mandala Ria tersebut. Maka dengan Avanza sewaan yang sudah menemani pantat yang pegal berhari-hari, kami menuju daerah yang ditempuh sekitar 30 menit dari Pantai Bara itu.

Kalau bergerak dari arah Bulukumba kota, kamu harus menempuh sekitar 34-35 km perjalanan untuk mencapai si Pantai. Dari jalan poros Bulukumba nanti akan bertemu dengan pertigaan yang ada tulisan “Pantai Mandala Ria“. Belok kiri dan luruuuus saja. Jalanannya tak dinyana cukup mulus dan tidak panas karena banyak pohon-pohon rindang. Ditambah lagi saya ke sana di kala mendung sehingga udara memang bersahabat.

Jika dirasa sudah menempuh jarak sekitar 8 km, perhatikan jalanan. Nanti akan ada bundaran penanda dengan patung kecil kapal Pinisi. Belok kanan dan ikuti jalan. Nah, di sini tantangan yang sesungguhnya muncul. Dari jalanan aspal mulus, ia bertransformasi menjadi jalanan berbatu yang terjal. Turunan. Hanya cukup 1 mobil.

Pastikan sopir yang membawa mobil cukup handal untuk mengatasi jalanan tersebut, terlebih ketika nanti arah pulang karena jalanan akan menanjak. Jika tidak ada yang jago, pastikan ada yang ganteng/cantik, supaya kita dapat tumpangan dengan mudah.

Kata orang, selepas hujan akan ada pelangi. Begitu juga perjalanan kami ke Mandala Ria. Setelah perjalanan berbatu yang membuat saya merapal ayat-ayat suci, pantai berair biru berpasir putih yang maha luas langsung menyambut dengan sukahati. Kami pun langsung check in di Pajoka, satu-satunya penginapan yang ada di pantai tersebut.

Pantai Mandala Ria (5)
Vila Pajoka di belakang kami

Pantai Mandala Ria (3)

Luasnya pasir putih di Mandala Ria membuat saya, adik, dan suami puassss berlari-lari di atasnya. Meroda, foto-foto, salto, bikin video-video gebleg, hingga berenang-berenang nanggung di bibir pantai. Berasa pantai pribadi! Untuk kamu yang suka lari (dari deadline kerjaan), pantai ini cocok untuk kamu menjajal si sepatu dan legging Nike baru yang kamu beli diskonan di Sport Station Pasaraya. Tak lupa mengabadikan citra diri di depan sunset yang malu-malu menyembul dari lembah di seberang pantai.

Pantai Mandala Ria (4)

A video posted by Titiw (@titiwakmar) on

Mengapa dinamakan Pantai Mandala Ria? Alkisah Panglima Mandala memesan 24 kapal di desa ini untuk pembebasan Irian Barat dari kompeni. Meskipun kapal yang dipesan kecil, pasukan yang diberi julukan “armada semut” itu sukses mengalahkan Belanda dan menduduki tempat-tempat yang sempat dijajah mereka. Ini sih yang diceritain sama penjaga penginapan Pajoka. Dia juga menceritakan beberapa kisah-kisah pilu mengenai goa yang ada di sekitar pantai, yaitu Goa Passea dan Goa Passohara.

Oh ya, saya lupa mengatakan bahwa Pantai Mandala Ria ini diapit oleh laut dan lembah. Jadi cuacanya panas ketika siang, dan cukup dingin saat malam hari. Sekadar share, kalau mau datang ke pantai ini tanpa menginap, lebih baik datang di pagi hari. Karena jika sudah malam, tidak ada penerangan dan kamu akan susah untuk naik jalanan berbatu yang sudah saya ceritakan di atas.

Untuk masuk pantai, tidak ada tarif. Bagaimana mau tarif, orang saja hampir tidak terlihat batang hidungnya. Semoga di masa selanjutnya, pemerintah setempat dapat lebih serius mengelola Pantai Mandala Ria agar pantai yang indah ini menjadi salah satu objek wisata andalan Bulukumba. Selamat tinggal Mandala Ria nan sunyi, kini saatnya kami melangkah lagi menuju Makassar yang lebih menggelegar!

21 thoughts on “Pantai Mandala Ria Nan Sunyi, Serasa Milik Pribadi

    • titiw says:

      iya sih kak, gak tau kalo rame. Semoga aja masyarakatnya siap sehingga gak kotor dan malah jadi rusak. :’)

  1. tour lombok says:

    memang kalau liburan sebaiknya ke tempat yg masih kurang di kunjungi para wisatawan,,jadi bisa merasa lebih tenang dan rileks aja,,jauh dari hiruk pikuk keramaian yg ada,,jadi bisa mendapatkan waktu yg berkualitas untuk liburan,,,
    suasana hening dan sepi membuat kita lebih mersakan kenikmatan panorama alam yg tuhan telah ciptakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *