Bukit Peramun Belitung: Ketika Alam & Teknologi Bersinergi

BELITUNG. Mendengarnya saja saya langsung membayangkan pantai yang biru, pasir yang putih, bebatuan besar, minum kopi bersama warga lokal, menyantap seafood, dengan lagu soundtrack film Laskar Pelangi berkumandang di udara. Dan di kali ke-tiga mengunjungi Belitung, saya baru tahu bahwa pulau di Sumatera ini memiliki juga objek wisata alam yang lain yaitu: Perbukitan.

Baca juga: Icip-icip Kuliner Belitung

Wah, ternyata Belitung tidak melulu tentang pantai. Perkenalkan: Bukit Peramun. Sebuah objek wisata yang memadukan teknologi dan alam. Terletak di Kecamatan Sijuk, tempat ini dibuka di tahun 2017 dan dikelola oleh warga dan HKM Air Selumar (ARSEL) Community yang diprakarsai oleh Pak Adong.

Blogger di Bukit Peramun
Penyamun di Sarang Peramun!

Pak Adong yang merupakan warga asli Belitung sempat menimba ilmu di luar Belitung. Dari situ, hasrat untuk membangun tanah kelahirannya muncul. Pak Adong kembali ke Belitung dan membangun komunitas yang tersebut. Sebelumnya, Bukit Peramun dirawat untuk kestabilitasan air masyarakat setempat.

Namun seiring waktu dan karena Peramun memiliki kekayaan alam yang sayang jika tidak diperkenalkan ke dunia luar, maka Bukit Peramun dijadikan objek wisata yang terbuka bagi turis domestik ataupun turis asing.

With the local hero: Pak Adong

Kenapa dinamakan Peramun? Karena dari 147 jenis pohon dan tumbuhan yang ada di bukit ini 60% nya dapat dijadikan Ramuan dan obat. PERAMUN = RAMUAN. Lalu apa yang membedakan Bukit Peramun dengan wisata alam yang lain? Peramun memadukan experience wisata digital juga dengan cara menjelaskan apa saja yang ada di Peramun dengan kode-kode virtual.

Itulah mengapa Bukit Peramun sangat cocok disebut sebagai objek wisata yang memadukan kekuatan alam dan teknologi. Ketika mereka bersinergi, hasilnya adalah objek wisata yang sangat menarik dan memiliki nilai wisata.

Scan virtual map sebelum hiking

Setelah dibuka di tahun 2017, Desa Peramun menjadi salah satu Desa Binaan Bakti BCA di tahun 2018. BCA memberikan support pendampingan, sarana dan prasarana, seperti Aula Baulin tempat berkumpulnya masyarakat di kawasan Bukit Peramun atau tempat pemberian informasi dan makan bersama. Dan di tanggal 28 Februari 2020 lalu, diluncurkan juga beberapa aplikasi dalam rangka HUT BCA ke-63.

Aplikasi-aplikasi tersebut adalah Peramun Hill, Kepo (Kenali Pohon), Virtual Zoo, spot foto virtual, dan Online Maps Navigation.

Tunggu-tunggu. Dari tadi dijelaskan bahwa hutan Peramun merupakan hutan digital. Maksudnya apa? Nah, aplikasi yang baru diluncurkan di akhir bulan Februari itu dapat dimanfaatkan ketika kita berkunjung ke Bukit Peramun.

Cara memakai aplikasi tersebut: Buka app tersebut, arahkan kepada banner dan titik-titik QR code yang ada di sana, dan voila! Keluarlah teks, video, gambar, hingga suara yang mendeskripsikan tentang ekosistem yang ada di hutan, tumbuhan, hewan, dan seputar Bukit Peramun.

Scan image, ada videonya!
Kalo yang seperti ini, outputnya teks.

Dengan HTM 10.000 rupiah saja, kita bisa mendapatkan banyak informasi, hiking, dan foto-foto di spot yang menarik. Misalnya saja Batu Kembar, Mobil Terbang, dan puncak Peramun yang kece banget untuk mengabadikan gambar.

Setiap orang atau kelompok yang datang ke Bukit Peramun, akan ditemani oleh seorang guide. Selain untuk menjelaskan mengenai hutan tersebut, guide juga sebagai penjaga. Misalnya saja mau selfie terlalu ke pinggir, atau salah jalan ketika hiking. Sehingga bisa dikatakan hiking di Bukit Peramun cukup aman. Yang jaga pas hiking udah ada, yang jaga hati gemana? :’)

Waktu tempuh untuk mencapai puncak bukit Peramun tidak lama. Hanya kurang lebih 30 menit, kita dapat menuju puncak yang tingginya 129 mdpl tersebut jika tidak berhenti foto-foto. Namun jika mau mengabadikan gambar, mungkin bisa sampai 1 jam. Nih saya beri step by step ketika mengunjungi Bukit Peramun agar nyaman dan tentram!

1. Masuk ke kawasan Bukit Peramun >> Bayar HTM Rp 10,000

2. Persiapkan diri: pakai sunblock, topi, lotion anti nyamuk, pipis dulu, dan bawa air minum

3. Unduh aplikasi-aplikasi yang dibutuhkan untuk melihat video dan gambar-gambar virtual

4. Mulai menyusuri Bukit Peramun dengan berhenti jika ada virtual code yang ingin dibaca. Jangan lupa baca-baca quotes kocak yang ada di sepanjang jalan!

Quotes-quotes bikin kzl x)

5. Foto-foto di Batu Kembar. Konon katanya jika kedua tangan kita dapat menyentuh tiap sisi batu, berarti akan dapet jodoh! Nah, kalo yang sudah punya pasangan, kira-kira gimana ya? Tambah sayang pasangan, nikah lagi, atau hamil lagi? x)

Kak Abex berusaha keras nampaknyaaa hahahah
Spot batu kembar. Abaikan varietas langka yang paling kanan.

6. Foto-foto di Batu Ampar yang ada Mobil Terbang. Khusus di sini, ada biaya yang dikenakan yaitu Rp 10,000 per orang. Gak mahal lah, lumayan untuk tambah-tambah operasional Bukit Peramun

Bisa bayar di atas bisa bayar di bawah
Mobil terbang. Aku serasa Harry Potter!

7. Sampai di puncak Bukit, akan ada jembatan berwarna hijau yang dapat diduduki hingga 5 orang. Jangan lebih ya, nanti bahaya.

Haaaee!
Tak lupa foto fake smile

8. Foto-foto di sepeda lawas, tempat paling puncak Bukit Peramun. Dari sini, pemandangan terlihat lebih indah, jarak pandang luas, dan pohon-pohon serta tetumbuhan hijau menyejukkan mata.

Mon maap bukan foto prewed

Ingat, jangan terlalu sore untuk hiking karena ada kemungkinan hujan. Jadi paling enak sih hiking di sini di pagi hari, atau kalau gak takut kulit gosong bisa juga setelah jam makan siang. Itu kalo nggak kekenyangan atau kengantukan, hehehe.

Jika mau ada tantangan lain selain hiking, tunggu sampai malam hari. Bukit Peramun juga merupakan rumah bagi hewan nokturnal mungil bermata besar, bernama Tarsius. Ada sekitar 80 ekor Tarsius yang terdeteksi di sana, dan jika kalian beruntung, bisa melihat Tarsius dari dekat seperti saya. Tipsnya: Jangan berisik, jangan pakai flash dari kamera, dan jangan terlalu lama foto-foto si mungil ini.

Hello, lil one!

Melihat penjelasan, step-step keselamatan, tata cara melihat Tarsius dan hiking, serta cara pengelolaan Bukit Peramun, saya melihat adanya dampingan dan pelatihan yang keren di sini. Tentunya hal itu tak luput dari peran BCA yang membuat Peramun sebagai salah satu Desa Binaannya.

Misalnya saja, ketika hiking, ada papan dilarang merokok. Para guide sudah mewanti-wanti di depan sehingga para turis juga melaksanakannya dengan disiplin. Untuk fasilitas lain seperti toilet juga bersih dan ada airnya. Ini membuat pengunjung lebih nyaman dalam menikmati Peramun.

BCA membuat warga lokal makin bangga dengan apa yang dimiliki, namun itu tidak membuat warga “Take it for granted” atas apa yang mereka punya. Harus lebih dilatih dan dibina lagi agar para turis makin puas berkunjung, dan alam serta ekosistem di sana juga tetap terjaga dengan baik.

Oh ya, ketika saya share mengenai Bukit Peramun di Instagram, ternyata banyak masukan yang kece-kece lho. Coba saya share di sini ya!

marinasaraswati: “Ada warung minum jamu/obat hasil dari tumbuhan asli Bukit Peramun, yg bisa kita minum ditempat/dibawa pulang sbg oleh2” 

izzasuffa: “Sarannya kasih tambah wahana untuk anak-anak kak, contohnya menanam pohon bersama yg dilakuin orang tua dan anak. Jadi, nanti akan terbentuk mindset anak kalo tumbuhan hidup itu butuh proses jadi anak bakal tambah sayang sama tumbuhan, dan akhirnya dijaga. Selain itu bakal tumbuh bonding antar anak dan orang tua tentunya bisa semakin dekat satu sama lain.

maulidyaya: “Mungkin dengan ditambah pengelolaan tanaman2 menjadi ramuan dan obat secara langsung (how to make it sampai bisa kita rasakan hasil pengelolaannya) bisa menjadi salah satu cara untuk menimbulkan rasa care kita juga untuk mulai mengkonsumsi herbal lagi. hal ini juga bisa di dukung dengan tiap pengunjung yang sudah melakukan program ini bisa bawa pulang satu bibit/pohon yang bisa di tanam di rumah pengunjung masing2.”

farizqi: “Mungkin bisa dibikin games soal tanaman dan hasil bumi…belitung kan juga terkenal dengan lada kan…jadi di situ kita bikin beberapa macem hasil bumi, dan ajak anak atau tim yang traveling bareng buat nebak tanaman atau hasil bumi apakah itu? Bisa ditutup mata, atau bisa disediakan tulisan pake papan yg mudah dipegang trus diletakkan di masing-masing soalnya, misal ada lada, nah tulisan lada diletakkan di depannya.

anggam111: “Sebagian besar pohon di Bukit Peramun adalah yang bisa dijadikan ramuan/obat. Mungkin pada appsnya juga disertakan obat apa saja yang dapat dibuat dari pohon2 Bukit Peramun dan cara pengolahannya (alangkah lebih baik kalau dijadikan museum ramuan/obat). Karena pengetahuan tentang pengobatan tradisional/jamu/ramuan kini sudah jarang ditemui. Jadi selain wisata menambah wawasan lingkungan hidup, kita juga dapat menambah wawasan tentang kesehatan

Wah, kebanyakan masukan itu seputar tanaman/obat-obatan yang dijadikan edukasi atau cara membuatnya. Bagus banget nih jadi insight untuk teman-teman Arsel Community di sana. Gimana, tertarik mengunjungi Bukit Peramun juga? Jangan lupa mampir jika berkunjung ke Belitung ya. Happy Traveling!

PS: Untuk lebih detail mengenai Bukit Peramun, saya sudah buat highlight di Instagram Stories. Silakan berkunjung. :)

18 thoughts on “Bukit Peramun Belitung: Ketika Alam & Teknologi Bersinergi

  1. rasehaM says:

    Wah Belitung memang sudah jadi wishlistku tuk wisata dgn keluarga sejak lama. Apalagi sekarang nambah lagi destinasi wisata di Bukit Peramun ini! Jadi makin semangat untuk berkunjung.

  2. Namira Monda says:

    Duh ingin sekali ke belitung. Sayang Aldy sukanya ke bali bali. Aja.. pdhal ada kluarga di belitung. Bener bener ngiler liat ka tiw traveling…

  3. Nonanomad says:

    Wah, canggih juga ya bisa scan pake qr code untuk dapat informasi. Sekarang Bukit Peramun masih tetap digunakan untuk mencari tanaman ramuan kah? Seru juga kalau bisa belajar bikin ramuan-ramuan jamu gitu hehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *