Sebuah Cerita Tentang Mengejar Cita-cita

Cita-Cita Wartawan

Apa sih cita-cita kamu ketika sudah besar nanti?

Mungkin pertanyaan ini jamak kamu dapatkan ketika masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Atau bisa jadi pertanyaan itu sudah terlontar dari tante kamu yang nyinyir bahkan sejak kamu belum bisa ngomong dengan lancar. “Cita-cita tuh jangan jadi insinyur. Liat tuhhh papa kamu, jadi insinyur gajinyaa weeeh sedikit banget dibanding suami tante yang dokteeer!

Untuk saya sendiri, Titiw kecil akan menjawabnya “Astronot“, atau “Arsitek“. Cita-cita mayoritas di tahun 80-90an. Ya mana saya tahu kalo di masa depan akan ada “Instruktur Zumba“, “Programmer“, bahkan “Financial Coach“. Namun yang sangat terpatri di ingatan saya, mungkin sejak sudah mulai mengenal arti dari Cita-cita itu sendiri.. Saya selalu ingin menjadi.. WARTAWAN.

Di dalam benak ABG kurus yang haid pertamanya tergolong terlambat dibandingkan teman-teman sebayanya, saya ingin menjadi wartawan, reporter. Mewawancari para tokoh, berlari-lari sambil memegang mic yang sudah terciprat ludah banyak informan, panas dan hujan tetap lalu lalang dan menggarang, dan menutupnya dengan “Saya Titi Akmar dari tempat kejadian, melaporkan“. Namun yang menjadi fokus dari cita-cita itu adalah menjadi wartawan di sebuah majalah. Saya ingin sekali nama ini tercantum di akhir paragraf sebuah berita.

Rasa-rasanya kerja di majalah itu hidupnya sungguh berwarna. Sejak remaja, langganan majalah membuat saya banyak bermimpi tinggi. Memiliki wajah dan bakat seperti para Gadis Sampul, mendapatkan pacar yang cakep dan romantis seperti di cerpen-cerpen majalah, dan memakai kosmetik yang dijajakan di halaman “Must Buy“. Majalah GADIS, Kawanku, Seventeen, Cosmo Girl, Go Girl, Femina.. Oh sungguh, itu adalah cita-cita besar diri ini, mengalahkan keinginan bertemu dengan Taylor Hanson atau the Moffats.

Maka sejak jaman kuliah saya sering ikut talkshow-talkshow yang diadakan beberapa majalah tersebut. Bahkan tidak jarang saya iseng ikut kuis-kuis mereka hanya untuk tahu lebih dekat kehidupan di dalam redaksi majalah tersebut. Saat saya menang sepasang tiket film, atau saat didekati fotografer yang ingin mengambil foto, saya kerap bertanya ini itu seputar majalah tersebut.

Apakah cita-cita saya sampai di situ saja? Tentu tidak. Saya ikut interview di beberapa majalah. Seventeen, gagal. Cosmo Girl, gagal. Femina, sampai tahap akhir, tetap gagal. Bahkan di sebuah majalah gratisan ibukota yang sudah tidak pernah terbitpun, saya gagal. Karena kecintaan saya dengan buku, bahasa, dan tulisan, saya juga sempat interview di toko buku Aksara. Tentu saja gagal lagi.

Saya sampai heran. Perasaan tulisan saya nggak jelek-jelek banget (kata pacar saat itu). Perasaan rasa percaya diri saya cukup tinggi saat diwawancara (perasaan saya aja sih). Perasaan saya bisa berbahasa yang baik dan sopan. Tapi ternyata itu saja tidak cukup. Sampai akhirnya saya bekerja di sebuah Digital Agency di tahun 2010. Ketika bekerja di sana, tiba-tiba saya dapat panggilan interview lagi di sebuah majalah. Namun asa itu pupus ketika ngobrol dengan seorang teman yang sudah malang melintang jadi penulis di sebuah media, “Ngapain kerja di majalah? Kamu di agency gajinya udah lumayan kok. Di majalah mah gajinya kecil“.

Sampai akhirnya saya kerja di beberapa tempat lain, dan sekarang berakhir di.. MEDIA. Apakah cita-cita saya menjadi wartawan slash reporter slash penulis kesampaian juga? Tidak. Karena di sini, saya sekarang bekerja menjadi.. SALES. Ya, sales, alias yang cari duit. Menulis dan berbagi mungkin passion saya, tapi ternyata skill yang lebih mendatangkan uang (untuk perusahaan dan diri sendiri), adalah skill jualan saya.

Namun kecintaan pada menulis tidak mati begitu saja. Percaya atau tidak, saya sering colek-colek tim redaksi untuk memberi beberapa ide. Dan tidak jarang pula saya membetulkan SPOK atau typo yang ada dalam beberapa artikel untuk client. Maklum, sebagai anak yang sewaktu sekolah mendapatkan titel sempurna setiap ujian bahasa Indonesia, saya suka gemes jika ada kesalahan berbahasa. Memang sih skill saya belum tingkat dewa seperti editor. Tapi rasanya senang membaca artikel yang enak dan mengalir ketika dibaca.

Cita-cita. Sebuah kata ulang yang tampak mulia, dan memang sewajarnya dikejar. Namun jika kasih tak sampai, masih ada hal lain yang tidak kalah membanggakannya. Jangan sampai kita pasang kacamata kuda demi cita-cita, dan menafikkan hal lain yang mungkin lebih berguna untuk masa depan. Untuk adik-adik yang sedang mengejar cita-cita, kejar terus. Tapi kalau tidak dapat, atau kamu terlalu terengah-engah untuk mendapatkannya, coba berhenti sebentar. Siapa tahu saat sudah lelah berlari, di persinggahan tersebut ada pekerjaan lain yang dapat menghilangkan dahaga kamu.

Selamat mengejar cita-cita.

5 thoughts on “Sebuah Cerita Tentang Mengejar Cita-cita

  1. Zam says:

    aku dulu cita-citanya malah pengen jadi masinis kereta api, terus berkembang jadi montir sepeda motor (karena sering baca tabloid motor plus), dan malah berujung ke dunia sekarang. terjun ke dunia media malah setelah kenal blog, sempet masuk ekskul koran kampus (tetep megang teknis web, sih, ngga nulis), masuk perusahaan media, terus media sosial, agensi, dan sekarang balik ke teknis lagi.. 😅

    • titiw says:

      Hahahah, lucu bangettt jadi masinis. Kalo cita2 absurd aku, dulu pengen jadi penjaga perpustakaan supaya bisa baca buku sebanyak-banyaknya gratis x))

  2. rasehaM says:

    *high pitch + bindeng* Cita-citaaaakuuu (cita-citaku), ingin menjadi dokter. Dari kelas 2 SD saya selalu ingin menjadi dokter spesialis anak. Alasannya, karena dari balita saya sering sakit2an, rawat jalan, rawat inap, dan bertemu SpA. Naik ke kelas 3 SMA, saya harus merevisi cita-cita tersebut karena SMA Negeri terbaik se Jaktim, tempat saya mencari ilmu, saat itu memutuskan hanya membuka kelas IPA sebanyak 2 kelas saja. Ya, saya “hanya” mampu masuk IPS. Pilihan saya berikutnya adalah akuntan karena liat ayahnya pacar saat itu, seorang Partner di salah satu dari “Big Four”, tajir melintir. Saya kembali harus merevisi cita-cita tersebut ketika nama saya muncul di koran pagi. Ya, saya masuk Fakultas Hukum UI alih alih Fakultas Ekonomi Unbraw.

  3. Umikriting says:

    Saya dulu gak jelas pengen jadi apa, lihat tukang insiyur pengen jadi insiyur, lihat arkeolog dan sosiolog mau juga. Tapi malah jadi wartawan. Dulu kuliah-kuliah aja, ambil komunikasi (jurnalistik), merasa gak punya passion sekuat Mbak Titiw untuk jadi wartawan. Hebat perjuanganmu Mbak, walau belum kesampaian, setidaknya udah kerja di perusahaan media juga heheheh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *