9 Rekomendasi Buku dari Penulis Indonesia

hari buku nasional titiw

Tahukah kamu? Indonesia menempati peringkat ke-62 dari 70 negara, untuk tingkat literasi. Maka agar animo baca tinggi, Mendiknas di th 2002 -Abdul Malik Fadjar- mencanangkan Hari Buku Nasional di tanggal 17 Mei. Tanggal ini sama dengan tanggal diresmikannya Perpustakaan Nasional RI, yaitu 17 Mei 1980. Diย #HariBukuNasionalย ini, saya mau berbagi 9 rekomendasi buku dalam negeri. Tangkeep!

1. Alif Danya Munsyi (Remy Sylado)9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing

Membaca buku ini bisa membuat seseorang menjadi 2 hal. Emosi karena selama ini merasa bahasa Indonesia adalah bahasa yang murni dan tulen, atau menjadi paham dan mafhum, bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang hibrid. Terpencar-pencar dari banyaknya bahasa asing, menjadi 1 bahasa, bahasa yaitu Indonesia.

Buku ini juga membuat kita menjadi senyum-senyum sendiri, bahwa bahasa yang kita pakai selama ini, berbagi arti yang sama dengan masyarakat dunia. Di Prancis, di Inggris, di Belanda, hingga di Arab. Saya sungguh rekomendasi buku ini untuk menyegarkan otak, di antara banyaknya buku-buku kamu yang malah membuat mumet.

2. Indra Herlambang – Kicau Kacau

Hah, Indra Herlambang si pembawa acara gosip? Yes. Namun di balik itu, dia adalah sosok yang sungguh witty dan cerdas. Tulisannya kadang membuat berpikir, kadang bikin terpingkal. Bahkan saking sukanya dengan buku beliau, saya pernah datang ke meet and greetnya di Rumah Langsat dan sempat foto bersama. Salah 1 kolumnis terbaik yg pernah dimiliki Free Magazine. Jadi, kapan terbitin buku baru lagi, kak Indra?

3. Dee Lestari – Aroma Karsa

Tulisan-tulisan dari Ibu Suri merupakan jaminan mutu sebuah bacaan di akhir minggu. Tapi status the best of the best, saya sematkan pada buku yang merangsang indera olfactory kita ini dengan maksimal. Bagaimana bisa ia berpikir sejauh itu. Semelenceng itu. Sebebas itu. Seliar itu. Dibungkus dgn diksi yg menari-nari, Aroma Karsa sangat layak untuk dikoleksi.

4. Dwi Sasetyaningtyas – Sustaination

Gaya hidup “hijau” cukup hits dan banyak disebut-sebut akhir-akhir ini. Padahal sebetulnya hal tersebut adalah budaya kita sedari dulu. Misalnya saja memakai rantang, membungkus makanan dengan daun, menggunakan besek, memakai sabun batang, dan sebagainya.

Namun sepertinya sudah jadi budaya juga buat kita untuk harus selalu diingatkan kembali. Isinya mudah diaplikasikan, dan dengan ilustrasi dari Puty Puar, buku hijau ini menjadi tambah menyegarkan untuk dibaca dan dipraktekkan.

5. Hamsad Rangkuti – Bibir Dalam Pispot

Buku kumpulan cerpen yang pantas dihajar penghargaan Sastra Khatulistiwa di tahun 2003. Cerita-ceritanya menggebrak dan menyalak. 1 quotes yang tak mungkin terlupakan di dalamnya: “Maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu?”

Bahkan Hamsad Rangkuti adalah seseorang yang saya ingat setiap saya punya writer’s block, dengan kalimatnya: “Semua orang bisa mengarang dari nol. Tidak ada ide. Misteri penciptaan akan datang di saat kita menulis.” Top Notch!

6. Kado Istimewa – Kumpulan Cerpen Kompas 1992

Sejak tahun 1992, setahun sekali Kompas menerbitkan sebuah buku yang berisi kumpulan cerpen. Cerpen-cerpen ini diambil dari Kompas Minggu, dan satu cerpen yang terbaik berdasar tim pemilih akan diberi penghargaan khusus.

Oya, judul cerpen sang pemenang pada tahun itu akan menjadi judul buku tersebut. Buku ini cukup mudah diserap karena singkat, tapi tidak miskin isi, malah bisa dibilang kaya warna dan cerita karena masing-masing cerpen dibuat oleh penulis yang berbeda.

Jujur, saya koleksi hampir semua Cerita Pilihan Kompas ini dari tahun ke tahun. Namun Kado Istimewa yang ditulis oleh Jujur Prananto ini membuat saya terhenyak. Potret kehidupan Indonesia, tertuang dengan ciamik dan apa adanya di sana, tanpa ditutup-tutupi.

Di tahun-tahun awal, kontributor untuk buku ini tidak terlalu berubah secara signifikan. Kebanyakan adalah orang-orang yang memang sudah punya โ€œnamaโ€ seperti Ratna Indraswari, Seno Gumira, Ahmad Tohari, sampai Yanusa Nugroho. Semoga di tahun-tahun ke depan Kompas dapat lebih membuka diri untuk penulis-penulis lain yang cukup kompeten dalam menulis cerita-cerita pendek.

7. Risyiana Muthia – Been There Done That Got the T-Shirt

Saya dengan percaya diri menasbihkan diri ini sebagai pembaca buku nonfiksi. Namun jika harus rekomendasi buku fiksi, BTDTGTTS ini harus kalian baca. Bisa didapat di rak Self Help, namun jangan berpikir bahwa buku ini serius-serius amat. Absurd, tapi betul-betul menyenangkan dan membuat tersenyum lebar. Review lengkap pernah saya tulis di >> BTDTGTTS.

8. Umar Kayam – Seribu Kunang-kunang di Manhattan

Kumpulan Cerpen dari salah 1 penulis terbaik yg dimiliki Indonesia. Sebagai seorang sosiolog, Umar Kayam menyentil beberapa titik hidup masyarakat urban. Tidak untuk kamu yg mengharapkan cerita romantis & mendayu-dayu. FYI, ketika beliau meninggal di tahun 2002, saya sempat menitikkan air mata. :’)

9. Andrea Hirata – Sirkus Pohon

Buku-buku Andrea Hirata selalu menyuguhkan paket lengkap untuk pembaca. Jadi belajar sejarah. Jadi belajar Bahasa. Jadi terharu. Jadi gemes. Jadi mesem-mesem sendiri. Jadi seorang nasionalis.

Untuk yang satu ini, jika dianalogikan dengan musik, Sirkus Pohon adalah lagu hits dari seorang musisi gaek evergreen, yang dicover oleh penyanyi yg dipuja-puja anak sekarang. Laku, tapi tetap bagus dan menyentuh hati berbagai kalangan.


Itulah 9 rekomendasi buku saya di #HariBukuNasional. Perlu diingat bahwa ini selera pribadi ya. Jika tidak setuju, nggak apa-apa banget. Hehehe. Lalu kalo ngomongin siapa penulis yang bukunya nggak pernah gak bagus, ada 3 untuk saya:

1. Remy Sylado
2. Dee Lestari
3. Andrea Hirata

Kalian punya buku dalam negeri yang layak orang-orang baca juga? Cusss share di sini yaa. Kalo mau bagiin alasannya juga boleh. Makasih temen-temen yang sudah mampir, membaca, dan membagikan tulisan ini. Selama Hari Buku Nasional!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *