Review Glamping di Rumah Atsiri Tawangmangu

Glamping Rumah Atsiri

Makin dewasa (a.k.a tua), aktivitas jalan-jalan leisure yang saya cari makin mengerucut kepada kegiatan non ambisius. Leyeh-leyeh, minum minuman hangat, di tempat yang nyaman dan adem. Makanya ketika saya lihat seorang sahabat menginap di Rumah Atsiri akhir tahun lalu, saya sontak tertarik untuk mencobanya. Namun ternyata ia sepertinya diundang untuk mencoba, karena Rumah Atsiri Glamping baru dibuka April 2021.

Mengapa saya tertarik? Karena setahu saya, Rumah Atsiri merupakan tempat rekreasi yang terkait dengan kegiatan seputar minyak atsiri atau essential oil, seperti museum dan tamannya. Dari dulu ingin ke sana, namun belum kesampaian. Sehingga ketika tahu dibuka juga penginapannya, saya dengan excited reservasi untuk Girls Trip bersama sahabat-sahabat saya. Tempat adem, essential oil, dan penginapan bagus? LESGOOO!

Namun sayang, ekspektasi saya terlalu tinggi untuk tempat ini. Ketika sampai, mereka tidak punya troli sehingga barang-barang kami berempat diangkat dengan kewalahan. Pertamanya hanya ada 2 orang, namun akhirnya ada 3 orang yang mengangkat. Jarak dari parkiran ke kamar itu lumayan jauh lho. :’)

Sebelum masuk kamar, ada host kami yang bernama mas Vano yang menjelaskan peraturan dan terms and condition tempat tersebut. Di antaranya:

  1. Tidak ada telpon di dalam tenda, sehingga satu-satunya cara berkomunikasi hanya dengan WA si host.
  2. Ketika treking di pagi hari, tenda akan dibersihkan dan amenities akan diperbaharui.
  3. Makan malam jam 6, maksimal jam 7, dan room service maksimal jam 8 malam.

Selesai, saatnya melihat “tenda” kami, dan kami excited berat! Langsung foto-foto, video, karena tempatnya memang sungguh berkonsep dan cakeeep. Lalu tibalah saat kami foot massage. Kata host, foot massage akan berlangsung selama 30 menit. Namun kenyataannya, hanya 15 menit. Sekilas saya ingat bahwa seharusnya selain kaki, ada pijat pundak juga. Tapi tidak ada. Karena masih hepi, saya gak bertanya apa-apa.

Baca Juga: SKJ 88 Ala Pulau Dolphin

Di sore hari, ada sesi cara membuat Tisane atau campuran teh gitu dengan cara mengambil bahan-bahannya langsung di taman. Di sana dijelaskan beberapa tanaman, fungsinya, dan bisa experience cium wangi-wanginya. Enaaaaak. Saat bikin teh, beberapa bunga, mint, dan dedaunan dimasukkan ke air panas, lalu kami diberikan juga canape (makanan kecil).

Agak berharap bahwa ada beberapa jenis canape di sini, namun yang disajikan hanya 1 kue pisang. Literally 1. Sore-sore, ujan-ujan, laper, cuma dapet kue 1. Lagi-lagi, saya gak langsung rese. Saya resapi dulu kelaperan ini dengan ngakak sama Juju, Vina, dan Abim yang juga merasa kuenya ya Allah dikit banget. :’)

Hingga di malam hari, jam makan malam, saya mulai “gerah”. Makanan yang dikasih ada beberapa sih. Dari appetizer, makanan utama, dan makanan penutup. Tapi ya lauknya dikiit. Misalnya aja, sop buntut yang kuahnya adem itu dagingnya cuma 2 potong kecil. Wakwaw sedih banget akutu padahal udah kelaperan dari sore. Rasanya juga kurang nendang. Apa karena gak pake MSG ya? Yang jelas rasanya biasa banget. Kalo misalnya kuahnya panas, mungkin lebih nolong.

Karena masih kelaperan, maka kami memesan lagi beberapa makanan untuk makan di kamar. Setelah mandi, gosipan, dan abisin makanan, akhirnya kami tidur untuk pagi harinya akan treking. Nyari-nyari kaos kaki untuk bobok (seperti yang dijanjikan di paket), tapi gak nemu. Hmmm, yaudah. Lalu keanehan lainnya adalah..

“Kenapa di dekat tempat tidur ada penutup kuping?” Ternyata oh ternyata, daerah sekitar Rumah Atsiri itu berisiiiikk banget. Bukan berisik dangdut kayak di kampung. Tapi ada suara gamelan, orang nyinden, dll. Gak tau deh itu hanya di hari kedatangan saya, atau di hari-hari lain juga gitu. Yang jelas, berisiknya bikin tidur gak nyenyak. ZzzZZzz….

Di pagi hari, kami treking di kawasan sekitar Rumah Atsiri. Guide kami yang bernama mas Eko orangnya ramah, supel, dan menyenangkan. Akhirnya ada plus point juga di tempat ini. Selain treking di sekitar sawah, kami juga nyemplung-nyemplung dikit di sungai. Ketika naik, ada sesi ngeteh sebelum balik, dengan cemilan semacam Barongko.

Balik-balik lagi ke penginapan setelah 1,5 jam treking (sekitar 3,000an langkah), kami langsung sarapan dengan bubur pecel atau bubur kuah kuning. Saya sih lebih suka bubur kuah kuning karena rasanya lebih familiar. TIM BUBUR ADUK MANA SUARANYAAAA?!

Selepas sarapan, jadwal kami adalah free time. Tapi karena kami belum ke museumnya, maka kami bertanya ke mas Vano. “Mas, ini ke museumnya ada guidenya kah? Atau bisa sendiri?” Dijawab “Ada guidenya mbak. Additionalnya 38.500“. LAHHHH GEMANAAA?! JADI TUR MUSEUM YANG MANA ITU ADALAH TUJUAN UTAMA KITA, GAK TERMASUK DI PAKET? Saya buru-buru ngecek paket, dan yes, ternyata gak termasuk.

FYI, kata teman yang pernah ke museum dan garden tour tanpa menginap, harga yang dibayarkan adalah Rp 50.000. Dapat dipakai untuk ke Museum atau Garden Tour, dan masih dapat voucher 25.000 untuk belanja. Kok saya yang nginep, jatohnya lebih mahal daripada umum yang gak inap di sini? Padahal secara logika, kalo udah nginep, ada dong value-value tambahan. Semisal ya ke museum dan garden tour gak bayar lagi. Bukan masalah tambahan duitnya sih. Tapi yaaa..

Agak kecewa, namun ya mau gemana lagi? Akhirnya saya WA host menanyakan tentang pijat pundak yang harusnya ada. Tapi jawabannya, “Itu paket kalau ambil 2 malam”. Lah padahal di paket 1 malam jelas-jelas ada. Lalu saya tanya, kok gak ada ketersediaan kaos kaki. Dijawab lagi “Itu paket yang lama”. DUHHHH, Sumpah ya, saya orangnya aslinya gak resek loh sama servis-servis penginapan seperti ini. Tapi kok dijawab seperti itu? Ini istilahnya, harga di rak berapa, yang kita bayar di kasir kok beda.

“Makanya espektasinya jangan ketinggian.” Elhadalahhh.. Wajar dong ekspektasi tinggi. Harga penginapan ini, 2,7 juta per malam! (2 orang). Meskipun dengan beberapa aktivitas dan juga makan siang serta makan malam, tetap saja jatuhnya cukup pricey. Sehingga seharusnya tur museum dan taman termasuk dong di dalamnya!

Dan kezelnya lagi, salah satu sobat ngetrip saya bilang kalo dengan bayar harga yang sama, dia dateng ke sini 2-3 mingguan sebelum saya, dan dapet semuanya tuh. Dapet tour museum, dapet tour garden, bikin teh, bahkan dapet sesi workshop bikin wewangian juga! Yaaah gemana eike gak gondok yaaah. :”)

Karena udah jauh-jauh ke Rumah Atsiri ini, saya akhirnya inshale-exhale dan bilang sama mas Vano kalau kami gak papa ada additional untuk museum, karena emang pengen melihat museumnya. Dengan baik hati, mas Vano minta maaf atas kesalahan paket yang saya tanyakan sebelumnya, dan memberikan Museum Tournya free. Bukannya saya gak bisa bayar, tapi gestur baik seperti ini patut diapresiasi. Baiklah, kami terima niat baiknya mas Vano. :)

Masuk kamar untuk mandi setelah sarapan, ternyata kamar kami dirapikan sedikit, namun sabun sampo dan botol-botol lain yang dijanjikan akan direfill, tidak ada. Dan ketika hubungi host apakah bisa late checkout 30 menit untuk beres-beres, ternyata tidak bisa. Another drop moments, but I had enough. Capek juga jadi orang riwil. Lolllll.

Untungnya ketika makan siang, lauknya banyaaaak. Enaaak. Kami pun bahagia. Begitu juga ketika masuk museum dan toko. Semuanya baguuuusss. Berasa sih kalo staff di museum dan toko lebih satset dibandingkan staff untuk glamping.

Notes/Masukan untuk Atsiri Glamping:

  1. Sediakan troli untuk barang-barang tamu, sehingga tidak menyulitkan diri sendiri.
  2. Komunikasi antarstaff harus terjaga. Jangan yang satu bilang A, yang satu bilang B. Dan juga supaya lebih terintegrasi antara pihak Museum dan pihak Glamping.
  3. Lebih nice jika ada rundown jelas tertulis, sehingga tamu bisa lebih paham dibandingkan hanya dijelaskan secara verbal.
  4. Lebih fleksibel untuk waktu check in dan check out.
  5. Ketika sesi Tisane misalnya, bisa ditawarkan kalau teh seperti ini dapat dibeli di toko. Kalo ini, ya abis minum teh ya udah gitu aja.
  6. Makanannya jangan minimalis banget. Makan siangnya mantap, tapi makan malam dan sesi ngemil sore sama ngeteh bikin cacing perut meronta-ronta.
  7. Makanannya juga jangan anyep, semua menu kuah-kuahan suam-suam kuku, tidak panas. Sehingga kenikmatannya berkurang drastis. Plus juga ada makanan yang harusnya ada di menu, ternyata tidak ada saat jam makan.
  8. Benerin paket-paket yang ditawarkan ke orang-orang. Jangan sampe ada tamu yang detail seperti saya, dan jadinya salah-salah. Seperti pada kasus pijet pundak dan ketersediaan kaos kaki.
  9. Foto dalam paket juga jangan leading. Di sana, ada tulisan bahwa kita akan mendapatkan produk-produk Atsiri seharga Rp 500,000, dimana dalam foto ada si kimono, ada handuk, ada diffuser. Meskipun ada tulisannya apa aja yang diberikan, fotonya juga disesuaikan, lah.
  10. Paket museum dan tur taman seharusnya sudah termasuk di paket, Karena biasanya tujuan utama orang ke rumah atsiri untuk liat museumnya dan experience tamannya.
  11. Kalo boleh, agak iklas gitu kasih barang-barang di kamar. Misalnya saja sabun dan sampo serta insect repellent kasih yang full, jangan cuma setengah. Saya pikir ini cuma di kamar saya aja, ternyata kamar temen saya juga cuma setengah isi botol-botolnya.
  12. Plus juga, kalo emang si botol-botol ini tidak akan direfill, tidak usah dibilang, karena jadi mikir emang akan dibagikan lagi di pagi hari.
  13. Ketika di museum, 1 staff bilang sekitar 30-35 menit, namun kenyataannya di dalem dibilang 15 menit. Sehingga terburu-buru banget di dalem. Belum sempet baca-baca udah disuruh lanjuuut.
  14. Akan lebih ok kalau ada servis massage. Additional pun tidak masalah, karena essential oil erat kaitannya dengan pijet-pijetan.
  15. Kalau satu-satunya cara berkomunikasi adalah via WA, mohon standby. Karena saat check out saya tanya via WA apakah ada orang yang bisa angkut barang, tidak dijawab-jawab. Sehingga saya harus ke atas dulu untuk minta tolong membawakan barang. WA tersebut sampe pulang gak dijawab, cuma diread doang. Sedih. :’)

Meski pengalaman saya kurang baik di Rumah Atsiri ini, tapi ada juga kok sisi positifnya:

  1. Semua staff sopan, i like mas vano.
  2. Treking sama mas Eko juga seru.
  3. Makanan siang enak.
  4. Tempatnya bagus, konsepnya cakep.
  5. Banyak spot-spot seru untuk bikin konten.
  6. Ketika tahu ada yang gak bisa makan ayam, inisiatif diganti ikan.
  7. Museumnya interaktif dan emang bener-bener bagus.
  8. Tokonya ok, banyak barang-barang yang cucok buat oleh-oleh.
  9. Pas pulang, dikasih Sayonara Drink, enaaaak.

Saat sudah pulang, kami baru nyadar kalo belum Garden Tour. Hahahaha nyessss. Jadi, apakah saya akan ke sini lagi? Jawabannya: NGGAK. Untuk harga mahal tersebut, saya betul-betul kurang puas. Kalopun ke sana lagi, mungkin untuk tour garden dan ke tokonya lagi. Sekian review dari saya, yang mau nanya-nanya silakan cusss di kolom komentar!

PS: Foto di awal adalah aku yang berusaha Zen di hamparan Rosemary. :’)

5 thoughts on “Review Glamping di Rumah Atsiri Tawangmangu

  1. Diani Sekaring Sejati says:

    Lhaa baru tau ternyata Rumah Atsiri ada glampingnya. Waktu aku ke sini tahun 2019 belum ada. Tapi pelayanannya zonk banget Mba untuk harga segitu, mahal banget soalnya. Hospitality-nya perlu perbaikan segera.

    • titiw says:

      Yes kak menurutku juga begitu. Atau harusnya kalo masih dalam tahap opening, harga khusus dong. Kan masih ngeraba2 gemana enaknya hehehe.

  2. Cimuthia says:

    wah, aku yg mau book jadi mundur teratur kak hehe… mungkin tour garden dan museumnya saja dulu, nginapnya di tawangmangu :D terima kasih honest reviewnya kak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *