Setelah keluyuran di pantai Pulau Peucang, Ujung Kulon, dan sudah akrab sama babi dan rusa di sana, sekarang saya beralih untuk melacur ke gunung. Pulang dari pantai tanggal 12 April dengan bodi luluh dan lantak, besoknya saya harus ke Gunung Gede Pangrango untuk survey tempat untuk sebuah program CSR. Huah.. Rada kurang menikmati karena badan lagi greges, tapi overall nice kok. Sebelumnya, karena ini tulisan laporan saya buat kantor, jadi mohon dimaklum kalo rada formil ya, hihi..
ExxonMobil, sebuah perusahaan minyak yang sudah seratus tahun lebih berada di Indonesia akan mengadakan program volunteering penanaman pohon untuk diadopsi bagi para karyawannya. Acara yang rencananya akan dilaksanakan bulan Mei 2009 ini bermitra dengan Yayasan Mitra Mandiri sebagai koordinator program, dan juga Green Radio sebagai media partner. Program pengadopsian pohon sendiri merupakan program dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan Republik Indonesia. Namun disosialisasikan kepada masyarakat untuk ikut membantu gerakan penghijauan ini.
Area penanaman terletak di Resort Sarongge Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Cianjur. Waktu tempuh ± 2,5 jam perjalanan dari Jakarta. Masuk lewat Desa Ciputri, ± 2 km akan sampai ke Wisma, tempat yang disediakan untuk memarkir mobil. Naik lagi keatas, ± 0,5 km sampai ke tempat yang ada plang ”Resort Sarongge”. Dari situ, perjalanan ditempuh dengan mobil ranger ± 0,5 jam sampai taman bunga. Jalan kaki ke tempat yang nantinya akan menjadi tempat seremonial ditempuh ± 0,5 jam. Dan untuk tempat penanaman pohonnya sendiri masih harus naik ± 15 menit lagi.


Jenis-jenis pohon yang akan ditanam nantinya adalah Puspa, Suren, Rasamala, Manglit dan Saninten, karena pohon-pohon itu merupakan vegetasi alami di sana. Untuk pengadopsian pohon saat ini dapat dilakukan oleh:
- Lembaga/ Korporasi (minimum 3 hektar untuk 3 tahun)
- Perorangan (minimum 1 pohon untuk 3 tahun)
Jika suatu perusahaan atau lembaga mau mengadopsi pohon, sebagai tanda nantinya akan dipasang plang nama perusahaan tersebutdi tempat mereka menanam sebanyak satu buah. Sedangkan perorangan, nantinya akan dihitung titik koordinatnya. Dari titik berapa sampai berapa atas nama siapa-siapa saja. Jadi, nama kita akan tertera bersama nama orang lain di wilayah tertentu.

Harga pengadopsian untuk satu pohon sebesar Rp 108.000 rupiah, yang sudah termasuk bibit pohon, dan juga untuk pemeliharaan pohon selama tiga tahun. Lamanya waktu pemeliharaan hingga tiga tahun, karena tiga tahun pertama adalah masa kritis pohon. Jika sebelum tiga tahun ada pohon yang mati, maka pohon tersebut akan diganti dengan yang baru, yang menurut masyarakat di sana istilahnya “disulam”. Biaya penyulaman pun sudah termasuk dalam biaya Rp 108.000 tersebut.
Menurut Bapak Hidayat, Kepala Bagian Resort, dari biaya Rp 108.000 tersebut juga disisihkan untuk biaya program kesejahteraan petani yang memelihara pohon-pohon yang diadopsi. Program kesejahteraan tersebut nantinya adalah pemberian ternak, dimana untuk waktu ke depannya, para petani ini tidak diijinkan lagi untuk bertani di lahan Taman Nasional tersebut. Pada intinya, selain untuk menjaga lingkungan, program ini juga baik untuk kesejahteraan masyarakat sekitar.

Luas seluruhnya dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango mencapai 7000 hektar. Sedangkan untuk satu blok untuk program adopsi pohon seluas 37 hektar, yang dikelola oleh 153 petani. Untuk pengunjung dalam sekali kunjungan penanaman pohon, dibatasi hingga 50 orang. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir kerusakan ekosistem sekitar. Jarak tanam dari satu pohon ke pohon lain adalah 5 meter. Satu pohon dapat mensuplai kebutuhan oksigen untuk sekitar 2 orang, jadi menebang 1 pohon itu artinya membunuh 2 orang.

Dulunya, Taman Nasional Gunung gede Pangrango dikelola oleh Perhutani, sehingga hutan di situ merupakan Hutan Produksi. Hutan yang bertujuan untuk memberikan benefit secara materi. Namun sejak tahun 2003, taman ini dihibahkan kepada Hutan Pangrango, di bawah Departemen Kehutanan. Sejak itu, fungsi hutan berubah menjadi hutan konservasi, hutan yang harus dilindungi. Sejatinya, hutan konservasi tidak boleh difungsikan untuk tempat tinggal. Namun, karena dulu Perhutani mempunyai program PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat), maka di sekitar taman tersebut masyarakat diijinkan untuk bercocok tanam.

Untuk lebih jelasnya mengenai program adopsi pohon, masyarakat dapat membacanya di sini. Atau dapat menghubungi:
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango [National Park]
Jl. Raya Cibodas, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, Indonesia 43253
Tel: +62-263-512776 Fax: +62-263-519415
Email: [email protected]

Tertarik untuk mengadopsi pohon atau malah mau memulai menanam pohon di depan rumah? Yuk yuk yuk.. Karena kita harus ingat:

23 thoughts on “Adopsi Pohon di Taman Gunung Gede Pangrango”
Bisa ga tiw kalo nanam pohon berbuah emas??
mayan nih buat modal nikah
–> Bisa, asal lo kawin sama salah satu keluarga Cendana..
hebat euy..H+1 setelah dr pantai, langsung jalan2 ke gunung..
–> Oh. begitulah hidup, ki sanak..
titiw kerja di exxon ya
baru tau sayah
–> Haha.. buset dah Om! Lah kagak kalee!! Kalo aku kerja di perusahaan segeda gitu mah mana sempet ngeblog2 dan melacur kayak gini, hihihi.. Aku kerja di LSM yang berpartner sama Exxon ini Om.. :)
Menarik idenya.
Terakhir ke gede emang gunungnya kayak udh mulai gundul (walopun masih ijo royo2 and sejuk siy)
tapi kalo dibandingkan taon 2000, skr udh agak beda.
Nice.. Nice..
–> Oh udah pernah ke sini juga mbak? cuma berkunjung atau menaikinya dengan penuh cinta..? Hehe.. beda di mananya ya..?
wah … manarik neh,
mo nanem pohon duit ah, buat bekal jalan-jalan
–> Wh, mas deku berkunjung lagi.. yuk, nanem pohon duit.. *jalan bareng mas deku ke RSJ*
Tiw, tau gtu gw nitip tanemin satu buat gw!!! 2 deh ama buat calon bayi gw! Ibu hamil gini mana bisa jalan2 ke gunung! Hahaha…
Waduh.. kemaren pan eke cuman surpey nih darl, ntar kalo aku programnya beneran mau jalan aku tanyain deh, boleh nitip 2 biji gak, hehe.. Beneran yaaa.. Eh salem buat calon beibi.. Dari auntie titiw yg manis manja.
wuah..pasir sarongge,,,,ive been there before..
Heh..? Ngapain ke sini ga..? nanem pohon juga apa ngeronggeng..? Wow.. Lucu nian. Ke pasir sarongge untuk ngeronggeng.. *ditimpuk ega*
dari jaman kuliah pengen ke Gede Pangrango tapi ndak pernah kesampaian.. hwekekekek..
Wah, kalo ke sana pasti udah gak bisa mas.. kan situ udah tua.. pasti udah gak kuku untuk naik2 ke puncak gunung.. *kabur*
wah kok jalan2nya asik asik bgt tmptny,.dapet list darimana??mau doonk,.hehe
Yoi doong.. maksudnya..? List apa nih ya..? Kalo ke pangrango ini mah karena mau survey.. kalo jalan2 aku yg lain2 ya tau dari temen2 aja… :D
saat pohon terakhir tlah ditebang dan tetesan air terakhir tlah habis diminum, kita semua akan sadar kalau uang tak bisa dimakan (N.N) ===> whuah..merinding bacanya, lebih serem daripada 2012!! :p
saat pohon terakhir tlah ditebang dan tetesan air terakhir tlah habis diminum, kita semua akan sadar kalau uang tak bisa dimakan (N.N) ===> whuah..merinding bacanya, lebih serem daripada 2012!! :p
saat pohon terakhir tlah ditebang dan tetesan air terakhir tlah habis diminum, kita semua akan sadar kalau uang tak bisa dimakan (N.N) ===> whuah..merinding bacanya, lebih serem daripada 2012!!! :p
Ahahha.. aku juga merinding2 bacanya!! mana pas bacanya lagi ujan2 di pangrango.. tambahlah merinding! ahahaha..
waduh sory, gara2 lag jd triplepost deh.. maaf mbak, diapus aja itu
Gak usah.. aku kan menghargai tulisan2 kamu.. :D
kira-kira jenis pohon apa saja yang ada????
komplit ga?? trus cara-caranya sulit??
Itu jenis2 pohonnya udah saya tulis kok di atas.. Tentu aja tanamannya tidak terlalu macam2, karena yang ditanam di sini sesuai dengan fungsinya yang menyerap air. Untuk cara-caranya nanti diberitahu lagi oleh orang2 di green radio :)
nah ini kamu pernah ke TNGP? yuk ke ranu kumbolo atau segara rinjani..*ngeyel* :)
Tapi kan di bagian sininya doangan.. -_-“