Pancaran Nasionalisme Dalam Taman Nasional Indonesia

Nasionalisme bisa muncul di mana saja dan kapan saja. Tidak harus tepat pada hari kemerdekaan. Tidak wajib saat upacara bendera. Tidak melulu ketika membela negara. Untuk saya pribadi, nasionalisme itu seringnya malah muncul ketika saya berada di tempat yang tidak saya lihat sehari-hari. Dengan kata lain, ketika saya traveling. Lebih khusus lagi, sebuah kata yang syahdu itu – nasionalisme-, pasti selalu datang ketika saya berada di Taman Nasional.

Mengapa bisa begitu? Entahlah. Mungkin perpaduan dari laut nan jernih di Wakatobi, padang savana yang luas di Rawa Aopa, dan sunset yang lingsir di Kepulauan Seribu membuat rasa nasionalisme saya mangkin membuncah. Sebetulnya, apa itu Taman Nasional (TN)? Menilik dari SINI , Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi.

Nah apa sih kriterianya sebuah tempat itu bisa ditunjuk sebagai Taman Nasional? Sumber daya alamnya khas, unik, masih utuh, dan alami. Dan ciri-ciri yang paling menonjol adalah memiliki luas yang cukup besar untuk menjamin kelangsungan proses ekologis secara alami. Itulah mengapa Taman Nasional di Indonesia selalu merupakan destinasi impian saya jika memang punya rejeki umur, waktu, dan materi yang mumpuni. Taman Nasional yang mana? Boleh jawab semuanyakah? Hahahaha. Oke, dari 50 Taman Nasional itu, kalo boleh memilih saya ingin sekali ke TN Lorentz yang berada di Papua.

TN Lorentz

Diresmikan sebagai Taman Nasional pada tahun 1997 dan naik level menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO di tahun 1999, TN Lorentz belum dieksplor secara detail. Yang membikin saya napsu untuk mengunjungi TN Lorentz juga karena konon TN ini memiliki ekosistem terlengkap untuk keanekaragaman hayati di Asia Pasifik. TN ini memilki gletser padahal di daerah tropis, punya hutan bakau, lahan basah, padang rumput, dan berbagai jenis hutan. Belum lagi jika membahas satwanya yang sumpah aneh-aneh dan suku-suku yang menjadi bagian TN seperti suku Asmat. Siapa tahu dengan keberadaan saya di sana bisa membagikan cerita dari angle-angle berbeda dari media kebanyakan. *baca: cerita-cerita nyampah gak serius*

Cuma memang sih, secara akses kita harus berjibaku lagi dengan transportasi yang minim dan belum banyak alternatif. Ples, harus punya fisik dan mental yang nggak maen-maen untuk ke sana karena ada bagian-bagian yang tidak bisa dilewati oleh kendaraan. Semoga aja destinasi impian saya itu makin lebih dipermudah secara akses dan segala kemudahan agar rasa nasionalisme itu juga makin membumbung. Aaaaah, ngomongin gini tambah ngileerrrr jalan-jalan yang super jauh. Ke Bandung aja gak jadi-jadi nih. Ya namanya juga destinasi impian bukan? Bebas dong kalo mimpi. Siapa tahu mimpi itu terwujud jika dituliskan ke dalam sebuah media bernama blog, apalagi di hari kemerdekaan ini.

Aamiin. Mana aminnya teman-temaaaaaan? AAMIIN!

© Foto 1 & Foto 2

PS: Berikut adalah postingan bareng alias postbar dengan geng TBI dalam rangka 17 Agustusan bertema DREAM INDONESIA alias Destinasi Impian di Indonesia. Temen-temen yang udah posting cuss komen di sini ya biar saya bisa kunjungan balik. Oh ya, postingan lain teman-teman TBI bisa dilihat di bawah ini. Jangan lupa dikunjungin dan dikomen juga, kakaaaak!

  1. Albert Ghana, Jelajah Laut Negeri Menjaga Titik Luar Indonesia
  2. Arie Okta Friyanto, Dream Destination, Banda Aceh
  3. Astin Soekanto, Inginku Boven Digul Belajar dari Bung
  4. Atrasina Adlina, Merawat Pagar Nusantara di Perbatasan
  5. Citra Rahman, Aceh: Destinasi Impian Orang-Orang
  6. Danan Wahyu, Mimpi Anambas
  7. Dea Sihotang, Tanah Papua, Kamulah My Drea30|m Indonesia
  8. Edy Masrur, Berbagi Ilmu dan Menimba Kearifan di Wae Rebo
  9. Eka Situmorang Sir, Pantai Impian
  10. Fahmi Anhar, Destinasi Impian Nusantara 
  11. Firsta, A Story from Banda Neira
  12. Hartadi Putro, Banda Neira, Ku Akan Datang
  13. Imama Insani, Kapan ke Kakaban?
  14. Indah Purnama, Indonesia Bikin Rindu
  15. Indri Juwono, Anambas Mimpi Indonesiaku
  16. Karnadi Lim, Kaldera Toba for UNESCO
  17. Leonard Anthony, Di Timur Menyongsong
  18. Liza Fathia, Berkisah tentang Sabang di Hari Kemerdekaan
  19. Matius Nugroho, 5 Destinasi Impian Indonesia
  20. Olive Bendon, Gemu Fa Mi Re untuk Negeriku
  21. Parahita Satiti, Dream Indonesia: Kembali ke Pulau Lombok
  22. Puteri Normalita, Anambas Surga Tropis di Ujung Negeri
  23. Rembulan Indira, Mimpi Indonesia Desa Adat Wae Rebo
  24. Ridwan SK, Tobelo Destined To Be Love
  25. Rico Sinaga, Ingin ke Misool
  26. Rudi Hartoyo, Jelajahi Indonesia, Akankah Ku Lakukan?
  27. Shabrina Koeswologito, Give Back for Indonesia
  28. Titiw, Pancaran Nasionalisme Dalam Taman Nasional Indonesia
  29. Tracy Chong, Papua: A Dream Destination Where I Meet This Inspiring Lady
  30. Vika Octavia, Tidak Mau Mati Sebelum
  31. Wira Nurmansyah, 5 Destinasi ‘Impian’ di Indonesia yang Harus Kamu Kunjungi

29 thoughts on “Pancaran Nasionalisme Dalam Taman Nasional Indonesia

  1. rasehaM says:

    Pengen bgt menjelajahi satu per satu taman nasional di Indonesia. Tp apakah fasilitasnya sudah mumpuni untuk tipe turis seperti saya? Akomodasi, transportasi, ranger? Wong saya pernah cuma segede Pulau Peucang, rangernya gak apal jalan dan akhirnya nyasar.

    • titiw says:

      Beberapa taman nasional sih sudah mumpuni ya. Seperti wakatobi, pulau seribu, ataupun saat saya ke TN Rawa Aopa di Konawe Selatan. Hahahahah.. itu mah rangernya aja, waktu saya ke Peucang baik2 aja kok. :D

      • ricky medan says:

        sayangnya mau ke wakatobi budgetnya mahal kak :(
        denger cerita teman yang kerja deket sana katanya bagus, terus di kirim foto. Jadi pingin tapi budgetnya. aih

  2. Fahmi Anhar says:

    kamu kasih judul “pancaran” yang telintas pertama kali adalah PSP, pancaran sinar petromax haha #lawas

    kalau aku pengen banget ke TN Lore Lindu, explore lembah bada yang melegenda

    • titiw says:

      AKU TAU BANGET BAKAL ADA YANG KOMEN MACEM BEGINIH! Nyahahhahaha.. dasar anak lawaaas! Ih iya pengin juga tuhh ke Lore Lindu.. Aaah pengen semuanyaaa *banyak mauu*

  3. Matius Teguh Nugroho says:

    Waaaaaa, sepertinya menarik kakkk!!! Aku baru dengar tentang Taman Nasional ini (lalu disambit pakai tiang bendera), tapi membaca deskripsi dan emosi di dalam tulisan kak Titiw, yakinlah taman nasional ini sangat layak disinggahi!

    • titiw says:

      Semua TN kita layak disinggahi kak. Tapi namanya juga impian, aku milihnya yang paling susah dan mahal dan suliitt! :))

  4. Gara says:

    Amin, semoga kesampaian ke TN Lorentz-nya ya Mbak. Tuhan kan memeluk mimpi-mimpi jadi mimpi yang ini pun pasti akan dikabulkannya setelah usaha yang mencukupi *tsaah* (cerita anak Lombok yang bahkan belum pernah ke TNGR).

    Salam kenal!

  5. astin soekanto says:

    AMIIINNN!

    kita bisa samaan gitu mimpinya ke Papua kak. meski beda melipirnya, tp tantangannya sama, akses yg minim. Apa gak sebaiknya mimpi kita ke Papua dikumpulin kak? Jadi sekalian ntar ke Digul, melipir Korowai, trus melipir ke TN Lorents?

  6. satria says:

    buat traveller pencinta pulau lombok yang suka jalan sendiri ala backpacker atau yang traveling dengan ngambil paket wisata lombok .. ada lagu yg pas sekali untuk tulisan ini.. judulnya : lombok i love you – #song #reggae #amtenar – makasih untuk tulisannya ini ya kakak. cheers

  7. Ai zakiyah says:

    Aih…. Baca tulisan ini jadi pengen pergi juga ke TN Lorentz Papua. Semoga suatu saat bisa mewujudkan impian ke sana…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *