Adab Dalam Bersocial Media

Adab di Social Media

“Terasnya kyk hutan. Sarang nyamuk sama uler tuh”
“Anaknya kurus ya? Ngurus tanaman aja sih gak urus anak”
“Mbak bajunya itu-itu aja ya.”

Makin ke sini, makin banyak orang-orang yang komen hal-hal tersebut di social media saya, khususnya Instagram. Saya akui, memang followers Instagram saya makin banyak dan ini membuat paparan konten saya pun semakin luas. “Ah, wajar lah kalo followers makin banyak, cuekin aja”. No. Hal semacam ini tampak remeh. Namun sebetulnya seperti permukaan gunung es, kelihatan kecil di atas namun masalah utamanya ternyata jauh lebih besar daripada itu. Waw, ke mana adab dalam bersocial media?

Era social media bagaikan pisau tajam. Berguna jika dipakai masak, berbahaya jika dipakai melukai orang. Jika dipakai untuk hal-hal yang positif, akan sangat powerful dampaknya bagi banyak orang. Misalnya, menggalang dana via socmed, sharing hal-hal edukatif, dll. Namun jika dipakai untuk yg negatif? N666eri banget. Bisa bikin keributan, julid sana julid sini, dan bukan tak mungkin, perpecahan antarmanusia bahkan negara.

Banyak orang tidak merasa harus berhati-hati di dunia maya karena mereka “tidak tampak”. Apalagi yang berlindung di balik akun anonim. Merasa mudah komen kasar di akun orang. Gampang judging. Kenapa? Ya karena kalau kamu melakukan itu di dunia nyata, depan orangnya langsung, niscaya kamu sudah masuk Rumah Sakit. Sukur-sukur kalo cuma lebam-lebam itu pipi.

Kalau dicuekin ngelunjak. Kalo ditegur biasanya dibalas “Aaah, kan cuma bercanda”. “Ihhh, galak banget sihhh”. Kamu sadar gak kalo candamu itu bisa menyakiti orang lain? Karena field of experience kita berbeda, sesuatu yang kamu anggap kecil bisa jadi sangat matters dan berarti untuk orang lain. Dan kalau saya menyuarakan hal-hal seperti ini, ya bukan karena saya galak.

Tapi saya hanya mau menjadi orang yang asertif dan akan terus mengedukasi, bagaimana adab dalam bersocial media. Karena banyak juga di luar sana orang-orang yang bukannya tidak tahu. Namun ignorance atau tidak peduli. Orang yang tidak tahu, ketika diberitahu akan sadar “Oh yang saya lakukan itu salah ya, ok akan saya ubah”. Sedangkan orang yang ignorance akan berlindung di balik “Ih, baper banget sih lo jadi orang, cuma dikomen gitu aja.”

Dan selama ini saya perhatikan, orang-orang yg tata kramanya kurang bagus itu, biasanya malas baca. Kalau menulis tidak jelas, SPOKnya berantakan. Ini karena terbiasa membaca tulisan-tulisan instant. Sehingga pola pikirnya pun kurang terstruktur dan runut.

Correct me if I’m wrong, tapi pasti ada korelasinya antara hal-hal tersebut. Karena kalau dia biasa pikiran runut, dia akan tahu sebab akibat dari apa yang dilakukannya. Sehingga akan lebih selektif dalam memilih kata, menyapa, dan bertanya.

Yes, Indonesia darurat literasi. Bayangkan masa depan anak-anak yang berasal dari orangtua yang seperti ini. Pantas saja dulu kata pertama Malaikat kepada Nabi Muhammad SAW adalah IQRA. BACA. Literally & figuratively. Baca buku, dan baca situasi.

Seorang teman pernah bilang, yang gini-gini cuekin aja. Yg waras ngalah. Tapi kalo ngalah terus, jalanan akan dipenuhi oleh orang gila, kan? Semoga makin banyak yang paham pentingnya manner dan attitude, serta pola pikir yang baik. Demi diri sendiri, orang lain, dan generasi masa depan. Terima kasih jika mau share hal ini ke orang lain yang dirasa perlu. Tabik.

2 thoughts on “Adab Dalam Bersocial Media

  1. Didut says:

    Baru aja gue dicurhatin istri yang sekarang rolenya HRD.
    Ada karyawan komplain – dikasih tau peraturannya apa + dikaish unjuk peraturan dalam industri seperti apa buat jadi benchmark – tetep ngeyel karena menurut perasaan dia harusnya gak kek gitu.

    Kurang literasi apalagi coba kalau udah dikasih tunjuk aturan aja gak mau nurut HAHAHAHAHA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *