Intimidate Me Not!

Intimidate Me Not

Intimidator, atau orang yang suka mengintimidasi ada dimana-dimana. Di lingkungan rumah, di kantor, di kampus, di sekolah, everywhere you go, they’re everywhere.

Bagaimana jika seandainya ada pola tertentu pada intimidasi? Mungkinkah kita bisa memperkirakan kapan kita akan diintimidasi?

Intimidasi sebenarnya memiliki pola-pola yang jelas, jika kita cukup jeli untuk melihatnya. Seperti pada dasanya banyak hal di dalam kehidupan, intimidasi tidak terjadi dengan tiba-tiba. Biasanya melalui serangkaian proses yang menurut para psikologis mirip dengan tangga. Okay, let’s see the process.

Intimidator potensial melihat korban yang potensial. Tanpa menyadarinya, sang intimidator memutuskan untuk mengeluarkan kekuatannya ke korban melalui tindakan yang tidak terpuji ringan sesuai konteks yang sedang berlaku. Sang korban, sadar atau tidak sadar karena beberapa hal menerima tindakan tersebut. Spiral intimidasi sedang diproses sekarang. Sang intimidator menggunakan irama proses yang sesuai untuknya dan menambahkan sedikit demi sedikit tindakan dari mulai yang buruk hingga semakin parah.

Yang menarik adalah setelah beberapa tindakan tidak terpuji dari intimidator telah tersalurkan dengan sukses ke korban, akan terbentuk rasa kepemilikan dari sang intimidator. Dengan kata lain, di beberapa poin dalam proses, sang intimidator merasa bahwa dominasi yang begitu dia nikmati adalah adil dan sah-sah saja. Sang intimidator akhirnya telah memiliki sang korban. Pada saat itu, jika sang korban menolak dinamika proses tersebut, maka sang intimidator merasa dicurangi. Mereka memiliki persetujuan dan sang korban harus menjalankan persetujuan itu. Contoh paling ekstrim adalah kasus pembunuhan, dimana suami membunuh istrinya. Hal itu terjadi ketika sang istri, setelah bertahun-tahun disiksa, memutuskan untuk tidak mau menerimanya lagi. Sayangnya, menentukan pola yang jelas kapan proses kepemilikan terjadi sangat sulit. Beberapa intimidator akan menentukan kepemilikan secara cepat sementara yang lain bisa lebih lama.

Tapi kamu juga tidak bisa mengabaikan intimidasi sebagai alat yang hanya digunakan oleh orang jahat. Semua orang menggunakan intimidasi hingga tingkatan tertentu sesuai apa yang masuk akal bagi mereka. Mereka yang disebut normal itu biasanya menggunakan intimidasi ke anak-anak mereka dan tidak merasakannya.

Contoh lain intimidasi yang menggambarkan proses kepemilikan dengan lebih jelas. Kamu menemui boss kamu untuk pertama kalinya. Ketika pertama kali kamu masuk ke kantornya, dia tidak menghiraukan keberadaan kamu. Beberapa detik ke depan dia gunakannya untuk menyelesaikan apa yang sedang dia kerjakan tanpa menghiraukan kamu sama sekali. Kamu menerimanya. Kamu dan sang intimidator sekarang sedang berada dalam suatu hubungan. Saat berikutnya, mungkin dia akan membuat lelucon tentang etika kerja kamu di depan orang-orang tanpa merasa bersalah. Kemudian tanpa kamu sadari, sang boss menyuruh kamu tanpa kata-kata, “tolong” atau “mohon”. Selanjutnya boss kamu itu sekarang memiliki kamu dan menolak mengakui tindakannya yang tidak terpuji ketika kamu secara sopan ingin membicarakannya.

Jadi, mungkin contoh-contoh diatas bisa memberikan gambaran untuk menghindari kamu being bullied by anybody. Not even your shitty boss.

5 thoughts on “Intimidate Me Not!”

  1. bagus sekali postingan ini. saya pernah membacanya di suatu website yang membicarakan detil tentang intimidasi. salah satu yang paling signifikan untuk dilakukan memang “momen sadar bahwa kita sedang diintimidasi”. sekali kita menolak itu pada pertama kali, pada saat yang sama kita nggak bakal jadi korbannya.

    nice posting!

  2. Sang korban, sadar atau tidak sadar karena beberapa hal menerima tindakan tersebut.

    Mungkinkah terjadi sebaliknya? Dimana sang intimidator tidak menyadari proses intimidasi yang sedang dilakukannya?

  3. “Tanpa menyadarinya, sang intimidator memutuskan untuk mengeluarkan kekuatannya ke korban melalui tindakan yang tidak terpuji ringan sesuai konteks yang sedang berlaku.”
    I think it’s also safe to say kadang2 intimidator juga tidak menyadari kalau dirinya sedang mengintimidasi..

  4. @Fitri: terima kasih.. bener juga sih pendapat mbak fit (sok ngakrab..)
    @Gum: Aku jadi mikir.. iya juga yaa..
    @apy: Iya mas.. jadi pake “Kadang2” lebih safe yak..

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pulau Padar Titiw

Titiw

Ngeblog sejak 2005

Female, Double (hamdallah sudah laku), berkacamata minus satu setengah yang dipake kalo mau lihat nomor angkutan umum doang. Virgo abal-abal yang sudah menjadi blogger sejak tahun 2005 yang pengalaman menulisnya diasah lewat situs pertemanan friendster.

Scroll to Top