Seharusnya dia tidak usah melawan. Seharusnya dia mau mendengar dulu rencana besarku. Sekarang sudah terlanjur. Kini dia sudah terkapar tak bernyawa di lantai kamar. Darah terus mengalir keluar dari luka di bagian kepalanya. Sialan. Terlalu keras ku benturkan kepalanya ke ujung meja rias. Tapi apa mau dikata? Semua sudah terjadi. Rencana ini tak boleh gagal, meski tak sesuai rencana semula. Pertunjukan harus tetap berlangsung.
Pertunjukan? Hahahaha. Sutradara besar, pemeran utama, penonton yang duduk paling depan , semuanya aku. Siapa aku? Itu tak penting. Yang penting adalah apa yang bisa aku lakukan. Apa yang bisa aku lakukan bukan apa apa. Tapi bagaimana. Bagaimana?
Semua berawal pada 2 tahun yang lalu saat aku diperkerjakan sebagai satuan pengamanan Gedung Perkantoran Hydra sebagai operator kamera CCTV. Awalnya pekerjaan ini terasa sangat membosankan. 25 monitor, 250 kamera CCTV, 12 jam mengawasi setiap sudut gedung ini. Tak boleh lengah, tak boleh lelah. Setiap peristiwa yang terjadi di depan kamera harus aku ketahui. Bahkan hal-hal yang seharusnya tak perlu aku ketahui.
Tapi pada minggu ke-dua aku bekerja, aku mulai bisa menikmati pekerjaan ini. Bagaimana tidak. Aku bisa melihat semua yang terjadi di gedung sialan ini. Maksudku…semuanya! Semua detil ruangan, semua peristiwa yang terjadi, semuanya. Bahkan beberapa peristiwa yang harusnya menjadi rahasia, peristiwa yang harusnya disembunyikan, peristiwa yang orang lain tidak tahu…aku mengetahuinya. Aku bisa mengetahui semua yang mereka lakukan di gedung ini, tapi mereka bahkan sama sekali tak mengetahui itu. Rasanya sungguh hebat. Rasanya seperti sejenak menjadi Tuhan.
Ya, aku Tuhan di gedung ini.
Dalam waktu beberapa bulan aku bekerja. Aku sudah bisa menemukan pola kegiatan sebagian besar orang yang bekerja di gedung ini. Sebut saja lantai dan ruanagan berapa. Aku bisa menebaknya. Sebut saja Si Sinting di lantai 7 ruangan 5 cubicle 14. Setiap pukul 3 sore dia akan selesai bekerja, melirik ke luar jendela, lalu merokok. Padahal dia tahu ada larangan merokok di gedung ini. Bila ia merasa bosan ia akan mencoret-coret dinding cubiclenya dengan benda apapun. Aku masih ingat ketika ia mencoret cubiclenya dengan darah yang keluar dari hidungnya setelah ia menghantamkan mukanya sendiri ke dinding cubicle. Dan tulisan yang ia buat saat itu adalah: cukup bosan. Sinting!
Dalam waktu setahun bekerja, aku sudah mulai bosan lagi. Bosan dengan semua peristiwa yang terjadi di kantor ini. Kantor ini dipenuhi dengan berbagai macam pendosa yang itu-itu saja. Pembohong, pengkhianat, pencuri, orang curang, tukang selingkuh, penyombong…itu itu saja. Peristiwa yang kulihat di layar monitor pun hanya itu-itu saja. Tak ada yang menarik lagi bagiku.
Sampai pada suatu sore sekitar dua minggu yang lalu…ketika aku merasa sangat muak dengan pendosa-pendosa di gedung ini…aku merasa aku harus melakukan sesuatu. Lalu tiba-tiba ide besar itu datang ke kepalaku:
Sebagai Tuhan di gedung ini aku harus memberi hukuman pada para pendosa itu. Ya, aku harus memberi mereka pelajaran yang setimpal atas perbuatan dosa mereka. Kenapa?
Karena aku bisa.
Lalu aku mulai berpikir tentang siapa pendosa pertama yang akan mendapat kehormatan untuk menjadi pendosa pertama yang akan kuhukum. Ya, aku sedang memilih Adam-ku.
Adam. Manusia pertama. Manusia nomer satu. Manusia nomer satu! Ya! Manusia paling penting di gedung ini: Tama Subrata. Direktur Utama perusahaan Hydra Finance, sekaligus pemilik gedung ini. Manusia nomer satu di gedung ini. Manusia paling penting di gedung ini. Manusia paling sombong, paling serakah, paling dusta, dan yang paling curang di gedung ini. Ya, dia Adam-ku. Kini aku tinggal mencari Hawa-ku lalu menyusun rencana besar untuk ide besar ku, dan melakukan pekerjaan pertamaku sebagai Tuhan gedung ini.
Selama dua minggu aku memperhatikan monitor nomer 25 dengan sungguh-sungguh. Monitor yang mengawasi ruangan Adam-ku. Mengawasi setiap gerak-geriknya, menghapalkan detil rutinitasnya, dan mencatat semua peristiwa yang tak kuduga akan terjadi di ruangannya. Setiap hari selalu begitu. Dan omong-omong aku sudah menemukan Hawa-ku. Namanya Lika Prameswari. Partner selingkuh Tama Subrata saat ini. Sebagai Hawa-ku, Lika juga mendapat perlakuan yang sama istimewanya dengan Adam-ku. Aku sudah memperhatikan semua detil tentang Lika. Aku juga sudah mengetahui semua detil tentang mereka berdua. Apa, kapan, dimana, bagaimana-nya tentang mereka semua sudah aku ketahui…hanya bagian kenapa-nya saja yang aku tidak ketahui. Toh bagian itu kuanggap tak terlalu penting untuk aku ketahui. Yang penting perhitunganku jangan sampai meleset. Yang penting rencana besarku ini harus berhasil.
Aku sudah menemukan Adam dan Hawa-ku. Aku pun sudah menyusun setiap detil rencana untuk ide besarku. Semua kemungkinan yang akan terjadi sudah kupersiapkan. Bahkan untuk rencana cadangan. Aku siap untuk rencana besar pertamaku. Aku siap bekerja sebagai Tuhan!
Aku kini sedang mengendarai mobil Toyota Crown tahun 1978 milik Lika. Mayat Lika sendiri sudah kubuang ke sungai beberapa belas menit yang lalu. Bukan untuk menghilangkan jejak. Tapi untuk membuat jejakku acak sehingga polisi akan salah lacak. Ya, aku sudah pernah bilang aku sudah memperhitungkan semua kemungkinan. Aku sudah memperhitungkan semuanya. Ketika aku bilang semuanya…itu berarti semuanya.
Aku melihat arloji Seiko 5 Automatic di lengan kananku…pukul lima sore lebih lima menit. Hei, angka cantik. Sore hari ini pun tampak cantik dengan langit merahnya. Lalu tiba-tiba kudengar suara berisik dari bagasi. Rupanya Tama sudah sadar dari tidurnya. Hmmm, aku tahu apa yang ada di pikirannya saat ini. Dasar laki laki egomaniak. Kupacu mobil lebih kencang ke tempat tujuanku berikutnya: nerakaku.
Mobil sudah berhenti, mesinnya sudah kumatikan. Tidak ada suara dari bagasi. Tama sudah berhenti meronta. Kuambil rokok yang sedari siang tadi kuselipkan di telingaku. Batang rokok keberuntunganku. Kutekan pemantik api di dashboard mobil. Kutunggu sebentar sampai dia melontar pelan kembali. Kugigit rokokku, lalu kuambil pemantik itu, kuarahkan baranya ke ujung rokokku.
“Sssttt…fffuh…sssttt fffuh…sssttt…fffuh…ssssssssssssssssssttttttttttttttttttttttttttt…”
Kuhisap beberapa kali rokokku dengan perlahan…biar nyalanya cukup. Lalu setelah kurasa nyalanya cukup, kuhisap sekali dengan hisapan yang kuat. Cukup kuat agar asapnya cukup untuk memenuhi paru-paruku. Kutahan asapnya beberapa lama di paru-paruku…kubiarkan racun nikotinnya menjalar di seluruh aliran darahku…lalu menghembuskannya dengan sangat perlahan.
“Ffffffffffffffffuuuuuuuuuuhhhhhhhhhhhh…”
Rasanya nikmat sekali di tubuhku. Hmmm, kurasa ini sebuah perayaan kecil yang cukup pantas untuk keberhasilan rencana besar pertamaku.
Lalu aku turun dari mobil. Berjalan ke arah bagasi, lalu membukanya. Kuperhatikan Adam-ku dengan seksama. Dia meronta sebentar sambil mencoba berteriak. Tapi hanya erangan kecil yang keluar dari mulutnya yang kusumpal. Lihat betapa tak berdayanya dia di depanku. Kumatikan rokokku. Aku tak mau Adam-ku tahu kalau Tuhannya seorang perokok. Merokok itu sebuah tanda ketergantungan, ketergantungan adalah tanda kelemahan. Aku tak mau tampak lemah di depan hambaku.
“Selamat sore Bapak Tama Subrata. Apakah anda sudah siap menemui Tuhan anda?”
Tama diam. Badannya tidak bergerak sama sekali.
“Apakah anda sudah siap menerima hukuman dari Tuhan anda?”
Tama masih diam. Badannya masih tidak bergerak.
“Pepatah jawa bilang…diam berarti ya. Saya anggap Bapak menjawab ya atas pertanyaan-pertanyaan saya tadi. Bukan begitu?”
Aku sedikit mencandainya.
“Diam berarti ya”
“Baiklah kalau begitu…bersiaplah…”
Kusibakkan selimut itu dari wajahnya. Lalu kuambil belati itu dari sabukku…
6 thoughts on “Sore (Bagian Tiga: Tamat)”
Yoiii.. Mantaaapp bos! Tapi itu udah ending tuh? Gaantuuuunggg…. Hehe..
Mantap.Tp kok gantng ya?Sengaja y biar pnasaran?Bgus. Gud luck y
“diam berarti ya” itu emang pepatah jawa ya?
Ini kok ya serem banged ceritanya… gantung pulak. Jd ditikam ga kira-kira…
as for me, merokok nggak selalu berarti lemah, tapi bisa juga menjadi kekuatan untuk menjadi seorang penakluk. harharhar jijay..;p lagi lagi bikin lagi, hayo produktif
endingnya kok aneh ya..????